Home / Young Adult / Cinta Gita / BAB 6 RUMAH MANTAN

Share

BAB 6 RUMAH MANTAN

Author: Yoongina
last update Last Updated: 2026-03-17 15:21:25

Sebulan sudah aku menjalani hubungan manis bersama Andreas. Selama itu pula aku merasakan, suasana jalan-jalan sore yang selalu Andreas lakukan setiap weekend. Merelakan bangun tidur lebih pagi agar bisa mengantarku ke sekolah dan menjemputku setiap hari. Seakan dunia milik berdua, tiada hari tanpa bertemu.

​"Aku nggak mau, Yang. Malu." Aku menolak untuk kesekian kalinya saat Andreas memintaku ikut kumpul dengan gengnya. Masalahnya satu, mereka berkumpul di rumah mantan pacar Andreas yang dijadikan 'markas'.

​"Nggak apa-apa, masa udah sebulan kita jadian kamu masih nggak mau ketemu temen-temen aku?"

​Melihat wajah tampannya yang sedang cemberut itu, pertahananku perlahan runtuh. Aku tidak tega menolak permintaannya kali ini.

​"Ya udah. Tapi sebentar aja, ya," jawabku, yang langsung disambut senyum kemenangannya. "Sebentar, aku ganti baju dulu." 

​"Nggak usah cantik-cantik. Temenku laki semua," candanya dari luar.

​Aku hanya tertawa mendengar candaan konyolnya itu dan berlalu ke kamar.

​"Itu pacarnya si Ade?" tanya Omku yang sedang berkunjung, pada Mama.

​"Iya," sahut Mama sambil sibuk menggoreng ayam di dapur.

​"Ganteng amat. Laku juga si Ade bisa dapetin cowok ganteng begitu."

​Aku yang baru melintasi meja makan langsung menghampiri mereka dan menyambar sepotong pisang goreng. "Laku, lah! Emang Kak Ana sama Kak Lani doang yang bisa dapetin cowok ganteng?"

​Aku melengos masuk kembali ke kamar sambil mengunyah, meninggalkan Omku yang tertawa bersama Mama.

***

​Motor gede Andreas berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan warung kecil di sudutnya. Terlihat biasa, tapi cukup asri karena banyak tanaman yang terawat rapi. Pohon-pohon rindang di sana membuat suasana terasa sejuk.

​"Bisa turunnya, nggak?" tanya Andreas, mengagetkanku yang sempat terpaku melihat 'markas' mereka yang ternyata senyaman ini.

​"Bisa," sahutku singkat. Aku mencengkeram kedua pundaknya dan meloncat turun dari motor.

​Andreas memarkirkan motornya di samping deretan motor lain, lalu menggandeng tanganku menuju halaman belakang. Katanya, di sana lebih luas.

​"Kenapa harus bikin markas di rumah mantan, sih?" tanyaku pelan sambil berjalan.

​Andreas menoleh dan tersenyum tipis. "Cemburu?"

​"Ya nggak, cuma heran aja. Aneh. Di mana-mana kalau udah jadi mantan itu dihindari, ini malah dijadiin tempat tongkrongan."

​Andreas tertawa kecil. "Kayak Yoga, ya?"

​"Ih, kok jadi bahas Yoga!" Sewotku sambil mencubit pelan tangannya yang masih menggenggam jemariku.

​Lagi-lagi dia tertawa. "Kakaknya mantanku ini teman baikku, Yang. Makanya kita sering nongkrong di sini," jelas Andreas yang akhirnya membuatku mengangguk mengerti.

​"Lah, ini dia orangnya baru dateng!" teriak seseorang yang duduk di bawah pohon mangga. Buahnya bergelantungan lebat, membuat perhatianku teralih kesana.

​"Sori lama, gue jemput cewek gue dulu. Oiya, kenalin, cewek gue." Andreas menarik tanganku, membuyarkan fokusku yang asyik menghitung jumlah mangga di dahan.

​"Mau mangga?" tanya Andreas lembut menyadari arah pandanganku.

