Share

3. Alkohol dan Pelukan

Penulis: Keluh
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-30 14:30:02

"Risa cinta pertamaku." Aku cukup terkejut, tapi masih bisa menyembunyikan raut wajah kagetku darinya, entah dia sadar atau tidak.  "Aku butuh seseorang di sini. Kalau tidak, mungkin aku akan melompat dari balkon."

Mungkinkah Alex takut, aku juga punya pikiran seperti itu? mengingat keadaanku tadi. Jadi dia membawaku ke sini karena tak ingin aku berakhir mengakhiri hidup karena cinta?

"Maaf, tapi aku tidak ingin menghiburmu." Sepertinya dia berpikir terlalu jauh tentangku.

"Tapi aku sudah menghiburmu tadi, bukankah kamu harus balas budi?" Ia menatapku tajam, seolah memaksaku untuk tinggal. Sekarang aku harus balas budi?

Apa-apaan itu, apakah aku pernah meminta untuk dihibur? "Maaf, kita baru kenal beberapa jam yang lalu, aku bahkan lupa siapa namamu...,"

"Alex." Potong lelaki itu.

Aku menghela nafas lelah. "Terimakasih, tapi aku tidak ingin tau."

Alex kembali menusukku, matanya benar-benar lebih runcing dari panah, "aku ingin seseorang menemaniku, apakah itu salah?"

"Kamu bisa mencari temanmu, kenapa malah berharap padaku?"

"karena kupikir kita punya masalah yang sama!" Ia meninggikan suaranya, aku tersentak karena kaget, aku belum siap mendengar teriakan dari Alex. Lelaki itu marah padaku?

"Aku...," Aku harus menjawab apa sekarang? Kini dia malah mengacak rambutnya terlihat begitu frustasi.

Alex mengambil gelasnya, lalu memasukkan cairan itu kedalam mulutnya. Semuanya kandas dalam satu tegukan. Aku mulai tak enak, dia membuatku khawatir, apalagi ketika Alex kembali mengisi gelasnya dan meminumnya lagi. 2 gelas, 3 gelas, 4 gelas dan 5 gelas.

"Cukup!" Aku menahan lengannya di gelas yang ke enam. "Apa kamu kehausan?" Tanyaku tidak habis pikir. "Kamu bisa mabuk!"

"Itulah gunanya alkohol nona." Jelasnya, ia tersenyum sambil melepas tanganku dari lengannya, memutar benda itu berirama. "Kamu mau menemaniku atau cuma duduk di sana melihatku menghabiskan semua isi botol ini?"

Mataku tertuju pada gelas satunya lagi, benda itu masih berada di tempatnya dengan wine di dalam. Haruskah? Aku tidak yakin. Melihat Alex bertingkah menyedihkan seperti ini membuatku iba. Tapi apakah aku harus mengghiburnya dengan cara ini? Aku bahkan tidak pernah menyentuh alkohol semenjak pertama kali mencoba cairan memabukkan itu. Tubuhku tidak sanggup menerimanya barang sepersen-pun.

Ting!

Tiba-tiba Alex membenturkan gelas kami, dia kembali menenggak isi gelasnya, seolah mengajak bersulang. Aku menarik nafas panjang. Ini menakutkan, entah apa yang akan terjadi jika malam ini aku nekat. Tapi, jika minuman ini bisa membuatku lupa pada Farhan, aku ingin mencobanya.

Aku mengambil gelas itu, menutup mata erat langsung memasukkannya kedalam mulut. Detik berikutnya kepalaku seperti di sengat listrik, sensasi ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku mengedipkan mata berkali-kali mencoba menetralisir rasa yang masih belum kumengerti.

"Lihat, bukankah menyenangkan?" Celetuknya bangga, "alkohol adalah obat patah hati paling manjur di dunia."

Aku tak lagi peduli perkataan menyebalkan Alex, kepalaku terasa beku dan pening. jujur saja aku tidak terlalu menyukai rasa dari minuman itu. Kadar alkoholnya lebih kuat dari yang pernah aku rasakan terakhir kali.

Alex kembali mengisi gelasku, membuat mataku mendelik menatap cairan merah itu memenuhi benda kaca yang masih kupegang erat. Aku tidak menyukai rasa minuman ini. Tapi entah mengapa, aku tergiur. Aku ingin sensasi itu, cairan ini seolah menggerogoti otakku, membuatku lupa pada sakit yang menyerangku sepanjang malam ini.

