Home / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Lembur Untuk Anabul

Share

Lembur Untuk Anabul

Author: Kalla Lunara
last update publish date: 2026-10-14 23:24:50

Raia bergegas keluar lift, melangkah cepat menuju unit Aksenna.

Bertahun-tahun kerja dan menghabiskan banyak waktu untuk overtime, kali ini, waktu lemburnya ia pakai untuk : finish up the last task for today—taking care of her boss's cat.

Rupanya karir Raia peningkatannya sampai ke urusan taking care anabul kesayangan bos— selain handle personal life-nya dan tentu aja sampai kebutuhan biologisnya bosnya itu.

‘I'm kind of sick of it, but why do I seem to like it more and more? Ugh!’

Di sudut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Jatuh Tempo   Oh, Jadi Vika Itu ...

    Dira meloloskan siulan panjang sambil meneguk minumannya. Pandangannya jahil menatap Raia yang bersandar lesu di tumpukan bantal sofa.Raia hanya mendengus, memutar bola matanya pelan menanggapi godaan sahabatnya itu. Ia menyilangkan kaki, lalu mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak."Tapi sekarang yang penting bukan itu, I had a fact, fresh banget, came from A1, alias bos gue, kalau Vika anak komisaris. Raia menyodorkan ponselnya yang masih menampilkan foto Vika dengan gaun satin marunnya kepada Dira.Perempuan berambut ikal itu hampir tersedak minuman kalengnya. Ponsel Raia langsung disambar, matanya membelalak lebar memandangi layar."Demi apa?!" pekik Dira sambil memperbesar foto Vika yang tampak begitu elegan di samping komisaris Nusabuy."Wait, wait ... Vika? Vika yang kemaren lo ceritain lompat jalur koordinasi, gak laporan ke elo?”"Iya, dia," sahut Raia, mengambil kembali ponselnya. "Pak Prayoga baru aja ngenalin dia sebagai putri bungsunya di gala dinner Bali malam in

  • Cinta Jatuh Tempo   Lembur Untuk Anabul

    Raia bergegas keluar lift, melangkah cepat menuju unit Aksenna. Bertahun-tahun kerja dan menghabiskan banyak waktu untuk overtime, kali ini, waktu lemburnya ia pakai untuk : finish up the last task for today—taking care of her boss's cat. Rupanya karir Raia peningkatannya sampai ke urusan taking care anabul kesayangan bos— selain handle personal life-nya dan tentu aja sampai kebutuhan biologisnya bosnya itu. ‘I'm kind of sick of it, but why do I seem to like it more and more? Ugh!’Di sudut ruang tengah yang luas dan sunyi itu, Miko, kucing persia berbulu putih abu-abu milik Aksenna, tampak tenang mengunyah pakan kaleng biru dari mangkuknya. Raia mendudukkan diri di sofa, menghela napas panjang sembari memandangi layar televisi yang menyala tanpa benar-benar ia tonton.Pikirannya mendadak berputar kembali pada ucapan Aksenna di ruang rapat siang tadi.‘Aku sebenarnya mau ajak kamu, seperti yang kamu tulis di kontrak kamu. You as my social climber, untuk acara-acara besar kantor.

  • Cinta Jatuh Tempo   Gosip di Pagi Hari

    "Gue baru tahu kalau kubikel lo bisa berubah jadi ring tinju sepagi ini," celetuk Alin sambil menopang dagu di atas sekat pembatas plastik, matanya melirik ke arah lorong tempat Vika baru saja menghilang dengan langkah menghentak. Rekan sesama merchant specialist itu menggeleng-gelengkan kepala jengkel sebelum menggeser kursi berrodanya agar lebih dekat ke meja Raia. "Si Vika kenapa? Mukanya udah kayak kertas kusut begitu."Raia menarik napas panjang. "Biasalah. Masalah skema logistik buat Kronos. Draf dia ditolak mentah-mentah sama Pak Aksenna di dalam tadi, terus dia ngerasa gue sengaja mempersulit posisi dia sebagai co-lead."Alin mendengus pelan, mencondongkan badannya ke depan untuk berbisik. "Ditolak Pak Aksenna? Padahal dia udah pamer ke anak-anak sebelah kalau ide dia luar biasa dan pasti diterima. Mana pake embel-embel dia mantan anak buah emasnya Pak Aksenna waktu di Distrik Segara dulu.""Denger-denger, katanya sih punya kedekatan khusus juga di internal manajemen, makan

