بيت / Young Adult / Cinta Gita / BAB 63 PERINTAH ALE

مشاركة

BAB 63 PERINTAH ALE

مؤلف: Yoongina
last update تاريخ النشر: 2026-05-11 08:48:10

Keesokan harinya, suasana Jakarta terasa lebih kelabu dari biasanya. Jumat pagi ini langit mendung, seakan menggambarkan suasana hatiku. Aku terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut, mungkin efek menangis dan kurang tidur semalam. Pesan dari Ale tadi malam terus terngiang, membuatku sulit tidur.

​Aku bergeming di atas tempat tidur, hanya menatap layar ponsel, menunggu keberanian yang tak kunjung datang untuk menghubungi Ale. Hingga sebuah pesan masuk mengejutkanku, yang ternyata
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Cinta Gita   BAB 63 PERINTAH ALE

    Keesokan harinya, suasana Jakarta terasa lebih kelabu dari biasanya. Jumat pagi ini langit mendung, seakan menggambarkan suasana hatiku. Aku terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut, mungkin efek menangis dan kurang tidur semalam. Pesan dari Ale tadi malam terus terngiang, membuatku sulit tidur. ​Aku bergeming di atas tempat tidur, hanya menatap layar ponsel, menunggu keberanian yang tak kunjung datang untuk menghubungi Ale. Hingga sebuah pesan masuk mengejutkanku, yang ternyata bukan dari Ale, melainkan dari Azizah. ​"Git. Lo pasti udah tahu gue mau bicara apa. Atas nama Bian gue minta maaf, dia udah marah banget sama lo dan Andreas soal kejadian kemarin, jadi dia langsung menghubungi Kak Ale. Sori ya Git, gue nggak bisa jelasin apa-apa ke dia karena dia udah nggak mau dengar. Dan Bian melarang gue buat main lagi sama lo. Gue harus gimana, Git?" Jantungku berdegup kencang membaca pesan dari Azizah. Larangan Bian, cukup membuatku sakit hati. Aku tidak menyangka, ka

  • Cinta Gita   BAB 62 BADAI DI TENGAH OMBAK

    "Halo, Andreas, kamu di mana?" ​Suara Salsa terdengar samar dari speaker ponsel yang digenggam Andreas. Laki-laki itu mengusap kasar sisa air mata di wajahnya sebelum mencoba menenangkan suaranya untuk menjawab. ​"Aku sudah bilang, kan, kalau aku pergi dengan Gita?" ​"Iya, aku tahu. Tapi apa yang kamu lakukan di kampus Gita? Berkelahi?" ​Andreas tertegun sejenak, matanya yang memerah menatapku yang tengah ikut menyimak pembicaraan itu. Wajahku menegang. Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana Salsa bisa tahu secepat itu? Bian tidak mengenal Salsa, jadi tidak mungkin dia yang melaporkannya secara langsung. ​"Bagaimana kamu tahu—" ​"Kak Ale yang memberitahuku. Dia memarahiku habis-habisan karena mengizinkanmu pergi dengan kekasihnya. Dan sampaikan pada Gita agar segera mengaktifkan ponselnya. Ale hanya punya waktu sebentar sebelum harus menyerahkan ponselnya kembali ke pengawas karantina." Potong Salsa cepat. ​Aku tersentak dan bergegas meraih tas yang tergeletak di atas

  • Cinta Gita   BAB 61 KALAH OLEH KEADAAN

    Sosok itu kembali mendekati Andreas. Ia mencengkeram kuat kerah kaos oblong putih milik Andreas dan sudah bersiap melayangkan pukulan kedua. ​Mataku yang sembab karena kelelahan menangis, belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki yang saat ini berdiri membelakangiku dan memukul Andreas untuk kedua kalinya. ​Darah mulai mengalir dari sudut bibir Andreas yang pecah. Namun, Andreas hanya diam mematung, seolah sengaja membiarkan sosok itu terus menghujamnya hingga pukulan ketiga. Suasana parkiran mendadak riuh, semua mahasiswa yang berada di sana kini telah mengalihkan pandangan ke arah kami, menyaksikan keributan yang semakin tak terkendali. "Lo benar-benar cowok brengsek! setelah ninggalin Gita begitu aja, sekarang lo enak-enakan meluk dia! lo tahu nggak Gita sudah punya pacar sekarang. Dan pacarnya itu teman gue! Kali ini nggak akan gue biarin lo ngerebut Gita lagi dari teman gue, cukup Yoga, tapi nggak untuk Ale!" teriakan itu membuat aku menyadari siapa sosok itu. "Bian!" je

