Home / Romansa / Cinta Di Balik Tanda Tangan / bab 49 Rasa yang tak bisa ditolak.

Share

bab 49 Rasa yang tak bisa ditolak.

Author: Pita
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-09 08:10:25

Pagi datang dengan cahaya lembut yang menembus tirai kamar.

Aluna membuka matanya perlahan ia menyadari udara di ruangan itu terasa lebih hangat dari biasanya. Ia menoleh ke samping dan Leonard masih tertidur di sofa kecil di ujung kamar, dengan posisi tubuh setengah miring, kemejanya sedikit kusut.

Ia tidak tahu sejak kapan pria itu tertidur di sana.

Yang ia tahu, semalam hujan tak berhenti, dan mereka berdua berbicara di balkon sampai larut. Tentang masa lalu, tentang ketakutan, dan sedikit…
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 150 Ending:Tempat pulang yang menetap.

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan. Leonard bangun lebih dulu,karena kebiasaan baru: memastikan hari dimulai tanpa tergesa. Ia menoleh. Aluna masih tidur, napasnya teratur, wajahnya damai. Leonard tersenyum kecil.Beberapa bulan terakhir berjalan seperti itu. Tidak ada lompatan besar, tidak ada perayaan yang direncanakan. Hanya hari-hari yang dipilih untuk tinggal. Hingga suatu pagi, Aluna memanggilnya dari dapur dengan suara yang berbeda.“Leonard,” katanya pelan, “kita perlu bicara.”Leonard datang dengan tenang. Di meja, ada secangkir teh yang sudah mendingin dan selembar kertas kecil. Aluna tidak menunggu lama untuk menjelaskan. Ia hanya menggeser kertas itu ke arah Leonard.Dua garis tipis,Leonard menatapnya beberapa detik,cukup lama untuk memahami, cukup singkat untuk yakin. Ia mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu, dan di sana tidak ada ketakutan yang dulu sering muncul. Yang ada hanya rasa hadir yang utuh.

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 149 hari yang dipilih untuk tinggal.

    Pagi setelah itu tidak membawa pengumuman apa pun,tidak ada perubahan besar yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal. Leonard bersiap seperti biasa, Aluna merapikan hal-hal kecil yang sempat tertinggal. Namun ada satu perbedaan yang tidak perlu dicari,keduanya bergerak tanpa beban yang dulu tak pernah benar-benar pergi.Leonard berangkat ke kantor dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya, ia tidak lagi memeriksa ulang pikiran sendiri di sepanjang jalan,tidak ada dialog batin yang menimbang kemungkinan terburuk. Ia tiba, bekerja, berbicara seperlunya, dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.Di tengah hari, Leonard berhenti sejenak di depan jendela ruangannya. Kota bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing- masing,ia tidak merasa harus mengatur semuanya agar tetap berada di jalur aman. Ia membiarkan hidup berjalan dan ikut berjalan di dalamnya.Sore datang tanpa drama. Leonard pulang tepat waktu, membaw

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 148 yang tidak lagi ragu

    Pagi datang dengan cahaya yang lebih bersih. Hujan semalam menyisakan udara dingin yang menenangkan, seolah dunia baru saja dibasuh tanpa diminta. Leonard bangun lebih awal, kali ini tanpa jeda panjang,karena tubuhnya siap. Di dapur, Aluna sudah lebih dulu terjaga. Ia menata dua piring sarapan sederhana,tidak ada menu khusus,tidak ada usaha untuk membuat pagi terasa istimewa,namun justru di sanalah keistimewaannya tinggal. “Kamu kelihatan lebih ringan,” kata Aluna sambil menuang air hangat. Leonard duduk. “Karena aku tidak membawa apa pun dari kemarin.” Aluna mengangguk. Mereka makan tanpa terburu, tanpa percakapan panjang. Sendok bertemu piring, pagi berjalan apa adanya. Hari itu, Leonard tidak langsung ke kantor. Ia mengambil waktu setengah hari,keputusan yang dulu selalu ia timbang berulang kali. Kini, keputusan itu hadir tanpa debat di dalam kepala. Ia dan Aluna berjalan keluar rumah, menyu

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 147 hal yang mulai mengakar.