  • Cinta Jatuh Tempo   See You In Three Days

    “Miss your social life, ya?Aksenna meletakkan kacamatanya ke atas meja, memijat pangkal hidungnya pelan. Bahunya yang semula tegang perlahan turun. Ia menatap Raia lama, lalu senyuman tipis yang tampak lelah terukir di wajahnya. “Oke, aku tahu.” Suaranya melunak. “Setelah saya—ummm aku—maksudnya, kupikir ... aku terlalu sering mengikat kamu beberapa minggu terakhir ini." “Sampai aku nggak pernah liat kamu tertawa sebebas tadi …” Aksenna melangkah pelan mendekati Raia.Raia merapatkan iPad di dadanya, menatap lurus sepasang mata Aksenna yang kini tak lagi mengintimidasi. “Kita di kantor. Gak enak sama yang di luar. Saya keluar ruangan dulu. Mungkin Vika tunggu saya.”Raia berbalik, tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu kaca saat ketukan suara Aksenna kembali menahannya. "Raia, wait. Umm ... sorry."Langkah Raia terkunci. Ia menoleh perlahan, mendapati Aksenna berdiri diam di tengah ruangan dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan miliknya."Aku minta maaf," aku

  • Cinta Jatuh Tempo   I Miss My Social Life, Too

    Raia masih mensyukuri momentnya pagi ini, dengan kalimat yang ia ulang berkali-kali macam mantra.‘Oh, how i miss my social life’. ‘Oh, how i miss my social life’Tentu sambil menyesap kopinya dengan tenang. Biasanya kalau sendirian, ia akan memesan capucino or latte dan duduk di sisi jendela untuk sekadar people watching atau menulis beberapa kalimat di buku jurnalingnya. "Setuju ga, kalau americano itu cara paling jujur buat menikmati kopi,”“Dia praktis, efisien, nggak banyak drama. Kopi ini nggak menutupi rasa pahitnya dengan susu, tapi diencerkan dengan air supaya kita bisa bertahan menghabiskan cangkir itu sampai selesai.”“Sama kayak hari ini. Pahitnya tekanan kerjaan nggak bakal hilang, tapi kita cuma perlu cara buat berkompromi dan bertahan sampai jam pulang." Raia melirik ke pria di sebelahnya itu. Separuh senyum terbit di wajahnya.‘Ah, pria dengan segala filosofisnya ini.’“Ternyata gue kangen juga obrolan bermakna gini,” Raia tergelak. Ia memandangi cairan hitam di c

  • Cinta Jatuh Tempo   Pagi Dengan Kafein dan Hormon-hormon Bahagia

    Raia memarkir mobil listriknya di area parkir gedung office tower Nusabuy dengan mulus. Setelah memastikan riasan dan blazernya rapi lewat kaca spion, ia bersandar sejenak pada kemudi. Napasnya terembus panjang.Pikirannya mendadak melayang kembali ke area kitchen island apartemennya satu jam yang lalu. Rasa hangat dan lengket yang sempat tertinggal di tenggorokannya membuat Raia menggelengkan kepala pelan. “Ough! Gila. Gue bener-bener kayak orang gila seks belakangan ini,” batinnya merutuk diri sendiri.Sejak Aksenna masuk ke dalam hidupnya, ritme tubuhnya seolah diatur ulang oleh pria itu. Raia bahkan sampai harus rutin meminum pil KB setiap malam, karena ia tahu betul seberapa impulsif dan tidak terprediksinya gairah mereka berdua di luar jam kantor. Bukan cuma seksnya yang gila, tapi racauan pria itu pasca-orgasme tadi juga tidak kalah absurd. Raia mengingat jelas bagaimana Aksenna, dengan napas terengah-engah dan mata setengah terpejam bersandar di meja konter dapur, menaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status