Share

2. Malam yang Panjang

Penulis: Keluh
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-28 18:00:00

Aku mulai tak enak, ketakutan memikirkan berbagai hal. Alex sedang sibuk memasukkan sandi pintu apartemennya sekarang. Ini terlalu jauh, seharusnya aku berhenti ketika tanda bahaya muncul terus-menerus mengusik kepala. Dan sekarang aku sibuk mempertanyakan kebenaran dari keputusan yang telah kuambil.

"Masuklah." Aku tersadar oleh suaranya. Yang sedari tadi menunduk, membayangkan berbagai keburukan yang mungkin lelaki itu lakukan.

Alex sengaja menahan pintu, mempersilahkanku untuk masuk duluan. Tapi sepertinya dia sadar dengan raut wajah ragu yang terus kupaparkan.

"Jangan takut, aku tidak tertarik sama orang yang baru patah hati." Celetuknya ringan.

Aku mencebikkan kesal, menusuk Alex dengan mata bulatku sekilas, dia mengejekku! Setelah tau apa yang terjadi, lelaki itu dengan beraninya menjadikan itu candaan. akhirnya, karena merasa tertantang, aku masuk kedalam rumahnya tanpa ragu.

Lelaki itu sepertinya tergelitik dengan tingkahku, pasalnya aku bisa mendengar kekehan kecilnya di belakang. Saat ia ikut masuk, aku dengan jelas bisa melihat senyum yang belum memudar dari wajahnya, Alex menggelengkan kepalanya terlihat tidak habis pikir.

Aku berdiri cukup lama di depan pintu, menerawang ke segala arah. apartemen lelaki ini cukup rapi dan bersih. Maksudku, dia lelaki, Kupikir berantakan telah menjadi jati diri mereka. Tak jauh dari tempatku berdiri, terdapat dapur dengan berbagai wine dan gelas cantik, lelaki itu sepertinya mengoleksi berbagai macam alkohol. Lalu terdapat tempat tidur di arah kiri ruangan, di atas lantai yang 30 cm lebih tinggi. Ruangannya terbuka.

"Masuklah, mau sampai kapan kamu berdiri di sana?" Alex berucap sambil melewatiku begitu saja, berjalan lebih dulu di depan.

Mendengar suaranya, aku yang masih termenung langsung melepas sepatuku dan menggantinya dengan sendal rumahan, mengikuti lelaki itu berdiri dekat sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidur.

Terdapat jendela besar yang tertutup rapat gorden di belakang tempat duduk empuk itu, serta meja kaca lingkaran dan televisi besar di depannya. Sedangkan di belakang benda persegi besar itu terdapat rak yang cukup tinggi memisahkan ruangan santai dengan dapur. Lalu satu pintu di depan kasur, serta satu lainnya dekat dapur arah kanan sofa. Mungkin kamar mandi dan tempat baju, pasalnya aku tidak melihat lemari di sekitar.

"Duduklah dulu." Ia berucap, mempersilahkan.

"Tapi...," Aku tidak sampai hati menduduki sofa berwarna abu-abu cerah itu. Bajuku kotor, aku takut nodanya akan berpindah ke sana.

"Tak apa," ia terlihat sadar dengan kekhawatiranku, "aku akan mengambil baju ganti untukmu."

"Terimakasih," meski masih gusar, aku akhirnya memilih untuk mengikuti arus, aku langsung menduduki sofa panjang itu. Toh, jika kotorpun bukan aku yang akan kewalahan nantinya.

Aku melihat Alex yang berjalan kearah pintu depan tempat tidur, aku tidak tau harus apa. Aku memilih untuk menunggunya saja, sambil memperhatikan berbagai hal yang mengisi rumah ini.

Terdapat banyak buku di atas rak yang menempel pada dinding arah kiri kasur, serta beberapa tanaman kaktus di atas nakas. Lalu rak yang memisahkan ruang tempat duduk dengan dapur juga terdapat beberapa buku serta miniatur band. Seperti gitar, drum, bas dan sebagainya. Di samping sofa juga terdapat gitar.

Aku mendekat ke sana, mungkin memetiknya sekali akan terasa menyenangkan. Namun, niatku langsung terhenti ketika ponselku berbunyi, menandakan ada yang menghubungi. Aku segera mengambil benda persegi empat itu dari dalam tas, untuk melihat siapa yang mencariku.