***

Aku telah turun dari sofa, duduk di lantai beralaskan karpet berbulu lembut. Kupikir wajahku memerah padam sekarang. Saat ini, aku kehilangan semua tenaga dan kesadaran. Aku hanya bisa melipat kedua lengan di atas meja dan menjadikannya bantalan. Aku benar-benar mabuk berat, padahal hanya dua gelas yang masuk kedalam perutku. Berbeda dengan seseorang yang masih memperhatikanku sedari tadi. Lelaki itu masih sangat sadar atau mungkin setengah sadar? Yang pasti keadaannya lebih baik dariku. Mengingat jumlah minuman yang ia tenggak.

Sambil menatapnya yang duduk bersisian denganku, aku tidak lagi bisa terlalu yakin. Wajahnya tak lagi jelas. Pandanganku buram, aku benar-benar tidak tau, siapa lelaki yang duduk sambil menopang wajahnya dengan satu tangan itu kini.

Sedangkan aku masih bertahan dengan gaun kotor dan tuxedo yang menutupi bahuku agar tidak kedinginan. Hingga kurasakan tangan besar itu menyentuh wajahku lembut.

"Kamu baik-baik saja?" Entah sudah keberapa kalinya kau mendengar kalimat itu hari ini, aku mulai muak.

Aku memutuskan untuk menutup mata, dengan begini kupikir rasa pening yang menyerangku bisa sedikit menghilang. Dan benar saja, aku mulai mengantuk.

"Kamu tidur?" Suara itu kembali terdengar, tapi terasa lebih dalam.

Ia mendekatkah? Pasalnya, aku juga bisa merasakan nafas seseorang yang menerpa wajahku.

Dengan jelas aku mendapati benda kenyal menekan bibirku pelan.

Aku membuka mata, jarak kami masih sangat dekat. Mata kelam dengan alis tebal itu berada tepat di depanku. Hanya berjarak beberapa centi. Mata kami beradu, saling mengikat tanpa suara.

Ia menarik diri, memberi jarak. Sedangkan aku masih bertahan dalam posisi yang sama. Lelaki itu tampak heran, melihatku tidak memberi reaksi apa-apa.

"Apa yang...," Aku hendak protes, namun suaraku tertahan ketika melihat wajah dengan ekspresi yang tidak kumengerti itu.

Ia kembali mengikis jarak, mencondongkan tubuhnya ke arahku. Ah, kupikir aku tau siapa dia sekarang. Aku menarik sudut bibirku tersenyum tipis serta kembali menutup mata memberi izin kepadanya.

Detik berikutnya, bibir kami kembali bertemu, tidak hanya kecupan. Lelaki itu lebih berani sekarang, akupun tidak ingin menipu diri sendiri, aku juga menikmati setiap ciuman yang ia lontarkan.

Beberapa saat kemudian, dia berhenti. Aku membuka mata menatap orang yang masih menempelkan keningnya denganku. Nafasnya terdengar cepat menderu tak beratur. Begitupun denganku, dengan tangannya yang sudah membingkai wajahku, ia kembali bertanya.

"Kamu tidak marah?"

Aku tidak menjawab, aku memilih untuk bangun lalu memperbaiki dudukku, menatap bola mata itu dalam memiringkan wajah. Aku bingung, wajahnya berubah beberapa kali. Apakah ini benar-benar orang yang kukenal?

Meski heran, lelaki itu juga melakukan hal yang sama. Ia menyambut tatapan dariku, seolah menunggu apapun yang akan kulakukan padanya.

Aku menarik nafas panjang, lalu memantapkan keputusan. Aku merangkak kearahnya, lalu melingkarkan kedua tanganku pada lehernya, menduduki diri di atas pangkuannya, menghadapnya langsung. Aku memeluk tubuh itu erat. Aku juga bisa merasakan tangan besarnya memegang kedua sisi pinggangku hati-hati.

"Farhan...," Aku berucap. Jika ini kesempatan yang lelaki itu berikan, aku siap.

Namun, detik berikutnya ia malah mendorong bahuku, sehingga pelukanku terlepas dengan terpaksa.

"Kamu mabuk?" Ia bertanya, "turunlah dari pangkuanku." Titah lelaki itu tiba-tiba, begitu yakin.

Aku menggeleng cepat, aku tidak terima. Bukankah ia telah memberi izin dengan menciumku tadi?

"Kamu bilang, aku hanya perlu menunggu sebentar lagi. Tapi kenapa kamu malah berakhir di altar?" Aku tidak ingin melepasnya, dan kehilangannya untuk kedua kali.

"Jika seperti ini terus, kamu akan menyesal." Ujarnya seolah memberi peringatan.

