LOGIN"Kamu mengatakan Griselle mau bunuh diri gara-gara Riko?" Tanya Lily lagi dengan tatapan tajam pada Sherli. Sherli tidak menjawab pertanyaan Lily, ada rasa takut di wajahnya.
Vioona menjadi emosi, dia merasa Lily sedang mengancam Sherli sehingga Sherli terdiam." Kamu .au mengancam orang agar tutup mulut? Dasar jalang kamu." Griselle segera bergerak ke depan dengan cepat lalu mencekik leher Viona,"Ingat Viona, jangan pikir karena kalian sekarang sudah menjadi kaya dan kalian bisa sombong di depanku. Aku dan keluargaku bukanlah vegetarian. Dan kamu, dimataku kamu hanya gadis bodoh dengan otak kecil." Griselle mendekat bibirnya ke telinga Viona dan berbisik, "Kalian boleh coba kalau mau macam-macam, aku pastikan keluargamu akan hancur. Katakan pada kakakmu, aku sedang menunggu dia menghancurkan keluargaku." Griselle melepaskan cekikannya dengan kasar sehingga Viona sedikit terhuyung ke belakang. Dia lalu menyeret Lily pergi. Melihat kepergian kedua orang itu, Sherli membalikkan tubuhnya ke arah lain sambil menarik tangan Viona. "Sudah Vi, ayo pergi. Sudah tahu dia orang seperti itu, buat apa kamu layani. Juga, kamu bukan lawan dia, jangan pernah meremehkan kemampuan dia bertarung." "Kak, kenapa sih tadi kamu baik sama mereka?" Tanya Viona dengan wajah masih marah saat mereka sudah menjauh. "Aku cuma mau pamer ke dia, agar dia menjadi cemburu. Aku mau dia melihat dengan matanya sendiri kalau kakakmu sekarang menyayangi dan memanjakanku. Apa kamu pikir aku suka sama mereka? Dari zaman sekolah, aku sudah ngga suka mereka berdua." Jawab Sherli dan terlihat senyum sinis di wajahnya. "Kalau ada kakakku, sudah ditampar perempuan itu. Sial berani mengancam, nanti pulang ke rumah, aku akan bilang ke kakakku. Aku sudah tidak sabar menunggu kakak menghancurkan dia dan keluarganya." Kata Viona dengan penuh amarah, Sherli hanya tersenyum mendengar perkataan Viona. Saat mereka sudah menjauh dari Sherli dan Viona, Griselle berkata dengan nada jengkel, "Sial amat kita hari ini bisa ketemu komodo ." "Hah,Komodo? Mana? Apa mereka berdua maksudmu?" Tanya Lily sambil menengok kanan kiri. "Itu mereka berdua, komodonya. Waktu mereka buka mulut kelihatan baik-baik tapi lama-lama kita bisa mati. Kan seperti komodo, mangsa yang sudah ke gigit dilepas dibiarin mati pelan-pelan." Jawab Griselle, mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak. "Waktu itu kamu benar mau bunuh diri?" Tanya Lily dengan tatapan rumit ke arah Griselle. “Apa menurutmu aku akan seperti itu?” “Lalu? Kenapa dua komodo itu bisa bicara seperti itu? Apa dari Riko?” Tanya Lily sambil menyeret Griselle ke arah sebuah cafe. Mereka duduk dan memesan minuman serta beberapa cake. "Awal aku nggak tahu ada gosip seperti itu. Selama tinggal di keluarga Riko itulah aku mulai tahu semuanya. Itu gosip beredar di kalangan keluarga Riko, bukan dari orang luar tapi dari Riko dan Sherli." Griselle memulai pembicaraan saat mereka selesai memesan. “Sebenarnya apa tujuan mereka berdua?” “Aku juga nggak tahu, bahkan nggak mau tahu. Dimataku mereka hanya semut.” "Aku heran kenapa Sherli membenci kita." Lily menghentikan perkataannya saat pelayan datang membawa pesanan mereka. "Aku juga nggak tahu itu, aku