MasukRisa mengirimi kami pesan, melalui grub yang kami buat saat masih kuliah. gadis itu benar-benar luar biasa, ia bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Maksudku, aku tidak lagi peduli dengan istana yang berhasil ia bangun, tapi kembali berteman seperti dulu akan sangat sulit untukku.
Bagaimanapun, aku benar-benar hancur.
"Ketemuan yuk, aku pengen makan cake di kafe depan fakultas kita dulu. Pasti enak banget." Eva membaca pesan itu dengan nada penuh ejekan, dia terlihat sangat tidak suka. "Berhentilah," aku mengambil ponsel gadis itu, lalu meletakkan di atas meja tempat kami duduk sekarang. Sebuah kafe di depan gedung televisi tempat gadis itu bekerja. Di jam makan siang, setelah selesai mengambil gaun dan tuxedo lelaki yang menyandera ponselku, aku memutuskan untuk mengunjungi Eva, sekalian mencari makan. Nyatanya, dari kantorku menuju tempat kerjanya hanya menghabiskan waktu 10 menit. Lalu kenyataan yang baru ku sadari dipagi hari kemarin, ketika meninggalkan apartemen Alex. Tempat tinggalnya hanya berjarak sekitar 450m dari kantor Eva. Sungguh luar biasa. "Kau akan ketempat temanmu setelah ini?" Eva bertanya, sambil memotong roti selai strawberry miliknya menjadi dua, lalu dia berikan kepadaku. "Eum," aku mengangguk, ikut memotong roti isi coklat milikku dan menukar denganya. "Aku harus mengambil ponselku." "Bukannya kamu bilang kemarin teman kantor ya?" Ia kembali curiga. Tentu saja! "Itu...," Aku Kembali tergagap. Dari kemarin, meski dicecar berbagai pertanyaan dengan wajah tak percaya. Aku memaksa bertahan, aku benar-benar tidak bisa menceritakan apa yang telah terjadi. Kenyataan bahwa aku menghabiskan satu malam dengan orang asing akan sangat membuat Eva syok. Aku telah bertahan seumur hidup demi Farhan, dan segalanya berakhir begitu saja. Aku terlihat begitu bodoh! "Na, aku lelah mendengar jawaban tidak jelas darimu. Aku tau setiap orang punya rahasia yang tidak ingin mereka ceritakan, bahkan kepada orang yang paling dekat dengan mereka." Eva menggenggam tangan kiriku, "tapi aku harap kamu baik-baik aja. Aku sadar kok, beberapa hari ini pasti berat untukmu." Aku mencebik menahan sesuatu dalam dadaku, aku tersentuh kepada setiap kata yang ia lontarkan. Hanya dia sekarang yang ku punya, "terimakasih Va, terimakasih karena sudah mau mengerti." Ia mengangguk, lalu tersenyum sekilas. "Makan tuh, kamu harus pergi lagi kan? Keburu jam makan siang selesai." "Eum," aku mengangguk kecil, lalu mulai menggigit roti yang kami pesan. *** Tidak disangka, aku berakhir di apartemen lelaki itu secepat ini. Kupikir, kemarin terakhir kalinya kami saling bertatap muka, ternyata malah sebaliknya. Aku harus menemuinya lagi, karena kecerobohan menyedihkan ini. Aku menatap Tote bag yang berisi tuxedo Alex, benda itu sudah kucuci bersih. Mungkin sudah semestinya aku menemui lelaki itu. Karena rasanya tak mungkin membuang benda ini begitu saja. "Ck," aku berdecih sebelum memutuskan untuk memencet bel pintu putih itu. Beberapa detik kemudian, lelaki itu muncul dari balik pintu. Menggunakan celana kain oversize dan kaos hitam yang ia masukkan kedalam."Hy," ia menatapku takjub sambil mengangkat satu tangan menyapa. Mungkin dia tidak menyangka, aku mengikuti perintahnya.