​Aku menggeleng malu dan menyapa teman-temannya. Ada enam orang. Hanya satu yang aku kenal karena rumahnya dekat denganku.

​"Lah, si Gita! Incerannya Ikhsan. Lo juga ternyata selama ini main kerumah gue karena ngincer si Gita, Ndre?" teriak Arfan sambil melirikku dan Andreas. Aku mendelik. Aku memang tidak suka pada Arfan dan temannya yang bernama Ikhsan karena mereka sering menggangguku setiap kali aku lewat di depan rumah Arfan.

​Andreas menatap tidak suka ke arah temannya itu. "Awas aja kalau Ikhsan masih berani ganggu cewek gue," geramnya, lalu mengajakku duduk di bangku kayu yang kosong.

​"Ya pantesan Gita nolak Ikhsan, seleranya Andreas. Jauhhhh!" sahut cowok berambut cepak sambil memetik gitar.

"Kasian si Ikhsan, udah lama naksir malah ditikung Andreas." ucap Arfan mengundang tawa yang lain.

"Usahanya kurang kali, gue aja deketin Gita dari dia masih punya pacar." Sahut Andreas bangga.

"Beda kasta, Ndre. Lo mah deketin cewek dimana-mana juga pasti diterima."

Kali ini ucapan Arfan membuatku risih. ​Aku mendekatkan bibir ke telinga Andreas. "Yang, udah, jangan bahas Ikhsan terus," bisikku pelan.

Andreas menatapku dengan senyum tipis, lalu meraih tanganku dan mengusapnya lembut. "Iya," jawabnya pelan.

​"Ehem!"

​Suara dehaman dari belakang membuat kami menoleh bersamaan.

​"Biasa aja, nggak usah pegang-pegangan tangan di depan gue." Suara sinis itu keluar dari mulut seorang gadis yang baru muncul. Andreas berdecak kesal.

​"Jangan mulai, deh," sahut Andreas ketus, tak mempedulikan protes gadis itu.

​"Gita, jangan risih, ya. Ini adik gue, Luna. Mantannya Andreas," ucap cowok di samping Andreas. Suaranya terdengar lebih dewasa dibanding yang lain.

​"Nggak risih, kok," jawabku pelan, meski sempat melirik wajah gadis itu. Luna sangat cantik. Kulitnya sawo matang dengan rambut pendek sebahu yang modis.

​"Masa nggak risih? Padahal gue masih usaha buat balikan sama Andreas," ucap Luna tanpa dosa. Ia mengulurkan tangan. "Gue Luna. Nama lo?"

​Tatapan matanya datar, seolah sedang menelanjangiku dan membandingkan penampilanku dengan dirinya.

​"Gita," jawabku singkat.

​"Yakin mau pacaran sama Andreas?emang tahan sama mantan-mantannya yang masih berharap buat balikan?" Ucap Luna penuh percaya diri.

​"Lun, cukup. Mending lo masuk," gertak Andreas.

​"Coba aja cek HP-nya. Pasti isinya chat dari cewek semua. Gimana kita mau move on kalau Andreasnya aja masih nanggepin? Makanya dulu gue sering marah-marah," cerocos Luna, sengaja memancing keributan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

​"Maafin adik gue, Gita. Jangan didengerin. Andreas setia, kok," ucap Radit mencoba mencairkan suasana.

​Aku hanya tersenyum tipis, tapi pikiranku mulai liar. Aku teringat Yoga, mantanku. Dia sangat terbuka, bahkan selalu memintaku memegang ponselnya saat kami bersama. Tak ada yang disembunyikan.

​Sementara dengan Andreas? Selama sebulan ini, aku bahkan tak pernah menyentuh ponselnya. Dan dia memang sering terlihat sibuk membalas pesan saat bersamaku.

​"Coba aku lihat HP kamu," pintaku pelan saat yang lain asyik mengobrol.

​Andreas menoleh dengan kening berkerut. "Kamu kemakan omongan Luna?"

​"Jadi, nggak boleh?" suaraku naik satu oktav.

​"Bukan nggak boleh, tapi HP itu kan privasi, Sayang."

