Home / Romansa / Cinta Gadis tak Bernasab / 75. Ranjang yang Terkoyak

Share

75. Ranjang yang Terkoyak

Author: Bai_Nara
last update publish date: 2024-12-09 12:09:03
Zahra meletakkan telinganya di tembok. Tak lupa kedua telapak tangannya menempel di tembok juga. Persis cicak. Zahra menarik tubuhnya. Dia mengernyitkan dahi sambil bersedekap. Tatapannya lalu dia alihkan ke jam dinding. Pukul tiga lewat dua puluh menit.

"Aneh. Tadi kayaknya aku denger suara pintu kamar Lulu kebuka, terus kayak lagi pada ngomong cuma gak jelas. Terus kenapa ini sepi banget ya? Gak ada suara. Masa langsung bobo gitu? Gak malam pertama dulu apa? Ish ish ish. Aku kan jadi penasar
Bai_Nara

Siapa yang kena prank? Hahaha. Penasaran pastinya nih ye? Hihihi. Selamat kena prank!

| 17
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Bai_Nara
hahhahah, selamat tertawa
goodnovel comment avatar
Tanty Hassan
aq Sampai Ketawa Ngakak sendiri tengah malam Baca Ceritanya Galuh gara² Ranjangnya Zahra Rubuh
goodnovel comment avatar
Tanty Hassan
Galuh Anteng di Pelukan Suaminya malah yg Berniat menguping yg Tubuh Ranjangnya Wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta Gadis tak Bernasab   137. Penyelamatan Fairuz

    Dapur rumah besar itu masih hangat oleh aroma nasi yang baru saja matang. Di kursi tinggi, Fairuz, gadis mungil berusia tiga tahun, duduk gelisah. Sepasang matanya yang bulat menatap sendok yang terulur ke arahnya dengan wajah menolak. Dia sudah beberapa kali menerima suapan dari Bi Isah. Namun, perutnya sudah tidak bisa menerima suapan lagi. Karena itu dia menolak."Buka mulutmu!” perintah Bi Isah, tegas. Wajahnya menampilkan ekspresi datar."Buka!" perintah Bi Isah lagi.Fairuz menggeleng pelan. Bibirnya mengatup, tubuh mungilnya merapat ke sandaran kursi. Ada ketakutan yang tak berani diucapkan, hanya tersimpan dalam matanya yang berkilat menahan air mata."Buka, tidak! Mau kupaksa hah?!""Fay kenyang, Bi!""Bohong! Baru lima suap, mana mungkin kenyang?""Fay udah kenyang, Bi. Beneran.""Bohong. Buka mulutmu! Makan!" perintah Bi Isah, tegas.Fairuz mencoba menerima suapan namun dia malah muntah hingga bekas muntahannya mengenai seragam yang dipakai oleh Bi Isah. Bi Isah kesal, dia

  • Cinta Gadis tak Bernasab   136. Ancaman Hasina

    Galuh, Ibu Anjani dan kedua orang tua Zahra menatap Zahra dengan tatapan kesedihan. Mereka benar-benar tak menyangka acara yang niatnya Zahra hadiri untuk bisa berjumpa dengan kawan lama, malah berakhir dia pingsan akibat obat bius yang dia konsumsi cukup banyak."Zahra gak papa, kan Pak?""Kata dokter gak papa, Bu. Sebentar lagi pasti dia sadar.""Jahat sekali mereka. Gimana dengan Fairuz ya, Pak?""Alfa sedang mencarinya. Kamu tenang saja. Kemarin saja dia berhasil menemukan Fay, sekarang pasti juga bisa."Aiman berusaha memberikan ketenangan untuk sang istri sementara Galuh sejak tadi hanya diam saja. Ada rasa khawatir dalam hatinya. Namun, dia tidak bisa membantu apa pun selain mendoakan keselamatan sang putri.Sementara itu, Alfa dan beberapa anggota polisi yang dia mintai tolong tengah melaju membelah arus jalan untuk menemukan Fairuz. "Alfa, kamu yakin, mereka ada di sana?" tanya Aba Faris yang juga ikut dalam usaha menemukan sang cucu."Iya, Ba. Meski mereka berusaha mengecoh

  • Cinta Gadis tak Bernasab   135. Drama Penculikan Lagi

    Zahra yang sudah selesai sholat sedang menggunakan kaos kaki sementara Fairuz berada di sampingnya sambil sesekali berceloteh. Zahra dan yang lain memutuskan sholat terlebih dahulu di salah satu masjid yang dilewati ketika jam menunjuk ke arah empat sore. Kebetulan kompleks masjid dekat dengan alun-alun kecamatan. "Onty, Fay mau beli cilok."Fairuz segera berdiri dan menggunakan sandalnya. Dia berlari menuju ke pedagang cilok yang mangkal di area halaman depan kompleks masjid tempat Zahra dan yang lain menunaikan sholat ashar. Karena pedagang itu dikerumuni banyak pembeli, Fairuz mau tak mau antri. Zahra yang sudah selesai memakai kaos kaki dan sandalnya, segera ikut menghampiri. Dia dan Fairuz dengan sabar menunggu antrian. Alwi yang melihat tingkah Fairuz dan Zahra berdecak kesal. "Malah jajan. Apa masih kurang tadi makannya di Rita. Gak tahu apa aku udah capek pengen segera rebahan di kasur," gerutu Alwi yang didengar oleh dua kang dalem. "Biarkan saja Gus. Toh tinggal pulang

