LOGINKata cinta adalah kata 'terkutuk' untuk gadis bernama Galuh Anjani. Meski kata orang dia memiliki bentuk fisik nyaris sempurna, namun kecacatan berada pada asal usul kehadirannya. Ditemukan di depan gerbang sebuah pondok, diasuh oleh pengurus pondok yang baru saja kehilangan putri keduanya karena sakit. Galuh dirawat penuh kasih oleh Bu Nyai Khomsah dan Kyai Baihaki. Meski hidupnya lurus tanpa cela, setiap lelaki yang datang padanya selalu mundur begitu melihat asal usulnya. Sebagai wanita, dia harus menikah dengan embel-embel binti bapaknya. Sementara Galuh, tidak tahu siapa bapak ibunya. Beberapa kali dikecewakan, membuat Galuh sudah pasrah. Hatinya terkunci rapat untuk semua pria. Baginya, cinta itu bukan untuknya. Apalagi, sosok yang selalu membuatnya berdebar sudah menambatkan hati pada orang lain. Dan kini, dia pun dipaksa untuk menyingkir, karena calon ratu di hati sang pujaan, juga mengharap cinta bapak dan ibu angkat Galuh, hanya untuknya, sang calon menantu.
View MoreDapur rumah besar itu masih hangat oleh aroma nasi yang baru saja matang. Di kursi tinggi, Fairuz, gadis mungil berusia tiga tahun, duduk gelisah. Sepasang matanya yang bulat menatap sendok yang terulur ke arahnya dengan wajah menolak. Dia sudah beberapa kali menerima suapan dari Bi Isah. Namun, perutnya sudah tidak bisa menerima suapan lagi. Karena itu dia menolak."Buka mulutmu!” perintah Bi Isah, tegas. Wajahnya menampilkan ekspresi datar."Buka!" perintah Bi Isah lagi.Fairuz menggeleng pelan. Bibirnya mengatup, tubuh mungilnya merapat ke sandaran kursi. Ada ketakutan yang tak berani diucapkan, hanya tersimpan dalam matanya yang berkilat menahan air mata."Buka, tidak! Mau kupaksa hah?!""Fay kenyang, Bi!""Bohong! Baru lima suap, mana mungkin kenyang?""Fay udah kenyang, Bi. Beneran.""Bohong. Buka mulutmu! Makan!" perintah Bi Isah, tegas.Fairuz mencoba menerima suapan namun dia malah muntah hingga bekas muntahannya mengenai seragam yang dipakai oleh Bi Isah. Bi Isah kesal, dia
Galuh, Ibu Anjani dan kedua orang tua Zahra menatap Zahra dengan tatapan kesedihan. Mereka benar-benar tak menyangka acara yang niatnya Zahra hadiri untuk bisa berjumpa dengan kawan lama, malah berakhir dia pingsan akibat obat bius yang dia konsumsi cukup banyak."Zahra gak papa, kan Pak?""Kata dokter gak papa, Bu. Sebentar lagi pasti dia sadar.""Jahat sekali mereka. Gimana dengan Fairuz ya, Pak?""Alfa sedang mencarinya. Kamu tenang saja. Kemarin saja dia berhasil menemukan Fay, sekarang pasti juga bisa."Aiman berusaha memberikan ketenangan untuk sang istri sementara Galuh sejak tadi hanya diam saja. Ada rasa khawatir dalam hatinya. Namun, dia tidak bisa membantu apa pun selain mendoakan keselamatan sang putri.Sementara itu, Alfa dan beberapa anggota polisi yang dia mintai tolong tengah melaju membelah arus jalan untuk menemukan Fairuz. "Alfa, kamu yakin, mereka ada di sana?" tanya Aba Faris yang juga ikut dalam usaha menemukan sang cucu."Iya, Ba. Meski mereka berusaha mengecoh