​Jawaban itu seperti konfirmasi bagiku. Dia menyembunyikan sesuatu. Sepanjang sisa hari, aku hanya terdiam dan asyik dengan ponselku sendiri. Andreas mencoba bercanda, tapi aku tetap memasang wajah datar.

​"Lapar, nggak? Mau keluar makan?" tanya Andreas lembut.

​"Aku mau pulang aja."

​"Tapi kan belum makan, Yang."

​"Nggak lapar," jawabku singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

​Andreas menghela napas panjang. "Ya udah, ayo aku antar pulang," ucapnya sambil berdiri.

​Aku tersentak. Sejujurnya, aku hanya menggertak, berharap dia akan membujukku atau akhirnya memberikan ponselnya. Tapi ternyata dia justru benar-benar mengajak pulang.

​"Semuanya, gue balik duluan. Kasihan Gita udah sore," pamit Andreas.

​Aku hanya melempar senyum tipis pada teman-temannya dan berjalan duluan ke depan.

Di teras, Luna masih duduk bersama temannya.

​"Eh, udah mau pulang? Gimana, udah cek HP-nya? Atau nggak dikasih?" ledek Luna disusul tawa mengejek dari temannya.

​Aku tidak menjawab. Andreas muncul dan langsung menuju motor.

​"Kok bengong? Yuk, pulang," ajak Andreas.

​"Mungkin lagi mikirin kenapa lo pelit banget soal HP, Ndre!" teriak Luna lagi.

​"Nggak usah jadi kompor, Lun!" balas Andreas gusar. Dia menaiki motornya. "Yuk. Bisa naiknya?"

​Andreas mengulurkan tangan untuk membantuku, tapi aku mengabaikannya. Dengan sekuat tenaga, aku memanjat motor gedenya tanpa menyentuh tubuhnya sedikit pun.

​"Kamu marah?" tanya Andreas menoleh sedikit ke belakang.

​"Nggak!" jawabku ketus.

Untuk pertama kalinya pertengkaran terjadi dalam hubunganku bersama Andreas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Gita   BAB 6 RUMAH MANTAN

    Sebulan sudah aku menjalani hubungan manis bersama Andreas. Selama itu pula aku merasakan, suasana jalan-jalan sore yang selalu Andreas lakukan setiap weekend. Merelakan bangun tidur lebih pagi agar bisa mengantarku ke sekolah dan menjemputku setiap hari. Seakan dunia milik berdua, tiada hari tanpa bertemu.​"Aku nggak mau, Yang. Malu." Aku menolak untuk kesekian kalinya saat Andreas memintaku ikut kumpul dengan gengnya. Masalahnya satu, mereka berkumpul di rumah mantan pacar Andreas yang dijadikan 'markas'.​"Nggak apa-apa, masa udah sebulan kita jadian kamu masih nggak mau ketemu temen-temen aku?"​Melihat wajah tampannya yang sedang cemberut itu, pertahananku perlahan runtuh. Aku tidak tega menolak permintaannya kali ini.​"Ya udah. Tapi sebentar aja, ya," jawabku, yang langsung disambut senyum kemenangannya. "Sebentar, aku ganti baju dulu." ​"Nggak usah cantik-cantik. Temenku laki semua," candanya dari luar.​Aku hanya tertawa mendengar candaan konyolnya itu dan berlalu ke kamar.

  • Cinta Gita   BAB 5 : PERNYATAAN CINTA KEDUA

    Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas. ​Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti pada Sabtu pagi ini, dia sudah nangkring di depan rumah dengan motor gedenya yang terparkir gagah di halaman. ​Karena sedang sendirian di rumah, aku terpaksa membuka pintu dan menemuinya. ​"Kenapa nggak pernah angkat telepon gue, Git? Pesan gue juga nggak pernah dibalas." Suara Andreas terdengar lirih, ada nada kecewa di sana. ​"Gue ada salah, ya, sama lo?" cecarnya sambil menatap mataku dalam-dalam. ​"Enggak, kok." ​"Terus?" ​"Lagi nggak sempat main HP," bohongku. Padahal jadwal les saja sedang kosong. Pulang sekolah, kalau tidak tidur, ya, pasti asyik scrolling ponsel. ​"Gimana nggak main HP sih, Git? Chat gue aja udah lo baca, cuma nggak mau balas aja. Iya, kan?" ​Aku menghela na

