Share

Bab 2

Penulis: Makjos
Warren menemani Cassie selesai infus, lalu mengantarnya pulang ke rumah.

Aku bisa melihat dengan jelas, Cassie tidak ingin Warren pergi dan Warren juga sama sekali tidak berniat pergi.

Dia mengaitkan lengannya pada lengan Warren, dengan wajah penuh kepiluan. "Warren, akhir-akhir ini suasana hatiku sangat buruk. Nanti setelah dua hari kondisiku membaik, bisa nggak kamu menemaniku keluar jalan-jalan?"

Ekspresi iba langsung muncul di wajah Warren. "Tentu saja bisa."

Ayah Cassie mengalami kegagalan usaha dan perusahaannya baru saja mengumumkan kebangkrutan. Dari seorang putri keluarga kaya menjadi gadis bangsawan yang terpuruk, Warren memahami kesulitan dan kepedihan Cassie.

Ditambah lagi kondisi tubuhnya yang terpengaruh emosi, akhir-akhir ini dia sering mengeluh sakit di sana-sini.

Seluruh perhatian Warren hanya tertuju pada Cassie. "Cassie, kamu ingin pergi ke mana, bilang saja. Aku yang akan mengaturnya. Kamu tahu, sekarang aku punya kemampuan yang cukup untuk menjagamu dengan baik."

Wajah Cassie langsung berseri-seri. "Terima kasih, Warren. Punya kamu itu benar-benar menyenangkan."

Sementara aku yang berdiri di hadapan mereka, malah tersenyum pahit mendengar kata-kata itu.

Warren sangat sibuk dengan pekerjaannya. Saat kami menikah, kami bahkan tidak pernah pergi bulan madu. Selama lima tahun pernikahan, Warren tidak pernah berkata ingin mengajakku berlibur sekali pun. Bahkan, dia juga jarang menemaniku berbelanja.

Aku memahami betapa lelahnya dia. Karena itulah, aku tidak pernah mengeluh sedikit pun dan sepenuh hati mengurus kehidupan sehari-harinya. Aku menjalankan semua kewajiban seorang istri dengan sebaik-baiknya. Namun, yang kudapat hanyalah sikap dingin dan pengabaian dari Warren.

Aku juga pernah mencoba membangkitkan kembali gairah Warren terhadapku. Entah itu berdandan atau mengenakan pakaian indah, semuanya sia-sia di mata Warren. Karena selama Cassie muncul, di mata Warren tidak akan ada orang lain.

Setiap kali dia meninggalkanku dan rumah ini demi urusan Cassie, aku selalu berakhir berselisih dengannya. Namun, dia hanya membalasku dengan sikap dingin atau justru merendahkanku dengan mengatakan aku tidak dewasa.

Saat masih hidup, aku tidak berdaya menghadapi semua ini. Kini saat di ambang kematian pun, semuanya masih tetap sama.

Warren bermalam di rumah Cassie malam itu. Meski mereka tidak tidur sekamar, tetapi hubungan mesra di antara mereka sudah diam-diam meningkat ke tahap yang sangat berbahaya.

Keesokan harinya, aku mengikuti Warren.

Aku melihat pria yang selalu menomorsatukan pekerjaan itu, malah menelepon ke sana kemari di jam sibuk kerja untuk menanyakan rute wisata paling mahal dan terbaik. Mulai dari memesan tiket kelas satu, hingga hotel bintang lima, urusan sekecil apa pun semuan ditanganinya sendiri.

Setelah semua beres, dia menyiapkan perjalanan bersama Cassie dengan penuh kegembiraan. Dia sama sekali tidak tahu keadaanku, bahkan seolah benar-benar melupakan bahwa dia masih punya seorang istri sepertiku.

Saat ibuku berjaga di sisi ranjang, dia menangis setiap malam demi diriku. Suami yang kucintai seumur hidup malah menemani wanita lain menikmati hidup. Aku menyaksikan mereka berkeliling ke berbagai kota wisata populer, mencicipi aneka kuliner khas. Kulihat Warren memotret Cassie berkali-kali, mengabadikan begitu banyak momen indah.

Warren sangat menghormati Cassie. Setiap malam mereka selalu tidur di kamar terpisah. Sikapnya yang begitu berhati-hati dan tidak berani melampaui batas, malah semakin membuktikan bahwa dia memperlakukan Cassie bak harta karun.

