Accueil / Young Adult / Cinta Gita / BAB 7 JANGAN BANDINGKAN AKU

Partager

BAB 7 JANGAN BANDINGKAN AKU

Auteur: Yoongina
last update Date de publication: 2026-03-18 13:38:26

Andreas mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, kami hanya terdiam. Jika saja bisa, rasanya aku ingin duduk di ujung jok agar tidak perlu menyentuh, apalagi memeluk pinggangnya.

​Karena diliputi rasa kesal yang memuncak, aku bahkan tidak menyadari bahwa Andreas tidak membawaku pulang ke rumah.

​"Ndre, ini mau ke mana?" tanyaku ketus.

​"Udah mulai panggil nama lagi sekarang?" Andreas berteriak, suaranya mencoba mengalahkan deru angin dan bising knalpot.

​Aku hanya mendengus sebal, tidak memperdulikan pertanyaannya. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah warung makan sederhana.

​"Mau apa ke sini? Aku nggak mau makan!" seruku saat dia mulai memarkirkan motor.

​Andreas tetap diam. Ia turun dan menatapku lekat. "Kamu belum makan," ucapnya pendek sambil menarik tanganku agar turun dari motor.

​"Aku nggak lapar!"

​Andreas tidak membalas argumenku, dia langsung menggenggam tanganku dan menuntun langkahku masuk ke dalam warung.

​"Mau makan pakai apa?" tanyanya tenang, seolah tidak terganggu dengan raut wajahku yang ditekuk masam.

​"Aku bilang, aku nggak mau makan!"

​"Ayam aja ya, pakai sup," putusnya sepihak.

​"Nggak!"

​Andreas tidak peduli. Ia tetap memesan menu yang ia tahu pasti aku sukai. Setelah pelayan pergi, ia menatapku dengan tatapan yang melunak. "Jangan marah lagi," ujarnya lembut. Ia merogoh saku, lalu menyodorkan ponselnya ke hadapanku.

​"Ini," ucapnya singkat.

​Aku melirik benda persegi itu sekilas. Dengan ragu dan rasa penasaran yang memuncak, aku meraih ponselnya.

​"Aku cuma nggak mau kamu terus-terusan marah di sana," tambah Andreas sambil meraih piring yang disodorkan oleh pelayan.

​Jemariku mulai bergerak, membuka ruang percakapan dan menggulir setiap pesan yang masuk. Ternyata, apa yang dikatakan Luna benar. Beberapa nama perempuan muncul di sana dengan sapaan manis, dan Andreas membalasnya. Bahkan, ada nama Erni di salah satu baris pesan itu.

​Aku terpaku. Ternyata begini risikonya punya pacar tampan. Selalu digoda banyak wanita, batinku miris.

​"Kenapa kamu balas?" suaraku bergetar.

​"Aku membalas karena memang ada pertanyaan yang harus kujawab."

​"Tapi mereka itu mantan kamu!"

​"Iya, aku minta maaf," jawab Andreas pelan, matanya tetap tertuju pada piring di hadapannya.

​"Aku marah sama kamu, karena dulu Yoga selalu memberikan ponselnya padaku. Dia bahkan tidak pernah membalas pesan dari perempuan mana pun karena ingin menjaga perasaanku."

​Seketika, gerakan tangan Andreas terhenti. Ia meletakkan sendok dengan denting yang cukup keras di atas piring. "Jadi sekarang kamu membandingkan aku dengan Yoga?" tanyanya dengan tatapan tajam yang membuatku menciut.

​Aku tidak menjawab. Dengan tangan gemetar, kukembalikan ponsel itu. Memang benar, seharusnya aku tidak perlu mengetahui isi ruang chat di handphone Andreas, karena ternyata hatiku semakin sakit setelah mengetahuinya. Namun, jika tidak melihatnya, rasa penasaran ini justru menyiksa.

​Andreas menghela napas panjang, nafsu makannya tampak menguap seketika. "Habiskan makananmu. Setelah ini aku antar pulang. Kalau kamu tidak makan, aku tidak akan mengantarmu," ancamnya dingin.

​Dalam suasana yang tegang itu, aku terpaksa menelan makanan yang terasa hambar di lidah, hanya agar Andreas segera membawaku pergi dari sana.

​Setelah membayar, Andreas berjalan lebih dulu menuju motornya. Aku menyusul, lagi-lagi menepis uluran tangannya yang berniat membantuku naik ke boncengan.

Ia menatap tajam kearahku yang menolak uluran tangannya, ​"Ini pertama dan terakhir kalinya kamu membandingkan aku dengan Yoga. Aku tidak suka!" ucap Andreas dingin saat mesin motor mulai menderu.

​Aku tersentak. Ini kali pertama Andreas bicara seketus itu padaku.

​"Kalau begitu, aku juga boleh bilang, ini terakhir kalinya kamu membalas dan menyimpan nomor mantan-mantanmu itu!" jawabku tak kalah sewot.

​Andreas terdiam, lalu bersiap memacu motornya.

​"Kalau masih kesal, nggak usah antar aku pulang! Daripada nanti kenapa-kenapa di jalan!" seruku lagi, masih ingin meluapkan kekesalan di dada.

​"Jangan aneh-aneh!" sahut Andreas kencang. Ia menggeber motornya dengan kecepatan tinggi, memaksaku untuk memeluk pinggangnya erat-erat. Aku tahu dia sedang marah.

Hingga tiba di depan rumah, perutku terasa mual luar biasa karena guncangan motor yang dipacu ugal-ugalan tepat setelah aku mengisi perut di warung tadi.

Motor berhenti dengan sentakan keras tepat di depan pagar rumahku. Deru mesin yang tadi menderu garang seketika mati, menyisakan keheningan di antara kami.

Aku segera turun, melepaskan pelukan eratku pada pinggangnya dengan kasar. Rasa mual di perutku semakin menjadi-jadi, bercampur dengan pening yang berdenyut di pelipis.

​Andreas tidak segera pergi. Ia masih duduk di atas motornya, mencengkeram stang dengan buku-buku jari yang memutih.

"Gue rasa nggak sepantasnya kita membandingkan pasangan dengan mantan!" Ucap Andreas kembali ke sebutan awal saat kami masih berteman, 'gue, lo'.

"Kamu tahu? Ini bukan cuma soal Yoga adalah mantanku. Ini soal caramu menghargai perasaanku. Membalas pesan mantan dengan alasan 'pertanyaan yang harus dijawab' itu konyol!"

​Andreas melepas helmnya dengan gerakan kasar, lalu menatapku. Matanya yang biasanya teduh kini berkilat tajam oleh amarah.

"Gue jujur kasih lihat ponsel karena nggak mau ada yang ditutupi. Tapi apa balasannya? Lo malah bawa-bawa orang dari masa lalu seolah gue ini nggak ada benarnya."

​"Karena dia tahu batasan, Ndre! Sesuatu yang sepertinya kamu lupa," tantangku, mengabaikan rasa mual yang kini sampai ke kerongkongan.

​Andreas tertawa getir. "Oke!"

​Ia menyalakan kembali mesin motornya. Suara knalpotnya seolah membelah sore hari yang sunyi. Tanpa sepatah kata pamit, ia menarik gas dan melesat pergi, meninggalkanku sendirian di depan pagar dengan air mata yang mulai luruh.

​Aku melangkah masuk ke rumah dengan gontai, menyadari bahwa kejujuran yang kupaksakan hari ini justru membuka luka baru yang mungkin sulit untuk disembuhkan.

Baru saja aku menyentuh gagang pintu kamar, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Hatiku mencelos.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Cinta Gita   EPILOG : TUJUH TAHUN KEMUDIAN

    "Iya, Sayang. Aku sama Aiden mau ke taman dulu," sahutku saat Andreas menelepon untuk menanyakan apakah aku sempat menjemput putra kami ke sekolah. Aiden Arkadewa, itulah nama putra pertama kami. Saat ini usianya sudah menginjak lima tahun dan baru saja masuk taman kanak-kanak. Dan saat ini, aku pun tengah mengandung anak kedua kami dengan usia kandungan tujuh bulan. ​"Maafkan aku ya, Sayang. Tadi mendadak Dokter Handoko memintaku mendampinginya di ruang operasi," sahut Andreas dari seberang telepon. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa. ​Saat ini, Andreas memang sudah mencapai akhir masa pendidikan residennya. Ia memilih melanjutkan spesialisasi menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung. Sebentar lagi, ujian kompetensi besar menantinya agar ia resmi menyandang gelar spesialis. ​Aku selalu dibuat takjub dan bangga oleh kegigihannya. Laki-laki itu mampu menjalani kerasnya pendidikan dokter spesialis sambil tetap bekerja sampingan di laboratorium demi membiayai kuliahnya se

  • Cinta Gita   BAB 100 LANGIT MALAM KALIURANG (18+)

    Deru mesin kereta eksekutif yang membawa kami dari Jakarta perlahan mereda begitu roda-rodanya mencengkeram rel Stasiun Tugu, Yogyakarta. Suara riuh pengumuman stasiun berpadu dengan petikan lirik lagu lawas tentang kota ini yang samar-samar terdengar dari pengeras suara, menyambut langkah kaki kami. Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat rindu, namun bagi aku dan Andreas, kota ini kini menyandang status baru, saksi bisu dari awal perjalanan panjang kami sebagai sepasang suami istri. ​Setelah melewati resepsi pernikahan yang menguras energi di Jakarta seminggu lalu, Andreas langsung memesan tiket dan sebuah vila privat di daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Laki-laki itu tahu benar kalau aku membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan kami di Jakarta. ​"Sini tasnya, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Andreas lembut begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan stasiun. ​Aku menoleh, menatap wajah tampannya yang kini terlihat jauh

  • Cinta Gita   BAB 99 KEBAHAGIAAN KAMI

    Restoran bernuansa alam di sudut kota Bogor itu terasa begitu menyejukkan. Suara gemercik air dari kolam ikan yang mengelilingi saung-saung bambu, berpadu pas dengan aroma tanah basah sehabis hujan dan semilir angin pegunungan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Bian, sebagai sebuah ketenangan untuk merayakan kelulusan, sekaligus menjadi saksi dari sebuah rencana besar yang sudah ia persiapkan matang-matang. ​Andreas menggenggam tanganku dengan erat saat kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju saung utama yang sudah dipesan. Genggamannya hangat, memberikan rasa aman untukku. Berada di sisi Andreas dalam suasana sesantai ini adalah hal yang sangat kuinginkan sejak kepergiannya empat tahun lalu. ​"Kayaknya kita terlambat, sayang. Mereka sudah datang," bisik Andreas pelan di dekat telingaku, matanya melirik ke arah saung besar di ujung kolam di mana gelak tawa teman-temanku sudah terdengar bersahutan. "Kamu sih dandannya kelamaan, jadi telat jemput aku," balasku sambil ny

  • Cinta Gita   BAB 98 CERITA NANDA

    "Aku tahu, kalau Kak Nanda sengaja memberikan berkas itu padaku. Tapi, dari mana Kakak tahu kalau aku mengenal perwira polisi yang meninggal itu?" potongku, tidak memberi kesempatan Kak Nanda untuk bisa mengelak. Kak Nanda menghembuskan nafas perlahan, mencoba menerima kalau aku sudah mengetahui rencananya. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya erat. "Waktu itu aku tidak sengaja memberikan file tentang kematian Baskoro Adi, kamu ingat? di hari pertama kamu magang?" aku mengangguk, karena ingatan itu terus melekat di benakku. "Sejak itu, aku melihat kalau kamu sangat penasaran dengan kasus Baskoro Adi. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan perwira kepolisian itu. Jadi, aku mengecek data diri kamu dan melihat kalau kamu berasal dari Universitas yang sama dengan Caleandra." Kak Nanda berhenti sejenak. Mencoba mengatur tarikan nafasnya yang terasa berat. Lalu, tanpa diduga, air mata mengalir di pipinya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan meraih tisu di atas m