  • Cinta Gita   BAB 4 : GENG GAUL

    "Git! Lo denger nggak? Gengnya Selvi lagi ngomongin lo sama Andreas!" Nila tergopoh-gopoh menghampiri mejaku tepat saat bel istirahat memecah keheningan kelas. ​"Katanya, Andreas itu gebetannya Erni." Mata Nila membelalak cemas, seolah berita yang ia bawa adalah sebuah hukuman gantung untukku. ​"Serius?" Azizah, teman sebangkuku, langsung ikut nimbrung dengan wajah syok. "Mampus lo, Git! Mending lo jauhin Andreas dari sekarang. Lagian, lo nggak usah ketinggian deh mimpinya, cari cowok yang biasa-biasa aja kenapa, sih?" ​Aku menghela napas, mencoba tetap tenang. "Kalian kenapa, sih? Aku sama Andreas nggak ada apa-apa, kok." ​"Bohong! Nggak mungkin!" sambar Azizah cepat. "Udah jelas-jelas kemarin lo berdua pelukan di bus!" ​Belum sempat aku membela diri dari cecaran mereka, suara derap kaki yang berlari mendekat membungkam mulutku. ​"Git, dicariin Erni. Katanya lo disuruh ke ruang latihan dance sekarang. Ada apa, sih? Kayaknya serius banget, gengnya sampai kumpul semua d

  • Cinta Gita   BAB 3 : SORE HARI BERSAMAMU

    Sesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya. Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor. ​Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju halte Transjakarta. Karena tidak berhasil mengejar, Andreas memesan ojek online menuju halte yang dia kira akan kudatangi. Tak menemukanku di sana, dia berniat mencariku langsung ke GBK. Beruntungnya, kami malah satu bus karena Andreas naik dari halte sebelumnya. Begitulah ceritanya kenapa makhluk itu tiba-tiba sudah ada di dalam bus sebelum aku masuk. Kalau kata orang, pertemuan tak sengaja di tempat yang sama itu tandanya jodoh. ​Ah, Gita. Bisa aja kamu ini! ​"Assalamualaikum," ucap Andreas saat membuka pintu rumahnya yang sederhana namun asri. ​Aku yang pernah punya pengalaman buruk di rumah Yoga, tidak pernah disambut baik oleh orang tuanya, merasa ragu untuk melangkah masuk. Kh

  • Cinta Gita   BAB 2 : SATU BUS YANG SAMA

    Jalanan ibu kota pada Minggu pagi tetap saja menyebalkan. Apalagi jalur menuju pusat olahraga favorit warga Jakarta. Kalau bukan karena dipaksa teman-teman sekolah, aku pasti masih meringkuk di balik selimut sampai siang.​Nggak usah julid, kalian juga sering begitu, kan? Tapi khusus hari ini, alasanku bangun kesiangan bukan cuma karena malas. Kejadian putus cinta semalam membuatku sukses menghabiskan berlembar-lembar tisu sambil meratapi foto Yoga. Intinya, aku kurang tidur.​"Gita!"​Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut tebal sebahu melambai dari seberang jalan. Itu Azizah. Di sampingnya, tiga teman kelasku yang lain sudah berdiri menunggu dengan wajah tidak sabar.​Begitu arus kendaraan agak renggang, aku berlari kecil menghampiri mereka.​"Sori ya, gue telat. Kalian udah lama?" tanyaku dengan wajah memelas. Berharap keterlambatan satu jam ini tidak berakhir dengan keributan.​"Makanya, biasakan olahraga biar libur begini bisa bangun pagi," semprot Widi dengan tampang judesn

  • Cinta Gita   BAB 1 : PUTUS

    "Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan. ​Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih. ​"Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. ​Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu. ​"Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah. ​"Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status