เข้าสู่ระบบ"Eclair cake!" gumam Freya dengan mata berbinar, "Yakin kamu nggak mau Mas?" tanyanya pada Lucas yang hanya menatapnya dengan senyum.Lucas menggeleng, "Aku nggak suka manis, Sugar," katanya. "Ah, iya. Kamu kan punya aku. Nanti kalo kebanyakan yang manis, kamunya jadi gula tinggi," kata Freya ceria, lupa pada bebannya. "Gula tinggi? Istilah apaan tuh?" tanya Lucas geli."Temennya darah tinggi Mas," balas Freya garing. Lucas tersenyum, tangannya terulur mengusap kepala Freya sayang. "Rada baikan?" tanya Lucas lembut. "Lumayan Mas, harus semangat!" ucap Freya, "Huft, aku pasti bisa," tambahnya sembari menyuap sesendok eclair cake-nya bernafsu. "Kenapa sih takut gitu? Pernah ada pengalaman pahit sama putra mahkota lain?" tanya Lucas tak paham. Menurutnya, ikut pulang ke rumahnya bukanlah hal yang berat dan perlu persiapan matang. "Enggak gitu. Aku tuh takut aja Mas. Takut kamu dijauhin dari aku kalo keluargamu udah tau aku," lirih Freya murung. "Kamu takut kita bakalan dipisahin
"Ke China juga, di sana ada taman bunga tulip terindah di dunia!" pinta Freya tamak. "Oke, ke Shanghai Flower Port?" tanya Lucas tersenyum penuh kharisma. Freya mengangguk-angguk mantap, "Ke Tonami tulip fair di Jepang juga!" tambahnya tak tahu diri. "Terserah mau ke mana juga, tinggal di sana kalo perlu," balas Lucas pengertian. "Boleh? Nanti di Jepang bisa sambil nikmatin hanami Mas? Ya, ya?" bujuk Freya. "Iya, boleh," Lucas mengangguk tanpa keberatan sama sekali. Senyum Freya makin lebar, ia adalah perempuan paling beruntung di dunia. Jika hanya untuk menikmati bunga, sebenarnya ia bisa saja datang ke Bandung. "Kita keliling Indonesia dulu aja Mas, banyak destinasi wisata indah lokal yang nggak kalah bagusnya dari luar negeri," ucap Freya setelah terdiam sebentar.Memikirkan jadwal kerja Lucas yang pasti padat, tentu ia tidak boleh serakah dengan meminta liburan yang banyak menyita waktu dan tenaga. Lagipula, keliling Indonesia adalah salah satu impiannya yang dulu mustahil
"Cause I love you dangerously," nyanyi Lucas mengikuti suara mp3 player yang diputarnya. "Kupercayain masa depanku sepenuhnya ke kamu," kata Freya pada akhirnya, mencipta senyum bahagia di wajah Lucas. "Pilihan yang tepat, Sugar!" puji Lucas lantas kembali melajukan mobilnya membelah jalanan. "Nenek kamu suka makanan apa Mas? Kita bisa mampir beliin dulu," ujar Freya sambil menata hatinya. "Nanti kukasih tau. Kita mampir sambil jalan. Nenek suka bunga yang paling penting. Dan ajak dia ngobrol soal fashion sama dunia entertain, kalian pasti nyambung.""Entertain?" dahi Freya berkerut ekstrem. Segaul apa nenek Lucas sampai hobinya begitu?"Nenek dulunya model Frey, beliau sangat suka dunia akting, apalagi macam drama musikal, pertunjukan monolog, gitu-gitulah," terang Lucas. "Aku paling nggak tau soal fashion," keluh Freya minder. "Nggak pa-pa. Nggak harus tau semua juga, Frey. Jadilah Freya yang apa adanya, yang dicintai dan disayangi Lucas Alexander Bhaskara, nggak perlu jadi or
Di hari lain ketika pulang kantor bersama, Lucas sengaja mengajak Freya mampir ke sebuah tempat. Suasana belum terlalu sore, jalanan masih cukup padat merayap karena memang ada di jam-jam pulang karyawan pabrik. "Kayaknya ini bukan jalan pulang ke rumah kan Mas?" tanya Freya curiga. Lucas mengangguk, "Emang kita nggak pulang dulu, mampir ke tempat lain sebentar," katanya. "Emang ke mana? Mampir makan? Biar aku masak aja. Lagian kan kamu bilang masih kenyang sisa makan di tempat ketemu sama klien tadi," ucap Freya mengingatkan. "Ke rumah," jawab Lucas singkat. "Tapi kok jalannya beda?" Freya tak langsung percaya. "Rumah Burhan sama Sarah Bhaskara," ucap Lucas santai. "Hah?" Freya langsung berubah panik. Ia mengitarkan pandangan gugup, ke rumah keluarga besar Bhaskara? Sekarang? "Kenapa salah tingkah gitu?" tanya Lucas yang melihat Freya nampak kelimpungan dan bingung. "Kamu jangan ngerjain aku ya Mas!" gemas Freya menatap dendam pada lelakinya. "Aku nggak niat ngerjain. Niatk
