Share

Musuh Masa Lalu

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 10:21:44

"Mau jodohin Lily pa?”

“Kamu lihat dulu yang mana wajahnya sesuai dengan kriteriamu. Sisanya papa yang mengatur.”

“Berkas ini biar Lily bawa dulu, kasih Lily waktu seminggu untuk menentukan.”

“Ok, kamu bawa saja berkas itu. Kakakmu menanyakan kamu nggak ada niat kembali ke perusahaan?”

“Pa, jangan bebani kakak soal pembagian perusahaan. Lily tidak masalah seluruh perusahaan jatuh ke tangan kakak. Lily yakin jika di masa depan kehidupan Lily berat, kakak pasti akan menolong. Selain itu Lily juga punya perusahaan sendiri. Kakak juga banyak membantu mengenalkan perusahaan Lily kepada kliennya.”

“Kalau kamu rela, papa lega mendengarnya. Mama dan papa tidak ingin kalian ribut karena harta.”

“Tidak akan pa, mama dan papa tidak perlu khawatir, kami saling menyayangi. Kakak bahkan berpesan jika perusahaan Lily mengalami masalah, Lily harus memberitahukan ke kakak.”

“Bagus, kalau begitu kami sebagai orang tua kalian bisa tenang.” Mereka melanjutkan perbincangan sampai Lily berpamitan untuk tidur.

Keesokan hari, Griselle datang menjemput Lily di kediamannya. Dari jauh Griselle melihat Lily yang berdiri seorang diri, ia menghentikan mobilnya di samping Lily.

"Adriana nggak bisa ikut, masih ada acara keluarga." Ucap Lily sambil masuk ke dalam mobil. Mobil Griselle menuju ke sebuab mall elit di ibukota. Saat Griselle dan Lily sedang berjalan-jalan..

"Liii..." Sebuah suara panggilan dari seorang wanita memanggil Lily dari arah belakang. Griselle dan Lily membalikkan tubuh mereka, keduanya mengernyit menatap sosok yang memanggil Lily. Sherli, teman Sma mereka yang kini menjadi istri Riko, mantan suami Griselle dan Viona, adik perempuan Riko, mendatangi mereka.

"aku kira siapa yang jalan sama Lily, ternyata Griselle. Aku pikir Lily sudah punya sahabat baru." Kata Sherli dengan wajah penuh senyum, sementara Viona yang di sampingnya menunjukan wajah sinis.

"Iya, ada perlu sama Lily? Kalau ada, aku bisa pergi dulu." Balas Griselle acuh.

"Oh nggak kok, karena kebetulan ketemu, kenapa kita nggak jalan bareng?" Tanya Sherli sambil menatap Griselle masih dengan wajah senyum ramahnya.

"Buat apa kak? Kita jalan berdua juga nggak papa." Kata Viona menyela sebelum Griselle dan Lily menjawab

"Tidak apa-apa, mereka itu teman lama, iya nggak?" Ucap Sherli sambil menatap Griselle dan Lily bergantian.

"Dengerkan adik iparmu saja, kalau sampai dia sewot, nanti kamu bisa berurusan sama kakaknya, suamimu." Kata Lily dengan wajah menunjukkan ketidaksukaan.

"Iya kak, ayo pergi. Buat apa dekat sama cewek yang cuma bisa tergantung orang tuanya." Kata Viona. Griselle hanya diam, sudut bibirnya terlihat melengkung, rupanya ini anak minta ditampar, kata Griselle dan Lily dalam hati.

"Kalau kamu nggak bisa jaga mulutmu, jangan salahkan aku kasar." Lily mulai marah dan jarinya menunjuk ke arah wajah Viona. Griselle segera segera memegang lengan Lily dan mengelengkan kepalanya sebagai tanda agar Lily tenang.

"Aku bicara kenyataan, kenapa kamu yang sewot. Kakakku dari dulu nggak mau sama dia, karena dia merasa orang tuanya kaya maka memaksa kakakku menerima dia." Jawab Viona ketus, Sherli hanya tersenyum mendengar kata-kata Viona.