  • Cinta Gita   BAB 60 INGIN MENGULANG MASA LALU

    Dua bulan telah berlalu sejak deru mesin mobil Ale membelah kesunyian malam di depan rumahku. Jakarta masih sama, sibuk, panas, dan menyesakkan. Namun duniaku terasa seperti kaset yang diputar dalam gerakan lambat. Ale benar-benar pergi menjalani karantina atletnya sebagai persiapan menuju kompetisi kejuaraan di Spanyol, meninggalkan aku dalam ruang hampa yang ia sebut sebagai "kesempatan untuk merenung." ​Aku duduk di sudut kantin kampus, menatap layar laptop yang menampilkan draf terakhir skripsiku yang sudah hampir selesai. Lembaran kertas yang dua bulan lalu ditandatangani oleh Andreas kini sudah terpampang di lampiran skripsiku. Lembaran itu terasa berbeda, seperti memberiku kekuatan untuk terus maju dan mengejar karir sesuai yang aku tuangkan dalam skripsiku. Andreas memahami itu. Memahami kalau aku sangat ingin menjadi seorang Jurnalis yang sukses. Aku tidak menyangkal kalau Ale juga memiliki pemahaman yang sama, hanya saja, ia berubah. Sejak kehadiran Andreas dalam hidupku

  • Cinta Gita   BAB 59 EMPAT BULAN DARI SEKARANG

    Perlahan aku membuka mata. Hal pertama yang aku lihat adalah sinar lampu yang berada diatas kepalaku begitu terang dan menyilaukan. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Menahan rasa sakit dikepala dan mulai melihat kesekelilingku. "Aku dimana?" lirihku mencoba bangun dari tempat tidur. Gerakan kecilku saat itu juga langsung membeku, ketika melihat seseorang yang baru datang dan menyibak tirai pembatas dengan nafas memburu. "Gita, kamu nggak apa-apa?" seru Ale berjalan mendekatiku. Reaksi pertamaku sungguh tidak terduga. Aku merasa harus menjauhi Ale. Aku merapatkan tubuhku ke bantal tempat tidur menarik tubuhku menjauh dari Ale. Laki-laki itu menatap gerakan tubuhku yang menjauh dengan tajam. Rahangnya mengeras. "Kau tidak suka aku ada di sini? atau mau aku panggilkan Andreas lagi untuk menemanimu?" "A—andreas, aku tidak—" "Cukup, Git. Kita bahas nanti. Sekarang kamu harus menunggu sampai demammu turun baru bisa pulang." Potong Ale dengan nada dingin. Ale duduk di kursi b

  • Cinta Gita   BAB 58 PENYESALAN ANDREAS

    Tirai hijau yang tersibak itu sangat menyesakkan dada Andreas. Ia terpaku. Detak jantungnya yang semula berpacu karena amarahnya pada Yoga dan Ale, kini berganti dengan rasa khawatir yang menghujam telak ke dadanya.​Di atas brankar yang kaku, Gita terbaring lemah. Wajah yang biasanya terpancar kecantikan yang sangat Andreas sukai itu kini sepucat kertas. Napasnya pendek-pendek dan berat dalam tidurnya yang lelap, karena terjatuh tak sadarkan diri.​"Gita..." gumam Andreas pelan, nyaris tak terdengar.​Ia segera mendekat, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet gemetar saat menyentuh dahi Gita. Panas. Sangat panas. Suhu tubuh gadis itu seolah membakar telapak tangan Andreas. Tanpa membuang waktu, Andreas memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Gita dengan cepat.​"Suster! Tolong siapkan kompres dingin dan paracetamol intravena, sekarang!" teriak Andreas, suaranya memenuhi ruang IGD, membuat beberapa perawat menoleh kaget karena nada bicaranya yang biasanya tenang kini terden

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status