"Nunggu Lucas, Frey?" tegur Nino menjadi orang yang terakhir keluar ruangannya. "Iya Mas, Mas Nino mau pulang?" tanya Freya ramah. "Iya. Besok pagi kudu standby sebelum Lucas kan. Saya duluan ya," pamit Nino melambai hangat, membiarkan dua pecinta yang bersatu dengan kontribusinya itu menikmati waktu berdua. Sepeninggal Nino, Freya mematikan komputernya. Ia menunggu Lucas sambil berkirim kabar dengan Dena mengenai Tamara. Beruntung sekali Freya memiliki Dena yang bisa ia andalkan di saat-saat mendesak seperti ini. Kata Dena, Tamara tidak banyak bertingkah, menurut pada Dena apapun yang diperintahnya. "Knock, knock!"Freya hampir menjerit kaget jika saja wajah Lucas tak muncul di depannya lebih cepat. Lelakinya itu tersenyum penuh cinta, menyambutnya. "Ngagetin!" sungut Freya kesal. "Serius amat baca WA-nya. Chat sama siapa sih?" gumam Lucas bernada cemburu. "Dena, nih!" Freya menunjukkan layar ponselnya pada Lucas. "Oh," Lucas nyengir, "ayok pulang," ajaknya langsung meraih je
"Makan ya Sayang," ajak Freya telaten membukakan box nasi yang dibawanya untuk sang CEO. "Kenapa kerjaan nggak ada abisnya gini," keluh Lucas untuk pertama kalinya. Freya tersenyum maklum, dipeluknya kepala Lucas dengan lengan kirinya, "Makan dulu aku suapin, ya?" bujuknya. Lucas mengangguk pasrah. Tangannya aktif mengamati layar ponsel yang lagi-lagi memuat grafik aneh dan tidak Freya pahami. Saat suapan Freya datang, Lucas bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Kesal, Freya langsung merebutnya sengit. "Makan ya makan Mas, kerja ya kerja!" omel Freya galak. "Oke, oke, Bu Bos. Laksanakan," ucap Lucas menurut. "Gitu dong, berasa ngasih tau anak kecil kan akunya," gemas Freya kembali memberi suapan pada lelakinya semulut penuh.Susah-payah Lucas menelan suapan Freya. Meski begitu, Freya masih bernafsu menyuapinya lagi. Otomatis Lucas menolak, sedikit menjauhi gadisnya. "Masih Frey, masih! Sabar! Kejam amat kayak ibu tiri!" protes Lucas memicu tawa renyah khas Fr
"Apa nih?" tanya Freya saat Lucas menyerahkan kartu ATM lain yang pasti berisi uang jutaan."Buat belanja kan?" ucap Lucas polos. "Mas!" Freya mendesah sabar, "kita belanja di pasar, transaksinya pake uang cash. Aku udah bawa 200 ribu, nggak perlu pake ATM, Sayang," gemasnya. "Oh, aku kira penjua
Pagi harinya, di hari libur, Freya terbangun tanpa ada Lucas di sisinya. Padahal semalam saat Freya siap tidur, Lucas ada di sampingnya masih sibuk mengurus pekerjaan. Saat Freya keluar, tak ada tanda-tanda Lucas pergi bekerja. Baru Freya ingin menghubunginya, Lucas muncul di pintu dapur lengkap de
"Kenapa Sugar?" sapa Lucas mesra. 'Mas! Udah makan belom?' tanya Freya ceria dari seberang sana. "Udah tadi baru aja. Kan dipesen sama nyonya suruh makan," balas Lucas. 'Ehm, terus kamu lagi sibuk enggak? Aku ganggu ya?' suara Freya terdengar sengaja dibuat secentil mungkin, menggoda lawan bicar
"Lebih penting mana hape sama aku, Mas?" tanya Freya tiba-tiba, membuat Lucas mendongak menatapnya. "Penting kamu lah," jawab Lucas. "Sedari tadi yang diliat hape mulu," kata Freya iri, mencoba mengetes lelakinya. Lucas menghela nafas, lalu setengah dilemparnya ponsel miliknya pada Freya. Ia men