"Kalau bukan karena dia, kak Sherli sudah menjadi kekasih kakakku dari dulu dan...." Viona melanjutkan perkataannya, Sherli memegang lengan Viona.

"Sudah Vi, itu hanya cerita masa lalu. Selain itu kakakmu dan aku sudah bersama, kamu nggak perlu marah apalagi sampai mendendam." Sherli menyela dengan bijak, mencoba menenangkan Viona.

"Sudah selesai? Kalau sudah, aku mau jalan." Kata Griselle masih dengan wajah acuh.

"Kita jalan sama-sama saja Griselle." Sherli berusaha meraih lengan Griselle, tetapi Griselle menghindarinya.

"Aku nggak minat. Nanti muncul gosip bahwa aku merayu mantan adik ipar agar bisa rujuk sama Riko." Tolak Griselle dengan tegas.

"Benar, lebih baik jalan sendiri-sendiri. Kita nggak suka kalian, kalian juga nggak suka kita, buat apa pura-pura baik." Lily membenarkan perkataan Griselle.

"Bukan masalah suka nggak suka, bagaimana pun kita dulu teman sekolah. Apalagi lama nggak ketemu." Balas Sherli menatap ke arah Lily.

"Kalau aku nggak mau?" Tanya Griselle dengan tatapan tajam ke arah Sherli.

"Griselle, aku tahu kamu cemburu. Riko dulu memilih kamu dan sekarang dia memilih aku, nggak seharusnya kamu merasa marah sama aku kan? Lagian kalian sudah bercerai selama lima tahun lebih, atau kamu masih cinta sama Riko?" Balas Sherli dengan nada sedikit tinggi.

Griselle melangkah mendekati Sherli, ia baru berhenti ketika jarak diantara mereka tinggal selangkah. Griselle menatap tajam ke arah Sherli.

"Kalau kamu suka drama, itu urusanmu, cuma jangan bawa-bawa aku. Dari matamu, aku tahu, kamu punya niat dengan pura-pura baik sama kita. Jadi nggak usah berpura-pura lagi..mengerti?" Kata Griselle sambil memajukan wajahnya mendekat ke wajah Sherli.

Melihat tindakan Griselle, Viona segera mendorongnya," Kamu mau apa? Cemburu kah sama kak Sherli? Mencoba mengancam?"

Griselle tersenyum mendengar perkataan Viona. "Cemburu? Sama dia? Dia cuma dapat barang bekasku, apa yang mesti di cemburuin? Ingat Viona, aku yang menceraikan kakakmu, yang artinya aku yang membuang kakakmu. Dan aku nggak suka memungut kembali sampah yang aku buang."

"Ayo Li , jalan." Griselle menyeret Lily tetapi dia berhenti, sambil menatap mereka berdua, "ingat, lain kali kalau bertemu, pura-pura nggak kenal saja. Bicara dengan kalian membuat kualitas otakku berkurang dua puluh lima persen."

Griselle dan Lily melangkah pergi dengan senyum kemenangan, akan tetapi Viona mengejar, sambil menarik lengan Griselle dan menunjukkan jarinya ke wajah Giselle, "Hey, kakakku yang membuang kamu, masih sok memutar balikkan fakta."

"Tanya saja sama kakakmu." Sahut Lily setelah ia melihat Griselle terdiam mengacuhkan Viona.

"Kakakku yang bilang kalau dia yang menceraikan temanmu ini. Dulu kalau bukan karena dia mengancam memakai nama keluarganya dan juga mengancam mau bunuh diri, nggak mungkin kakakku mau, juga..." Kata-kata Viona terputus ketika melihat Sherli yang sudah di sampingnya.

Saat itu Sherli memegang erat lengannya sambil mengelengkan kepala, tanda agar Viona tidak melanjutkan perkataannya.

"Bunuh diri?" Lily dengan wajah bingung menatap wajah Griselle.

"Kamu percaya aku akan bunuh diri gara-gara yang namanya cowok. Apa aku serapuh itu?" Kata Griselle sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lily.