"Gawat!" Itu Eva. Apa yang harus kukatakan kepadanya? Haruskah aku berbohong? Atau jujur saja dengan mengatakan jika aku berakhir di rumah seorang lelaki tidak dikenal?

"Halo?"

"Kamu di mana? Aku di rumah, tapi kamu tidak di sini."

"Aku...," Aku berpikir keras, menggigit bibir bawah sambil mencari alasan logis yang bisa kulontarkan padanya "di rumah teman."

Itulah keputusan bodoh yang kubuat, jika tidak Eva pasti mengamuk marah.

"Teman yang mana? Teman kantor?"

"Iya." Untuk kali ini saja, maafkan aku.

"Kenapa bisa berakhir di sana?"

"Eum, itu...." Gunakan otakmu Hanna! "Tadi kami tidak sengaja bertemu di jalan," semoga Eva tidak curiga.

"Jarang-jarang kamu bisa berakhir di rumah orang, kamu akan menginap?"

Mataku menangkap pemilik rumah yang kini berjalan mendekat. Dia sudah mengganti bajunya dengan kaos putih polos lengan pendek dan celana kain berwarna hitam. Sepertinya dia juga membawa baju ganti untukku.

"Entahlah, aku tidak tau." Aku ragu. Melihat baju itu, sepertinya Alex tidak ingin aku segera pulang.

"Yasudah, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku!" Seru Eva di balik sana.

"Eum, terimakasih." Panggilan pun terputus.

"Siapa?" Tanya Alex, menungguku selesai dengan ponsel.

"Sahabatku," dan lelaki itu hanya mengangguk beberapa kali mengerti.

Aku meletakkan ponselku ke atas meja, lalu memperbaiki duduk. Setelah itu aku kembali fokus pada lelaki di depanku. Mataku seolah tertarik kearah baju yang ia bawa.

"Sayangnya, aku tinggal sendirian. Jadi hanya kaos dan celana pendek ini yang mungkin cocok untukmu." Ia menyodorkan pakaian itu kearahku.

Aku menatap tangan besar Alex lama, aku tidak cukup berani untuk mengambil kain tersebut. Semakin dipikirkan semakin salah rasanya. Kaos tipis dan celana pendek, dirumah lelaki asing yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu.

Aku segera mengeratkan tuxedo yang diberikan oleh Alex pada tubuhku, aku tidak ingin menyerahkan diri!

"Aku rasa tidak perlu," aku menjawab dengan yakin, kuharap lelaki itu mengerti.

"Kenapa? Kamu takut padaku?"

"Menurutmu?" Rasanya ingin kuteriaki dia, tentu saja aku takut!

"Berapa kali sudah kukatakan, aku tidak tertarik kepada gadis yang baru saja patah hati." Alex melempar baju tersebut ke pangkuanku, lalu menduduki diri di samping kananku. "Kamu bisa menggantinya di kamar mandi," ia menunjuk kearah pintu dekat dinding dapur.

"Terimakasih, aku nyaman dengan gaun ini," aku mengambil baju itu, lalu membawanya kearah tengah menjadikan kain itu batasan antara kami.

Lelaki itu memutar matanya jengah. Alex menggelengkan kepala tidak mengerti, ia bangun mendekati dapur kearah gelas cantik dan alkoholnya. Lelaki itu mengambil anggur yang terlihat mahal di mataku, serius! Benda itu sangat terlihat mahal untukku! Setelah itu ia kembali sambil membawa botol berwarna hitam itu bersamanya.

"Kamu mau?" Alex bertanya sembari meletakkan 2 gelas wine dan satu botol anggur di atas meja.

"Tidak, terimakasih." Alex menatapku tidak suka, tapi aku sangat tidak ingin mengubah keputusan.

Sayangnya lelaki itu tidak terlihat akan menyerah, kini ia sibuk membuka botol dan mengisi kedua gelas kristal di depan kami. Sementara aku masih berusaha berpikir jernih, aku harus segera meninggalkan tempat ini, lelaki itu tidak bisa dipercaya. Pikirkan! Cari alasan bagus Hanna! Pergi dari tempat itu segera!

"Kamu tau," aku bersuara, "sepertinya aku harus pulang, orang tuaku akan sangat khawatir." Boro-boro khawatir, mereka bahkan jarang menghubungi.

"Kamu serius? Di umurmu ini?" Emangnya ada apa dengan umurku? Apakah aku terlihat setua itu diumur 26 tahun?

Aku langsung mengangguk, "tentu saja." Masa bodoh dengan pandangan lelaki itu, aku harus menyelamatkan diri dulu. "Kalau begitu, aku pamit." Aku hendak bangun dari duduk.

