LOGINFreya sudah ingin menangis rasanya. Bagaimana bisa ia membawa Tamara untuk tinggal bersamanya di rumah Lucas? Masalah seperti ini saja Freya berusaha untuk jangan sampai Lucas tahu. Sekarang? Tamara malah justru meminta tinggal bersamanya. Dan sangat kebetulan sekali, Lucas menelepon Freya seperti terikat telepati. "Ya Mas?" sapa Freya sedikit menjauhi Tamara dan berusaha menormalkan kembali suaranya. 'Hari ini bakalan lembur lagi Frey. Bawa makanan buat anak-anak sekalian kalo nanti ke sini ya,' pinta Lucas. "Oh, siap Mas. Jumlah detailnya aku tanya Mas Nino ya?" 'Boleh,' Lucas terdiam sebentar, 'are you okay?' tanyanya curiga, seperti bisa merasakan getaran dalam suara Freya ketika menjawabnya. "I'm okay," balas Freya cepat, "ada pesen lagi?"'Ada. Bawain aku istriku yang cantik ya, tolong jangan ditambah omelan dari dia dulu. Aku udah cukup pusing sama kerjaanku,' pesan Lucas iseng tapi tak pelak mencipta senyum di wajah Freya. "Kamu pasti nggak makan seharian lagi!" tebak F
Freya meminta Tamara menunggunya selesai kuliah dan pergi ke pengadilan lebih dulu sebelum akhirnya mengajak adiknya itu ke taman untuk bicara. Dena masih menunggu dengan setia, memberi jarak pada dua bersaudara angkat itu untuk bicara tanpa mengganggu mereka. "Aku udah pisah dari Iwan, Teh," ungkap Tamara jujur. Freya tahu itu, ia bisa melihat penampilan Tamara yang sudah berubah. Anting pierching yang Tamara pakai kemarin di lidah dan hidungnya sudah dilepas. Rambutnya dicat hitam kembali, dan pakaiannya pun sudah selayaknya anak remaja SMA kebanyakan. "Wajib lapor kalian juga udah selesai kan?" tanya Freya lirih. Tamara mengangguk. "Nanti aku cariin pinjeman uang buat beliin kamu tiket pulang ke Pangandaran," kata Freya tegas. "Jangan Teh! Biarin aku lanjut sekolah di sini," pinta Tamara mengejutkan. "Kamu gila? Sekolah di sini? Jangan bercanda kamu ya Tam!" sengal Freya kaget. "Aku serius Teh," balas Tamara, "Mamah sama Ayah juga udah tau kalo aku ada sama Teteh di sini,"
"Aku nggak peduli kamu nggak bisa masak juga, Sugar," bujuk Lucas lembut. "Toh aku juga bukan cowok yang pinter benerin regulator elpiji yang macet, nggak bisa benerin saluran cuci piring yang mampet, nyelametin dinosaurus dari kepunahan, menangin perang teluk, atau bahkan mencegah gletser di kutub mencair, nggak menguasai 4 elemen kayak avatar. Jadi, nggak masalah kamu bisa masak atau enggak, selama itu kamu, aku nggak pernah nyesel," terangnya sangat romantis. Freya mendongak dan tersenyum. Dipeluknya pinggang Lucas erat, merasa bersyukur memiliki lelaki se-sempurna lelakinya. "Emang kamu iron man apa mau nyelametin dinosaurus dari kepunahan," gumam Freya sembari melepas pelukannya. "Boleh aja kalo emang bisa sih," jawab Lucas. "Nggak boleh! Jadi iron man-ku doang aja, nggak mau bantuin orang lain. Ya, ya?" rengek Freya. "As you wish, Sugar," senyum Lucas terkembang, dikecupnya mesra kening Freya lama. "Kalo gitu aku jalan ke kantor dulu ya," pamitnya."Iya, ati-ati ya. Kabarin
"Sini dipijit lagi," kata Lucas kembali duduk di sebelah Freya dan mengusap lembut pinggang serta punggung gadisnya. Sementara itu, Freya merem-melek menikmati sentuhan Lucas. Baru kali ini ia mendapat perlakuan manis dan istimewa dari pacarnya ketika kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Jika mereka menikah, apa Lucas tetap akan semanis ini padanya?"Untung mens kamu cuma seminggu dalam satu bulan. Coba begini terus tiap hari, bisa gila aku," celetuk Lucas setengah mengeluh. Bagaimana tidak? Kalau saja yang seperti ini tidak terjadi di hari libur, apa Lucas juga harus bolos ngantor?"Kenapa? Ogah nurutin mauku ya?" tanya Freya masih sedikit sensitif dan sesekali mengerang jika serangan nyeri itu datang. "Bukan itu! Mood swing kamu itu yang bahaya. Aku bingung kudu gimana sementara kamu langsung berubah drastis dan bikin aku serba salah," protes Lucas. "Inget! Wanita selalu benar, kalo dia salah, berarti dia sebenernya adalah laki-laki!" gumam Freya. "Teori dari mana itu?""Teori ka
