Share

Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu
Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu
Penulis: Makjos

Bab 1

Penulis: Makjos
Setelah keguguran, aku terbaring di ICU selama satu bulan penuh. Sementara suamiku malah menemani cinta pertamanya berkeliling jalan-jalan ke mana-mana.

Ketika dia memutuskan untuk menceraikanku, dia baru teringat untuk mencariku. Dia menelepon ibuku dan menuduhku, bertanya sampai kapan aku akan terus membuat keributan tanpa alasan.

Ibuku menatapku yang hampir sekarat, dan hatinya benar-benar hancur. "Dia nggak akan pernah lagi membuat keributan tanpa alasan denganmu. Apa kamu sudah puas?"

....

Aku masuk ke ICU. Pada hari aku keguguran itu, nyawaku berada di ujung tanduk karena pendarahan hebat dan kerusakan organ. Ironisnya, orang yang menyebabkan aku keguguran malah adalah suamiku sendiri, Warren Aditya.

Hari aku mengalami musibah itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku menyiapkan satu meja penuh masakan lezat untuknya, memanggang kue dengan tanganku sendiri, dan menghias rumah dengan sangat romantis.

Selain berbagai barang bermerek, aku juga menyiapkan sebuah hadiah yang istimewa dan sangat berharga untuk Warren ... yaitu kehamilanku.

Anak yang baru bisa kudapatkan setelah lima tahun berusaha. Sesuatu yang sama sekali tidak mudah.

Aku mengira kehadiran anak ini adalah hadiah berharga milik kami berdua, sekaligus bisa menyelamatkan pernikahan kami yang sudah retak. Karena itu, aku sengaja memilih hari ulang tahunnya untuk menyampaikan kabar baik ini.

Namun saat Warren pulang kerja, dia hanya berganti pakaian dengan tergesa-gesa, lalu berkata bahwa Cassie masuk rumah sakit dan membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Setelah itu, dia berniat pergi lagi.

Dengan tidak percaya, aku menarik tangannya. "Aku sudah menyiapkan begitu banyak hal ...."

"Dan aku juga punya satu hadiah yang sangat penting untukmu ...."

Warren mengibaskan tanganku dengan dingin. "Arabella, Cassie sendirian di rumah sakit. Aku harus ke sana!"

Ekspresiku langsung menjadi dingin.

Sejak Cassie muncul kembali, Warren seperti kehilangan akal. Cinta pertama yang dulu tak pernah dia miliki, menempati posisi yang tak tergantikan di hatinya.

Aku menurunkan tangan dengan perasaan pilu. "Warren, Cassie itu ...."

"Memangnya sepenting itu bagimu? Lebih penting ... daripada aku?"

Warren menatapku dengan wajah tidak sabar. "Bisa nggak kamu berhenti membuat keributan di saat seperti ini? Dulu Cassie pernah menyelamatkan nyawaku. Sekarang dia sedang kesulitan, apa salahnya aku membantunya?"

Bahkan belum sempat aku bertengkar dengannya, dia sudah lebih dulu menyerang. "Aku dan Cassie sama sekali nggak punya hubungan apa pun. Kalau kamu terus-menerus curiga dan menuduhku seperti ini, pernikahan ini nggak mungkin dipertahankan."

Dia menatapku dengan jijik, seolah-olah sedang melihat musuh bebuyutannya.

Aku naik pitam dan hendak meraih tangannya. Namun, dia malah mendorongku dengan keras, lalu membanting pintu dan pergi tanpa menoleh lagi.

Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku terhuyung menghantam sudut meja, lalu terjatuh keras ke lantai.

Aku hanya bisa merasakan tubuhku terus kejang. Di tengah rasa sakit yang tak berujung, aku terjerumus ke dalam kegelapan yang mengerikan.

Saat aku terbangun kembali. Aku mendapati diriku berdiri di samping ranjang rumah sakit, menatap tanpa ekspresi ke arah diriku sendiri yang terbaring di atas ranjang ....

Ternyata, ketika seseorang berada di ambang hidup dan mati, keterikatan yang kuat akan menjelma menjadi roh, membuat dirinya sendiri menjadi penonton dunia ini. Melihat tubuhku yang dipenuhi selang infus, aku ingin menangis. Akan tetapi, air mataku tidak bisa keluar.