"Boleh aku masuk?" Tanyaku melihatnya yang tak bergeming. "Tentu saja." Ia tersenyum, lalu memberiku jalan. "Duduklah, biar kubuatkan minum." Ujarnya, hendak berjalan kearah dapur. "Tidak perlu, aku tidak lama." Aku langsung memberitahunya, sambil berjalan kearah sofa. Ingatan yang ingin ketenggelamkan itu muncul kembali, begitu aku mendaratkan pantat di atas tempat duduk empuk yang masih sangat familiar ini. Aku menutup mata erat, menarik nafas perlahan. "Kenapa?" Kewarasanku seolah ditarik oleh suaranya, lelaki itu menatapku datar, lalu kembali bertanya."Kamu mau teh apa kopi?" Alex seolah menulikan diri. Aku menghela nafas lelah, "kembalikan saja ponselku, aku sibuk." Aku tidak berbohong, nyatanya sekarang aku sedang dikejar waktu. "Aku juga hanya ingin mengembalikan barangmu." "Baiklah, kalau begitu teh saja." Lelaki itu malah memutuskan sendiri. Aku berhenti melawannya, aku tak punya niatan untuk membantah. Aku tidak yakin bisa lebih sabar dari ini jika nekat menjawab. Tak lama kemudian, Alex kembali membawa nampan dengan dua cangkir hitam. “Silakan," ia meletakkan cangkir kecil itu di depanku, lalu mengambil tempat duduk di sampingku. Ia memberi sedikit jarak di antara kami. Mungkin lelaki itu tidak mau membuatku risih. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyambar minuman yang ia buat, lalu menyeruput beberapa kali hingga kandas. Untungnya teh itu tidak terlalu panas, sehingga aku bisa meneguk cairan coklat itu dalam hitungan detik. "Itu...," Alex kehilangan kata, mendelik kearahku. "Pelan-pelan...." "Sekarang, bisakah kamu kembalikan ponselku?" Tekanku meminta, begitu cangkir itu bertemu dengan piring kecilnya. Lelaki itu mengehela nafas tidak percaya, ”apa kau sedang dikejar seseorang?” "Sudah kubilang, aku sibuk!" Kenapa lelaki ini tidak mengerti. "Ini," aku mengembalikan miliknya. "Ini apa?" Ia bertanya, ketika Tote bag tersebut sampai pada tangannya. Aku memutar mata jengah, lelaki ini tidak peduli pada setiap kata yang kuucapkan. Padahal sudah kuberitahu sebelumnya. "Milikmu," ucapku sekenanya. Ia segera melihat isi tas tersebut, lalu mengambil benda di dalam sana. "Oh," lelaki itu hanya ber-oh ria ketika tau apa yang kubawa. Alex mencium toxedo tersebut, mungkin dia tidak familiar dengan wangi Juniper berry yang kugunakan. "Aku sudah mencucinya," melihatnya mengerutkan kening, aku kembali membuka suara. "Maaf, aku tidak punya parfum atau sabun berbau vanila." Ia menatapku, menaikkan alis tersenyum tipis. Untuk kesekian kalinya, aku cukup terpesona dengan paras lelaki itu. Mau dilihat dari sudut manapun, wajah Alex begitu sempurna. "Kau menyukainya?" Ia bertanya. Aku hanya bisa memasang wajah bingung, diam. Menunggu lelaki itu menjelaskan maksud dari pertanyaan yang ia lontarkan. "Wangi vanila yang kamu cium pada tuxedo ini, selimutku dan tubuhku. Kamu suka?" "Tidak!" Aku menjawab secepat mataku yang membola, aku tidak suka ketika ia secara sengaja menarik kembali memori yang susah payah kulupakan. Jika lelaki ini sadar, dia pasti tau kalau aku marah mendengar pertanyaan semacam itu. Seharusnya, dia sadar pada batasan yang sudah kubangun semenjak kemarin. "Baiklah," ia hanya mengangguk beberapa kali, lalu memasukkan baju itu kembali kedalam Tote bag. Meletakkan benda itu di atas meja, kembali fokus padaku. "Bukan vanila," lelaki itu menatap mataku dalam. "Apa?" Entah apa yang ingin dia jelaskan. "Wangi yang kamu cium di seluruh ruangan ini bukan vanila, tapi Tonka Bean. Wanginya manis hampir mirip vanila, namun kamu juga bisa mencium aroma karamel di sana. Iya kan?" Benar, bukan hanya vanila, samar-samar aku bisa merasakan campuran karamel. Tapi tunggu