LOGINAuthor POV [Flashback hari kepergian Andreas dari rumah Keluarga Ale saat makan malam bersama.] "Andreas, tunggu!" teriak Salsa berlari menyusul langkah panjang laki-laki itu. Andreas tidak perduli, dengan wajah merah menahan amarah, ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil bertepatan dengan Salsa yang juga masuk di sisi kursi penumpang. "Aku mau sendiri, Sal!" geram Andreas melihat Salsa yang berhasil menyusulnya. "Aku kan sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu sendiri." Balas Salsa tersenyum tipis. "Jangan bercanda, aku lagi nggak mood." "Ada apa antara kamu dengan Gita?" tanya Salsa mengabaikan amarah Andreas. Karena gadis itu tidak suka dengan rahasia yang selalu Andreas pendam selama ini "Apa dia orangnya? gadis yang selalu kamu sebut sebagai pacar kamu di Jakarta saat kita masih di Surabaya?" Salsa terus mendesak. Andreas hanya diam, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, tanda bahwa laki-laki itu sedang menahan amarah
Wajah Ale yang semula cerah kini berubah menjadi kaku, guratan kekecewaan mulai nampak jelas di sela-sela sorot matanya. Ia tidak lagi menatap cincin di jariku, melainkan menatap langsung ke dalam kedua mataku. "Jawab, Git. Kenapa Salsa bisa tanya begitu? Apa benar pagi tadi kamu nggak ke kampus, tapi justru pergi sama Andreas?" Suara Ale rendah namun membuatku merinding. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sangat kering. "Kak, dengerin dulu... Aku... aku memang ke rumah sakit, tapi itu murni untuk skripsi." "Untuk skripsi atau untuk dia?" Ale memotong cepat, langkahnya mendekat hingga aku bisa merasakan kemarahan yang memancar dari tubuh atletisnya. "Kamu bilang ada urusan kampus yang mendadak. Kamu bohong demi bisa ketemu dia di belakangku? Padahal aku sudah bilang, aku nggak tenang kalau kamu dekat-dekat sama dia!" "Ini bukan soal dia, Kak! Ini soal observasi manajemen konflik di Bab tigaku. Andreas itu koordinator koas di sana, hanya dia yang bisa kasih aku akses
Malam ini aku benar-benar tidak bisa menutup mata. Agenda dua janji esok hari membuat kepalaku sakit. Sebenarnya, bertemu Andreas adalah pilihan yang sangat penting, karena waktu observasi tidak bisa di jadwalkan ulang. Sedangkan membeli cincin pertunangan bisa dilakukan lain waktu karena acara pertunangan baru dilaksanakan minggu depan.Tapi desakan Ale saat meninggalkan rumahku tadi tidak bisa aku tolak. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya setelah mendapatkan restu dari Papa. Ditambah lagi, Ale tidak mengetahui rencana observasi dataku esok hari."Ya tuhan, bagaimana ini!" jeritku tertahan membenamkan wajah di bantal. Terlintas dalam benakku untuk meminta sekali lagi saja bantuan Andreas agar bisa membantu ku mengatur ulang jadwal observasi. Sejenak aku berpikir untuk memperioritaskan permintaan Ale. Tapi, peringatan Papa dan Mama yang selalu mengingatkanku untuk menomorsatukan pendidikan, sekali lagi menggoyahkanku."Arrgghhh!" Aku benar-benar buntu, hingga akhirnya keputusan s
"Apa nggak terlalu cepat, de?" tanya Mama saat aku bicara soal keinginan Kak Ale melamarku dan bertunangan. "Ade juga udah bilang begitu ke Kak Ale, Ma. Tapi—" Aku merebahkan kepalaku di pangkuan Mama. Merasakan kenyamanan dari belaian lembut tangannya di rambut kepalaku. "Coba Ade ngomong dulu sama Papa, kalau Papa kasih ijin, ya Mama sih ikut aja. Tapi Ade datang kerumah Papa, jangan lewat telepon." Aku menghela nafas panjang dan mengangguk pelan dipangkuan Mama. Aku sebenarnya tidak pernah berkunjung kerumah Papa, karena jujur saja, aku tidak terlalu menyukai ibu tiri dan adik tiriku. Setiap kali aku ada perlu, aku hanya bicara melalui telepon atau datang ke kantor Papa. Mungkin kali ini, aku juga akan datang ke kantor Papa dan berharap Papa tidak akan marah dengan apa yang akan aku bicarakan. ***Dua hari kemudian, aku sudah melangkahkan kaki di salah satu kantor pemerintahan tempat Papa bekerja. Setelah berpikir berulang kali, dan mendapat nasehat dari Kak Ana dan Kak Leny, a
"Bagus sekali, Gita. Hebat kamu bisa mendapatkan data sedetail ini dibagian tenaga medis. Ternyata, dokter-dokter di sana sangat membantu walaupun mereka sangat sibuk." Pujian dari bu Linda, dosen pembimbingku yang dikenal sangat perfeksionis, seharusnya membuatku lega. Namun, saat beliau mengetuk-ngetukkan jarinya di atas draf bab tigaku yang membahas tentang pola komunikasi internal di rumah sakit, aku merasakan sinyal berbahaya. "Analisis kamu tentang alur instruksi dari dokter senior ke mahasiswa koas ini sangat tajam, Gita. Kamu berhasil membedah bagaimana hambatan psikologis, seperti rasa takut atau senioritas, bisa merusak efektivitas pesan medis," bu Linda menatapku dari balik kacamatanya. Aku berdehem, mencoba mengatur napas. "Kebetulan saya banyak dibantu oleh salah satu koas di sana, bu. Dia memberikan perspektif nyata tentang bagaimana distorsi informasi sering terjadi saat pergantian shift atau saat situasi darurat di bangsal." Bu Linda manggut-manggut, lalu men
"Andreas?!" "Jangan bercanda, Gita!""Nggak mungkin, ini udah empat tahun!""Gue pikir lo udah ada Ale, udah bisa lupain Andreas, Git. Please, jangan sakitin temen gue."Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Bian, membuatku kesal dan melayangkan pukulan di bahunya."Lo gila, ya! Siapa juga yang mau nyakitin Kak Ale." Nafasku memburu karena keterkejutan yang sama."Dia calon dokter. Sekarang jadi mahasiswa koas di Rumah Sakit tempat penelitian gue. Dan... calon tunangan sepupunya Kak Ale.""Apa! Calon dokter? Lo serius itu Andreas?" tanya Widi. Suaranya menggema dari ponsel Nila yang di loudspeaker."Calon tunangan sepupunya Ale! ini nggak mungkin, kita harus temuin Andreas sekarang juga." Geram Azizah menggebu-gebu."Nggak bisa! Gue harus ikut. Jangan disamperin sekarang, tunggu sampe gue pulang ke Jakarta." Sahut Widi lagi."Nggak ada yang bakal nemuin siapa-siapa sekarang!" potongku dengan suara tertahan, mencoba meredam kehebohan teman-temanku.Aku melirik ke sekeliling kafe, ta