Melihat wajah Cassie yang sering dipenuhi senyum manis dan bahagia, hatiku tetap tenang dan tidak lagi menyisakan sedikit pun rasa cemburu.

Karena aku tidak pernah menaruh harapan pada mereka. Aku tahu, sekalipun mereka benar-benar bersama, mereka tidak akan bahagia. Pria seperti Warren yang tidak tahu menghargai setelah mendapatkan seseorang, tidak punya kemampuan untuk mempertahankan kebahagiaan.

Aku diam-diam mengikuti mereka selama satu bulan.

Sebulan kemudian, perjalanan itu berakhir. Warren pulang ke rumah dengan tubuh lelah dan berniat untuk beristirahat sejenak.

Namun saat pintu rumah dibuka, yang menyambutnya adalah sisa-sisa makanan di atas meja yang sudah membusuk dan berbau menyengat, serta genangan darah di lantai.

Melihat rumah yang berantakan dan mencium bau asam memualkan itu, wajah Warren yang punya kebiasaan bersih langsung tampak muram.

Tanpa berpikir panjang, dia mengeluarkan ponselnya dan meneleponku. Namun dia tidak menyadari, ponselku tergeletak di atas sofa dan sudah lama mati karena kehabisan baterai.

Satu kali tak terangkat.

Dua kali tak terangkat.

Tiga kali tak terangkat.

Saat panggilan keempat langsung masuk ke kotak suara, Warren yang kehilangan kesabaran langsung memaki, "Arabella! Kalau mau cerai bilang saja terus terang! Nggak perlu main perang dingin seperti ini!"

"Sekarang rumah ini jadi bukan rumah, berantakan begini! Kalau berani, pulanglah sekarang juga, kita langsung urus perceraian!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 11

    Polisi segera memastikan bahwa apa yang dikatakan ibuku adalah benar. Bagi Warren yang sejak awal sudah kehilangan arah dan semangat, kenyataan ini tak ubahnya seperti pukulan mematikan.Sejak mengetahui kebenaran, Warren seolah-olah kehilangan seluruh jiwanya. Siang maupun malam, apa pun yang ditanyakan polisi, dia hanya akan mengulang dengan tatapan kosong:"Aku ingin bertemu Arabella, aku mau bertemu Arabella ....""Aku merindukan Arabella, aku ingin bertemu dengannya ....""Asal aku bisa memeluknya, dia nggak akan kesakitan. Dulu kalau dia sakit, selalu seperti itu ...."Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dia benar-benar ingin menemuiku. Termasuk polisi, semua orang mengira dia hanya sedang berakting. Dia menampilkan penyesalan dan cinta yang datang terlambat, agar bisa lolos dari hukuman.Bukan hanya polisi. Bahkan Cassie yang akhirnya bertemu Warren, juga malas berpura-pura lagi. "Benar, memang Arabella yang menggendongmu turun gunung. Aku cuma kebetulan lewat, sekalian saj

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 10

    Pada akhirnya, Warren benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.Bukan karena ibuku melunak dan mengabulkan permintaannya, melainkan karena ibuku mendengar bahwa Warren mungkin adalah pelaku utama yang secara tidak langsung menyebabkan kematianku,sehingga dia memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Warren."Kamu yang mendorongnya? Kamu yang membuatnya sampai seperti ini?"Ibuku menunjuk ke arahku yang terbaring di ICU, sambil menangis tersedu-sedu. "Warren, lihat dia baik-baik. Katakan dengan jelas!"Warren diborgol kedua tangannya. Begitu melihatku terbaring di ranjang rumah sakit, air matanya kembali mengalir deras.Dulu aku tidak pernah tahu, ternyata Warren bisa menangis sebanyak ini. Dalam beberapa hari terakhir, aku sudah melihatnya menangis berkali-kali. Kenapa air matanya masih belum juga habis?Tangisan Warren seakan tidak ada akhirnya.Dengan sorot mata penuh kerinduan, dia berusaha menerjang ke arah kaca dan ingin berdiri lebih dekat denganku. Namun, polisi menahann

