Masuk
"Lo sinting ya, Di? Seratus lima puluh juta! Lo mau bikin gue mati berdiri?!"
Raia menekan ponselnya kuat-kuat ke telinga, meredam suaranya di koridor sepi dekat toilet Lantai 12.
Di ujung telepon, Aldi terdengar panik. Latar belakang suara bising jalanan menandakan kakaknya itu sedang melarikan diri.
"Rai, gue ditipu! Investasi titip modal arisan yang kemarin gue ceritain ternyata skema Ponzi bodong, orangnya kabur bawa semua duit nasabah. Gue panik ditagih lubang tutup lubang, dan ... gue pakai data lo buat penjamin." Suara Aldi memelas, "Gue ngungsi di rumah temen dulu. Jangan bilang Nyokap, ya!"
"Jangan bilang Nyokap kata lo?!" Raia mencengkeram pembatas dinding besi. "Gue bahkan bingung kepala lo itu isinya otak atau cuma cashback koin marketplace, Di! Lo tahu gaji gue di sini berapa? Lo tahu beban kosan Rian sama susu anak lo sendiri gue yang tanggung?!"
"Ra, lo kan pint—"
Klik!
Raia memutus panggilan secara sepihak. Dia menolak mendengar kata 'pintar' dari mulut Aldi.
Bagi keluarga mereka, kata 'pintar' versi Aldi berarti ‘kamu sanggup memeras otak untuk membereskan kotoran yang gue buat’.
‘Ada gila-gilanya ya lo, Al!’
Raia menatap layar ponselnya. Dia sudah tidak bisa menangis. Setiap hari hidupnya tidak pernah benar-benar tenang. Ia macam sekrup kecil dalam mesin yang harus tetap berjalan agar keluarganya tidak rubuh.
Raia merapikan jedai rambutnya, lalu kembali ke kubikel yang bising. Di depannya, sudah menumpuk notifikasi merah di pojok layar laptop. Grafik Gross Merchandise Volume (GMV) dari salah satu top merchant sedang anjlok—sama seperti isi rekeningnya.
"Raia! Rating merchant kosmetik drop jadi 4.2! Kalau mereka cabut sebelum campaign tanggal kembar, bonus kita hangus!" Suara rekan kerjanya melengking.
"Aman, Mbak. Ini lagi gue draf email recovery strategy-nya. Lima menit lagi gue follow up
via telepon," jawab Raia lugas, meski jiwanya ingin pindah planet.
"Rai, udah lihat email HR?" bisik Alin, rekan kubikelnya. "Besok Head of Merchant baru masuk. Aksenna Dhanendra. Tau, kan?"
Raia terdiam sejenak. Lama berkutat dengan hitungan matematika utang domestik keluarganya, manalah sempat ia mengecek pengumuman mutasi atau latar belakang satu orang penting di NusaBuy.
Bagi Raia, semua atasan tingkat atas itu sama saja. Hobi menuntut target tinggi tanpa tahu rasanya dikejar cicilan.
"Nggak tahu. Siapa?" tanya Raia acuh tak acuh.
"Ih elo, dia tuh lulusan MBA dari Meridien Business University Singapore, Rai! Masuk sana jalur beasiswa penuh karena otaknya keenceran,” tukas Alin sambil mendorong pelan bahu Raia.
Lagi, rekan kerjanya itu lanjut berceloteh, “Kabarnya dia sengaja ditarik langsung sama jajaran C-level pusat buat ngeberesin stagnansi di regional kita. Umurnya baru tiga puluh dua tahun, tapi reputasinya di ekosistem tech startup nasional sudah luar biasa. Julukannya si eksekutor. Agak ngeri ya!”
“Oooo …” respon Raia santai.
‘Bagus banget’, batin Raia sarkas. ‘Beban hidup gue aja uda mau bikin pecah kepala. Sekarang apa lagi?! Bos baru tipe hustle culture garis keras. What a life!’
Empat jam revisi data tanpa jeda sukses menguras habis sisa energi Raia. Tepat jam satu siang, ia melipir ke parkiran belakang membawa tiga kaleng makanan kucing.
"Cap, cip, cup! Sini!" panggil Raia pelan.
Tiga ekor kucing liar lokal yang salah satunya berkaki pincang dan bertelinga robek langsung keluar dari balik ban mobil. Melihat mereka makan dengan lahap adalah satu-satunya coping mechanism murah meriah yang Raia punya.
"Kalau manusia bisa di-check-out massal lalu diretur ke rahim ibu tanpa ongkir, Aldi udah gue balikin sepuluh tahun lalu, Cup!" gumam Raia sarkas pada seekor kucing oranye di depannya.
Kucing itu mengeong, seolah setuju.
"Menghujat anggota keluarga di tempat umum memang nggak menyelesaikan masalah finansial, tapi diakui atau nggak memang cukup melegakan."
Suara bariton itu datang dari belakang. Raia refleks berdiri, namun aspal licin membuat hak sepatunya terpeleset. Ia memejamkan mata, bersiap jatuh, namun benturan itu tidak pernah terjadi.
