Share

Part.3

Bisikan Gila

Pagi ini, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Sebelum sholat subuh, aku telah bangkit dari ranjang meninggalkan Mas Divo dengan dengkuran halusnya. Ia tampak sangat kelelahan, sehingga tak menyadari kalau aku sudah beranjak dari sisinya.

Memang, setiap ia berada disini, aku  selalu mengusahakan yang terbaik untuknya. Meladeninya semaksimal mungkin, urusan ranjang, makan dan penampilan selalu kunomor-satukan, agar aku tetap istimewa di matanya, meski aku tak mendampinginya selama lima hari kerja.

Sebelum Mas Divo bangun aku telah berpenampilan cantik, dan makanan kesukaan pun telah tersedia. Itulah target juga obsesi terindah dalam hidupku, sejak ijab suci itu ia lafadz-kan di depan ayah dan semua pihak keluargaku.

Hal itu juga yang sering jadi bahan perbandingan di keluarga ini bila mereka telah membahas Mbak Vera pada Mas Dion, selalu aku yang di bawa-bawa. Padahal apa urusannya? Toh, aku begini karena rasa tanggung jawabku pada keluarga kecilku, Mas Divo dan Bayu. Karena aku hidup disini, di rumah mertuaku, rasa tanggung jawab itu juga meluap pada keluarga suamiku itu. Habis, siapa lagi?

“Mas, nggak salat, Sayang?” bisikku mesra di telinga Mas Divo. Aku tersenyum kala ia menggeliat, dan memelukku mesra.

“Kamu sudah mandi, ya?” bisiknya di telinggaku dengan suara serak.

“Ih, bangun, dong! Belum bersih-bersih udah main peluk-peluk, aja,” ujarku sambil melepaskan diri dari Mas Divo. Mas Divo malah menggerakkan jemarinya yang berada tepat di rusukku, sehingga aku berteriak kegelian.

“Divo! Viona! Ayo cepatan salat, nanti keburu pagi!" Lengkingan suara Mama membuat kami terdiam. Mas Divo terkekeh menertawakanku. Aku cemberut dan mencubit pinggangnya. Ia balas mencubit hidungku. Kemudian Mas Divo bangkit dari ranjang.

“Ayo! Daripada dipanggil Mama lagi nanti,” ujarnya sambil merangkulku. Aku tersenyum. Kami pun keluar dari kamar berbarengan. Aku bergegas ke dapur menghampiri Mama yang telah sibuk menyiapkan sarapan kami.

“Udah salat, Viona?” tanya Mama ketika aku baru saja berada di sampingnya.

“Udah, Ma, tadi,” jawabku singkat sambil meraih piring kotor dan mengucek-nguceknya dengan busa sabun serta membilasnya.

“Vi! bangunkan dulu Mas Dion, gih! Mama lupa, Mama rasa dia belum salat!” Aku terdiam sejenak, antara ragu dan kaget. Haruskah aku kesana? Ke kamar Mas Dion? Ah!.

‘Ohya, Mas Divo tadi, kok belum juga nongol di sini, ya? Padahal tadi udah barengan. Apa nyambung tidur lagi? Padahal, ‘kan juga belum salat,’ pikirku dalam hati. Kuletakkan piring yang tadi kucuci, dan membersihkan tangan dari busa sabun. Kemudian bergegas kembali ke kamar.

Namun, ketika aku melewati kamar Mas Dion, senyumku langsung mengembang melihat Mas Divo yang melangkah ke arahku sambil menyandang handuk di bahunya. Kami berpapasan. Ia menyempatkan diri melayangkan  tangan jahilnya ke bokongku. Aku kaget. Kukejar ia sambil mencubit lengannya, yang membuat ia mengaduh sambil mengusap-usap lengannya.

“Ada apa Di?” tanya Mama mengejutkan kami. Beliau menoleh ke arah kami, maklum si Bontot. Aku tergelak tertahan. Mas Divo menggaruk-garuk kepalanya sambil menyunggingkan senyuman padaku.

“Nggak kok, Ma. Cuma kesandung!” Mas Divo mengulum senyum dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, setelah sebelumnya melayangkan ciuman kilat ke pelipis Mama. Kini giliranku yang harus membangunkan Mas Dion. Kebetulan, tempat aku berdiri tadi tepat di depan pintunya.

