LOGINFreya mengangguk paham. Ditatapnya Lucas lekat. Hatinya yang semalam terasa sakit kini berangsur membaik. Lucas sudah meminta maaf dan ia wajib memberinya ampunan. Bagaimana pun Freya tidak bisa hidup tanpa Lucas lagi. Sekuat apa pun keinginannya untuk hidup mandiri, kini tanpa Lucas ia pasti kehilangan arah. Secara tanpa Freya sadari, Lucas sudah membuatnya bergantung sepenuhnya. "Kenapa? Aku nggak mungkin ninggalin kamu, Sugar. Aku tumbalin hidupku buat jaga kamu seumur hidup sebagai penebus kesalahanku kemaren," ujar Lucas serius. "Tumbalin? Emang aku pesugihan?" protes Freya tapi sudah dengan senyum menghiasi wajahnya yang pucat. "Semacam itu," kekeh Lucas, "kira-kira pesugihannya apa ya Frey?" tanyanya iseng. "Serem ah Mas!" gerutu Freya seraya mencubit pinggang Lucas yang masih asik memangku tubuhnya. Lucas tertawa lagi. Didekapnya pinggang Freya erat hingga gadisnya itu bersandar di pundaknya. Ia merasa begitu bersyukur memilki Freya di sisinya. Gadis malaika
"Justru yang nggak marah ini yang bahaya," kata Bimo sok ahli soal perempuan. "Heleh, kayak pernah ngadepin yang begini aja lo Bang!" "Pernah! Lo pikir gue sama sekali belom pernah pacaran? Gue ini playboy pada jamannya," sahut Bimo sombong. "Ah, jaman lo bukannya jamannya gue juga? Kita cuma selisih satu setengah taun betewe," cibir Lucas kesal. "Tapi tetep gue lahir duluan dan gue udah pernah pacaran. Beda sama lo," sangkal Bimo dengan senyum penuh kemenangan. "Oke, kalo itu gue kalah," "Makanya. Pengalaman gue ada satu level di atas lo." "Terus gimana gue harusnya?" tembak Lucas kembali serius. "Minta maaf, tampar diri sendiri kalo perlu," "Kok lo jadi nyaranin gue nyiksa diri sendiri sih Bang?" protes Lucas. "Lo nyesel nggak udah nyakitin Freya?" "Nyesel banget." "Ya makanya, minta maafnya harus serius dong biar kayak kalimat yang pernah viral itu, aamiin paling serius," ujar Bimo berlagak layaknya pakar cinta. "Bisa serius nggak lo?" Lucas meny
"Saya harap Ibu bisa memahami kalimat saya dan nggak ngrecokin kehidupan Freya lagi!" sengal Lucas sambil berdiri menjauh keluar kamar. 'Kamu orang baru dalam hidup Freya, nggak seharusnya berani begitu, kamu pikir kamu siapa?' tantang Bu Iin balik setelah tercengang cukup lama mengetahui yang mengangkat telepon Freya adalah Lucas. 'Kamu hanya orang asing sedangkan kami, kami yang merawatnya sejak kecil!' tandasnya lagi. "Merawat? Apa bukan lebih tepatnya memperbudak dan menindasnya? Bu, saya tau sekali bagaimana perlakuan keluarga Ibu terhadap calon istri saya. Sekarang setelah Freya dewasa dan ingin mewujudkan cita-citanya Ibu nggak akan saya biarkan untuk menahan langkahnya. Nasib pendidikan Tamara ada dalam genggaman saya. Satu kesalahan saja Ibu buat atas Freya, saya nggak peduli Tamara mau jadi gembel di Jakarta juga!" ancam Lucas sangat elegan tapi mematikan. 'Kamu berani ngancam aku, hah?' pekik Bu Iin kesal. 'Asal kamu tau ya, aku menghubungi Freya karena ini masuk ke d
"Aku yang ngebuat kamu nggak berharga, aku juga yang tega ngatain kamu make lidah bangsatku. Aku minta maaf Sugar, maafin aku," sesal Lucas timbul tenggelam, saking bingungnya menghadapi Freya. "Kamu tau itu, tapi kamu ngulang-ngulang kata terkutukmu sampe tiga kali. Aku nggak ngerti musti gimana lagi nyembunyiin rasa sakitku Mas. Sekali, aku pikir kamu keceplosan, kedua menurutku kamu masih belom sadar. Tapi ketiga, akhirnya aku yang tau diri," isak Freya. "Sayang," Lucas mendekat dan ikut berjongkok. Diusapnya bahu Freya lembut. "Aku pasti udah gila kalo sampe punya niat buat nyakitin kamu pake kata-kataku itu. Aku minta maaf," ujarnya. Freya mendongak, matanya sembab, wajahnya berantakan ditutupi oleh semrawut rambut panjangnya yang dikuncir sembarangan. "Maaf kalo aku begini Mas. Sekuat apa pun aku nyoba buat nggak ngerasa sakit, kata-kata itu justru makin nusuk-nusuk hatiku," bisik Freya gamang dan tak paham dengan yang sekarang dirasakannya. Ia tidak bisa marah, tak kuasa