Beberapa kali Lucas menggaruk kepalanya bingung. Ia khawatir pada kondisi Freya, benar-benar merasa bahwa dirinyalah penyebab nyeri yang tengah Freya hadapi. Gadisnya itu bahkan mengurung diri di kamar, tak mau Lucas menungguinya. "Apa gue keterlaluan kasar kemaren ya?" gumam Lucas mengingat kejadian sakral saat keduanya menyatukan cinta. "Eh, gue udah pelan, nggak mungkin," ujarnya lagi mencoba menepis kegundahannya sendiri. Tak tega, Lucas mencoba mengintip ke dalam kamarnya. Freya masih meringkuk di sana. Kadang ia mengganti posisi, mencari gaya yang nyaman agar rasa sakit yang menderanya tak semakin terasa. Tiba-tiba Lucas teringat saran dari si penjaga minimarket. Ia bergegas ke dapur, mencari gula merah di rak bumbu. Untungnya, Freya sengaja menyiapkan persediaan bumbu dapur yang lengkap. Ini adalah pertama kalinya untuk Lucas. Ia tak pernah memasak di dapur. Untuk merebus air saja, ia menggunakan penggorengan berbahan granit impor dari Jerman, seadanya. "Mencetak sejarah ni
"Ya udah, ntar tanya sama Mbak yang jaga aja," lanjut Freya tak sabar. "Buru! Keburu keluar lebih banyak nih!" perintahnya. "Pake aja sabut kelapa dulu, apa sterofoam bekas kulkas itu!" ledek Lucas kurang ajar. "Tega begitu?!" pekik Freya kesal, emosinya saat sedang dalam periode menstruasi pasti naik-turun. Lucas belum menyadarinya. Lucas bergegas pergi. Mobilnya masih terparkir di depan gerbang utama, jadi ia bisa kabur lebih cepat. Meskipun minimarket yang dimaksud Freya cukup dekat dan hanya berjarak setengah kilometer saja dari rumah, Lucas merasa perlu memakai mobil untuk menjangkaunya. Sebenarnya ada sepeda yang biasanya dipakai Freya untuk keluar ke minimarket yang sama, tapi Lucas tak ingin ambil risiko. Jika ia ketahuan membawa pembalut dalam kantong plastik yang biasanya transparan itu, harga dirinya pasti akan jatuh. "Biar tetep keren," gumam Lucas sambil mengenakan kaca mata hitamnya saat turun dari mobil. "Berasa mau ujian tesis begini cuma masuk minimarket doang!" s
"Kamu jadi ada rapat siang ini?" tanya Freya setelah diam beberapa saat. "Jadi, nanti ketemu sama Nino on the spot. Malemnya aku harus ke Singapura, Frey," jawab Lucas seakan meminta ijin pergi pada gadisnya. "Ngapain di Singapura?""Makan malam," canda Lucas. "Serius?" Freya merespon cembetut.
"Kenapa make kemejaku?" tanya Lucas setelah tawanya reda, "sengaja mancing? Minta lagi?" candanya.Freya berkacak pinggang kesal, "Aku ambil sedapetnya yang ada di sebelahku. Mau lagi? Sakit gini mau lagi?" gemasnya. "Tadi bilang nggak sakit.""Sakit! Liat nih!" Freya menunjuk sekitar dadanya yang
"Kamu sengaja ngasih proyek dia yang jauh dari Jakarta ya?" tebak Freya yang hanya dijawab anggukan oleh Lucas. "Kenapa Selangor sih Mas?" "Kamu nggak terima?" Lucas berhenti mengunyah, sengaja melihat reaksi gadisnya. "Enggak gitu. Katanya dua taun dia di sana ngerjain pemasaran sama iklan." "
Freya tersipu malu saat Lucas menatapnya bernafsu. Beberapa kali ia menolak dicium, menambah kegemasan Lucas terhadapnya. "Iya apa enggak?" goda Lucas menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Freya. "Jangan gitu, aku malu, Mas," lirih Freya memalingkan wajahnya. "Kita ngobrol lagi biar kamu rile







