登入Mataku menatap pedih genggaman hangat Ibunda Ale pada jemari Sandra. Hingga tiba-tiba, tatapanku tertuju pada kemilau berlian yang melingkar di jari manis Sandra. "Cincin berlian itu..." gumamku pelan. Perasaan sesak dan amarah yang kupendam sejak tadi akhirnya meledak. Aku tidak bisa lagi menahan diri, aku melangkah lebar mendekati mereka dan berhenti tepat di hadapan Sandra. "Tante, maaf, tapi Gita perlu bicara dengan Sandra," ucapku dengan suara sedikit meninggi, berusaha mengalahkan dentuman lagu romantis dari speaker yang mengiringi prosesi pertunangan Andreas dan Salsa. "Nanti saja, Gita. Acara inti sedang dimulai," jawab Ibunda Ale dengan nada memperingatkan. "Maaf Tante, tapi Gita perlu bicara sekarang juga!" Tanpa menunggu izin lebih lama, aku menarik kasar tangan Sandra, membawanya paksa menuju area belakang venue. "Apa-apaan sih, Gita!" Sandra menghentakkan tangannya hingga cengkeramanku terlepas saat kami sudah berada di balik panggung. Di saat yang bersa
Minggu pagi telah tiba. Matahari yang bersinar terik di langit Jakarta sama sekali tidak mampu menghangatkan hatiku yang terasa membeku. Kantung mataku tampak menghitam, jejak malam panjang yang habis untuk menangis dan terjaga. Semalam, aku sempat berpikir untuk melarikan diri ke rumah Kak Ana di Bogor, namun niat itu kuurungkan. Aku telah membulatkan tekad untuk menghadapi hari ini.Semalaman aku berpikir untuk mengakhiri semua drama ini dan memilih kesendirian. Tapi, rasanya tidak akan semudah itu karena hubunganku dengan Ale telah melibatkan dua keluarga dengan rencana pernikahan kami. Tapi, aku ingin mempertahankan karir. Andreas benar, aku harus mengejar cita-citaku. Hari Senin besok, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Harian Nasional, memulai hari pertama magangku, apa pun risikonya. Aku berjalan menuju lemari pakaian. Di hadapanku, gaun sifon berwarna peach itu tampak indah terpapar kilau cahaya matahari dari jendela kamar. Aku menyentuh kain halus itu dengan hati-hati,
Keesokan harinya, suasana Jakarta terasa lebih kelabu dari biasanya. Jumat pagi ini langit mendung, seakan menggambarkan suasana hatiku. Aku terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut, mungkin efek menangis dan kurang tidur semalam. Pesan dari Ale tadi malam terus terngiang, membuatku sulit tidur. Aku bergeming di atas tempat tidur, hanya menatap layar ponsel, menunggu keberanian yang tak kunjung datang untuk menghubungi Ale. Hingga sebuah pesan masuk mengejutkanku, yang ternyata bukan dari Ale, melainkan dari Azizah. "Git. Lo pasti udah tahu gue mau bicara apa. Atas nama Bian gue minta maaf, dia udah marah banget sama lo dan Andreas soal kejadian kemarin, jadi dia langsung menghubungi Kak Ale. Sori ya Git, gue nggak bisa jelasin apa-apa ke dia karena dia udah nggak mau dengar. Dan Bian melarang gue buat main lagi sama lo. Gue harus gimana, Git?" Jantungku berdegup kencang membaca pesan dari Azizah. Larangan Bian, cukup membuatku sakit hati. Aku tidak menyangka, ka
"Halo, Andreas, kamu di mana?" Suara Salsa terdengar samar dari speaker ponsel yang digenggam Andreas. Laki-laki itu mengusap kasar sisa air mata di wajahnya sebelum mencoba menenangkan suaranya untuk menjawab. "Aku sudah bilang, kan, kalau aku pergi dengan Gita?" "Iya, aku tahu. Tapi apa yang kamu lakukan di kampus Gita? Berkelahi?" Andreas tertegun sejenak, matanya yang memerah menatapku yang tengah ikut menyimak pembicaraan itu. Wajahku menegang. Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana Salsa bisa tahu secepat itu? Bian tidak mengenal Salsa, jadi tidak mungkin dia yang melaporkannya secara langsung. "Bagaimana kamu tahu—" "Kak Ale yang memberitahuku. Dia memarahiku habis-habisan karena mengizinkanmu pergi dengan kekasihnya. Dan sampaikan pada Gita agar segera mengaktifkan ponselnya. Ale hanya punya waktu sebentar sebelum harus menyerahkan ponselnya kembali ke pengawas karantina." Potong Salsa cepat. Aku tersentak dan bergegas meraih tas yang tergeletak di atas
Sosok itu kembali mendekati Andreas. Ia mencengkeram kuat kerah kaos oblong putih milik Andreas dan sudah bersiap melayangkan pukulan kedua. Mataku yang sembab karena kelelahan menangis, belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki yang saat ini berdiri membelakangiku dan memukul Andreas untuk kedua kalinya. Darah mulai mengalir dari sudut bibir Andreas yang pecah. Namun, Andreas hanya diam mematung, seolah sengaja membiarkan sosok itu terus menghujamnya hingga pukulan ketiga. Suasana parkiran mendadak riuh, semua mahasiswa yang berada di sana kini telah mengalihkan pandangan ke arah kami, menyaksikan keributan yang semakin tak terkendali. "Lo benar-benar cowok brengsek! setelah ninggalin Gita begitu aja, sekarang lo enak-enakan meluk dia! lo tahu nggak Gita sudah punya pacar sekarang. Dan pacarnya itu teman gue! Kali ini nggak akan gue biarin lo ngerebut Gita lagi dari teman gue, cukup Yoga, tapi nggak untuk Ale!" teriakan itu membuat aku menyadari siapa sosok itu. "Bian!" je
Dua bulan telah berlalu sejak deru mesin mobil Ale membelah kesunyian malam di depan rumahku. Jakarta masih sama, sibuk, panas, dan menyesakkan. Namun duniaku terasa seperti kaset yang diputar dalam gerakan lambat. Ale benar-benar pergi menjalani karantina atletnya sebagai persiapan menuju kompetisi kejuaraan di Spanyol, meninggalkan aku dalam ruang hampa yang ia sebut sebagai "kesempatan untuk merenung." Aku duduk di sudut kantin kampus, menatap layar laptop yang menampilkan draf terakhir skripsiku yang sudah hampir selesai. Lembaran kertas yang dua bulan lalu ditandatangani oleh Andreas kini sudah terpampang di lampiran skripsiku. Lembaran itu terasa berbeda, seperti memberiku kekuatan untuk terus maju dan mengejar karir sesuai yang aku tuangkan dalam skripsiku. Andreas memahami itu. Memahami kalau aku sangat ingin menjadi seorang Jurnalis yang sukses. Aku tidak menyangkal kalau Ale juga memiliki pemahaman yang sama, hanya saja, ia berubah. Sejak kehadiran Andreas dalam hidupku







