LOGIN"Kamu jadi ada rapat siang ini?" tanya Freya setelah diam beberapa saat. "Jadi, nanti ketemu sama Nino on the spot. Malemnya aku harus ke Singapura, Frey," jawab Lucas seakan meminta ijin pergi pada gadisnya. "Ngapain di Singapura?""Makan malam," canda Lucas. "Serius?" Freya merespon cembetut. "Ada kerjaan. Kamu pikir hidupku sesultan itu sampe dinner aja ke Singapura? Aku tetep kudu kerja keras biar istriku hidup bergelimang harta nantinya. Cabang di sana lagi ngembangin produk baru, makanya aku kudu ngeliat dan mantau ke sana," jelas Lucas. "Emang harus ya? Aku ditinggal gitu?" desah Freya tak rela. Lucas mengembangkan senyum tampannya, "Mau ikut?" tawarnya serius. "Gila apa! Nggak mau ah. Emang aku apakah. Kamu aja yang nggak usah pergi, ya?" "Terus nanti siapa yang ngebeli mulut orang-orang yang udah ngehina dan ngeremehin kamu kalo aku nggak kerja?" tanya Lucas sabar. Freya tersadar, "Ah iya! Kamu kudu bersihin namaku di kampus ya Mas! Pokoknya kalo rumor soal hubungan
Lucas mengecup kening gadisnya lembut, mengusap rambut halus yang menutupi wajah ayunya. Suara dengkur halus Freya terasa bagai alunan merdu di telinga Lucas yang tak henti jatuh cinta. Freya begitu mengacaukan dunianya, membuatnya tak bisa lepas dari pesona mahasiswi polos nan ceria yang selalu ditampilkan Freya di depannya. Waktu hampir jam 10 siang, Lucas sudah siap mengenakan jas kerennya. Ia akan langsung menemui Nino di sebuah rumah makan elite di bilangan Jakarta Selatan. Sedangkan Freya yang sedianya akan memasakkan sarapan untuk lelakinya justru terlelap kelelahan. Freya mengerang kecil, terbangun oleh sentuhan Lucas di keningnya juga bunyi ponsel di nakas yang nyaring. Matanya menyipit, menghindari silau sinar matahari yang memantul dari kaca jendela besar di kamar Lucas. Beberapa saat Freya nampak mengumpulkan nyawanya, mencari kesadaran. Tangannya meraba nakas, berusaha meraih ponselnya dan mematikan alarm yang tadi sempat diaturnya tapi gagal.Freya mengurut keningnya p
"Kenapa make kemejaku?" tanya Lucas setelah tawanya reda, "sengaja mancing? Minta lagi?" candanya.Freya berkacak pinggang kesal, "Aku ambil sedapetnya yang ada di sebelahku. Mau lagi? Sakit gini mau lagi?" gemasnya. "Tadi bilang nggak sakit.""Sakit! Liat nih!" Freya menunjuk sekitar dadanya yang penuh dengan tanda merah bekas kecupan Lucas, "serius ini ilangnya bakalan lama," protesnya. "Sana temuin Aa-mu, kasih tunjuk itu biar dia jantungan," kata Lucas ikut beranjak dan meraih rokoknya. Freya tertegun. Tubuh indah Lucas yang sejak semalam hanya terbalut trunk boxer hitam itu benar-benar menggoda iman. Lelakinya ini berjalan bak model pakaian dalam menuju jendela samping, tangannya sibuk menyulut rokok yang terselip di jemarinya. Perut seksi dengan tulang punggung kokoh tanpa cela itu, Freya seperti tak mau berhenti memandanginya. Sebagai perempuan dewasa yang teramat sangat normal, pemandangan indah di pagi hari itu tak boleh ia lewatkan begitu saja. Belum lagi saat dengan begi
"Kamu sengaja ngasih proyek dia yang jauh dari Jakarta ya?" tebak Freya yang hanya dijawab anggukan oleh Lucas. "Kenapa Selangor sih Mas?" "Kamu nggak terima?" Lucas berhenti mengunyah, sengaja melihat reaksi gadisnya. "Enggak gitu. Katanya dua taun dia di sana ngerjain pemasaran sama iklan." "Kan emang basis perusahaannya di periklanan. Makanya aku kasih yang can relate sama kerjaan dia. Aku harap sih dia serius dan nggak bikin kacau lagi," ujar Lucas kembali mengunyah mie-nya yang tinggal sesuap lagi itu. "Dia serius kok. Buktinya dia minta aku buat nunggu dia, itu artinya dia sungguh-sungguh." "Bentar," tatapan Lucas berubah dingin, "nunggu? Emang dia siapa merasa berhak nyuruh kamu nunggu dia?" jelas terdengar nada suara Lucas berubah kesal. "Jangan emosi dulu, dia emang minta aku buat nunggu, tapi kubilang aku udah punya pacar dan aku kasih tau dia kalo pacarku itu kamu," sebut Freya meyakinkan, "awalnya dia nyuruh aku ati-ati karena pasti dia denger rumor di kampus, tap
Freya tersipu malu saat Lucas menatapnya bernafsu. Beberapa kali ia menolak dicium, menambah kegemasan Lucas terhadapnya. "Iya apa enggak?" goda Lucas menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Freya. "Jangan gitu, aku malu, Mas," lirih Freya memalingkan wajahnya. "Kita ngobrol lagi biar kamu rileks?" tawar Lucas maklum. Dirinya sendiri juga gugup sebenarnya, tapi desakan di dalam tubuhnya lebih besar dari rasa gugup yang timbul. "Seandainya nggak jadi pun, nggak pa-pa Mas?" "Aku nggak maksa kamu Frey, kita bisa maen game aja sampe pagi," ajak Lucas pengertian. Freya tersenyum lega. Ia tidak siap melakukannya, tidak untuk saat ini apalagi benar-benar harus melepas keperawanannya. Bersyukur Lucas mau mengerti dan tidak memaksanya. Di saat Dena bahkan menyarankan untuk mengatasi semua masalah dengan bercinta, Freya merasa Lucas masih bisa ia bujuk hanya dengan rayuan biasa. Nyatanya Lucas tidak memaksanya, mereka hanya akan menghabiskan sepanjang malam dengan bercerita panjang lebar
Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki kecerdasan emosional yang di atas rata-rata, jiwa Lucas tertantang. Dibasahinya bibirnya untuk balas menggoda Freya, mereka lupa dengan rencana pergi semula. "Jangan nyesel kalo aku beneran jadi jahat malam ini," gumam Lucas seakan meminta persetujuan Freya. Bukannya kabur, Freya justru mengulum senyum. Ia lipat kedua tangannya di depan dada, sorot matanya menantang."Kamu yang nantang ya Frey!" geram Lucas tak tahan dan langsung menggendong Freya di pundaknya bak memikul karung beras. Freya terbahak, ia berpura-pura berontak, tapi tak serius memukul Lucas. Gadis ini bahkan terlihat menikmati sekali perlakuan bar-bar sang pacar yang sudah terlanjur gemas. Sampai di kamar, Lucas menghempas tubuh Freya ke ranjang. Tak peduli Freya sudah siap bangun dari posisinya, Lucas lebih dulu menindihnya. "Nggak jadi pergi?" tanya Freya menahan dada Lucas saat lelakinya itu siap mengecupi leher jenjangnya. "Ngapain pergi kalo aku punya yang lebih men