"Kamu tau, kenapa aku membawamu kesini?" Suara itu menahan kepergianku.

"Tidak." Itulah kenyataannya.

"Aku melihatmu sepanjang acara tadi, apakah lelaki bernama Farhan itu mantan kekasihmu atau cinta sepihakmu?" Aku menautkan alisnya bingung. Maaf saja, aku tidak berniat menjawab pertanyaan tersebut.

"Kenapa memangnya?" Tanyaku balik.

"Aku dengar kamu sahabat baik Risa." Aku mengangguk pelan, meski sepertinya lelaki itu tidak sedang bertanya. "Kalian jatuh cinta kepada lelaki yang sama? Betapa mirisnya." Lelaki itu kini tersenyum kearahku, dia terlihat menyebalkan. Aku sedang diejek kah?

"Itu bukan urusanmu!" Tekanku memasang wajah sebal.

"Situasi kita sama," tiba-tiba dia berucap.

"Apa maksudmu?" Aku tidak mengerti, situasi macam apa yang lelaki itu miliki, sehingga dia bisa mengambil kesimpulan kalau aku sama dengannya.

"Risa adalah cinta pertamaku."

TBC

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   66. Hubungan Abu-Abu yang Bersinar

    Karena tidak jauh dari kantor, aku memilih jalan kaki. Meski Willie tetap memaksa ikut. Kami berakhir melangkah ringan di jalan setapak, diam dalam kecanggungan. Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tidak nyaman. “Eum …,” aku mulai bersuara. Melirik beberapa kali sebelum siap. “Ada apa?” Dia melihatku. “Kamu ingin tau apa yang terjadi antara aku dan Eva?” Tebaknya. “Mungkin …?” Ragu-ragu aku menjawab, padahal sangat yakin dalam hati.“Aku melamarnya.” Seketika kaki berhenti bergerak, terpaku dengan apa yang baru saja lelaki itu ucap “Apa?”Ia berbalik melihatku yang tertinggal di belakang. “Apa timingnya kurang tepat?”“Hah?” Maksudnya?“Gimana menurutmu?” Kami saling berhadapan. Ia menunggu jawaban dariku. Tapi, Aku tidak tahu harus mengatakan apa.“Lalu apa jawaban Eva?” Kenapa lamaran itu membuat mereka seperti ini?“Dia menolak.”“Apa?” Aku menghampirinya. “Kok bisa?”“Sepertinya dia tidak berniat serius denganku.” Willie menunduk, menendang kerikil yang menghalangi jalan

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   65. Mulai Mengusik Banyak Orang

    Hidupku mulai tenang. Farhan tak lagi datang, begitupun Risa. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, aku juga tidak penasaran. Sekarang, waktu kuhabiskan lebih banyak dengan ibuk dan Eva, ditambah Willie–juga Alex, tentu saja.Hampir dua bulan berlalu semenjak aku mengutarakan apa yang ku rasa pada Farhan pagi itu. Kekesalanku sudah lepas, hatiku juga sudah cukup lega. Ku pikir, hidupku akan baik-baik saja setelah ini. Seperti biasa, membiarkan waktu berlalu, dan menjalani hari tanpa ekspektasi. Namun, aku tidak bisa melupakan satu hal.“Apa kamu tumbuh dengan baik?” Pada kaca, kutatap diri sendiri. Kemeja yang kupakai sedikit kekecilan. Bukan karena ukurannya yang salah, tapi badanku yang jadi lebih berisi. Aku menunduk, menggerakkan tangan mengelus perutku yang mulai terlihat membesar. Aku mengelusnya beraturan, menghela nafas pelan. Kekhawatiranku tidak tumbuh begitu saja, aku sudah menerima takdirku dengan baik. Hanya saja, bagaimana caranya aku menjelaskan ke orang-orang s

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   64. Kesempatan yang Tidak Pantas

