Beranda / Young Adult / Cinta Gita / BAB 5 : PERNYATAAN CINTA KEDUA

Share

BAB 5 : PERNYATAAN CINTA KEDUA

Penulis: Yoongina
last update Tanggal publikasi: 2026-02-14 22:37:52

Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas.

​Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti pada Sabtu pagi ini, dia sudah nangkring di depan rumah dengan motor gedenya yang terparkir gagah di halaman.

​Karena sedang sendirian di rumah, aku terpaksa membuka pintu dan menemuinya.

​"Kenapa nggak pernah angkat telepon gue, Git? Pesan gue juga nggak pernah dibalas." Suara Andreas terdengar lirih, ada nada kecewa di sana.

​"Gue ada salah, ya, sama lo?" cecarnya sambil menatap mataku dalam-dalam.

​"Enggak, kok."

​"Terus?"

​"Lagi nggak sempat main HP," bohongku. Padahal jadwal les saja sedang kosong. Pulang sekolah, kalau tidak tidur, ya, pasti asyik scrolling ponsel.

​"Gimana nggak main HP sih, Git? Chat gue aja udah lo baca, cuma nggak mau balas aja. Iya, kan?"

​Aku menghela napas, lalu berdiri. Berharap Andreas mengerti kalau aku sedang mengusirnya secara halus. "Ndre, lo pulang aja, ya. Gue nggak enak sama tetangga, soalnya cuma sendirian di rumah."

​Bukannya pergi, Andreas malah menarik tanganku dengan lembut agar kembali duduk di sampingnya.

​"Kenapa, Git?" Pertanyaannya kali ini terdengar sedikit emosional. Mungkin dia sudah mencapai batas kesabaran menghadapi sikap dinginku.

​Aku membuang muka, berharap jawaban ini bisa membuatnya pergi sebelum geng gaul sekolah melihat keberadaannya di rumahku.

​"Gue cuma nggak mau ganggu hubungan lo sama Erni," jawabku akhirnya.

​Seketika, Andreas melepaskan genggaman tangannya. Perlahan.

​"Gue baru ingat kalau lo satu sekolah sama Erni," ucapnya pelan.

​"Hm, iya. Makanya gue minta maaf, ya. Nggak ada maksud buat jadi pengganggu di antara kalian."

​Andreas terdiam lama. Wajahnya berubah serius dengan dahi berkerut, seolah sedang menyusun kepingan teka-teki di kepalanya.

​"Gue paham sekarang." Tiba-tiba saja Andreas bangkit berdiri dengan wajah menegang. "Ya udah, gue balik dulu. Mau nemuin Erni supaya dia nggak gangguin lo lagi."

​Aku terkejut bukan main. Apalagi melihat langkah kaki panjangnya yang sudah menuju motor gede itu. Dia benar-benar bersiap pergi!

​"Andreas, tunggu!" teriakku menahan kepergiannya.

​Andreas sudah nangkring di atas motornya dan bersiap menyalakan mesin. Dengan cepat, aku menarik tangannya dari stang motor. "Apaan sih, kok malah mau nemuin Erni!"

​"Kenapa? Cemburu? Nggak boleh gue ketemu Erni?"

​Aku tersentak. Mood-nya berubah secepat kilat dari serius menjadi menggoda. Dia tertawa kecil melihat ekspresiku.

​"Bukan gitu, Ndre. Kalau lo mau ketemu Erni, tolong jangan sampai bahas soal kita."

​"Kita? Berarti kita udah punya status nih, sekarang?"

​"Ma—maksud gue—"

​"Mau ikut? Soalnya gue lihat-lihat, tangan lo nyaman banget megangin tangan gue dari tadi."

​Aku menjerit tertahan dan segera melepaskan tanganku yang ternyata masih menggenggam erat jemarinya. Namun, dengan gerakan sigap, Andreas justru membuat tangan kami bertaut kembali.

​Dengan suara rendah yang super lembut, Andreas menarik tanganku mendekat ke arahnya. "Gue sama Erni nggak ada apa-apa, Git. Gue sayangnya sama lo. Tapi kemarin lo tolak karena masih punya pacar. Sekarang lo sudah jomblo, kan? Boleh, dong, gue deketin lagi?"

​Aku yakin seratus persen wajahku sudah merona merah. Bisikannya di telingaku dan tatapan itu meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahananku.

​"Tapi Erni bilang..."

​"Jangan dengerin dia," potong Andreas cepat.

​Aku menggigit bibir ragu. "Gue takut, Ndre. Gue nggak mau berurusan sama gengnya Erni."

​Andreas tertawa kecil. Ia mengubah posisi tangannya, kini menggenggam erat jemariku dengan hangat.

​"Git, gue tembak sekali lagi, ya. Gue suka sama lo, cinta sama lo. Mau nggak jadi pacar gue?"

​Jantungku berdebar hebat. Ini bukti nyata kalau aku juga punya perasaan yang sama. Sebenarnya aku memang suka, hanya saja gengsiku setinggi langit. Dan sempat terpikir, 'apa aku sanggup punya pacar setampan ini?pasti playboy' pikirku.

​"Gita, kok malah bengong?"

​"Hmm... gue..." Aku bingung. Menerima Andreas terasa sangat cepat, tapi menolaknya pun aku tak rela. Laki-laki ini punya banyak fans wanita kalau dilepas, aku takut menyesal.

​"Nggak usah malu kalau emang cinta," goda Andreas sambil tersenyum lebar.

​"Apaan sih! Nggak, ya!"

​"Oh, nggak cinta? Ya sudah, gue ke rumah Erni dulu kalau gitu." Andreas berpura-pura melepaskan tanganku.

​Entah mendapat kekuatan dari mana, aku menahan lengannya sekuat tenaga.

​"Jangan pergi," jawabku pelan. "Gue... gue mau jadi pacar lo."

​Andreas tertawa puas melihat kegugupanku. Ia turun dari motor dan menatapku yang sedang menunduk malu. "Akhirnya, bisa gue dapetin juga. Berarti hari ini malam minggu pertama kita, kan?"

​"Iya," jawabku singkat sebelum lari masuk ke dalam rumah. Aku bisa mendengar tawa kecilnya mengiringi langkahku yang salah tingkah.

​Sejak hari itu, duniaku berubah. Andreas rutin mengantar-jemputku dan selalu menelepon setiap jam istirahat. Karena memang kami berbeda sekolah.

​Hari pertama Andreas mengantarku, suasana sekolah mendadak riuh. Deru mesin motor gedenya yang khas langsung menyedot perhatian, terutama saat kami berhenti tepat di depan gerbang, tempat geng gaul Erni biasanya berkumpul sebelum bel masuk berbunyi.

​Aku bisa merasakan tatapan tajam Erni yang seolah ingin menembus kulitku.

Sahabat-sahabatnya mulai berbisik-bisik sinis, melempar pandangan meremehkan yang membuat nyaliku menciut. Namun, di luar dugaan, Andreas tidak langsung tancap gas. Setelah aku turun dan melepas helm, ia justru mematikan mesin motornya.

​Dengan langkah santai namun waspada, Andreas berjalan menghampiri kerumunan geng Erni. Aku membeku di tempat, jantungku berdegap kencang.

​"Erni," sapa Andreas dingin. Suaranya tidak keras, tapi cukup tegas untuk menghentikan tawa cekikikan geng itu.

​Erni bersedekap, mencoba terlihat tangguh meski matanya menunjukkan kekagetan. "Tumben, Ndre? Tiba-tiba jadi ojek gratis buat anak ini?"

​Andreas tidak terpancing. Ia justru berdiri selangkah lebih maju, seolah ingin melindungiku dari mereka.

​"Gue cuma mau meluruskan sesuatu supaya nggak ada salah paham ke depannya," ucap Andreas sambil melirikku sekilas, lalu kembali menatap Erni dengan tajam. "Gita sekarang pacar gue. Jadi, gue minta dengan sangat, jangan ada yang berani ganggu dia, apalagi menyebar omongan nggak jelas di sekolah ini."

​Suasana mendadak hening. Erni tampak kehilangan kata-kata, wajahnya memucat karena diperingatkan secara terbuka di depan umum.

​"Kalau sampai gue dengar Gita kenapa-kenapa, atau ada yang bikin dia nggak nyaman di sekolah..." Andreas menjeda kalimatnya, memberikan tekanan yang mengancam. "Gue nggak akan tinggal diam. Lo tahu gue, kan, Er? Gue nggak pernah main-main sama kata-kata gue."

​Setelah mengucapkan itu, Andreas berbalik menatapku. Tatapan matanya yang tadi sekeras baja langsung melunak saat bertemu mataku. Ia mengacak rambutku pelan di depan semua orang, sebuah gestur yang sangat jelas untuk menjelaskan pada geng gaul bahwa aku benar-benar sudah memiliki Andreas.

​"Masuk sana. Semangat belajarnya, Sayang," ucapnya cukup keras agar terdengar sampai ke telinga Erni.

​Di mataku saat ini, Andreas benar-benar sosok laki-laki sejati. Dia tidak hanya memintaku jadi pacarnya, tapi dia juga siap menjadi pelindung bagiku.

***

Sore ini, Andreas sudah menjemput. Karena aku ada latihan lomba senam, dia dengan sabar menungguku di kantin.

​"Maaf ya, lama nunggu," ujarku saat menghampirinya.

​"Lumayan, sih," jawabnya manis. "Sebentar, aku bayar minuman dulu."

​Aku menemaninya ke pojok kantin. Mang Juki, penjual minuman di sana, langsung menyapa dengan semangat.

"Temennya mbak Gita ya?"

"Sayang, kamu haus nggak?mau beli minum dulu?" Sela Andreas sambil menyerahkan uang untuk membayar minumannya pada mang Juki si penjual minuman. Dia menekan panggilan 'sayang' agar mang Juki tahu kalau dia bukan sekedar teman.

​"Eh, si Mas Ganteng ini pacarnya Mbak Gita, toh?"Ujar mang Juki menyerahkan uang kembalian. "Dari tadi digodain terus sama cewek-cewek kelas sebelas, Mbak." Adu Mang Juki.

​"Digodain siapa, Mang?" tanyaku melirik Andreas yang hanya nyengir kuda.

​"Itu cewek-cewek dari lantai dua. Sampai dilempar pulpen segala sambil teriak minta kenalan."

​Bukannya marah, aku justru tertawa melihat wajah Andreas yang memerah karena malu.

​"Biasa, Sayang. Aku, kan, mantan artis boyband, jadi banyak yang kenal," candanya sambil menarikku menjauh dari kantin.

​Andreas menggenggam tanganku erat sampai di parkiran. Dia seolah ingin menunjukkan pada dunia, terutama pada gadis-gadis yang memandangnya, kalau dia adalah milik Gita.

​Manis, ya? Itulah Andreas. Sosok yang mampu mengubur kenanganku tentang Yoga, seolah laki-laki masa lalu itu memang tidak pernah ada.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Gita   EPILOG : TUJUH TAHUN KEMUDIAN

    "Iya, Sayang. Aku sama Aiden mau ke taman dulu," sahutku saat Andreas menelepon untuk menanyakan apakah aku sempat menjemput putra kami ke sekolah. Aiden Arkadewa, itulah nama putra pertama kami. Saat ini usianya sudah menginjak lima tahun dan baru saja masuk taman kanak-kanak. Dan saat ini, aku pun tengah mengandung anak kedua kami dengan usia kandungan tujuh bulan. ​"Maafkan aku ya, Sayang. Tadi mendadak Dokter Handoko memintaku mendampinginya di ruang operasi," sahut Andreas dari seberang telepon. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa. ​Saat ini, Andreas memang sudah mencapai akhir masa pendidikan residennya. Ia memilih melanjutkan spesialisasi menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung. Sebentar lagi, ujian kompetensi besar menantinya agar ia resmi menyandang gelar spesialis. ​Aku selalu dibuat takjub dan bangga oleh kegigihannya. Laki-laki itu mampu menjalani kerasnya pendidikan dokter spesialis sambil tetap bekerja sampingan di laboratorium demi membiayai kuliahnya se

  • Cinta Gita   BAB 100 LANGIT MALAM KALIURANG (18+)

    Deru mesin kereta eksekutif yang membawa kami dari Jakarta perlahan mereda begitu roda-rodanya mencengkeram rel Stasiun Tugu, Yogyakarta. Suara riuh pengumuman stasiun berpadu dengan petikan lirik lagu lawas tentang kota ini yang samar-samar terdengar dari pengeras suara, menyambut langkah kaki kami. Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat rindu, namun bagi aku dan Andreas, kota ini kini menyandang status baru, saksi bisu dari awal perjalanan panjang kami sebagai sepasang suami istri. ​Setelah melewati resepsi pernikahan yang menguras energi di Jakarta seminggu lalu, Andreas langsung memesan tiket dan sebuah vila privat di daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Laki-laki itu tahu benar kalau aku membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan kami di Jakarta. ​"Sini tasnya, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Andreas lembut begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan stasiun. ​Aku menoleh, menatap wajah tampannya yang kini terlihat jauh

  • Cinta Gita   BAB 99 KEBAHAGIAAN KAMI

    Restoran bernuansa alam di sudut kota Bogor itu terasa begitu menyejukkan. Suara gemercik air dari kolam ikan yang mengelilingi saung-saung bambu, berpadu pas dengan aroma tanah basah sehabis hujan dan semilir angin pegunungan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Bian, sebagai sebuah ketenangan untuk merayakan kelulusan, sekaligus menjadi saksi dari sebuah rencana besar yang sudah ia persiapkan matang-matang. ​Andreas menggenggam tanganku dengan erat saat kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju saung utama yang sudah dipesan. Genggamannya hangat, memberikan rasa aman untukku. Berada di sisi Andreas dalam suasana sesantai ini adalah hal yang sangat kuinginkan sejak kepergiannya empat tahun lalu. ​"Kayaknya kita terlambat, sayang. Mereka sudah datang," bisik Andreas pelan di dekat telingaku, matanya melirik ke arah saung besar di ujung kolam di mana gelak tawa teman-temanku sudah terdengar bersahutan. "Kamu sih dandannya kelamaan, jadi telat jemput aku," balasku sambil ny

  • Cinta Gita   BAB 98 CERITA NANDA

    "Aku tahu, kalau Kak Nanda sengaja memberikan berkas itu padaku. Tapi, dari mana Kakak tahu kalau aku mengenal perwira polisi yang meninggal itu?" potongku, tidak memberi kesempatan Kak Nanda untuk bisa mengelak. Kak Nanda menghembuskan nafas perlahan, mencoba menerima kalau aku sudah mengetahui rencananya. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya erat. "Waktu itu aku tidak sengaja memberikan file tentang kematian Baskoro Adi, kamu ingat? di hari pertama kamu magang?" aku mengangguk, karena ingatan itu terus melekat di benakku. "Sejak itu, aku melihat kalau kamu sangat penasaran dengan kasus Baskoro Adi. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan perwira kepolisian itu. Jadi, aku mengecek data diri kamu dan melihat kalau kamu berasal dari Universitas yang sama dengan Caleandra." Kak Nanda berhenti sejenak. Mencoba mengatur tarikan nafasnya yang terasa berat. Lalu, tanpa diduga, air mata mengalir di pipinya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan meraih tisu di atas m

  • Cinta Gita   BAB 97 KEMBALI KE HARIAN NASIONAL

    ​"Gita!" ​Suara lembut yang sangat kukenali itu seketika membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh ke belakang. Di sana, berdiri tidak jauh dari tempatku, Azizah, Bian, dan Nila tengah berjalan menghampiri. Mereka semua melempar senyum hangat ke arahku. ​Terus terang saja, aku sangat merindukan sahabat-sahabatku ini. Hubunganku dengan Ale selama ini membuat hubungan persahabatanku ikut berantakan. Dan hari ini, di hari wisuda kami, akhirnya kami bisa bertemu kembali. ​Azizah dan Nila terlihat sangat cantik dengan kebaya senada berwarna baby pink, warna favorit mereka. Tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Melihat hal itu, Azizah langsung melangkah maju dan merengkuh tubuhku dengan isak tangis yang sama. ​"Gue kangen banget sama lo, Git. Maafin gue... maafin gue sama Bian yang udah bikin kita jauh selama ini," bisik Azizah di sela tangisnya. ​Nila yang tidak tahan menunggu giliran, langsung ikut memelukku dan Azizah. Kami bertiga berpelukan dengan teramat erat di teng

  • Cinta Gita   BAB 96 CALON ISTRI DOKTER

    "Ndre," ​Aku memanggil pelan laki-laki yang sedang sibuk mencatat rekam medis pada papan klip di tangannya. Wajah seriusnya seketika mendadak cerah, lalu senyuman yang hangat terbit di wajah tampannya. Menatapnya saat ini, aku merasa seolah baru benar-benar menemukannya kembali setelah empat tahun lamanya kami berpisah. Laki-laki yang dulu selalu datang menjemputku ke rumah untuk berangkat sekolah bersama, dan selalu mengajakku menikmati senja di sudut kota Jakarta dalam dekapan hangat di atas motor besarnya. ​Andreas berjalan pelan menghampiriku. Senyuman di bibirnya tidak pudar sedikit pun, membuat seluruh kecemasan di hatiku menghilang. Akhirnya, aku bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan yang luar biasa. ​Begitu tiba di hadapanku, ia mengangkat tangannya perlahan, meraih beberapa helai rambutku yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya ke belakang telinga. ​"Sudah makan siang belum?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Andreas terdengar begitu lembut di telingaku. A

  • Cinta Gita   BAB 2 : SATU BUS YANG SAMA

    Jalanan ibu kota pada Minggu pagi tetap saja menyebalkan. Apalagi jalur menuju pusat olahraga favorit warga Jakarta. Kalau bukan karena dipaksa teman-teman sekolah, aku pasti masih meringkuk di balik selimut sampai siang di hari libur seperti ini. ​Nggak usah julid, kalian juga sering begitu, kan?

  • Cinta Gita   BAB 1 : PUTUS

    Aku Gita. Nama panjangku Sagita Maira. Aku duduk di bangku SMA kelas XII. Keseharianku hanya ke sekolah, tempat les, bermain dengan ketiga temanku dan menemani kekasihku main basket atau sekedar duduk di taman sekolah, menunggu jam lesnya tiba. Kisah asmaraku cukup tenang dan damai-damai saja. Kar

  • Cinta Gita   BAB 94 MELEPASMU

    ​Taksi yang kutumpangi akhirnya tiba di tujuan. Aku membuka pintunya perlahan, sempat ragu sejenak. Namun, aku tahu semua ini memang harus benar-benar diakhiri hari ini juga. Aku pun membawa kakiku melangkah menuju pelataran lobi asrama atlet tempat Ale tinggal. Ya, aku memutuskan untuk menemui Ale

  • Cinta Gita   BAB 7 JANGAN BANDINGKAN AKU

    Andreas mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, kami hanya terdiam. Jika saja bisa, rasanya aku ingin duduk di ujung jok agar tidak perlu menyentuh, apalagi memeluk pinggangnya.​Karena diliputi rasa kesal yang memuncak, aku bahkan tidak menyadari bahwa Andreas tidak mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status