LOGINSuara gelak tawa yang sangat khas milik Rosemary menyambut kedatangan Rosalia. Sesuai dugaannya Damian kembali luluh dan sudah menemani gadis itu lagi.
Film kartun tentang kucing dan tikus yang saling jahil terlihat di layar televisi berlayar tujuh puluh satu inch. "Ah! Kamu sudah pulang." suara Rosemary terdengar begitu riang. "Terima kasih atas saranmu, aku mendatangi kantor Damian dan meminta maaf padanya." Rosalia menggenggam erat tali tasnya, dia hanya bi"Ternyata anda sangat menarik, Nona Branch."Pipi putihnya menyemburatkan warna merah muda saat dia mendengar suara bariton Damian Reeves."Anda juga sama menariknya, aku sudah menyukai anda sejak pertemuan pertama kita."Jantungnya berdebar kencang, akhirnya dia berhasil menyatakan perasaannya dan sekarang dia berharap Damian akan membalas perasaannya."Benarkah? Apa yang membuatku menyukaiku?"
Dua malam terjebak di dalam badai salju hingga akhirnya penerbangan kembali dibuka membuat Elizabeth merasa tenang. Jadwal penerbangannya masih sama dengan jadwal penerbangan yang diberikan asisten Damian Reeves kepadanya. Dia bahkan memesan kelas utama agar berada di dekat pria tersebut, dia masih menaruh harapan jika Damian Reeves akan berada dalam satu penerbangan dengannya."Liz, kita tidak bisa menunda jadwal penerbangan lagi."Elizabeth mendengus kesal mendengar ocehan asistennya, jika saja tidak terikat kontrak drama yang akan menjadikan dirinya sebagai pemeran utama untuk pertama kalinya, ingin rasanya dia mengikuti keberadaan Damian Reeves.
Foto-foto mereka berdua di lobby bandara membuat Elizabeth tersenyum senang, di matanya mereka terlihat begitu serasi bersama Damian Reeves.[Pria rahasia Elizabeth Branch][Elizabeth Branch berlibur ke Genobia bersama kekasih rahasianya]Judul yang dia gunakan untuk membuat Damian Reeves memperhatikan dirinya.Gila memang, tetapi semua itu akan sepadan jika dia berhasil menjadi nyonya Damian Reeves."Bagaimana? Apa kamu berhasil mendapatkan hotel tempatnya menginap?"Wajah penuh harapan yang berubah menjadi perasaan kecewa karena asistennya gagal mendapatkan informasi keberadaan Damian Reeves."Mobil yang membawanya melaju menuju keluar Genobia dan orang yang kusewa tidak berani melanjutkan tugas mereka."Elizabeth mengerucutkan bibirnya."Dia tidak benar-benar berada di Genobia?" tanya Elizabeth dengan anda heran. "Ke mana dia pergi?""Menurut orang yang membuntuti, mobil tersebut memasuki kawasan terlarang."
Waktu terus berlalu, semua kembali terlihat normal meskipun akan selalu ada helaan nafas yang begitu berat dan wajah-wajah yang diselimuti kerinduan.Adam menghembuskan asap rokoknya yang pekat, di sebelahnya tampak Damian yang tetap terlihat tenang. Keduanya sedang bersantai di salah satu ruangan VIP sebuah klub. Mereka berdua tidak sedang mencari kesenangan, tetapi bertemu dengan klien untuk kemajuan bisnis yang sedang mereka jalani bersama."Pria itu tidak tepat waktu." ucap Adam sambil menghisap rokoknya."Coret namanya, Jeff." ucap Damian kepada asisten barunya yang bernama Jeffrey.Jeffrey segera membuka tablet pintar miliknya dan memberikan tanda silang pada salah satu proposal yang seharusnya akan mereka bahas pada malam ini."Aku akan kembali duluan, apa kamu masih mau menunggu?"Adam ikut bangkit dari duduknya, keduanya berjalan berdampingan diiringi asisten mereka menuju lobby club.Keduanya saling beradu pandang saat kedua
Tidak ada penyesalan di wajah Steven saat berhadapan dengan Adam dan Damian di dalam ruang interogasi kepolisian.Pria itu bahkan tersenyum mengejek pada dua pria yang ada di hadapannya. "Dia pantas mendapatkannya, dia pantas tersiksa mati perlahan di lautan." ujar Steven yang membuat Adam mengepalkan jemarinya dan bersiap meninju wajah Steven.Tangan yang gagal terayun karena Damian telah menahannya."Apa Rosemary menyakitimu?" Damian bertanya dengan nada tenang dan dingin."Dia telah mengambil nyawa saudaraku, nyawa anak mereka dan kamu seharusnya bersyukur karena aku telah menyelamatkanmu dari wanita kejam seperti dirinya."Jawaban Steven membuat Damian menghela nafasnya, hembusan nafasnya begitu berat seberat dirinya yang berusaha bersikap tenang meskipun dia ingin menghajar pria yang terus tersenyum di hadapannya."Apa kamu yakin, Tuan Hill?"Wajah Steven tidak berubah, tetap menampilkan senyum mengejeknya. Tentu sa
Wajah sendu berlinangan air mata menggantikan wajah-wajah tegang, termasuk Rosalia. Dia sama sekali tidak menyangka jika Steven benar-benar akan mencelakai Rosemary.Rasa takut menyelimuti dirinya, bagaimana jika Rosemary mengatakan dia tidak mengenal Mattiash dan tidak pernah melakukan aborsi. Wajah Rosalia memucat, wajah pucat yang diduga karena rasa cemas dan sedih atas kehilangan sepupunya.Perahu-perahu sekoci diturunkan untuk mencari sosok Rosemary, tidak hanya perahu, helikopter juga mencari keberadaan Rosemary begitu juga kapal-kapal pencari dan tidak ada sosok Rosemary, hanya kain kuning yang dikenali Adam sebagai pakaian Rosemary.Pihak keamanan segera mengurung Steven Hill di dalam kamarnya yang dijaga sangat ketat agar pria itu tidak kabur.Wajah Rosalia semakin memucat saat seluruh keluarganya memberikan tatapan dingin.Tidak hanya pesta yang berakhir dengan kekacauan, tetapi juga kekasih yang membuat saudaranya menghilang di lautan.







