MasukMobil melaju pelan meninggalkan kedai, Leonard memandang jalanan di depan, tapi pikirannya jauh melampaui persimpangan yang mereka lewati.“Raka bukan tipe yang menyerang langsung,dia menunggu,mengamati,lalu menekan di titik paling lemah.”Aluna menoleh. “Dan titik lemahnya di mana?”Leonard terdiam cukup lama sebelum menjawab.“Di masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.”Aluna mengernyit. “Maksudmu…?”“Orang seperti dia akan menggali semua, keputusan lama, orang-orang yang pernah aku singkirkan, luka yang belum selesai,dia tidak perlu menjatuhkanku secara terbuka,cukup membuatku meragukan diriku sendiri.”Mobil berhenti di lampu merah. Leonard menghela napas panjang.“Persaingan yang paling menyakitkan bukan soal siapa lebih kuat, tapi siapa yang lebih paham luka lawannya.”Aluna menyentuh lengan Leonard. “Dan lukamu bukan rahasia bagiku.”Leonard menoleh, menatap Aluna sejenak.“Itu yang membuatku takut
Pintu kedai terbuka ,seorang pria masuk, mengenakan setelan rapi yang terasa terlalu formal untuk tempat sekecil itu, langkahnya tenang, matanya tajam.Leonard menegakkan punggungnya sedikit,ada sesuatu yang familiar dari aura itu.Pria itu memesan kopi, lalu tanpa bertanya duduk di kursi kosong tak jauh dari mereka.“Leonard." ucapnya pria itu santai,seolah menyebut nama yang sudah lama dikenalnya.Aluna refleks menggenggam tangan Leonard. Leonard menoleh dan menatap pria itu lurus. “Saya rasa kita belum berkenalan.”Pria itu tersenyum tipis. “Memang belum,tapi saya cukup lama mengikuti langkah Anda.”pria itu mengulurkan tangan. “Raka Pradipta.”Nama itu membuat alis Leonard bergerak, Raka Pradipta investor bayangan, konsultan krisis, orang yang muncul di balik banyak restrukturisasi perusahaan besar dan tidak pernah muncul di depan kamera.“Tenang,” lanjut Raka, seolah membaca kewaspadaan mereka. “Saya tidak datang seb
Pagi harinya...Cahaya matahari masuk pelan melalui sela tirai. Leonard membuka mata dengan perasaan asing.Di sampingnya, Aluna masih terlelap,napasnya teratur, wajahnya damai.Leonard bangkit perlahan, tidak ingin membangunkan Aluna, Ia berdiri di dekat jendela, menatap kota.Aluna bergerak kecil, lalu membuka mata.“Kamu sudah bangun?” suaranya masih serak.Leonard menoleh dan tersenyum. “Iya.”“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Aluna sambil duduk.Leonard berpikir sejenak sebelum menjawab. “Ke masa depan, dan kali ini aku merasa tidak panik.”Aluna tersenyum kecil. “Itu terdengar seperti awal baru.”Leonard mendekat, duduk di tepi ranjang. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana, aku tidak punya jabatan, tidak punya panggung, dan mungkin untuk sementara tidak punya arah.”Aluna mengulurkan tangan, menggenggam tangan Leonard. “Awal tidak selalu butuh peta,kadang cukup langkah pertama.”“Da
“Aku baru sadar, selama ini aku selalu mengira cinta itu harus diperjuangkan dengan keras, dengan pengorbanan besar, dengan luka yang disembunyikan.”Aluna mengusap punggung Leonard perlahan. “Padahal cinta juga bisa sederhana, tinggal mendengar dan tidak pergi.”Leonard tersenyum kecil. “Kamu tahu kenapa aku akhirnya berani mengaku?”Aluna menggeleng.“Karena sekarang aku tidak takut kalau perasaanku tidak dibalas dengan sempurna,” jawab Leonard. “Aku tidak takut kalau cintaku tidak cukup indah, tidak cukup heroik.”Aluna mengangkat wajahnya. “Karena cinta tidak perlu jadi pahlawan.”“Iya,” Leonard mengangguk. “Cinta cukup jadi rumah.”Kalimat itu membuat Aluna terdiam. Dadanya terasa hangat, matanya kembali berkaca-kaca.“Kalau suatu hari nanti kita jatuh lagi, kalau kamu kembali merasa tidak cukup…”Leonard menyela lembut, “Aku akan mengatakannya,aku tidak akan menyimpannya sendiri lagi.”“Dan ak
“Saat aku kecil,” ucap Leonard tiba-tiba, suaranya serak, “aku belajar satu hal jangan menangis. Jangan menunjukkan rasa takut, Karena yang lemah akan ditinggalkan.”Setetes air mata jatuh, tepat di bahu Aluna.“Aku hidup dengan aturan itu terlalu lama, sampai aku lupa bagaimana rasanya menangis tanpa rasa malu.”Aluna memeluk Leonard lebih erat, tidak menyela Tidak membantah ia memberi ruang untuk akhirnya jatuh tanpa dihakimi.“Dan sekarang?” tanya Aluna pelan.Leonard menghela napas panjang. Air mata berikutnya mengalir, kali ini tanpa perlawanan. “Sekarang aku menangis bukan karena aku kalah,” jawabnya. “Tapi karena aku tidak sendirian saat aku kalah.”Perkataan Itu membuat mata Aluna ikut berkaca-kaca, ia menyembunyikan wajahnya di dada Leonard, napasnya ikut bergetar. “Aku bahagia, bukan karena keadaan kita baik-baik saja. Tapi karena kamu membiarkan dirimu menangis, dan air mata itu bukan air mata kesedihan tapi air mata bahagia.
Leonard menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu dalam.“Ada satu hal, yang belum pernah benar-benar aku akui ke siapa pun.”Aluna tidak menjauh. Ia tetap di sana, mendengarkan dengan seluruh perhatiannya.“Apa itu?”Leonard menatap lurus ke depan, bukan karena tidak ingin menatap Aluna, tapi karena kata-kata ini terlalu rapuh untuk diucapkan sambil saling menatap.“Aku sering merasa tidak cukup, bahkan saat aku berada di puncak, bahkan saat semua orang memanggilku kuat.”Aluna terdiam. Tangannya mengencang di punggung Leonard.“Aku membangun diriku dari ekspektasi,” lanjut Leonard. “Jadi anak yang kuat,Jadi pemimpin yang tak goyah,Jadi orang yang selalu punya jawaban. Sampai aku lupa bagaimana rasanya mengaku kalau aku takut.”“Aku takut gagal, takut ditinggalkan, takut kalau suatu hari semua yang kupunya diambil, aku tidak punya alasan lagi untuk dicinta