juga nggak peduli" "Lalu kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku atau ke Adriana soal gosip itu? Juga kenapa kamu membiarkan gosip itu?" Tanya Lily dengan wajah marah dan mencoba melihat ke arah tempat mereka bertemu Sherli. "Dengan persahabatan kita, apa kamu dan Adriana akan diam saja kalau mendengar gosip itu?" Griselle memeluk bahu sahabatnya,"mereka sudah pergi, nggak perlu dicari lagi." "Jadi kamu nggak cerita ke aku dan Adriana karena kamu nggak mau ada keributan?" Tanya Lily yang di balas dengan anggukan kepala dari Griselle. "Kamu terlalu mengalah waktu itu, seharusnya gosip itu di luruskan. Karena pembiaran, makanya mereka menganggap kamu takut kehilangan Riko. Itu juga yang membuat mereka menjadi sombong sekarang.” Lily melanjutkan perkataannya. "Aku bukan mengalah, cuma malas drama. Juga kamu mungkin nggak tahu, jika saat itu kalau aku benar-benar merasa lelah dengan kehidupan rumah tanggaku." Lily terdiam, dia merasa apa yang dikatakan sahabatnya adalah kebenaran. Dia ingat saat itu, bukan hanya kehidupan rumah tangga Griselle yang carut marut tetapi rumah tangganya sendiri juga sedang dalam masalah. Sedangkan Adriana dalam kondisi hamil lalu keguguran. Semua karena ulah kekasihnya. Mental Adriana juga tidak baik-baik saja saat itu, emosinya mudah terpancing. Jika saat itu, dia dan Adriana mendengar gosip ini. Dia dan Adriana mungkin akan membuat keributan dengan keluarga Riko. "Setidaknya ada hikmah dari semua masalah yang kita hadapi sebelumnya. Dulu aku berpikir setelah berkeluarga kita semua akan fokus pada keluarga kita. Persahabatan kita hanya sekedar untuk berkumpul dan bergosip." "Tetapi setelah mengalami musibah justru kita semakin dekat. Kita berjuang bersama membangun usaha, setidaknya demi masa depan kita juga anak-anak kita kelak. Dan harapanku, anak-anak kita juga akan bersahabat seperti kita." "Iya, benar. Selalu ada berkah dalam musibah, tinggal kita mau belajar untuk menerima keadaan apa tidak. Ya sudah ayo, kita shopping." Ajak Lily sambil beranjak berdiri dan menarik tangan Griselle. Siang itu mereka berdua berbelanja dan nonton, melupakan semua yang telah terjadi. Mobil Griselle berhenti di depan gerbang rumah orang tua Lily, "Nanti malam aku ke rumahmu ya, menginap." Kata Lily sambil membuka pintu mobil. "Agak malam saja datangnya, aku jam tujuh malam ada kencan buta. Papa yang mengenalkan ini kucing ke aku, mau nggak mau, harus pergi." Sahut Griselle. "Ganteng?" Tanya Lily dengan penuh semangat, Griselle menggelengkan kepalanya,sambil berkata, "Cuma bertemu dulu, bukan one night stand ya." Malam itu, tampak Griselle memasuki sebuah rumah makan mewah. Setelah melihat sekeliling sejenak, ia menemukan pria berkaca mata yang sesuai dengan foto di tangannya. Griselle segera melangkah menghampiri pria tersebut. Melihat kedatangan Griselle, pria itu berdiri menyambut. "Hallo Griselle, perkenalkan saya Dani." Sapa Dani sambil mengulurkan tangan, Griselle menyambutnya. Mereka duduk dan memesan makanan. "Aku sangat senang saat mendengar kamu mau bertemu denganku. Ketika melihat fotomu dan data dirimu, aku merasa jika kita akan cocok" Dani berkata dengan penuh keyakinan. "Darimana datangnya keyakinanmu