Pada akhirnya, Lucas dan Freya hanya membungkus sate untuk dibawa pulang ke penginapan. Freya bilang merasa pusing dan Lucas takut jika demam Freya bertambah tinggi. "Kamu ganti baju dulu Frey," perintah Lucas sembari menyiapkan piyama milik Freya dari dalam koper gadisnya. "Aku mau mandi Mas," pinta Freya lirih, matanya sudah terpejam di pembaringan. "Pake air panasnya kalo mandi. Berendem dulu kalo perlu biar tubuh kamu bisa nerima sinyal," kata Lucas. "Sembari aku mandi, kamu makan ya," ucap Freya lalu membuka matanya, menatap lembut pada lelakinya. "Iya. Kamu kalo ada perlu apa gitu bilang ya," ucap Lucas seakan tak rela mengalihkan pandangannya dari Freya sedetik pun. "Abis mandi minum obat yang antibiotik," lanjutnya. Freya mengiringi langkah Lucas yang keluar dari dalam kamar. Apa ia bisa tetap bersikap layaknya baik-baik saja setiap saat? Apa yang harus dilakukannya agar tidak merasa sakit sendiri dengan ucapan Lucas yang tanpa sengaja itu? "Terus mereka bilang ap
"Nggak dingin Frey?" tanya Lucas perhatian. Freya tersenyum simpul, "Aku suka aroma air laut Mas. Sejuk, menenangkan," ucapnya. "Aromaku suka nggak?" gumam Lucas menggoda. "Aroma hormon?" balas Freya memicingkan matanya. "Haha, dasar!" kekeh Lucas gemas. Freya ikut tertawa, menolong hatinya. Bagaimana pun ia tidak bisa membenci Lucas, setajam apa pun kalimat lelakinya itu. Semua yang menimpa dirinya Freya anggap sebagai satu takdir yang memang harus dilaluinya. "Semua hal yang kamu lakuin ke aku, semua serba pertama," ucap Freya setelah kediaman panjang yang kusyu. Ia dan Lucas sama-sama larut dalam simfoni alam raya ditemani suara debur ombak yang menyamankan jiwa. "Maksudnya?" tanya Lucas tak paham. "Aku lupa entah pernah atau enggak Ayah ngegendong aku di punggungnya," ucap Freya mengenang masa lalu pahit yang ia ingat, "aku masih sangat kecil waktu Tamara lahir. Mereka mungkin menganggapku sekadar pancingan, setelah datang Tamara, aku tersisihkan. Meski sebenernya
Gerimis turun lagi, hanya bunyi wiper yang memecah sunyi. Freya memilih untuk menikmati pemandangan di luar mobil, jalanan cukup lengang karena turunnya hujan. "Belokan ke asrama masih satu perempatan lagi, Pak," ujar Freya merasa sopirnya salah arah. "Kita ke warnet dulu. Saya pengin ngecek cctv
Sepeninggal Dokter April, Lucas kembali menelepon Nino. Ia berpesan agar asistennya itu mengurus semua administrasi Freya yang sudah pasti tagihan rawatnya akan dibebankan atas nama sang CEO muda. Mengingat Freya pasti akan gengsi untuk menerima bantuannya, Lucas melihat celah ini sebagai sebuah ke
"Iyaaa!" jerit Dena gemas, "Gantengnya bikin jantung gue terjun bebas ke perut!" katanya tak berhenti tertawa. Di lain sisi, Lucas yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian nampak lebih sibuk memainkan ponselnya dengan tenang. Ia mengabaikan beberapa gadis di sampingnya yang sengaja mengajak bic
Perkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu,