Sebuah lengan kokoh mencengkeram pinggangnya, menarik tubuh Raia rapat ke dada bidang pria asing itu. Aroma cendana dan tembakau mahal seketika memenuhi indra penciumannya.
"Hati-hati," bisik pria itu tepat di atas kepalanya.
Raia buru-buru menjaga jarak, meski badannya masih terasa limbung. Di depannya berdiri seorang pria jangkung dengan penampilan urban—kemeja flanel hitam yang lengannya digulung rapi sampai siku dan jam tangan pintar yang layarnya menyala terang.
"Ma—makasih, Mas! Sori, saya agak kagok," ujar Raia spontan.
Sentuhan tangan pria itu rasanya masih menempel di pinggang. Raia mundur selangkah, pipinya terasa panas karena malu.
Pria dengan rahang tegas itu tersenyum tipis.
"Baru pertama kali saya lihat ada orang yang mau meretur kakaknya sendiri karena nggak sesuai deskripsi." Dia melirik ID karyawan Raia, lalu berjongkok memberikan creamy treat pada si kucing oranye. "Tampaknya, dunia korporat di lantai atas benar-benar bikin kamu stres."
Raia terpaku. Aura cowok ini bahaya. "Mas, anak kantor sini juga?"
"Bisa dibilang begitu. Baru mulai aktif besok."
"Oh, pantesan." Raia kembali memberi makan kucing. "Saran saya, kalau besok mulai kerja di sini, siapin mental. Apalagi kalau masuk divisi Merchant. Besok, Head baru kita masuk, kabarnya dia tipe pemimpin yang hobi bantai staf lewat email. Jadi, nikmatin street-feeding siang ini sebelum besok hidup kita berubah jadi neraka korporat."
Pria itu tertawa rendah—suaranya seksi, tetapi mengintimidasi. Ia berdiri, merapikan kemeja flanelnya, lalu menatap Raia tajam.
"Neraka korporat, ya? Terima kasih peringatannya. Saya akan ingat itu besok pagi,” ujarnya enteng sambil berlalu pergi.
Namun, senyum terakhir pria tadi terasa seperti sesuatu yang mengancam.
Raia mematung sejenak, masih menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pilar.
‘Wait, besok pagi?!’ pekik Raia mulai berasumsi.
Otak Raia yang tadinya lelah mendadak bekerja dua kali lebih cepat. Ia menatap punggung pria itu. logikanya otomatis melakukan scan cepat.
Kemeja flanel hitam custom-fit, jam tangan pintar seri terbaru yang bahkan haram masuk daftar wishlist-nya Raia, hingga aroma cendana dan tembakau mahal yang menandakan pria itu tidak pernah pusing memikirkan biaya hidup.
Terakhir, cara pria itu berjalan—tegap dan penuh otoritas, seolah memiliki seluruh gedung ini.
‘Jangan bilang kalau dia ….’ Raia bahkan tak berani melanjutkan tebakannya.
Ia berjongkok, meremas dua sisi kepalanya sambil berteriak tanpa suara. ‘Ah, sial!’
Sejak pukul empat dini hari, Raia sudah bergerak sat-set seperti agen rahasia yang sedang dikejar waktu. Alasan utamanya cuma satu: dia belum siap mental untuk berhadapan muka dengan Aksenna setelah kejadian semalam.Pilihan terbaiknya adalah membereskan semua tugas, lalu kabur duluan sebelum bosnya itu terbangun.Target pertamanya adalah walk-in closet Aksenna. Raia sukses merombak lemari besar itu jadi jauh lebih efisien. Kemeja kerja digantung rapi berdasarkan degradasi warna, disusul barisan trousers dengan lipatan presisi.Dia bahkan menata jajaran jam tangan mewah Aksenna di dalam kotak kaca beludru berdasarkan fungsinya—dari yang bermesin otomatis untuk harian hingga yang bertali kulit untuk acara formal.Beres dengan pakaian, Raia melesat ke dapur. Karena katering sehat langganan Aksenna sedang dia liburkan, Raia memutuskan mendadak jadi koki.Dia membuat menu sarapan praktis tapi tetap estetik. Omelet lembut, kentang bakar bumbu bawang, potongan alpukat, dan tomat ceri pangga
Beberapa orang bilang, menjatuhkan harga diri di depan orang yang disukai adalah hal paling memalukan. Tapi bagi Aksenna, ada yang jauh lebih buruk: kehilangan akal sehat hanya karena sebuah ciuman."What the hell was I thinking? She’s my employee, you idiot!'But, pria mana yang tidak suka berciuman? Casual or deep kiss? Men like both, right?'Satu klik halus di pintu kamarnya terdengar. Di balik dinding itu, runtuh sudah semua topeng wajah bersimbol ketenangan dan kewibawaan yang biasa Aksenna tinjukkan sehari-hari.Pria itu menyandarkan kepala ke daun pintu, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan."Sial. Saya beneran sudah gila," umpat Aksenna lirih di kamarnya.Namun, bukannya tenang, jantungnya justru kembali berdegup gila-gilaan. Aksenna berjalan cepat ke arah tempat tidur, lalu menghempaskan tubuhnya ke sana. Dia berguling ke kanan, lalu ke kiri, menenggelamkan wajahnya ke bantal untuk meredam erangan frustrasi.Sialan, tekstur bibir Raia—stafnya itu seolah masih t