itu jika kita adalah pasangan serasi?" "Begini aku bisa dibilang seorang pria sukses, walau tidak sekaya orang tuamu. Aku juga seorang pengusaha, aku punya rumah dan mobil. Aku juga bisa dikatakan tampan. Sedangkan kamu cantik juga pengusaha. Hanya saja, selain usiamu yang sudah tidak muda, tentu sulit bagimu untuk mendapatkan pasangan sesuai keinginanmu. Apalagi kamu seorang janda dan aku tidak keberatan dengan itu.""Foto kita kemarin.” Griselle menjelaskan tanpa menunggu David bertanya. David melihat foto itu, dan.. “Bajingan.” Umpat David, Grisellre menggunakan jari telunjuknya menekan pipi kanan David, "Mulutmu ternyata suka memaki orang." Di foto itu tergambar beberapa wajah, termasuk wajah mereka berdua. Di atasnya ada spanduk bertuliskan “Selamat Hari Jadi David” dibawah tulisan ini ada tulisan lebih kecil. Kemarin tulisan kecil ini tidak terlihat oleh David, tertulis “ Mendapatkan pasangan wanita, Griselle.” Griselle hanya tersenyum manja melihat tatapan tajam David, “Ini bukan rencanaku loh, kamu tahu sendiri aku kemarin di rumah bersama kamu.” Griselle mengelak. David kembali menarik nafas dalam-dalam, dia juga bingung siapa yang harus disalahkan. “Aku akan membayarmu malam ini, nanti waktu kita makan malam, aku akan menggunakan lingerie yang kamu belikan kemarin. Agar kamu bisa makan dengan perasaan bahagia bisa melihatku memakai lingerie pemberianmu,OK?” Griselle mengedipkan se
Setelah selesai mandi, David segera keluar dari kamar utama. Griselle yang sedang duduk di sofa hanya tersenyum melihat wajah kelam David. Baru segitu sudah asam mukamu, ucap Griselle dalam hati. "Suamiku, kamu mau kemana?" Tanya Griselle saat melihat David membuka pintu, hendak keluar. "Ke warung kopi." Jawab David tanpa menengok ke arah Griselle. "Aih, cute juga suamiku, dia mau menjawab." Senyum Griselle mengembang. Ia lalu masik ke dalam kamar mandi, membasuh tubuh. Setelah keluar dari kamar mandi, ponsel Griselle berdering, ia melihat nama yang tertera di sana, Lily. Griselle mengangkatnya dan berbincang beberapa saat lalu menutupnya. Ia mengetik pesan untuk dikirim ke David. "Suamiku, Lily dan yang lain sedang mengadakan perayaan, mereka mengundang kita. Josh dan Teddy bilang kalau kamu nggak datang, mereka akan bilang ke keluargamu kalau kamu sudah menikahiku. Tertanda "Istrimu yang cantik dan lemah lembut". Dua bajingan penghianat, maki David saat membaca pesan ter
“Mau ngapain bangun pagi?" David heran melihat Griselle yang sudah bangun. “Mau bantu kamu memasak, ikut kamu jogging and ke pasar bersama." "Kenapa?" David menatap curiga pada gadis di depannya. “Membantu kamu, kamu tidak suka ada wanita liar yang dekat denganmu. Jadi dengan adanya aku, nggak ada yang berani mendekatimu." "Suka-suka kamu lah."David tidak peduli, ia berpikir paling cuma satu dua hari ini wanita bertahan bangun pagi. Setelah David membasuh wajah, mereka berangkat jogging. Griselle sangat menikmati waktu bersama David juga hawa pagi yang menyegarkan saat jogging. Tetapi ada hal yang tidak pernah Griselle duga, David selalu menghampiri para manula atau gelandang yang ia temui di jalan. David berbicara dengan mereka dan bercanda tawa. Griselle sangat menyukai tawa David tetapi ia tidak bisa mendekat. Griselle tidak pernah memandang rendah kaum miskin tetapi ia selalu tidak tahan dengan bau pakaian yang sudah lama terkena matahari atau gelandangan yang entah