    “Aku bisa menjadi ayah pengganti untuk anakmu.” Ada kesungguhan di mata lelaki itu. Ia seolah memintaku untuk kesempatan.Tidak, semua ucapan itu tidak menggerakkan hatiku. “Kamu gila.” Desisku tidak suka. “Hanna,” Farhan kembali mendekat. Ia meraih jemariku lembut, lalu mengusap perlahan beraturan. “Asalkan bersamamu, bair-pun harus menjadi ayah sambung, aku bersedia.” Bahunya turun, ia mulai mencoba merayuku melayangkan tatapan penuh harap. Ku tepis tangannya kasar. Mulai memindai wajah itu lekat. Aku hanya tidak bisa percaya dengan apa yang ku dengar. “Kamu bercanda kan?”“Aku serius.” Aku malah semakin benci mendengarnya. “Tidak, aku tidak butuh.” Aku menggeleng beberapa Kali, “akan ku anggap ini sebagai candaan.” Tidak mau lagi berbedabat, kuputuskan beranjak dari hadapannya.Aku sudah cukup sabar dengan semua kegilaan yang datang silih berganti. Tidak mau emosi menguasai, menjauh darinya adalah pilihan terbaik sekarang. Namun, Ia segera berbalik. Mencekal tanganku cepat. “H

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   63. Datang dan Pergi Semaunya

    Bubur sudah dimasak dan sudah tersaji di atas meja. Yang harus dilakukan sekarang adalah membangunkan Alex, menyuruhnya makan dan minum obat. Semalam, setelah jatuh tertidur begitu saja, aku melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya. Aku juga sudah mengganti baju. Hanya baju, tentu saja dan menyelimuti tubuhnya dengan berlapis selimut.Setelah itu, aku membersihkan diri dan memakai piyama dengan pakaian yang entah sejak kapan mulai mengisi lemari Alex. Lelaki itu, mengoleksi baju perempuan dan sebagian besar pas pada tubuhku. Hingga akhirnya berakhir terlelap di atas sofa. Dan pagi ini bangun lebih awal untuk menyiapkan lelaki itu bubur. Tadi sebelum memasak, aku sudah memeriksanya, ia lebih baik sekarang, suhu tubuhnya sudah turun. “Hanna?” Alex bangun, pelan kakinya melangkah mendekatiku. “Sudah bangun?” Tanyaku datang padanya. Aku memegang pergelangan lelaki itu, mencoba membantu. Bukannya menerima, Alex malah memasang wajah heran dan diam ditempat, membuatku ikut berhenti. “Apa y

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   62. Satu Kesalahan Lain Akan Tercipta

    Bak Gia akan menunggu sampai aku siap. Ya, dia memberiku waktu untuk memikirkan harus cerita atau tidak. Akhirnya dia mengerti, kalau ini bukan hanya hubungan romansa yang menggemaskan. Segalanya lebih rumit dari itu.Mengingat hari itu Risa pernah datang ke kantor dan mengamuk padaku.Ah, untuk saat ini aku tidak mau memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dikhawatirkan. Lebih baik fokus bekerja dan mulai lebih peduli pada diri sendiri. Aku tidak lagi sendiri, bayi ini harus tumbuh dengan sehat.Sekitar jam 7 malam, aku menyelesaikan proposal untuk besok. Setelah membereskan barang-barang, aku berjalan dengan langkah ringan keluar kantor, menuju kos menyusuri jalan setapak yang sepi.Malam hari memberiku kenyamanan. Suara bising motor dan mobil memang tidak sepenuhnya hilang, begitu pula dengan polusi. Ini Jakarta, tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi setidaknya, mataku tidak silau oleh sinar yang membakar atau oleh tatapan yang menilai.Malam hari, membuat orang lebih fokus pada t

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   61. Raksasa yang Manja

    Kami tidak kembali ke kantor, aku memutuskan membawa Alex pulang. Meski tangannya sudah sembuh, gips juga terlepas, pria itu sepenuhnya terbebas dari rasa sesak yang mengganggunya beberapa hari ini. Masalahnya adalah, Alex masih mengeluhkan rasa mual yang menyerangnya. Sampai saat ini, dia belum mau memasukkan apapun kedalam mulut.Bahkan obat yang sudah diresepkan dokter. “Jangan bertingkah, makan buburmu!” Bukan sekali dua kali. Berkali-kali aku memaksa, sekarang suaraku mulai meninggi karena kesal.“Gak mau, nanti aku muntah lagi.” Lihat saja tatapannya, ia jijik pada mangkuk yang ku letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Alex hanya sibuk menarik selimut, bersembunyi di balik sana.“Alex, ingat umurmu.” Kelakuannya seperti anak kecil, merengek saat sedang sakit minta dimanja.Sedari tadi, aku mengambil tempat di pinggir ranjang, siap dengan pil yang ingin kumasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. Tapi lelaki ini malah merengek, menyebut bubur itu terlihat seperti muntahan, a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status