“Bos ya?”Pria itu melangkah maju, memosisikan tubuh tegapnya tepat di depan tempat duduk Raia. Sebelum gadis itu sempat memprotes, Aksenna mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertumpu pada kedua telapak tangan yang ia letakkan di tepian meja marmer, tepat di sisi belakang pinggang Raia.Raia tersentak kecil, refleks memundurkan punggungnya hingga mentok pada sandaran kursi bar."Kayanya udah saya bilang, di luar jam kantor, I'm not your boss," lanjut Aksenna, sepasang matanya menatap tajam ke dalam manik mata Raia yang membelalak panik. "Saya cuma klien yang terikat proposal kamu. Or partner, mungkin?”Raia menelan ludah dengan susah payah. Di bawah kepungan aroma maskulin yang begitu pekat dan jarak wajah mereka yang hanya tersisa satu jengkal, ia mati-matian mengumpulkan sisa keberaniannya agar tidak terlihat lemah.“Jangan keluar konteks, Senna," potong Raia cepat, menepis alibi pekerjaan yang dilempar pria itu. "Saya tanya, why did you kiss me? Long enough to make me forget how t
Aksenna menutup pintu apartemen di belakang mereka. Bunyi klik dari kunci digital yang mengunci otomatis terdengar final di telinga Raia."Biar kopernya saya yang bawa ke kamar," ujar Aksenna sambil meraih koper kecil di tangan Raia.Raia melepaskan pegangannya dengan kaku. "Thanks ... Ak—" Tenggorokannya mendadak tercekat saat ingin melafalkan nama itu tanpa embel-embel 'Pak'."Aksenna tidak berkomentar. Pria itu menenteng koper Raia dengan satu tangan yang santai, melangkah mendahuluinya menyusuri lorong, lalu menaruh koper itu tepat di samping tempat tidur kamar tamu."Pakaian kamu sudah aman di sini," ujar Aksenna, berbalik dan menyandarkan bahu lebarnya di bingkai pintu kamar yang sudah Raia tempati sejak semalam.Raia melangkah masuk, memandangi kamar luas yang akan menjadi tempat tinggal sementaranya selama beberapa hari ke depan. "Thanks. Saya benar-benar merepotkan.”"Berhenti bicara seolah kamu ini penyusup, Raia," potong Aksenna datar.Pria itu melipat kedua tangan di depan
Kalimat itu lolos begitu saja dari belah bibir Raia, tulus dan tanpa jarak.Aksenna terpaku. Sepasang manik matanya menggelap, menatap Raia seolah gadis itu baru saja menyerahkan seluruh dunianya.Tidak ada lagi kata ‘Sorry’. Tidak ada lagi keraguan.Aksenna menangkup rahang Raia dengan satu tangan, menariknya kembali jauh lebih dalam.Namun, begitu pagutan mereka mengerat, sebuah sengatan perih yang tajam mendadak menusuk sudut bibir Raia—sisa luka robek akibat tamparan Aldi.Raia refleks melenguh pelan di sela tautan bibir mereka, tubuhnya sedikit menegang karena rasa perih yang tiba-tiba."Sakit?" bisik Aksenna, suaranya luar biasa rendah dan serak, dengan napas yang masih berantakan di depan wajah Raia.Raia menggeleng pelan, napasnya memburu pendek dengan bibir yang sedikit bergetar. "Dikit ..."Aksenna memejamkan mata sejenak, menyandarkan keningnya kembali pada kening Raia sambil menghela napas berat."Maaf, saya sempat lupa. Harusnya saya lebih hati-hati tadi."Raia tidak menj
Raia tersenyum kecil. "Agree, Pak."Aksenna mengangguk sekali, lalu kembali fokus menyetir. Raia memperhatikan samping wajah bosnya — rahang tegas, mata yang tetap lurus ke depan, tapi sudut bibirnya masih menyimpan sisa senyum tipis yang tidak dia tunjukkan di kantor.Raia menutup mata. Tidak lama kemudian, napasnya mulai teratur. Aksenna melirik sekilas, lalu memperlambat laju mobil sedikit. Jalanan mulai sepi. Lampu lalu lintas berkedip kuning.Raia terlelap.Aksenna menatap jalan di depannya, tapi pikirannya melayang ke samping. Ke perempuan yang tidur di kursi penumpang dengan kepala sedikit miring, rambutnya menutupi sebagian pipi.Tanpa alasan yang jelas Aksenna kerap kali terpaksa harus terlibat banyak hal dengan perempuan di sebelahnya. Dari sejak pertama ia menginjakkan kakiknya di Nusabuy.Sampai dengan detik ini.Termasuk memori gelap yang sering membuat jantungnya melompat setiap kali bersama Raia—passionate kiss yang cepat dan membingungkan baginya.Aksenna menghela napa