Sherli yang takut Viona mengatakan hal-hal yang tidak perlu, berusaha mengakhiri permasalahan ini. "Sudah, itu hanya masa lalu. Seperti kata Griselle lebih baik kita berpisah, jangan berdekatan."

"Bukan itu, yang mengatakan Griselle mau bunuh diri siapa? Kakakmu? Atau kamu sherli" Tanya Lily dengan tatapan tajam ke arah kedua wanita di depannya.

"Iya, kak Sherli juga tahu kalau dia mau bunuh diri gara-gara di tolak kakakku, benarkan kak Sherli?" Tanya Viona dengan menatap ke arah Sherli. Wajah Sherli berubah kelam, mendengar perkataan Viona...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba   Pergi ke pabrik keluarga Griselle

    "Foto kita kemarin.” Griselle menjelaskan tanpa menunggu David bertanya. David melihat foto itu, dan.. “Bajingan.” Umpat David, Grisellre menggunakan jari telunjuknya menekan pipi kanan David, "Mulutmu ternyata suka memaki orang." Di foto itu tergambar beberapa wajah, termasuk wajah mereka berdua. Di atasnya ada spanduk bertuliskan “Selamat Hari Jadi David” dibawah tulisan ini ada tulisan lebih kecil. Kemarin tulisan kecil ini tidak terlihat oleh David, tertulis “ Mendapatkan pasangan wanita, Griselle.” Griselle hanya tersenyum manja melihat tatapan tajam David, “Ini bukan rencanaku loh, kamu tahu sendiri aku kemarin di rumah bersama kamu.” Griselle mengelak. David kembali menarik nafas dalam-dalam, dia juga bingung siapa yang harus disalahkan. “Aku akan membayarmu malam ini, nanti waktu kita makan malam, aku akan menggunakan lingerie yang kamu belikan kemarin. Agar kamu bisa makan dengan perasaan bahagia bisa melihatku memakai lingerie pemberianmu,OK?” Griselle mengedipkan se

  • Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba   David berulang tahun?

    Setelah selesai mandi, David segera keluar dari kamar utama. Griselle yang sedang duduk di sofa hanya tersenyum melihat wajah kelam David. Baru segitu sudah asam mukamu, ucap Griselle dalam hati. "Suamiku, kamu mau kemana?" Tanya Griselle saat melihat David membuka pintu, hendak keluar. "Ke warung kopi." Jawab David tanpa menengok ke arah Griselle. "Aih, cute juga suamiku, dia mau menjawab." Senyum Griselle mengembang. Ia lalu masik ke dalam kamar mandi, membasuh tubuh. Setelah keluar dari kamar mandi, ponsel Griselle berdering, ia melihat nama yang tertera di sana, Lily. Griselle mengangkatnya dan berbincang beberapa saat lalu menutupnya. Ia mengetik pesan untuk dikirim ke David. "Suamiku, Lily dan yang lain sedang mengadakan perayaan, mereka mengundang kita. Josh dan Teddy bilang kalau kamu nggak datang, mereka akan bilang ke keluargamu kalau kamu sudah menikahiku. Tertanda "Istrimu yang cantik dan lemah lembut". Dua bajingan penghianat, maki David saat membaca pesan ter

  • Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba   Sabun nggak baik?

    “Mau ngapain bangun pagi?" David heran melihat Griselle yang sudah bangun. “Mau bantu kamu memasak, ikut kamu jogging and ke pasar bersama." "Kenapa?" David menatap curiga pada gadis di depannya. “Membantu kamu, kamu tidak suka ada wanita liar yang dekat denganmu. Jadi dengan adanya aku, nggak ada yang berani mendekatimu." "Suka-suka kamu lah."David tidak peduli, ia berpikir paling cuma satu dua hari ini wanita bertahan bangun pagi. Setelah David membasuh wajah, mereka berangkat jogging. Griselle sangat menikmati waktu bersama David juga hawa pagi yang menyegarkan saat jogging. Tetapi ada hal yang tidak pernah Griselle duga, David selalu menghampiri para manula atau gelandang yang ia temui di jalan. David berbicara dengan mereka dan bercanda tawa. Griselle sangat menyukai tawa David tetapi ia tidak bisa mendekat. Griselle tidak pernah memandang rendah kaum miskin tetapi ia selalu tidak tahan dengan bau pakaian yang sudah lama terkena matahari atau gelandangan yang entah

  • Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba   David mandi kembang 7 warna

    Tiba-tiba, wajah Griselle yang awalnya kelam, tiba-tiba berubah dengan cepat menjadi wajah penuh kelicikan. Perubahan wajah Griselle secepat membalikkan telapak tangan, dengan wajah penuh senyuman manis. “Tetapi aku tetap harus berterima kasih loh." Griselle mengatakannya sambil menggesek-gesekkan bukitnya di lengan David, David segera menarik tangannya dan menggeser tubuhnya dua langkah ke samping dari Griselle. "Dan sebagai tanda terima kasihku, malam ini aku bertekad akan tidur telanjang, menemanimu di sofa, bagaimana?” Ucap Griselle sambil mengedipkan sebelah matanya. “Ganti bajumu dan makan." Kata David dengan wajah yang sulit dijelaskan. Sudut bibir Griselle terangkat, ia mendekati David lagi tetapi David menggeser tubuhnya dan melirik tajam Griselle. "Mengusikku? Aku akan menggodamu habis-habisan." Kata Griselle sambil menyentuh dagu David, lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar utama. David terdiam beberapa saat, lalu ia melanjutkan memasak. Griselle melangkah ke arah m

  • Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba   David membalas dendam

    "oh, aku tahu..." Griselle segera beranjak ke kamarnya, setelah beberapa waktu, Griselle kembali duduk di depan David. Dengan senyuman manis di wajahnya, Griselle menatap David, “Vid, aku butuh bantuanmu.” “Apa?” Tanya David, lalu tatapan David tertuju kepada benda yang ditaruh oleh Griselle di atas meja. David mengangkat wajahnya dan menatap Griselle, "Apa maksudmu dengan ini?” “Masa kamu nggak tahu? Itu kan mainan mirip punya laki-laki, bukan punya kuda.” “Aku tahu, maksudmu apa,kasih ke aku?” Tanya David dengan dahi yang mengkerut dalam. “Aku nggak tahu cara pakainya, bisa bantu coba masukin itu ke tempatku?” Griselle bertanya dengan menahan tawa. Dia bisa membayangkan reaksi David nanti saat mendengarkan permintaannya. Dan tebakannya benar… “Apa kamu anggap aku ini gigolo impoten sampai harus menggunakan alat untuk memuaskan kliennya?” Mendengar jawaban David, Griselle hampir tidak bisa menahan tawanya. “Jangan bilang kamu impoten, aku nggak bisa terima itu." Suara Griselle

  • Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba   Penderitaan David dimulai

    Griselle pun mengalah walau merasa tidak enak. "Ok, thanks ya." Ucap Griselle sambil beranjak menuju ke kamar utama. David membantunya membawa koper lain. Setelah itu David pergi keluar kamar.“Kunci mobimu mana? Biar aku bawa naik koper sama box itu.” lalu Griselle memberikan kunci mobilnya.David kembali turun ke area parkir mengambil koper lain dari mobil Griselle lalu kembali ke apartemennya. Ia meletakkan koper dan box itu di dekat Griselle dan melangkah keluar kamar.Satu jam kemudian, Griselle sudah selesai merapikan barang-barangnya, ia melangkah menuju ruang tamu di mana David sedang fokus dengan laptopnya."Kenapa pergi dari rumah?" Tanya David setelah melihat Griselle duduk di seberangnya."Bosan di rumah." Jawab Griselle santai, sambil mencoba menyalakan televisi."Enak ya jadi orang kaya, bosan di rumah tinggal pergi dari rumah. Numpang di rumah orang yang bisa kasih makan..ckck..." Ucap David sambil menggelengkan kepala."Ah nggak juga, mungkin cuma aku yang begitu." Waj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status