"Aku mungkin bisa menerima jika kamu membohongiku, tapi kenapa harus Risa? Kenapa kalian berdua harus menyakitiku secara bersamaan?"

Aku kembali memeluknya, rasa sakit di dadaku kembali menyerang. Aku semakin merapatkan diri padanya, bahkan aku melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya sekarang, aku tidak ingin ia pergi.

"Tidak bisakah...." Aku tercekat, tak mampu melanjutkan kata yang ingin kuutarakan. Aku tak lagi sanggup membendung air mataku.

Kami bertahan dalam posisi itu cukup lama, menjadikan bahunya sebagai tempat bersandar aku menumpahkan segalanya di sana. Sementara ia sibuk menepuk punggungku berirama mencoba menghibur.

"Farhan...," aku kembali memanggilnya. Karena kami terdiam dalam waktu yang tidak singkat, aku mulai lelah.

"Aku bukan Farhan," sebelum mengucapkan kata itu, aku bisa mendengar helaan nafas lelah darinya. Ia kembali memegang bahuku, lalu mendorong tubuhku menjauh. "Kamu tidak tau aku siapa?" Tanya lelaki itu lagi, ia terlihat memastikan sesuatu.

Aku menelisik wajah serius itu, "tidak tau." Aku menggeleng kecil, lelaki ini bukan orang yang kukenal. Aku menghapus air mata yang kini menjadi jejak di pipiku, lalu menyipit agar pandangan jelas, "ternyata bukan Farhan," aku berucap yakin. "Lalu kamu siapa?"

TBC

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   66. Hubungan Abu-Abu yang Bersinar

    Karena tidak jauh dari kantor, aku memilih jalan kaki. Meski Willie tetap memaksa ikut. Kami berakhir melangkah ringan di jalan setapak, diam dalam kecanggungan. Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tidak nyaman. “Eum …,” aku mulai bersuara. Melirik beberapa kali sebelum siap. “Ada apa?” Dia melihatku. “Kamu ingin tau apa yang terjadi antara aku dan Eva?” Tebaknya. “Mungkin …?” Ragu-ragu aku menjawab, padahal sangat yakin dalam hati.“Aku melamarnya.” Seketika kaki berhenti bergerak, terpaku dengan apa yang baru saja lelaki itu ucap “Apa?”Ia berbalik melihatku yang tertinggal di belakang. “Apa timingnya kurang tepat?”“Hah?” Maksudnya?“Gimana menurutmu?” Kami saling berhadapan. Ia menunggu jawaban dariku. Tapi, Aku tidak tahu harus mengatakan apa.“Lalu apa jawaban Eva?” Kenapa lamaran itu membuat mereka seperti ini?“Dia menolak.”“Apa?” Aku menghampirinya. “Kok bisa?”“Sepertinya dia tidak berniat serius denganku.” Willie menunduk, menendang kerikil yang menghalangi jalan

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   65. Mulai Mengusik Banyak Orang

    Hidupku mulai tenang. Farhan tak lagi datang, begitupun Risa. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, aku juga tidak penasaran. Sekarang, waktu kuhabiskan lebih banyak dengan ibuk dan Eva, ditambah Willie–juga Alex, tentu saja.Hampir dua bulan berlalu semenjak aku mengutarakan apa yang ku rasa pada Farhan pagi itu. Kekesalanku sudah lepas, hatiku juga sudah cukup lega. Ku pikir, hidupku akan baik-baik saja setelah ini. Seperti biasa, membiarkan waktu berlalu, dan menjalani hari tanpa ekspektasi. Namun, aku tidak bisa melupakan satu hal.“Apa kamu tumbuh dengan baik?” Pada kaca, kutatap diri sendiri. Kemeja yang kupakai sedikit kekecilan. Bukan karena ukurannya yang salah, tapi badanku yang jadi lebih berisi. Aku menunduk, menggerakkan tangan mengelus perutku yang mulai terlihat membesar. Aku mengelusnya beraturan, menghela nafas pelan. Kekhawatiranku tidak tumbuh begitu saja, aku sudah menerima takdirku dengan baik. Hanya saja, bagaimana caranya aku menjelaskan ke orang-orang s

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   64. Kesempatan yang Tidak Pantas