  • Cinta Gadis tak Bernasab   134. Cewek Kok Ngorok

    Alwi mengusap peluh dari dahinya. Hari itu, panas terasa menyengat meski matahari belum tepat di atas kepala. Ia baru saja keluar dari kantor Badan Pertanahan, membawa map cokelat berisi dokumen ganti rugi tanah milik warga yang akan dilewati proyek jalan tol. Prosesnya melelahkan, tapi berakhir membahagiakan. Ya melelahkan bagi yang membantunya, sebab Alwi dan sang umi hanya terima beres. Semua diurusi oleh Alfa. Berkat Alfa, dia dan sang ibu mendapatkan kompensasi yang menguntungkan untuk tanah warisan sang abah. Mau tak mau dia harus mengakui relasi sang kakak sepupu maupun kemampuannya dalam bernegosiasi. Dan kalau sesuai adab kesopanan, Alwi dan sang umi harusnya berterima kasih kepada Alfa. Tapi berterima kasih? Enak saja. Tidak ada dalam kamus Alwi setidaknya untuk saat ini. Saat hatinya masih diselubungi rasa iri dan cemburu. Alwi menoleh ke beberapa orang yang mengalami nasib sama dengan dia. Beberapa ada yang marah, ada yang menangis, dan ada pula yang terlihat bahagia.

  • Cinta Gadis tak Bernasab   133. Saling Sindir

    Kabar kebakaran di rumah Bawazier telah sampai ke telinga Alfa dan keluarganya mendekati bada dhuhur. Alfa segera mengkonfirmasi pada Aidan yang juga sudah mendapat berita lebih dulu."Diduga sebagai upaya pembunuhan. Korban berjumlah depalan orang. Tiga pembantu wanita, satu tukang kebun, dua satpam, dan dua orang yang diduga Bawazier dan Hasina. Hanya saja, ini yang masih perlu dikonfirmasi apakah benar Hasina apa bukan. Sebab, setelah kejadian Fairuz terluka, dia sudah diceraikan oleh Bawazier. Hasina juga sudah diusir dari rumah," ucap Aidan dari seberang telepon."Apa menurutmu wanita yang ditemukan di kamar Bawazier bukan Hasina?""Bisa iya bisa bukan. Tergantung hasil Tes DNA.""Hasil Tes DNA kapan keluarnya?""Tergantung. Tapi bisa kemungkinan cepat. Mengingat keluarga Bawazier termasuk keluarga kaya raya pun Hasina.""Semoga saja ada titik terang.""Iya semoga saja."Aidan dan Alfa terus mengobrol cukup lama. Sebelum mengakhiri percakapan, Aidan meminta Alfa untuk tetap waspa

  • Cinta Gadis tak Bernasab   132. Kebakaran

    Galuh memeluk sayang sang putri, beberapa kali dia menciumi pipi Fairuz dengan sorot mata yang sendu."Mereka jahat sekali," bisiknya lirih.Sebuah pelukan melingkar di perutnya. Galuh sedikit menoleh tapi tidak mengubah posisi rebahannya. Kecupan hangat mendarat di keningnya, diikuti usapan lembut di perut."Kalian baik-baik saja, kan?""Kami baik. Njenengan?""Sudah lebih baik. Bisa meluk kamu, dedek di perut baik-baik saja dan melihat Fay bisa tertidur lelap, membuatku tenang."Alfa kini ikut merebahkan diri di samping sang istri. Dia tak banyak bicara, hanya diam. Galuh pun paham jika suaminya pasti terlalu lelah. Dengan perlahan dia berbalik dan menghadap ke sang suami. Galuh menyerukkan wajahnya di dada bidang sang suami. Mencari kenyamanan yang selalu dia dapatkan. "Tidurlah. Kamu pasti capek.""Mas pasti juga sama capeknya. Jadi, ayok kita tidur."Alfa mengulas senyum tipis, mengecup kening sang istri lagi dan mengeratkan pelukan. Setelah melafalkan doa, Alfa mencoba tidur. S

  • Cinta Gadis tak Bernasab   122. Ups, Sorry. Sengaja!

    "Woy! Jalan pakai mata!" bentak Alwi pada Zahra yang tidak sengaja menabrak dirinya. Zahra yang niatnya hendak meminta maaf pada siapa pun yang tidak sengaja dia tabrak karena berlari mengejar bola, urung saat tahu jika yang dia tabrak adalah Alwi. "Sorry, kirain tembok," balas Zahra memasang mim

  • Cinta Gadis tak Bernasab   121. Obat Migren

    Alfa sampai di rumah menjelang jam empat. Dia terlihat kelelahan karena baru saja menyelesaikan segudang pekerjaan dimulai dari meninjau lokasi kebun durian miliknya, mengecek usaha miliknya, memberi materi kewirausahaan di salah satu sekolah pertanian yang ada di Purwokerto hingga menemui salah sa

  • Cinta Gadis tak Bernasab   120. Balik Ke Rumah

    "Ami Syakib gimana kabarnya, Ba?""Udah lebih baik. Udah ikhlas dia. Amira selalu ada di sampingnya. Jadi motivator terbaik buat ami kamu. Ditambah sudah ada Rafatar. Jadi proses penyembuhannya lebih gampang."Satu Minggu setelah kematian Habiba, Galuh dan Fairuz masih berada di Andalusia. Alfa sen

  • Cinta Gadis tak Bernasab   119. Memaafkan

    Syakib dan yang lain masih dalam kondisi terguncang. Alfa yang berada di balik kemudi mobil Syafiq bahkan sampai mencengkeram kemudi."Tidak. Tidak Habiba."Syakib segera membuka pintu belakang, sebelah kiri. Dia berlari menuju ke kerumunan. Dia bahkan mendorong beberapa orang untuk sampai ke sosok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status