Aku mematung sejenak, sambil mengambil nafas panjang, kemudian menghempaskannya kasar. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Antara ragu dan sungkan aku menguatkan hati untuk memanggilnya dari sana. “Mas ... Mas Dion? Bangun, Mas! Salat dulu!” ujarku pelan. Namun, tak ada jawaban. Hening.  Kembali kuulangi sambil mengetok-ngetok pintu kamarnya pelan. “Mas Dion … Mas? Mama suruh Mas bangun. Salat dulu!” teriakku lagi.

Beberapa kali kuulangi, tapi tetap tak ada jawaban. Terakhir, aku akan coba sekali lagi sebelum pasrah, biar Mama saja yang membangunkannya, bila kali ini ia tetap tak mau bangun. “Mas ... Mas Dion? Mas disu—“ Belum sempat kata-kata itu kulanjutkan, sesosok tubuh tegap berkulit putih yang hanya menggunakan celana pendek, berdiri tegak di hadapanku. Tubuhnya yang sejengkal lebih tinggi dariku, menatapku slengek’an dengan senyum konyolnya.

Terus terang netraku menangkap kilau cahaya di kulitnya yang bersih. Entah apa perawatan kulit yang ia lakukan, wajahnya terlihat glowing bangun tidur.  Tubuhnya yang selama ini tertutup setelan rapi ternyata sangat putih dan bersih. Apakah ia suka ke salon? Facial? Spa? Atau ia menyimpan benda-benda kosmetik di lemarinya? Aku yang perempuan, minder dibuatnya.

Entah berapa lama aku terpaku, aku tak tau. Entah karena kaget, tiba-tiba ia muncul setelah lama kupanggil, entah karena melihat tubuh gl­owing-nya. Yang pasti, aku sedikit ternganga melihat keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.

 “Mandang orang jangan gitu! Non muhrim!” katanya mengejutkanku. Membuat wajahku serasa memerah menahan malu. Buru-buru kualihkan pandanganku sambil menetralkan hati yang kaget bukan kepalang. Kurang ajar, bisa-bisanya ia mempermalukanku.

Tiba-tiba ia melangkah melewatiku yang masih sibuk menetralkan diri, sambil berbisik, “Kamu keramas, ya?” ujarnya kemudian sambil tersenyum puas. Aku mendelik.

“What?! Maksudnya--’ Aku terhenti. Dan hanya bisa menatapi punggungnya dari belakang dengan wajah geram. Apa-apaan sih, dia?

***

Waktu sarapan telah tiba. Semua anggota keluarga sudah stand-bye di tempat masing-masing kecuali Mas Dion. Hanya dia yang belum muncul. Barusan ia melintasi ruang ini dari kamar mandi menuju kamarnya. Melewati Aku yang masih membereskan sisa pekerjaan di dapur. Setelah semua usai, aku melangkah menuju meja makan, dan duduk di samping Mas Divo.

Detik berikutnya kulihat Mas Dion memasuki ruangan. Penampilannya sudah rapi, aroma wangi maskulin menguar di ruang makan.

“Loh, Yon! Tumben pagi?” ejek Mama, sambil melirik Mas Dion.

“Temu klien, Ma. Ada yang mau ngajak partner-an di ibu kota,” jawabnya sambil mencomot tempe goreng tepung yang ada di meja. Kemudian duduk tepat di hadapanku. Aku mendelik. Sykurlah! Berarti buka cabang di ibu kota? Artinya ia nggak akan disini lagi.

Ia membuka piring yang tadi kutelungkupkan, kemudian mengambil nasi, lauk dan sayur. Aku hanya mengamatinya, sambil memulai suapan pertamaku. Wajah acuhnya mengingatkanku dengan semua kelakuannya beberapa hari ini, terlebih subuh tadi. Sikap slengekan dan urakan yang membuatku malu, tapi juga geram. Terlebih bisikannya tadi yang kurasa tidak pada tempatnya. Sementara kulihat ia sepertinya sudah melupakan itu.

“Vi, kamu senang nggak, dsini? Masih kerasan, nggak?” tiba-tiba Mama membuka pembicaraan diantara dentingan suara sendok dan piring yang bersahutan. Aku terkejut dan menoleh pada Mama. Kemudian senyum manis kuberikan pada Mama yang masih mengamatiku diantara aktivitasnya menyantap makanan.

“Maafin Mama, ya? Selalu ngasih kamu pe-er yang nggak habis-habisnya.” Wanita 50-an yang telah kuanggap sebagai ibu itu berucap dengan nada mellow-nya. Menatapku syahdu. Aku tersenyum sambil mengunyah sisa makanan di mulutku dengan pelan.

