หน้าหลัก / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / You Didn't Feel Like a Stranger

แชร์

You Didn't Feel Like a Stranger

ผู้เขียน: Kalla Lunara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-17 16:08:54

Aksenna menutup pintu apartemen di belakang mereka. Bunyi klik dari kunci digital yang mengunci otomatis terdengar final di telinga Raia.

"Biar kopernya saya yang bawa ke kamar," ujar Aksenna sambil meraih koper kecil di tangan Raia.

Raia melepaskan pegangannya dengan kaku. "Thanks ... Ak—" Tenggorokannya mendadak tercekat saat ingin melafalkan nama itu tanpa embel-embel 'Pak'."

Aksenna tidak berkomentar. Pria itu menenteng koper Raia dengan satu tangan yang santai, melangkah mendahuluinya meny
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Cinta Jatuh Tempo   Apa pria-pria bisa se-cheesy itu?

    “Raia …” Suara familiar itu terdengar. “Miss Kopiku sayang …”Wujud pria tampan dengan style khas anak agency kreatif muncul tepat di depan kubikel Raia."Nev, bisa stop panggil gue pakai embel-embel gitu enggak?" bisik Raia dengan suara tertahan, melirik cemas ke koridor utama divisi mereka. "Geli tahu.""Halah, biasanya juga lo biasa aja," sahut Nevan seraya terkekeh pelan. "Oh ya, draf komparasi komisi dari tiga brand itu sudah lo cek ulang belum?"Raia baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab ketika suara familiar lainnya terdengar di telinga. "Ada yang bisa dilaporkan dari divisi campaign, Nevan?"Raia spontan menengok ke arah sumber suara.Secara sains, manusia itu dibekali kemampuan yang namanya auditory memory. Konon, ingatan auditori ini bekerja jauh lebih cepat daripada memori visual saat mengenali sinyal ataupun kejutan.Bagi Raia, itu valid.Suara bariton yang semalam berbisik intim di dekat telinganya, sontak membuat suasana kubikel jadi senyap. Bahkan sebelum Raia s

  • Cinta Jatuh Tempo   Setelah Cuti, Terbitlah Pening

    Sejak pukul empat dini hari, Raia sudah bergerak sat-set seperti agen rahasia yang sedang dikejar waktu. Alasan utamanya cuma satu: dia belum siap mental untuk berhadapan muka dengan Aksenna setelah kejadian semalam.Pilihan terbaiknya adalah membereskan semua tugas, lalu kabur duluan sebelum bosnya itu terbangun.Target pertamanya adalah walk-in closet Aksenna. Raia sukses merombak lemari besar itu jadi jauh lebih efisien. Kemeja kerja digantung rapi berdasarkan degradasi warna, disusul barisan trousers dengan lipatan presisi.Dia bahkan menata jajaran jam tangan mewah Aksenna di dalam kotak kaca beludru berdasarkan fungsinya—dari yang bermesin otomatis untuk harian hingga yang bertali kulit untuk acara formal.Beres dengan pakaian, Raia melesat ke dapur. Karena katering sehat langganan Aksenna sedang dia liburkan, Raia memutuskan mendadak jadi koki.Dia membuat menu sarapan praktis tapi tetap estetik. Omelet lembut, kentang bakar bumbu bawang, potongan alpukat, dan tomat ceri pangga

  • Cinta Jatuh Tempo   Skor Satu Sama

    Beberapa orang bilang, menjatuhkan harga diri di depan orang yang disukai adalah hal paling memalukan. Tapi bagi Aksenna, ada yang jauh lebih buruk: kehilangan akal sehat hanya karena sebuah ciuman."What the hell was I thinking? She’s my employee, you idiot!'But, pria mana yang tidak suka berciuman? Casual or deep kiss? Men like both, right?'Satu klik halus di pintu kamarnya terdengar. Di balik dinding itu, runtuh sudah semua topeng wajah bersimbol ketenangan dan kewibawaan yang biasa Aksenna tinjukkan sehari-hari.Pria itu menyandarkan kepala ke daun pintu, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan."Sial. Saya beneran sudah gila," umpat Aksenna lirih di kamarnya.Namun, bukannya tenang, jantungnya justru kembali berdegup gila-gilaan. Aksenna berjalan cepat ke arah tempat tidur, lalu menghempaskan tubuhnya ke sana. Dia berguling ke kanan, lalu ke kiri, menenggelamkan wajahnya ke bantal untuk meredam erangan frustrasi.Sialan, tekstur bibir Raia—stafnya itu seolah masih t

  • Cinta Jatuh Tempo   Kekacauan Macam Apa Ini?

    “Bos ya?”Pria itu melangkah maju, memosisikan tubuh tegapnya tepat di depan tempat duduk Raia. Sebelum gadis itu sempat memprotes, Aksenna mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertumpu pada kedua telapak tangan yang ia letakkan di tepian meja marmer, tepat di sisi belakang pinggang Raia.Raia tersentak kecil, refleks memundurkan punggungnya hingga mentok pada sandaran kursi bar."Kayanya udah saya bilang, di luar jam kantor, I'm not your boss," lanjut Aksenna, sepasang matanya menatap tajam ke dalam manik mata Raia yang membelalak panik. "Saya cuma klien yang terikat proposal kamu. Or partner, mungkin?”Raia menelan ludah dengan susah payah. Di bawah kepungan aroma maskulin yang begitu pekat dan jarak wajah mereka yang hanya tersisa satu jengkal, ia mati-matian mengumpulkan sisa keberaniannya agar tidak terlihat lemah.“Jangan keluar konteks, Senna," potong Raia cepat, menepis alibi pekerjaan yang dilempar pria itu. "Saya tanya, why did you kiss me? Long enough to make me forget how t

  • Cinta Jatuh Tempo   You Didn't Feel Like a Stranger

    Aksenna menutup pintu apartemen di belakang mereka. Bunyi klik dari kunci digital yang mengunci otomatis terdengar final di telinga Raia."Biar kopernya saya yang bawa ke kamar," ujar Aksenna sambil meraih koper kecil di tangan Raia.Raia melepaskan pegangannya dengan kaku. "Thanks ... Ak—" Tenggorokannya mendadak tercekat saat ingin melafalkan nama itu tanpa embel-embel 'Pak'."Aksenna tidak berkomentar. Pria itu menenteng koper Raia dengan satu tangan yang santai, melangkah mendahuluinya menyusuri lorong, lalu menaruh koper itu tepat di samping tempat tidur kamar tamu."Pakaian kamu sudah aman di sini," ujar Aksenna, berbalik dan menyandarkan bahu lebarnya di bingkai pintu kamar yang sudah Raia tempati sejak semalam.Raia melangkah masuk, memandangi kamar luas yang akan menjadi tempat tinggal sementaranya selama beberapa hari ke depan. "Thanks. Saya benar-benar merepotkan.”"Berhenti bicara seolah kamu ini penyusup, Raia," potong Aksenna datar.Pria itu melipat kedua tangan di depan

  • Cinta Jatuh Tempo   Bukan Lagi Bos?

    Kalimat itu lolos begitu saja dari belah bibir Raia, tulus dan tanpa jarak.Aksenna terpaku. Sepasang manik matanya menggelap, menatap Raia seolah gadis itu baru saja menyerahkan seluruh dunianya.Tidak ada lagi kata ‘Sorry’. Tidak ada lagi keraguan.Aksenna menangkup rahang Raia dengan satu tangan, menariknya kembali jauh lebih dalam.Namun, begitu pagutan mereka mengerat, sebuah sengatan perih yang tajam mendadak menusuk sudut bibir Raia—sisa luka robek akibat tamparan Aldi.Raia refleks melenguh pelan di sela tautan bibir mereka, tubuhnya sedikit menegang karena rasa perih yang tiba-tiba."Sakit?" bisik Aksenna, suaranya luar biasa rendah dan serak, dengan napas yang masih berantakan di depan wajah Raia.Raia menggeleng pelan, napasnya memburu pendek dengan bibir yang sedikit bergetar. "Dikit ..."Aksenna memejamkan mata sejenak, menyandarkan keningnya kembali pada kening Raia sambil menghela napas berat."Maaf, saya sempat lupa. Harusnya saya lebih hati-hati tadi."Raia tidak menj

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status