Ketika kulihat ibuku di luar ruang perawatan, hatiku terasa seperti disayat pisau. Rambutnya tampak memutih dan rautnya lesu hanya dalam semalam. Saat terpikir bahwa semua ini disebabkan oleh Warren ....

Rasa tidak rela yang begitu kuat menuntunku pergi ke sisinya.

Saat itu, Warren berada di rumah sakit lain. Dia menggenggam tangan Cassie, wajahnya penuh rasa iba. "Tenang saja, kamu fokus saja memulihkan tubuhmu. Soal yang lain, serahkan padaku."

Cassie tersenyum pucat, lalu memanfaatkan kelemahannya untuk menyandarkan kepala di bahu Warren. "Kak Warren, untung masih ada kamu. Kalau bukan karena kamu, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana ...."

Merasakan ketergantungan Cassie, Warren tersenyum puas.

Cassie bersandar di sisi Warren, lalu bertanya manja, "Tapi kamu terus menemani aku seperti ini, Kak Arabella nggak akan marah, ya?"

"Nggak masalah." Begitu mendengar namaku, wajah Warren seketika berubah menjadi penuh kejijikan.

"Setiap beberapa hari pasti cari gara-gara denganku. Sedikit-sedikit menuduh aku punya hubungan nggak pantas denganmu. Padahal nggak ada masalah apa-apa, tapi dibuat-buat lalu ribut denganku."

"Siapa yang sanggup menjalani hidup seperti ini? Paling-paling, aku langsung ceraikan dia saja!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 11

    Polisi segera memastikan bahwa apa yang dikatakan ibuku adalah benar. Bagi Warren yang sejak awal sudah kehilangan arah dan semangat, kenyataan ini tak ubahnya seperti pukulan mematikan.Sejak mengetahui kebenaran, Warren seolah-olah kehilangan seluruh jiwanya. Siang maupun malam, apa pun yang ditanyakan polisi, dia hanya akan mengulang dengan tatapan kosong:"Aku ingin bertemu Arabella, aku mau bertemu Arabella ....""Aku merindukan Arabella, aku ingin bertemu dengannya ....""Asal aku bisa memeluknya, dia nggak akan kesakitan. Dulu kalau dia sakit, selalu seperti itu ...."Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dia benar-benar ingin menemuiku. Termasuk polisi, semua orang mengira dia hanya sedang berakting. Dia menampilkan penyesalan dan cinta yang datang terlambat, agar bisa lolos dari hukuman.Bukan hanya polisi. Bahkan Cassie yang akhirnya bertemu Warren, juga malas berpura-pura lagi. "Benar, memang Arabella yang menggendongmu turun gunung. Aku cuma kebetulan lewat, sekalian saj

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 10

    Pada akhirnya, Warren benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.Bukan karena ibuku melunak dan mengabulkan permintaannya, melainkan karena ibuku mendengar bahwa Warren mungkin adalah pelaku utama yang secara tidak langsung menyebabkan kematianku,sehingga dia memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Warren."Kamu yang mendorongnya? Kamu yang membuatnya sampai seperti ini?"Ibuku menunjuk ke arahku yang terbaring di ICU, sambil menangis tersedu-sedu. "Warren, lihat dia baik-baik. Katakan dengan jelas!"Warren diborgol kedua tangannya. Begitu melihatku terbaring di ranjang rumah sakit, air matanya kembali mengalir deras.Dulu aku tidak pernah tahu, ternyata Warren bisa menangis sebanyak ini. Dalam beberapa hari terakhir, aku sudah melihatnya menangis berkali-kali. Kenapa air matanya masih belum juga habis?Tangisan Warren seakan tidak ada akhirnya.Dengan sorot mata penuh kerinduan, dia berusaha menerjang ke arah kaca dan ingin berdiri lebih dekat denganku. Namun, polisi menahann