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 9

    Warren sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan polisi. Kelopak matanya berkedut beberapa kali, lalu dia kembali melonjak berdiri."Aku mau menemui Arabella! Aku nggak percaya dia benar-benar meninggal! Keguguran ... mana mungkin keguguran, kami sudah lima tahun menikah tapi nggak pernah berhasil punya anak .... Dia pasti membohongiku. Dia pasti sedang berakting ...."Sambil berkata demikian, dia bahkan berniat langsung menerobos keluar.Melihat kondisi Warren yang jelas tidak stabil, polisi segera bertindak dan menjatuhkannya ke lantai, lalu memborgolnya.Warren yang tergeletak di lantai, masih terus meronta dan meraung, "Biarkan aku menemui Arabella! Aku nggak percaya dia meninggal! Nggak mungkin!"Aku menatap mata Warren yang memerah dan wajahnya yang terdistorsi, lalu menggelengkan kepala dengan sedih.Aku sudah meninggal. Dengan begitu, kamu seharusnya bisa terbebas dari pernikahan ini dan hidup bahagia bersama Cassie. Bukankah akhir seperti itu malah bagus untukmu? Lalu kena

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 8

    Ibuku sudah tidak ingin berkata apa pun lagi kepada Warren. Dia menjawab dengan dingin, "Warren, kamu nggak pantas bertemu dengannya."Wajah Warren yang marah perlahan berubah terdistorsi. "Jangan bohongi aku! Kalian berhenti membohongiku! Suruh Arabella keluar! Soal mati atau nggak itu omong kosong, dia nggak mungkin mati! Nggak mungkin!"Ibuku kembali tersulut oleh sikap Warren yang tidak masuk akal. "Nggak mungkin?!"Emosinya pun ikut meledak, "Putriku menderita tepat di depan mataku, tapi kamu masih mengira dia sedang membohongimu? Warren, aku nggak akan membiarkan Arabella pergi dengan tidak tenang. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah membiarkanmu bertemu dengannya lagi!"Ibuku menutup telepon, lalu memblokir nomor Warren dengan tangan gemetar.Ekspresi Warren tampak lelah, sorot matanya penuh emosi yang bercampur-aduk. Dia mengepalkan tangan dan berpikir sejenak, lalu berlari keluar rumah.Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku sempat mengira dia akan kembali mencari Cassie

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 7

    Setelah tersadar kembali dari kenangan itu, Warren yang kelelahan sudah tertidur di ranjang dengan pakaian masih melekat di tubuhnya. Berbeda dengan saat menginap di hotel yang membuatnya bolak-balik tak bisa tidur, di ranjang ini Warren tampak tidur dengan sangat nyenyak.Pagi-pagi sekali, Warren langsung menelepon jasa kebersihan rumah. Petugas harian yang datang adalah seorang ibu yang cekatan dan pandai berbincang.Sesuai permintaan Warren, setelah membereskan sisa-sisa makanan, ibu itu mulai membersihkan seluruh rumah. Saat sampai di area balkon dan melihat tanaman-tanaman yang sudah layu, ibu itu menghela napas penuh sayang."Istrimu pasti orang yang sangat mencintai hidup, ya. Lihat saja bunga-bunga dan tanaman kecil ini ...."Kulihat tangannya mengusap daun-daun yang menguning, hatiku ikut terasa tercekik. Pada saat ini, dibandingkan ketidakmampuanku melepaskan Warren, rasanya aku malah lebih tidak sanggup meninggalkan tanaman-tanaman yang telah kurawat dengan sepenuh hati."Sa

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 6

    Warren adalah teman pertama yang kudapat setelah aku baru memasuki dunia kerja.Aku tumbuh besar dalam keluarga orang tua tunggal. Karena kondisi keluarga yang kurang baik, tubuhku selalu kurus dan kecil. Sejak kecil, aku sering diejek dan dirundung oleh teman-teman sekolah. Selain mengejek tinggi badanku dan penampilanku, mereka juga menertawakanku sebagai anak tanpa ayah, anak haram yang bahkan tidak diinginkan ayah kandungnya.Aku tidak ingin membuat ibu semakin khawatir. Menghadapi perundungan seperti itu, aku belajar untuk menerima segalanya dan menahannya dalam diam.Aku belajar mati-matian, hanya ingin meringankan beban ibu. Saat dewasa, aku masuk ke sekolah yang bagus dan akhirnya tidak lagi dirundung. Namun, sifat terlalu mengalah yang sudah tertanam itu ternyata sulit sekali diubah.Aku terbiasa hidup rendah hati dan menyembunyikan diri, karena itu memberiku rasa aman. Demikianlah, aku lulus kuliah dengan prestasi yang biasa-biasa saja, tanpa kelebihan maupun kekurangan, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status