dulu, "aku tidak mau tau!" Untuk sesaat, aku memikirkan tentang aroma yang ia jelaskan. Aku bahkan tidak tau mengapa. "Hanya ingin berbagi informasi," ia bersandar pada sofa, menyilangkan kaki. "Aku tidak butuh informasi apapun darimu!" Baiklah, Alex hanya ingin membuatku lupa, alasan utama aku nekat menemuinya lagi. "Aku butuh ponselku!" Dengan nada tegas, aku meminta. Alex melirikku tajam dengan ujung matanya beberapa saat. Tak mendapat respon apapun dariku, ia menyerah, menghela nafas lelah. Lalu kembali menurunkan kaki yang baru saja dia silangkan. "Kamu tidak tertarik padaku?" Lagi dan lagi, setiap kalimat yang ia luncurkan secara tiba-tiba, membuat dadaku bergemuruh. Berdetak keras tidak karuan. Aku tidak tau apa masalahnya, lelaki ini seperti sedang memainkan sebuah game dan menjadikanku taruhannya. "Berapa banyak wanita yang sudah kamu tiduri?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja, aku bahkan tidak tau mengapa menanyakan hal semacam itu padanya. Kenyataan bahwa dia berulang kali mencoba menggodaku, membuat harga diriku terluka, aku kesal! Sekarang, dalam diam, kami saling memandang dingin, tanpa ekspresi. Aku benar-benar penasaran, apa yang sedang lelaki itu pikirkan?TBC
Karena tidak jauh dari kantor, aku memilih jalan kaki. Meski Willie tetap memaksa ikut. Kami berakhir melangkah ringan di jalan setapak, diam dalam kecanggungan. Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tidak nyaman. “Eum …,” aku mulai bersuara. Melirik beberapa kali sebelum siap. “Ada apa?” Dia melihatku. “Kamu ingin tau apa yang terjadi antara aku dan Eva?” Tebaknya. “Mungkin …?” Ragu-ragu aku menjawab, padahal sangat yakin dalam hati.“Aku melamarnya.” Seketika kaki berhenti bergerak, terpaku dengan apa yang baru saja lelaki itu ucap “Apa?”Ia berbalik melihatku yang tertinggal di belakang. “Apa timingnya kurang tepat?”“Hah?” Maksudnya?“Gimana menurutmu?” Kami saling berhadapan. Ia menunggu jawaban dariku. Tapi, Aku tidak tahu harus mengatakan apa.“Lalu apa jawaban Eva?” Kenapa lamaran itu membuat mereka seperti ini?“Dia menolak.”“Apa?” Aku menghampirinya. “Kok bisa?”“Sepertinya dia tidak berniat serius denganku.” Willie menunduk, menendang kerikil yang menghalangi jalan
Hidupku mulai tenang. Farhan tak lagi datang, begitupun Risa. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, aku juga tidak penasaran. Sekarang, waktu kuhabiskan lebih banyak dengan ibuk dan Eva, ditambah Willie–juga Alex, tentu saja.Hampir dua bulan berlalu semenjak aku mengutarakan apa yang ku rasa pada Farhan pagi itu. Kekesalanku sudah lepas, hatiku juga sudah cukup lega. Ku pikir, hidupku akan baik-baik saja setelah ini. Seperti biasa, membiarkan waktu berlalu, dan menjalani hari tanpa ekspektasi. Namun, aku tidak bisa melupakan satu hal.“Apa kamu tumbuh dengan baik?” Pada kaca, kutatap diri sendiri. Kemeja yang kupakai sedikit kekecilan. Bukan karena ukurannya yang salah, tapi badanku yang jadi lebih berisi. Aku menunduk, menggerakkan tangan mengelus perutku yang mulai terlihat membesar. Aku mengelusnya beraturan, menghela nafas pelan. Kekhawatiranku tidak tumbuh begitu saja, aku sudah menerima takdirku dengan baik. Hanya saja, bagaimana caranya aku menjelaskan ke orang-orang s