  • Cinta Gita   BAB 97 KEMBALI KE HARIAN NASIONAL

    ​"Gita!" ​Suara lembut yang sangat kukenali itu seketika membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh ke belakang. Di sana, berdiri tidak jauh dari tempatku, Azizah, Bian, dan Nila tengah berjalan menghampiri. Mereka semua melempar senyum hangat ke arahku. ​Terus terang saja, aku sangat merindukan sahabat-sahabatku ini. Hubunganku dengan Ale selama ini membuat hubungan persahabatanku ikut berantakan. Dan hari ini, di hari wisuda kami, akhirnya kami bisa bertemu kembali. ​Azizah dan Nila terlihat sangat cantik dengan kebaya senada berwarna baby pink, warna favorit mereka. Tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Melihat hal itu, Azizah langsung melangkah maju dan merengkuh tubuhku dengan isak tangis yang sama. ​"Gue kangen banget sama lo, Git. Maafin gue... maafin gue sama Bian yang udah bikin kita jauh selama ini," bisik Azizah di sela tangisnya. ​Nila yang tidak tahan menunggu giliran, langsung ikut memelukku dan Azizah. Kami bertiga berpelukan dengan teramat erat di teng

  • Cinta Gita   BAB 96 CALON ISTRI DOKTER

    "Ndre," ​Aku memanggil pelan laki-laki yang sedang sibuk mencatat rekam medis pada papan klip di tangannya. Wajah seriusnya seketika mendadak cerah, lalu senyuman yang hangat terbit di wajah tampannya. Menatapnya saat ini, aku merasa seolah baru benar-benar menemukannya kembali setelah empat tahun lamanya kami berpisah. Laki-laki yang dulu selalu datang menjemputku ke rumah untuk berangkat sekolah bersama, dan selalu mengajakku menikmati senja di sudut kota Jakarta dalam dekapan hangat di atas motor besarnya. ​Andreas berjalan pelan menghampiriku. Senyuman di bibirnya tidak pudar sedikit pun, membuat seluruh kecemasan di hatiku menghilang. Akhirnya, aku bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan yang luar biasa. ​Begitu tiba di hadapanku, ia mengangkat tangannya perlahan, meraih beberapa helai rambutku yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya ke belakang telinga. ​"Sudah makan siang belum?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Andreas terdengar begitu lembut di telingaku. A

  • Cinta Gita   BAB 6 RUMAH MANTAN

    Sebulan sudah aku menjalani hubungan manis bersama Andreas. Selama itu pula aku merasakan, suasana jalan-jalan sore yang selalu Andreas lakukan setiap weekend. Merelakan bangun tidur lebih pagi agar bisa mengantarku ke sekolah dan menjemputku setiap hari. Seakan dunia milik berdua, tiada hari tanpa

  • Cinta Gita   BAB 5 : PERNYATAAN CINTA KEDUA

    Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas. ​Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti

  • Cinta Gita   BAB 4 : GENG GAUL

    "Git! Lo denger nggak? Gengnya Selvi lagi ngomongin lo sama Andreas!" Nila tergopoh-gopoh menghampiri mejaku tepat saat bel istirahat memecah keheningan kelas. ​"Katanya, Andreas itu gebetannya Erni." Mata Nila membelalak cemas, seolah berita yang ia bawa adalah sebuah hukuman gantung untukku.

  • Cinta Gita   BAB 3 : SORE HARI BERSAMAMU

    Sesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya. Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor. ​Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju ha

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status