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 9

    Warren sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan polisi. Kelopak matanya berkedut beberapa kali, lalu dia kembali melonjak berdiri."Aku mau menemui Arabella! Aku nggak percaya dia benar-benar meninggal! Keguguran ... mana mungkin keguguran, kami sudah lima tahun menikah tapi nggak pernah berhasil punya anak .... Dia pasti membohongiku. Dia pasti sedang berakting ...."Sambil berkata demikian, dia bahkan berniat langsung menerobos keluar.Melihat kondisi Warren yang jelas tidak stabil, polisi segera bertindak dan menjatuhkannya ke lantai, lalu memborgolnya.Warren yang tergeletak di lantai, masih terus meronta dan meraung, "Biarkan aku menemui Arabella! Aku nggak percaya dia meninggal! Nggak mungkin!"Aku menatap mata Warren yang memerah dan wajahnya yang terdistorsi, lalu menggelengkan kepala dengan sedih.Aku sudah meninggal. Dengan begitu, kamu seharusnya bisa terbebas dari pernikahan ini dan hidup bahagia bersama Cassie. Bukankah akhir seperti itu malah bagus untukmu? Lalu kena

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 8

    Ibuku sudah tidak ingin berkata apa pun lagi kepada Warren. Dia menjawab dengan dingin, "Warren, kamu nggak pantas bertemu dengannya."Wajah Warren yang marah perlahan berubah terdistorsi. "Jangan bohongi aku! Kalian berhenti membohongiku! Suruh Arabella keluar! Soal mati atau nggak itu omong kosong, dia nggak mungkin mati! Nggak mungkin!"Ibuku kembali tersulut oleh sikap Warren yang tidak masuk akal. "Nggak mungkin?!"Emosinya pun ikut meledak, "Putriku menderita tepat di depan mataku, tapi kamu masih mengira dia sedang membohongimu? Warren, aku nggak akan membiarkan Arabella pergi dengan tidak tenang. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah membiarkanmu bertemu dengannya lagi!"Ibuku menutup telepon, lalu memblokir nomor Warren dengan tangan gemetar.Ekspresi Warren tampak lelah, sorot matanya penuh emosi yang bercampur-aduk. Dia mengepalkan tangan dan berpikir sejenak, lalu berlari keluar rumah.Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku sempat mengira dia akan kembali mencari Cassie

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 7

    Setelah tersadar kembali dari kenangan itu, Warren yang kelelahan sudah tertidur di ranjang dengan pakaian masih melekat di tubuhnya. Berbeda dengan saat menginap di hotel yang membuatnya bolak-balik tak bisa tidur, di ranjang ini Warren tampak tidur dengan sangat nyenyak.Pagi-pagi sekali, Warren langsung menelepon jasa kebersihan rumah. Petugas harian yang datang adalah seorang ibu yang cekatan dan pandai berbincang.Sesuai permintaan Warren, setelah membereskan sisa-sisa makanan, ibu itu mulai membersihkan seluruh rumah. Saat sampai di area balkon dan melihat tanaman-tanaman yang sudah layu, ibu itu menghela napas penuh sayang."Istrimu pasti orang yang sangat mencintai hidup, ya. Lihat saja bunga-bunga dan tanaman kecil ini ...."Kulihat tangannya mengusap daun-daun yang menguning, hatiku ikut terasa tercekik. Pada saat ini, dibandingkan ketidakmampuanku melepaskan Warren, rasanya aku malah lebih tidak sanggup meninggalkan tanaman-tanaman yang telah kurawat dengan sepenuh hati."Sa

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 6

    Warren adalah teman pertama yang kudapat setelah aku baru memasuki dunia kerja.Aku tumbuh besar dalam keluarga orang tua tunggal. Karena kondisi keluarga yang kurang baik, tubuhku selalu kurus dan kecil. Sejak kecil, aku sering diejek dan dirundung oleh teman-teman sekolah. Selain mengejek tinggi badanku dan penampilanku, mereka juga menertawakanku sebagai anak tanpa ayah, anak haram yang bahkan tidak diinginkan ayah kandungnya.Aku tidak ingin membuat ibu semakin khawatir. Menghadapi perundungan seperti itu, aku belajar untuk menerima segalanya dan menahannya dalam diam.Aku belajar mati-matian, hanya ingin meringankan beban ibu. Saat dewasa, aku masuk ke sekolah yang bagus dan akhirnya tidak lagi dirundung. Namun, sifat terlalu mengalah yang sudah tertanam itu ternyata sulit sekali diubah.Aku terbiasa hidup rendah hati dan menyembunyikan diri, karena itu memberiku rasa aman. Demikianlah, aku lulus kuliah dengan prestasi yang biasa-biasa saja, tanpa kelebihan maupun kekurangan, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status