Zahra yang sudah selesai sholat sedang menggunakan kaos kaki sementara Fairuz berada di sampingnya sambil sesekali berceloteh. Zahra dan yang lain memutuskan sholat terlebih dahulu di salah satu masjid yang dilewati ketika jam menunjuk ke arah empat sore. Kebetulan kompleks masjid dekat dengan alun-alun kecamatan. "Onty, Fay mau beli cilok."Fairuz segera berdiri dan menggunakan sandalnya. Dia berlari menuju ke pedagang cilok yang mangkal di area halaman depan kompleks masjid tempat Zahra dan yang lain menunaikan sholat ashar. Karena pedagang itu dikerumuni banyak pembeli, Fairuz mau tak mau antri. Zahra yang sudah selesai memakai kaos kaki dan sandalnya, segera ikut menghampiri. Dia dan Fairuz dengan sabar menunggu antrian. Alwi yang melihat tingkah Fairuz dan Zahra berdecak kesal. "Malah jajan. Apa masih kurang tadi makannya di Rita. Gak tahu apa aku udah capek pengen segera rebahan di kasur," gerutu Alwi yang didengar oleh dua kang dalem. "Biarkan saja Gus. Toh tinggal pulang
Alwi mengusap peluh dari dahinya. Hari itu, panas terasa menyengat meski matahari belum tepat di atas kepala. Ia baru saja keluar dari kantor Badan Pertanahan, membawa map cokelat berisi dokumen ganti rugi tanah milik warga yang akan dilewati proyek jalan tol. Prosesnya melelahkan, tapi berakhir membahagiakan. Ya melelahkan bagi yang membantunya, sebab Alwi dan sang umi hanya terima beres. Semua diurusi oleh Alfa. Berkat Alfa, dia dan sang ibu mendapatkan kompensasi yang menguntungkan untuk tanah warisan sang abah. Mau tak mau dia harus mengakui relasi sang kakak sepupu maupun kemampuannya dalam bernegosiasi. Dan kalau sesuai adab kesopanan, Alwi dan sang umi harusnya berterima kasih kepada Alfa. Tapi berterima kasih? Enak saja. Tidak ada dalam kamus Alwi setidaknya untuk saat ini. Saat hatinya masih diselubungi rasa iri dan cemburu. Alwi menoleh ke beberapa orang yang mengalami nasib sama dengan dia. Beberapa ada yang marah, ada yang menangis, dan ada pula yang terlihat bahagia.
Galuh menerima hadiah dari Alfa dengan kikuk, sementara sang kakak angkat hanya memamerkan senyum tipisnya. Beruntung Alfa memiliki karakter cool, irit ngomong dan segala sifat yang dimiliki oleh kulkas dua pintu, sehingga menyamarkan ketidaksukaan Alfa pada Galuh. “Makasih, Gus,” ucap Galuh lirih
Galuh masih shock. Dia diam saja dalam posisi bak ala-ala aktris dan aktor Korea yang sedang melakoni drama romansa. Sayangnya antara Galuh dan Alfa bukannya terlibat dalam sebuah romansa, yang ada keduanya terikat pada realita ya realita. Terutama setelah kata-kata pedas dari sang pria, langsung m
Alfa beristighfar, dia menunduk. Ikhlas yang melihat tingkah sahabatnya terkikik. Menurutnya sikap Alfa itu lucu, terlihat sekali sahabatnya itu sedang terpesona.“Mas Alfa kan? Yang kemarin nolong saya?” cecar Shadiqah.Alfa hanya mengangguk. Shadiqah kembali tersenyum, “Boleh Shadi duduk di sini?
Galuh memberikan senyum manisnya pada Jauza. Jauza pun membalas hal yang serupa. Meski keduanya saling mengenal tapi tidak terlalu akrab. Tentu saja karena ada batas bernama kedudukan. Jauza meski bukan Ning tapi masih kerabat dekat keluarga Kyai Baihaki. Sementara Galuh? Sudah jelas dia siapa."Mb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore