หน้าหลัก / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Setelah Cuti, Terbitlah Pening

แชร์

Setelah Cuti, Terbitlah Pening

ผู้เขียน: Kalla Lunara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-19 22:31:57

Sejak pukul empat dini hari, Raia sudah bergerak sat-set seperti agen rahasia yang sedang dikejar waktu. Alasan utamanya cuma satu: dia belum siap mental untuk berhadapan muka dengan Aksenna setelah kejadian semalam.

Pilihan terbaiknya adalah membereskan semua tugas, lalu kabur duluan sebelum bosnya itu terbangun.

Target pertamanya adalah walk-in closet Aksenna. Raia sukses merombak lemari besar itu jadi jauh lebih efisien. Kemeja kerja digantung rapi berdasarkan degradasi warna, disusul barisa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Cinta Jatuh Tempo   Wrong Time For a Romantic Note

    ‘Raia dihajar orang???’Aksenna perlu beberapa waktu untuk mencerna perkataan di ujung telepon sana. Masih berpikir, apa masuk akal, ada orang asing bisa masuk ke dalam apartemen Raia. Meski bukan apartemen mewah dengan keamanan yang terjaga, rasanya tidak sembarang orang bisa memiliki akses bebas untuk ke atas."Bawa Raia ke rumah sakit sekarang, Bimo. Jangan tunggu saya," perintah Aksenna. Suaranya masih tenang meskipun raut kecemasan itu sulit ia sembunyikan. "Make sure, dia ditangani dengan baik di rumah sakit. Saya jalan setelah acara akad selesai."“Baik, Pak,” Bimo menjawab cepat. Klik.Aksenna memutus sambungan lebih dulu. Pria itu memejamkan mata sejenak. Berpikir banyak kemungkinan orang-orang yang mencelakai Raia. Tapi nihil. Otaknya kosong. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang menahan amarah dan rasa penasaran.Namun, dia tahu dia tidak bisa egois. Ini hari besar adiknya. Langkah kaki Aksenna akhirnya berbalik, melangkah keluar kamar menuju me

  • Cinta Jatuh Tempo   Mawar dan Memar

    Aksenna memutar-mutar ponsel di jemarinya yang kokoh, menatap layar yang masih bersih dari notifikasi apa pun. Sudah hampir tiga puluh menit sejak kurir khusus melaporkan bahwa buket mawar itu telah diterima langsung oleh Raia.Seharusnya, detik ini ponsel Aksenna sudah diserbu panggilan atau minimal chat dari wanita itu. Suaranya atau bahkan tingkahnya yang excited karena buket bunga yang bahkan mungkin besarnya melebihi lebar rentang tangannya sendiri itu tidak adaSenyap. Tidak juga ada video call yang menunjukkan pipinya yang merah seperti tomat busuk, mencontek perkataan Raia."Gak mungkin juga dia belum baca notes yang ada di bunga," gumam Aksenna rendah, alisnya bertaut rapat.Rasa penasaran yang awalnya menggelitik perlahan berubah menjadi desakan gelisah yang aneh di dadanya. Aksenna akhirnya tidak tahan lagi. Dia menggeser layar, langsung menekan tombol panggilan video ke nomor Raia.Panggilan dialihkan.Aksenna mengernyit. Dia mencoba panggilan suara biasa, namun hasilnya te

  • Cinta Jatuh Tempo   Not So Sunday Kind of Love

    Cahaya pagi baru saja menerobos celah gorden kamar ketika bel apartemen Raia berbunyi bertubi-tubi. Raia, yang baru saja selesai menyeduh kopi dengan kaus longgarnya, mengernyit heran. Siapa yang bertamu sepagi ini di hari Minggu?Begitu pintu dibuka, sosok Raia langsung tenggelam di balik buket bunga mawar merah dan putih raksasa yang dipegang oleh seorang kurir berseragam khusus. Bunga itu begitu besar dan rimbun, hingga sang kurir harus setengah mengintip dari balik dedaunan untuk memastikan wajah Raia."Dengan Mbak Raia? Ada kiriman paket spesial, Mbak. Mohon tanda tangannya di sini," ucap kurir itu ramah, menyerahkan papan jalan sembari berjuang menahan bobot bunga yang luar biasa berat.Raia termangu, coretan tanda tangannya bahkan agak gemetar karena terkejut. Setelah kurir itu pergi dan menyisakan buket raksasa tersebut di atas meja ruang tengahnya—yang seketika membuat ruangan sempit itu penuh dengan aroma wangi yang pekat—Raia menemukan sebuah kartu hitam elegan terselip di

  • Cinta Jatuh Tempo   What If You Were Here

    Raia malah tertawa geli. “Kamu duluan deh ah…”“No, no. You first. Umm .. kita main what if, what if-an aja. What if you were here? What would you do?”“Me first, ya? Apa ya? Umm—maybe … I'd push you down on your bed, kiss you slowly. Dirty talk like this. Kecup-kecup dikit. Then kiss you passionetely. tanganku merayap turun menyusuri tubuh kamu hingga mencapai celana boxer kamu itu. Lalu tanganku masuk ke dalamnya. There must be something hard in there, right?".Helaan napas Aksenna di seberang sana seketika memburu, terdengar berat dan tertahan. Fantasi verbal yang diucapkan Raia dengan suara lembutnya yang serak benar-benar bekerja lebih cepat daripada alkohol mana pun yang dia minum malam ini."Ah, Raia ..." geram Aksenna rendah, cengkeramannya pada ponsel mengerat. "Terus? Setelah tangan kamu ngerasain seberapa tegangnya aku di bawah sana karena kamu, what's next?"“What would you do next after you touch it?"Pria itu mengubah posisi berbaringnya di atas kasur king size hotel, m

  • Cinta Jatuh Tempo   Minggu Depan, Ayo Kita ke Dealer

    Lampu indikator di dashboard berganti hijau, dan Raia kembali menginjak pedal gas EV-nya perlahan, membelah antrean mobil yang merayap di bawah temaram lampu jalanan. Di layar ponsel, Aksenna masih bergeming. Pria itu tampak sibuk dengan tablet di tangan kirinya—mungkin memeriksa surel kerjaan—tapi mata tajamnya secara berkala tetap melirik ke arah layar ponsel, memantau pergerakan Raia tanpa memutus sambungan video."Masih macet?" suara bariton Aksenna memecah keheningan kabin mobil, terdengar agak diredam oleh mikrofon ponsel."Lumayan. It's weekend, by the way," jawab Raia, matanya tetap lurus menatap jalanan. "Kamu sendiri gak ada acara makan malam keluarga lagi di hotel?""Udah selesai tadi sore. Sekarang semuanya lagi istirahat buat persiapan besok pagi," sahut Aksenna santai. Dia mengubah posisi duduknya, bersandar lebih dalam ke sofa hotel yang mewah. Sorot matanya melembut, menyapu wajah Raia yang tampak fokus menyetir. "Makanya saya punya waktu buat mastiin kamu gak belok

  • Cinta Jatuh Tempo   Berasa Beneran Kangen

    Hening sejenak dari seberang telepon. Raia bisa mendengar napas berat Aksenna yang tertahan."Bukan gitu maksudku, Raia," sahut Aksenna akhirnya. Suaranya merendah. "Aku cuma gak suka kamu mengabaikan telepon saya berjam-jam murni karena kamu lagi sama dia?" "Entah kamu sengaja melatih kesabaran aku, atau apa?Aku baru beberapa hari di Bali, dan kamu langsung pergi nonton sama dia?"Raia memandangi pantulan dirinya di cermin wastafel. Ia membetulkan beberapa helai rambutnya yang lepas, mencoba mempertahankan kontrol suara agar tetap tenang."Mana ada aku ngetes, atau nguji kesabaran!" tegur Raia pelan tapi tajam. "Nevan itu partner kerja aku dari sebelum aku sama kamu ada di posisi ini. Kita cuma nonton film dan ngopi santai di mall. Nggak ada yang perlu kamu bikin rumit.""Aku nggak suka cara dia melihat kamu, Rai," potong Aksenna cepat, tanpa berusaha menyembunyikan keposesifannya. "Dan aku lebih nggak suka kamu membagi hari libur kamu sama pria lain pas aku nggak ada."Raia mend

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status