登入Zeta menerobos masuk ke dalam rumah. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke sofa tamu. Matanya nyalang menatap sekujur tubuh Freya dari kepala hingga ujung kaki. Hatinya panas, apalagi melihat penampilan Freya yang sangat seksi, hanya berbalut kemeja hitam milik Lucas tanpa memakai celana bawahan. Juga rambut Freya yang berantakan dan posisi kancing kemeja yang tak saling bertaut di bagian paling atas. "Gue tanya sekali lagi, ngapain lo di sini? Lo ngegoda Lucas? Lo kasih obat ke kopinya dan lo nyoba ngejebak dia?" cecar Zeta sambil melipat tangan di depan dada. Freya yang masih berdiri berkacak pinggang tertawa kesal, "Gue? Ngejebak Lucas? Lo nggak salah nuduh orang?" "Apalagi kalo nggak gitu? Sengaja mau morotin dia kan lo? Atau lo emang nyusup ke rumah ini, mau ambil barang berharga? Iya?""Lucas yang minta gue tidur sama dia dari semalem, lo bisa tanya sendiri ke orangnya. Dan dia minta ke gue dalam keadaan sadar, tanpa paksaan apa pun. Lo pikir dia bodoh apa kalo sampe bisa kejeba
"Lebih penting mana hape sama aku, Mas?" tanya Freya tiba-tiba, membuat Lucas mendongak menatapnya. "Penting kamu lah," jawab Lucas. "Sedari tadi yang diliat hape mulu," kata Freya iri, mencoba mengetes lelakinya. Lucas menghela nafas, lalu setengah dilemparnya ponsel miliknya pada Freya. Ia mengedikkan dagunya, pertanda Freya sudah memegang izin untuk melakukan razia isinya."Ada fotoku nggak?" tanya Freya lagi. "Enggak," balas Lucas jujur. "Kenapa gitu?" protes Freya penasaran, "ih! Dikunci Bos!" tambahnya saat menemukan bahwa layarnya tak terbuka otomatis. "Ketik aja angka dua ratus ribu, itu password layarnya," ujar Lucas, "dan kenapa aku nggak nyimpen foto kamu? Aku nggak ada kesempatan buat ngambil foto berdua. Coba kamu swafoto, biar aku jadi nyimpen fotomu," lanjutnya santai. "Dua ratus ribu, ikatan pertama kita," cengir Freya bangga, "nanti kukirim lewat wa semua foto cantikku. Cetakin, pajang di meja kerja ya, biar kamu semangat terus!" Lucas mengangguk, "Siap Nyonya
"Kamu jadi ada rapat siang ini?" tanya Freya setelah diam beberapa saat. "Jadi, nanti ketemu sama Nino on the spot. Malemnya aku harus ke Singapura, Frey," jawab Lucas seakan meminta ijin pergi pada gadisnya. "Ngapain di Singapura?""Makan malam," canda Lucas. "Serius?" Freya merespon cembetut. "Ada kerjaan. Kamu pikir hidupku sesultan itu sampe dinner aja ke Singapura? Aku tetep kudu kerja keras biar istriku hidup bergelimang harta nantinya. Cabang di sana lagi ngembangin produk baru, makanya aku kudu ngeliat dan mantau ke sana," jelas Lucas. "Emang harus ya? Aku ditinggal gitu?" desah Freya tak rela. Lucas mengembangkan senyum tampannya, "Mau ikut?" tawarnya serius. "Gila apa! Nggak mau ah. Emang aku apakah. Kamu aja yang nggak usah pergi, ya?" "Terus nanti siapa yang ngebeli mulut orang-orang yang udah ngehina dan ngeremehin kamu kalo aku nggak kerja?" tanya Lucas sabar. Freya tersadar, "Ah iya! Kamu kudu bersihin namaku di kampus ya Mas! Pokoknya kalo rumor soal hubungan
Lucas mengecup kening gadisnya lembut, mengusap rambut halus yang menutupi wajah ayunya. Suara dengkur halus Freya terasa bagai alunan merdu di telinga Lucas yang tak henti jatuh cinta. Freya begitu mengacaukan dunianya, membuatnya tak bisa lepas dari pesona mahasiswi polos nan ceria yang selalu ditampilkan Freya di depannya. Waktu hampir jam 10 siang, Lucas sudah siap mengenakan jas kerennya. Ia akan langsung menemui Nino di sebuah rumah makan elite di bilangan Jakarta Selatan. Sedangkan Freya yang sedianya akan memasakkan sarapan untuk lelakinya justru terlelap kelelahan. Freya mengerang kecil, terbangun oleh sentuhan Lucas di keningnya juga bunyi ponsel di nakas yang nyaring. Matanya menyipit, menghindari silau sinar matahari yang memantul dari kaca jendela besar di kamar Lucas. Beberapa saat Freya nampak mengumpulkan nyawanya, mencari kesadaran. Tangannya meraba nakas, berusaha meraih ponselnya dan mematikan alarm yang tadi sempat diaturnya tapi gagal.Freya mengurut keningnya p
"Kenapa make kemejaku?" tanya Lucas setelah tawanya reda, "sengaja mancing? Minta lagi?" candanya.Freya berkacak pinggang kesal, "Aku ambil sedapetnya yang ada di sebelahku. Mau lagi? Sakit gini mau lagi?" gemasnya. "Tadi bilang nggak sakit.""Sakit! Liat nih!" Freya menunjuk sekitar dadanya yang penuh dengan tanda merah bekas kecupan Lucas, "serius ini ilangnya bakalan lama," protesnya. "Sana temuin Aa-mu, kasih tunjuk itu biar dia jantungan," kata Lucas ikut beranjak dan meraih rokoknya. Freya tertegun. Tubuh indah Lucas yang sejak semalam hanya terbalut trunk boxer hitam itu benar-benar menggoda iman. Lelakinya ini berjalan bak model pakaian dalam menuju jendela samping, tangannya sibuk menyulut rokok yang terselip di jemarinya. Perut seksi dengan tulang punggung kokoh tanpa cela itu, Freya seperti tak mau berhenti memandanginya. Sebagai perempuan dewasa yang teramat sangat normal, pemandangan indah di pagi hari itu tak boleh ia lewatkan begitu saja. Belum lagi saat dengan begi
"Kamu sengaja ngasih proyek dia yang jauh dari Jakarta ya?" tebak Freya yang hanya dijawab anggukan oleh Lucas. "Kenapa Selangor sih Mas?" "Kamu nggak terima?" Lucas berhenti mengunyah, sengaja melihat reaksi gadisnya. "Enggak gitu. Katanya dua taun dia di sana ngerjain pemasaran sama iklan." "Kan emang basis perusahaannya di periklanan. Makanya aku kasih yang can relate sama kerjaan dia. Aku harap sih dia serius dan nggak bikin kacau lagi," ujar Lucas kembali mengunyah mie-nya yang tinggal sesuap lagi itu. "Dia serius kok. Buktinya dia minta aku buat nunggu dia, itu artinya dia sungguh-sungguh." "Bentar," tatapan Lucas berubah dingin, "nunggu? Emang dia siapa merasa berhak nyuruh kamu nunggu dia?" jelas terdengar nada suara Lucas berubah kesal. "Jangan emosi dulu, dia emang minta aku buat nunggu, tapi kubilang aku udah punya pacar dan aku kasih tau dia kalo pacarku itu kamu," sebut Freya meyakinkan, "awalnya dia nyuruh aku ati-ati karena pasti dia denger rumor di kampus, tap