“Aku bisa menjadi ayah pengganti untuk anakmu.” Ada kesungguhan di mata lelaki itu. Ia seolah memintaku untuk kesempatan.Tidak, semua ucapan itu tidak menggerakkan hatiku. “Kamu gila.” Desisku tidak suka. “Hanna,” Farhan kembali mendekat. Ia meraih jemariku lembut, lalu mengusap perlahan beraturan. “Asalkan bersamamu, bair-pun harus menjadi ayah sambung, aku bersedia.” Bahunya turun, ia mulai mencoba merayuku melayangkan tatapan penuh harap. Ku tepis tangannya kasar. Mulai memindai wajah itu lekat. Aku hanya tidak bisa percaya dengan apa yang ku dengar. “Kamu bercanda kan?”“Aku serius.” Aku malah semakin benci mendengarnya. “Tidak, aku tidak butuh.” Aku menggeleng beberapa Kali, “akan ku anggap ini sebagai candaan.” Tidak mau lagi berbedabat, kuputuskan beranjak dari hadapannya.Aku sudah cukup sabar dengan semua kegilaan yang datang silih berganti. Tidak mau emosi menguasai, menjauh darinya adalah pilihan terbaik sekarang. Namun, Ia segera berbalik. Mencekal tanganku cepat. “H
Bubur sudah dimasak dan sudah tersaji di atas meja. Yang harus dilakukan sekarang adalah membangunkan Alex, menyuruhnya makan dan minum obat. Semalam, setelah jatuh tertidur begitu saja, aku melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya. Aku juga sudah mengganti baju. Hanya baju, tentu saja dan menyelimuti tubuhnya dengan berlapis selimut.Setelah itu, aku membersihkan diri dan memakai piyama dengan pakaian yang entah sejak kapan mulai mengisi lemari Alex. Lelaki itu, mengoleksi baju perempuan dan sebagian besar pas pada tubuhku. Hingga akhirnya berakhir terlelap di atas sofa. Dan pagi ini bangun lebih awal untuk menyiapkan lelaki itu bubur. Tadi sebelum memasak, aku sudah memeriksanya, ia lebih baik sekarang, suhu tubuhnya sudah turun. “Hanna?” Alex bangun, pelan kakinya melangkah mendekatiku. “Sudah bangun?” Tanyaku datang padanya. Aku memegang pergelangan lelaki itu, mencoba membantu. Bukannya menerima, Alex malah memasang wajah heran dan diam ditempat, membuatku ikut berhenti. “Apa y
Bak Gia akan menunggu sampai aku siap. Ya, dia memberiku waktu untuk memikirkan harus cerita atau tidak. Akhirnya dia mengerti, kalau ini bukan hanya hubungan romansa yang menggemaskan. Segalanya lebih rumit dari itu.Mengingat hari itu Risa pernah datang ke kantor dan mengamuk padaku.Ah, untuk saat ini aku tidak mau memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dikhawatirkan. Lebih baik fokus bekerja dan mulai lebih peduli pada diri sendiri. Aku tidak lagi sendiri, bayi ini harus tumbuh dengan sehat.Sekitar jam 7 malam, aku menyelesaikan proposal untuk besok. Setelah membereskan barang-barang, aku berjalan dengan langkah ringan keluar kantor, menuju kos menyusuri jalan setapak yang sepi.Malam hari memberiku kenyamanan. Suara bising motor dan mobil memang tidak sepenuhnya hilang, begitu pula dengan polusi. Ini Jakarta, tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi setidaknya, mataku tidak silau oleh sinar yang membakar atau oleh tatapan yang menilai.Malam hari, membuat orang lebih fokus pada t
Kami tidak kembali ke kantor, aku memutuskan membawa Alex pulang. Meski tangannya sudah sembuh, gips juga terlepas, pria itu sepenuhnya terbebas dari rasa sesak yang mengganggunya beberapa hari ini. Masalahnya adalah, Alex masih mengeluhkan rasa mual yang menyerangnya. Sampai saat ini, dia belum mau memasukkan apapun kedalam mulut.Bahkan obat yang sudah diresepkan dokter. “Jangan bertingkah, makan buburmu!” Bukan sekali dua kali. Berkali-kali aku memaksa, sekarang suaraku mulai meninggi karena kesal.“Gak mau, nanti aku muntah lagi.” Lihat saja tatapannya, ia jijik pada mangkuk yang ku letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Alex hanya sibuk menarik selimut, bersembunyi di balik sana.“Alex, ingat umurmu.” Kelakuannya seperti anak kecil, merengek saat sedang sakit minta dimanja.Sedari tadi, aku mengambil tempat di pinggir ranjang, siap dengan pil yang ingin kumasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. Tapi lelaki ini malah merengek, menyebut bubur itu terlihat seperti muntahan, a