“Nggak apa-apa, Ma. Nggak ada pekerjaan yang berat kok. Sama aja waktu Viona tinggal sendiri,”

“Aku liat Viona betah kok, Ma,” timpal Mas Dion sambil menatapi makanannya. Aku mendelik. Perlahan gerakanku melambat. Bener-bener ampun sama manusia yang satu ini. Apa dia nggak tau, yang membuat aku nggak betah itu malah dia! Risih dengan kelakuannya!

“Syukurlah! Mama cuma cemas Viona ngerasa di bebani.”

“Nggak, lah!” tukas Mas Dion lagi dengan cepat, tapi tetap sambil fokus dengan makanannya. Aku makin terperanjat. Kenapa dia yang jawab lagi, sih? Aneh!

“Perasaan yang Mama tanya Viona, deh. Kenapa yang jawab kamu, Yon? Lagian kog kamu tahu isi hati Viona?” Tiba-tiba Susana hening. Semua menatap pada Mas Dion, kemudian padaku, tak terkecuali Mas Divo. Aku ikutan deg-degan dibuatnya. Sementara itu Mas Dion juga terkesiap.

Menyadari situasi tegang yang mulai menyelinap, buru-buru aku menetralkan situasi. Takut akan jadi masalah nantinya. 

“Iya nih. Mas Dion sok pinter nebak hati orang. Tapi, Mas Dion bener loh, Mas. Aku seneng.” Aku tersenyum. Kali aja Mas Dion ngeliat aku happy-happy aja di sini, Makanya ia bilang begitu. Meski ketemu Mas Divo hanya sekali seminggu,” ucapku kemudian sambil menatap Mas Divo mesra. Mas Divo tersenyum, kemudian mengucek-ngucek kepalaku mesra.

Mas Dion menatap kami dengan tatapan dingin, kemudian menyunggingkan senyum anehnya. Mama dan papa ikut tersenyum. Semua kembali melanjutkan makannya. Hanya lelaki itu yang masih saja menatap kami dengan aneh, sebelum akhirnya kembali menyantap makanannya.

“Syukurlah, Nak. Mama Papa senang kalian saling dekat. Meskipun Viona menantu di rumah ini, tapi kamu sudah menganggapnya sebagai adikmu kan, Yon? Makanya kamu respect. Ya kan, Pa?”

 “Hu um,” jawab mertua laki-lakiku itu sambil terus mengunyah, menikmati gelembung makanan di mulutnya. Sementara Mas Dion mendengkus dan tersenyum konyol sambil kembali menikmati makannya.

 “Oh ya, Yon. Gimana masalahmu? Sudah ada itikad baik dari Vera?” tanya Papa kemudian pada lelaki dihadapanku itu. Wajahnya seketika berubah memucat. Aku mengalihkan pandangan kembali pada santapanku, tak ingin menyudutkannya, karena pasti setelah ini, namaku akan di bawa-bawa lagi.

‘Iya, Yon. Mama kasian melihatmu begini. Nggak baik lama-lama sendiri, banyak mudhorat-nya. Cepat selesaikan, kamu mau baikan lagi sama Vera atau nggak?” tanya Mama kemudian. “Kalau mau baikan lagi, didik Vera jadi isteri yang baik. Tuh lihat, Viona, cantik, pinter, jago masak, dan bertanggung jawab sebagai istri.” Mas Divo tersedak. Hingga ia terbatuk berulangkali. Segera kuberikan air putih yang sebenarnya sudah ada di depannya. Ia meminumnya.

“Hati-hati makannya, Divo. Udah besar, juga!” gerutu Mama berikutnya. Mas Dion hanya melirik sekilas, tanpa komentar. Bahkan untuk pertanyaan Papa dan Mama pun juga tak ada jawaban.

Aku tak ingin berlama-lama kalau sudah membahas tentang Mbak Vera. Kasihan Mas Dion, jadi bulan-bulanan terus karena aku. Lagian, nggak enak dibanding-bandingkan saat kita ada disana. Segera kuhentikan makanku dan beranjak dari tempat dudukku.

“Maaf, Ma, Pa. Viona ke kamar dulu. Mau liat Bayu, takut entar dia bangun.” Mama dan Papa tersenyum bersamaan dan mengangguk padaku.

Selang beberapa saat berada di kamar, Mas Divo muncul dengan senyum ringannya sambil merangkulku hangat dari belakang. Ia mengecup hijabku penuh kasih.

“Makasi, cinta.”

“Apaan sih, Mas.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status