    “Aku bisa menjadi ayah pengganti untuk anakmu.” Ada kesungguhan di mata lelaki itu. Ia seolah memintaku untuk kesempatan.Tidak, semua ucapan itu tidak menggerakkan hatiku. “Kamu gila.” Desisku tidak suka. “Hanna,” Farhan kembali mendekat. Ia meraih jemariku lembut, lalu mengusap perlahan beraturan. “Asalkan bersamamu, bair-pun harus menjadi ayah sambung, aku bersedia.” Bahunya turun, ia mulai mencoba merayuku melayangkan tatapan penuh harap. Ku tepis tangannya kasar. Mulai memindai wajah itu lekat. Aku hanya tidak bisa percaya dengan apa yang ku dengar. “Kamu bercanda kan?”“Aku serius.” Aku malah semakin benci mendengarnya. “Tidak, aku tidak butuh.” Aku menggeleng beberapa Kali, “akan ku anggap ini sebagai candaan.” Tidak mau lagi berbedabat, kuputuskan beranjak dari hadapannya.Aku sudah cukup sabar dengan semua kegilaan yang datang silih berganti. Tidak mau emosi menguasai, menjauh darinya adalah pilihan terbaik sekarang. Namun, Ia segera berbalik. Mencekal tanganku cepat. “H

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   63. Datang dan Pergi Semaunya

    Bubur sudah dimasak dan sudah tersaji di atas meja. Yang harus dilakukan sekarang adalah membangunkan Alex, menyuruhnya makan dan minum obat. Semalam, setelah jatuh tertidur begitu saja, aku melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya. Aku juga sudah mengganti baju. Hanya baju, tentu saja dan menyelimuti tubuhnya dengan berlapis selimut.Setelah itu, aku membersihkan diri dan memakai piyama dengan pakaian yang entah sejak kapan mulai mengisi lemari Alex. Lelaki itu, mengoleksi baju perempuan dan sebagian besar pas pada tubuhku. Hingga akhirnya berakhir terlelap di atas sofa. Dan pagi ini bangun lebih awal untuk menyiapkan lelaki itu bubur. Tadi sebelum memasak, aku sudah memeriksanya, ia lebih baik sekarang, suhu tubuhnya sudah turun. “Hanna?” Alex bangun, pelan kakinya melangkah mendekatiku. “Sudah bangun?” Tanyaku datang padanya. Aku memegang pergelangan lelaki itu, mencoba membantu. Bukannya menerima, Alex malah memasang wajah heran dan diam ditempat, membuatku ikut berhenti. “Apa y

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   62. Satu Kesalahan Lain Akan Tercipta

    Bak Gia akan menunggu sampai aku siap. Ya, dia memberiku waktu untuk memikirkan harus cerita atau tidak. Akhirnya dia mengerti, kalau ini bukan hanya hubungan romansa yang menggemaskan. Segalanya lebih rumit dari itu.Mengingat hari itu Risa pernah datang ke kantor dan mengamuk padaku.Ah, untuk saat ini aku tidak mau memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dikhawatirkan. Lebih baik fokus bekerja dan mulai lebih peduli pada diri sendiri. Aku tidak lagi sendiri, bayi ini harus tumbuh dengan sehat.Sekitar jam 7 malam, aku menyelesaikan proposal untuk besok. Setelah membereskan barang-barang, aku berjalan dengan langkah ringan keluar kantor, menuju kos menyusuri jalan setapak yang sepi.Malam hari memberiku kenyamanan. Suara bising motor dan mobil memang tidak sepenuhnya hilang, begitu pula dengan polusi. Ini Jakarta, tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi setidaknya, mataku tidak silau oleh sinar yang membakar atau oleh tatapan yang menilai.Malam hari, membuat orang lebih fokus pada t

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   61. Raksasa yang Manja

    Kami tidak kembali ke kantor, aku memutuskan membawa Alex pulang. Meski tangannya sudah sembuh, gips juga terlepas, pria itu sepenuhnya terbebas dari rasa sesak yang mengganggunya beberapa hari ini. Masalahnya adalah, Alex masih mengeluhkan rasa mual yang menyerangnya. Sampai saat ini, dia belum mau memasukkan apapun kedalam mulut.Bahkan obat yang sudah diresepkan dokter. “Jangan bertingkah, makan buburmu!” Bukan sekali dua kali. Berkali-kali aku memaksa, sekarang suaraku mulai meninggi karena kesal.“Gak mau, nanti aku muntah lagi.” Lihat saja tatapannya, ia jijik pada mangkuk yang ku letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Alex hanya sibuk menarik selimut, bersembunyi di balik sana.“Alex, ingat umurmu.” Kelakuannya seperti anak kecil, merengek saat sedang sakit minta dimanja.Sedari tadi, aku mengambil tempat di pinggir ranjang, siap dengan pil yang ingin kumasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. Tapi lelaki ini malah merengek, menyebut bubur itu terlihat seperti muntahan, a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status