    Hari-hari berikutnya tidak membawa perubahan yang bisa ditunjuk dengan jelas, namun ada sesuatu yang mulai mengendap,seperti tanah yang perlahan memadat setelah lama diguyur hujan. Leonard merasakannya saat ia bangun pagi tanpa dorongan untuk segera berdiri. Aluna merasakannya ketika ia menata hari tanpa perlu memastikan apa pun pada siapa pun.Pagi itu, Aluna menyiapkan sarapan dengan menu yang sama seperti kemarin,tidak ada niat untuk variasi, dan tidak ada rasa bosan. Leonard memperhatikannya dari kursi makan, menyadari bahwa pengulangan kini terasa aman, bukan menjemukan.“Kita sudah beberapa hari begini,” kata Leonard, lebih seperti pengamatan.Aluna mengangguk. “Dan tidak ada yang terasa tertinggal.”Leonard tersenyum kecil. Ia berangkat kerja dengan pikiran yang tidak lagi memantul ke banyak arah. Di kantor, satu proyek lama akhirnya memasuki fase akhir,tanpa drama, tanpa perayaan besar. Ia menandatangani berkas terakhir dan menyerahkannya

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 146 arah yang dibiarkan tumbuh.

    Pagi berikutnya terasa sama, namun tidak pernah benar-benar serupa. Leonard membuka mata dengan kesadaran yang pelan: hari tidak berulang, ia hanya bergerak dengan cara yang lebih lembut. Aluna sudah bangun lebih dulu, duduk di dekat jendela dengan selimut tipis di bahunya, menatap halaman yang masih basah oleh sisa embun.Leonard mendekat tanpa suara. Ia berdiri di belakang Aluna beberapa detik, lalu duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sisi kursi. Tidak ada sapaan. Tidak ada kebutuhan menandai momen.“Ada hari-hari,” ucap Aluna akhirnya, “yang dulu akan membuatku gelisah.”Leonard mengangkat kepala. “Sekarang?”“Sekarang justru membuatku ingin diam lebih lama.”Leonard tersenyum kecil. Ia memahami pergeseran itu,dari ingin memastikan, menjadi ingin merasakan.Di kantor, Leonard menjalani hari tanpa agenda yang penuh. Beberapa hal diserahkan sepenuhnya pada tim. Ia hadir jika diminta, mundur jika tidak diperlukan. Tidak a

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 145 hari yang tidak ditahan.

    Pagi itu datang dengan suara biasa,air mengalir di kamar mandi, langkah pelan di lantai, bunyi cangkir bertemu meja, Leonard dan Aluna bergerak seperti kemarin, dan entah bagaimana, itu terasa cukup.Leonard berangkat sedikit lebih siang, karena tidak ada alasan untuk berangkat lebih awal. Di perjalanan, lampu lalu lintas memaksanya berhenti lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengeluh. Ia memandang keluar, melihat orang-orang menyeberang dengan langkah masing-masing. Tidak ada satu pun yang tampak salah.Di kantor, sebuah diskusi kecil berlangsung di ruang terbuka. Leonard ikut duduk, mendengar tanpa memotong. Ketika pendapatnya diminta, ia menjawab singkat, tidak menutup kemungkinan lain. Diskusi itu berakhir tanpa kesimpulan final dan tidak ada yang gelisah karenanya.“Besok kita lanjut,” kata salah satu dari mereka.Leonard mengangguk. “Baik.”Menjelang siang, Brayen mengirim pesan singkat: Makan bareng?Leonard membalas: Nant

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 75 Aluna terluka.

    Malam itu harusnya menjadi malam yang lebih tenang untuk mereka berdua. Setelah segala ketegang­an, rahasia, dan ketakutan yang Leonard bawa pulang, akhirnya ada sedikit ruang untuk bernapas.Untuk duduk berdampingan.Tapi takdir malam itu tidak sebaik yang mereka harapkan.

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 74 cinta yang tumbuh kembali.

    Setelah kata-kata itu keluar “Aku tetap di sini.”suasana ruang tamu yang dingin seperti berubah menghangat. Leonard tidak bergerak. Ia hanya berdiri di depan istrinya, memandang Aluna dengan ekspresi yang tidak sering ia tunjukkan: campuran lega, takut, dan kasih yang ia sendiri be

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 73 Rahasia dibalik warisan.

    Malam itu, setelah Leonard dan Andrew pergi, Aluna berdiri sebentar di bawah atap halte. Ia menatap ke arah mobil Leonard yang menghilang di tikungan.Ada sesuatu di dada Aluna yang menghangat.Bukan karena syal yang tadi hampir Leonard pakaikan…Tapi karena ucapan terakhirnya.Aku akan pulang mala

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 72 Ancaman baru.

    Hujan gerimis turun makin deras saat Aluna dan Leonard berjalan berdampingan menuju halte kecil di depan rumah sakit. Meski keduanya belum bergandengan tangan, suasana di antara mereka jauh lebih dekat daripada beberapa hari terakhir. Diam-diam, Aluna merasakan hawa familiar yang ia rindukan, keten

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status