LOGIN"Ke depannya?" Lucas melirik tajam ke arah Freya. "Aku minta maaf, serius aku nyesel udah bikin kamu marah begini," sesal Freya. "Kamu tau aku nggak bakalan begini kalo emang nggak keterlaluan, iya kan Frey?" tanya Lucas akhirnya benar-benar menatap lekat wajah gadisnya, sedikit luluh, pandangan matanya berangsur teduh. "Iya Mas. Maafin aku," lirih Freya menunduk. "Kalo emang minta maaf berguna, b─""Bu Sukma nggak bakalan dipecat dari kampus dan preman yang udah jahatin aku nggak bakalan dipenjara," sambar Freya tahu diri. "Kalo emang minta maaf berguna, pasangan nggak akan ada yang putus sama cerai cuma karena salah paham," lanjut Lucas membuat Freya yang semula menunduk mendongak spontan. "Mas mau kita pisah? Kita udahan?" tanya Freya menahan nafas, takut mendengar jawaban Lucas yang seperti tengah siap dimuntahkan. "Aku nggak pernah bilang gitu. Yang bikin aku marah kan kamu, berarti kamu yang pengin kan?""Enggak!" sahut Freya cepat, "Bahkan nggak terpikirkan sedikitpun di
"Aku nunggu kamu," balas Freya lirih. "Aku nggak pulang, nggak perlu ditunggu!""Kenapa?""Perlu kujawab?" tanya Lucas melirik sebentar kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban Freya. Sadar bahwa Lucas tengah bersikap tidak seperti biasanya, Freya bergegas ke dalam ruangan Nino. Beruntung, Nino belum pergi ke ruang rapat. Ia masih mempersiapkan materi presentasi dan memberesi berkas yang akan dibawa. "Kenapa Frey?" tanya Nino yang kaget Freya menerobos masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. "Mas maaf saya nggak sopan. Tapi saya perlu tanya sesuatu sama Mas Nino," desis Freya dengan wajah sendunya. "Tanya apa? Penting nggak? Kalo nggak terlalu penting, kita ngobrol nanti abis rapat ya?" "Nggak bisa Mas. Menurut Mas Nino, Mas Lucas marah ya sama saya?" tanya Freya sangat polos. Nino langsung menoleh gadis Lucas itu tak percaya, "Jadi kamu nggak sadar sama sekali kalo sedari tadi dia menyiksa dan ngebantai kita itu karena dia marah sama kamu? Demi Tuhan Freya!" gemas
Zeta masih berkacak pinggang di depan Freya. Ekspresi wajahnya sok, merasa menjadi istri CEO yang berhak atas setiap sudut ruangan di sekitarnya. Anton sampai harus mencolek bahu David asistennya, merasa terganggu dengan sikap Zeta. David balas mengedikkan bahu, tak berani menegur karena Zeta selalu berlagak paling kaya dan itu menyebalkan bagi sebagian lelaki. "Lo lama-lama nyebelin ya!" sentak Zeta membuat perhatian semua orang beralih padanya.Freya tetap tersenyum tanpa membalas sikap kasar Zeta. Baginya, meladeni Zeta sama saja berkelahi dengan orang gila. Meski hatinya kesal dan panas bukan main, Freya harus bisa mempertahankan kualitasnya. "Awas lo berani ngelewatin batas! Berani mimpi aja lo nggak boleh!" larang Zeta menunjuk-nunjuk wajah Freya emosi. "Saya ini cuma debu Mbak, Mbak nggak perlu khawatir," balas Freya bernada mencibir. Gemas juga ia dengan sikap egois dan semena-mena perempuan tanpa tata krama ini. "Lo nantang gue?" suara Zeta melengking, makin membuat seisi
"Permisi!!" Baru saja Zeta ingin mendekat lebih intim pada Lucas, Freya muncul di pintu. Suasana menjadi lebih dingin dan atmosfer cemburu menguar semakin pekat. Freya mematung di pintu, menunggu Lucas memintanya mendekat, tak ingin berada di keadaan yang semakin memojokkan posisinya. Hatinya sakit saat melihat jemari Zeta yang bertengger nyaman di pundak Lucas, dibiarkan oleh pemiliknya. "Kopinya bisa jalan sendiri kalo kamu nggak bawa ke sini?" tegur Lucas sengaja menatap ke arah Freya, membuat gadis cantiknya itu tersentak. "Kopi mint less sugar Pak," ujar Freya tergagap. Ia melangkah masuk lebih dekat. Kakinya seakan tak bertulang, hatinya bagai tengah digelayuti cemburu yang siap membuatnya patah. Lucas menatap tajam ke arah Freya, tak peduli Zeta yang tengah mengajaknya mengobrol. Sebenarnya, kejutan yang Lucas ingin berikan pada Freya adalah membawa Freya ke acara makan malam keluarganya. “Love” yang dimaksud Lucas dalam panggilan teleponnya sore tadi adalah neneknya tercin
"Buat lagi yang biasa, kopi item campur mint, less sugar!" perintah Lucas bernada datar, tak ingin dibantah. Freya mematung. Ditatapnya Lucas nanar, seakan ia meminta penjelasan siapa Zeta dan bagaimana posisinya di perusahaan. Mengapa penting baginya untuk datang membawakan Lucas segala macam makanan di jam selarut ini?"Ada lagi Pak?" sindir Freya menegarkan hatinya.Kini bagi Freya, suasana macam ini tak ubahnya seperti ia yang adalah asisten Lucas dan Zeta adalah pacar yang sesungguhnya. Lucas melirik lagi, masih memposisikan dirinya sebagai orang yang profesional. "Kamu nyindir saya?" tanya Lucas tak suka. Freya menggeleng cepat, menguatkan diri, "Biar sekalian saya bawakan bareng kopi Pak," elaknya."Jadi kamu males bolak-balik ngeladenin saya? Kamu lupa saya ini bos kamu?" suara Lucas meninggi, terlihat ia sedang dalam mood yang jelek. "Enggak Pak," Freya menunduk. "Saya buatkan kopinya sekarang," pamit Freya berbalik. "Kamu ih! Jangan galak-galak sama bawahan!" tegur Zeta
"Keberatan kalo saya ngasih teguran ke kamu?" tanya Nino hati-hati. "Enggak Mas. Potong aja gaji saya kalo perlu," ujar Freya pasrah. "Kali ini saya cukup negur kamu dulu. Sebagai konsekuensi atas sikap seenakmu sendiri itu, kamu saya kasih tugas suci dan mulia," kata Nino menahan senyum. "Apa Mas?""Tolong buatin kopi untuk kami semua yang lembur. Kamu tau kan OB udah pada pulang dari sore tadi. Terus, kirim juga kopi ke sarang Jaguar yang lagi PMS itu," pinta Nino dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. "Jaguar yang PMS?" alis Freya bertaut. "Suamimu!" kekeh Nino seolah mendapat hiburan. "Ih, Mas Nino. Masa Jaguar PMS!" Freya ikut tertawa."Abis dia marah-marahnya suka nggak jelas dan nggak masuk akal. Mengerikan," "Kayak tau aja kalo orang PMS itu gimana, sendirinya kan nggak punya pacar yang suka PMS tiap bulannya," ledek Freya sangat puas.Tawa Nino langsung berhenti, "Kok saya ikut kena sih Frey?" protesnya. "Abis istilahnya absurd gitu ih. Jaguar PMS, lucu tau. Beras