Tiba-tiba, wajah Griselle yang awalnya kelam, tiba-tiba berubah dengan cepat menjadi wajah penuh kelicikan. Perubahan wajah Griselle secepat membalikkan telapak tangan, dengan wajah penuh senyuman manis. “Tetapi aku tetap harus berterima kasih loh." Griselle mengatakannya sambil menggesek-gesekkan bukitnya di lengan David, David segera menarik tangannya dan menggeser tubuhnya dua langkah ke samping dari Griselle. "Dan sebagai tanda terima kasihku, malam ini aku bertekad akan tidur telanjang, menemanimu di sofa, bagaimana?” Ucap Griselle sambil mengedipkan sebelah matanya. “Ganti bajumu dan makan." Kata David dengan wajah yang sulit dijelaskan. Sudut bibir Griselle terangkat, ia mendekati David lagi tetapi David menggeser tubuhnya dan melirik tajam Griselle. "Mengusikku? Aku akan menggodamu habis-habisan." Kata Griselle sambil menyentuh dagu David, lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar utama. David terdiam beberapa saat, lalu ia melanjutkan memasak. Griselle melangkah ke arah m
"oh, aku tahu..." Griselle segera beranjak ke kamarnya, setelah beberapa waktu, Griselle kembali duduk di depan David. Dengan senyuman manis di wajahnya, Griselle menatap David, “Vid, aku butuh bantuanmu.” “Apa?” Tanya David, lalu tatapan David tertuju kepada benda yang ditaruh oleh Griselle di atas meja. David mengangkat wajahnya dan menatap Griselle, "Apa maksudmu dengan ini?” “Masa kamu nggak tahu? Itu kan mainan mirip punya laki-laki, bukan punya kuda.” “Aku tahu, maksudmu apa,kasih ke aku?” Tanya David dengan dahi yang mengkerut dalam. “Aku nggak tahu cara pakainya, bisa bantu coba masukin itu ke tempatku?” Griselle bertanya dengan menahan tawa. Dia bisa membayangkan reaksi David nanti saat mendengarkan permintaannya. Dan tebakannya benar… “Apa kamu anggap aku ini gigolo impoten sampai harus menggunakan alat untuk memuaskan kliennya?” Mendengar jawaban David, Griselle hampir tidak bisa menahan tawanya. “Jangan bilang kamu impoten, aku nggak bisa terima itu." Suara Griselle
Griselle pun mengalah walau merasa tidak enak. "Ok, thanks ya." Ucap Griselle sambil beranjak menuju ke kamar utama. David membantunya membawa koper lain. Setelah itu David pergi keluar kamar.“Kunci mobimu mana? Biar aku bawa naik koper sama box itu.” lalu Griselle memberikan kunci mobilnya.David kembali turun ke area parkir mengambil koper lain dari mobil Griselle lalu kembali ke apartemennya. Ia meletakkan koper dan box itu di dekat Griselle dan melangkah keluar kamar.Satu jam kemudian, Griselle sudah selesai merapikan barang-barangnya, ia melangkah menuju ruang tamu di mana David sedang fokus dengan laptopnya."Kenapa pergi dari rumah?" Tanya David setelah melihat Griselle duduk di seberangnya."Bosan di rumah." Jawab Griselle santai, sambil mencoba menyalakan televisi."Enak ya jadi orang kaya, bosan di rumah tinggal pergi dari rumah. Numpang di rumah orang yang bisa kasih makan..ckck..." Ucap David sambil menggelengkan kepala."Ah nggak juga, mungkin cuma aku yang begitu." Waj







