MasukAku melangkah sempoyongan, keluar dari gedung apartemen yang menjulang tinggi. Dengan heels yang sedari tadi malam membuat pergelangan kakiku sakit, serta gaun kotor yang kini kusembunyikan di balik tuxedo dari lelaki bernama Alex, berjalan terburu mencari taxi di pinggir jalan.
Begitu sebuah mobil berhenti di depanku, tanpa pikir panjang, aku segera masuk ke sana.
"Mau diantar kemana mbak?" Tanya supir di kursi kemudi depan. "Menteng pak, kost dukuh atas." Jawabku langsung. Detik berikutnya, mobil berwarna abu-abu terang itu melaju, membawaku jauh dari apartemen elit yang terletak di Jakarta Selatan. Melewati jalan lingkar, aku menghabiskan sekitar 15 menit menuju Jakarta pusat tempat tinggalku. Apa yang telah terjadi, akupun tak mengerti. Segalanya benar-benar tiba-tiba. Perkataan lelaki itu terakhir kali membuat kepalaku kembali pening. Suaranya seolah mengalun tanpa henti di telingaku, ia seperti menanamkan spiker kecil dalam otakku."Aku tertarik padamu." Aku mengacak rambut frustasi, bagaiman ini? Kenapa dia mengusikku. Aku hanya ingin lepas dari cinta seumur hidupku yang kini telah jadi milik orang lain. Tapi lelaki ini malah datang entah darimana, membawa beban tak kasat mata, seolah ingin menyiksaku kembali dengan segala harapan. "Na, sadar bodoh!" Aku mencoba untuk kembali ke dunia nyata. "Lelaki itu brengsek!" Tekanku berkali-kali. Meski mendapat lirikan aneh berulang kali dari supir melalui spion depan, aku tak lagi peduli dengan pandangan orang. Aku gila sendirian, berbicara dalam kekosongan. "Sudah sampai mbak," ujarnya tersenyum ramah. Aku segera mencari dompet dalam tasku, untuk mengambil beberapa lembar cash. "Eh?" Tunggu dulu, ada yang hilang! Tas kecil dengan satu lubang yang hanya menggunakan magnet pada penutup tanpa resleting. Aku tidak bisa menemukan ponselku ketika membukanya, hanya dompet. Aku tidak membawa barang lain, bahkan sepotong tisu. Ponselku menghilang begitu saja. Aku mulai gusar, mencari benda persegi itu khawatir. Hingga aku tersadar dengan raut wajah tak enak dari supir yang kini melihatku aneh. Mungkin dia akhirnya mengambil kesimpulan. Aku seorang gadis sakit jiwa! Maksudku, dengan gaun kotor, rambut acakan serta sibuk berbicara sendiri sepanjang perjalanan? Siapapun akan berpikir aku kehilangan kewarasan! "Maaf pak," tersadar dengan semua prasangka yang terbaca dari mata lelaki paruh baya itu, aku segera memberinya uang dengan jumlah yang sesuai. Aku menutup pintu taxi lemah. Kini aku bukan hanya kehilangan kewarasan, tapi juga ponsel satu-satunya yang kumiliki. Dengan kepala yang terus bergemuruh, aku terus melangkah gontai kearah kost menuju kamarku. Apakah hari ini akan lebih buruk? Rasa lelah yang masih menggerogoti tubuh, tanpa tenaga aku memutar kenop pintu. Aku ingin segera merebahkan diri, lalu tidur sepanjang hari. "Darimana aja kamu?" Ah, sepertinya tuhan tidak berpihak padaku. "Sejak kapan kamu di sini?" Tanyaku melihat Eva yang kini duduk di kursi meja kerjaku, sambil memasang wajah sangar. Aku tidak punya tenaga untuk beradu argumen dengannya. Aku ingin meluruskan punggung dalam selimut hangat. Tanpa peduli dengan raut wajahnya, aku segara melempar tasku ke segala arah, lalu melempar diri ke atas kasur dan membenamkan seluruh wajah di sana. Wangi vanila. Aku terbelalak, mengingat sesuatu. Harumnya bukan berasal dari selimut berwarna merah muda milikku. Tapi, ini wangi lelaki itu, Alex. Harum tubuhnya menempel pada tuxedo yang masih kupakai. "Jawab pertanyaanku Na, kamu darimana aja semalam?" Eva kembali membuat suara, gadis itu terdengar khawatir. Aku memutuskan untuk bangun, duduk bersila di atas kasur, "aku kan udah bilang, aku ke rumah teman." "Benarkah?" Ia menyipitkan mata tidak percaya, "jangan bohong." "Aku gak bohong kok," sayangnya nada suaraku bergetar, takut ketahuan. Semoga saja dia tidak sadar. "Terus kenapa tadi ponsel kamu diangkat sama cowok?" "Hah?" Pada akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutku. Lelaki itu benar-benar. "Dia ngomong apa?" Tanyaku takut-takut. "Dia nyuruh kamu buat ngambil ponsel kamu sendiri," jelas Eva. "Di tempat kamu meninggalkannya, dia bilang akan menunggu kedatangan kamu." Sambungnya lagi tanpa melepas kecurigaan di wajahnya. "Oh..., Eum...." Aku benar-benar kehilangan kosa kata, "dia itu...," Siapa Na, pikirkan! "Pacar teman kantorku!" Jawabku terburu. "Aku tau kamu berbohong, jangan bercanda." Tentu saja, Eva adalah pendeteksi kebohongan yang hebat. "Aku gak bohong kok," tapi aku tidak mau menyerah. Aku tidak tau alasan apa lagi yang lebih masuk akal dari itu, "kamu percaya aja padaku, aku capek banget Va. Aku lagi patah hati, tolong ngertiin aku sekali ini aja." Memelas adalah pilihan terbaik. "Baiklah," untuk saat ini, gadis itu menerima, walau terlihat begitu terpaksa. Aku yakin, dia tidak akan melepaskanku begitu saja. "Terus baju kamu kenapa sampai kotor kayak gitu?" Ia menunjuk gaunku yang dilumuri minuman berwarna merah. "Tuxedu itu punya siapa pula?" Sambungnya lagi. "Oh ini?" Bolehkah aku kembali berbohong? "Punya pacar temanku." Tentu saja! "Baik banget tu cowok, teman kamu apa gak cemburu?" "Ya gak lah," aku memutuskan untuk kembali tidur, mengambil boneka koala untuk kujadikan bantal. "Lagian nanti aku kembalikan kok, sambil ambil ponselku." "Terserah kamu," ia terlihat lelah dengan semua omong kosong yang kulontarkan. "Nih, coba kamu ngomong sendiri." Ponsel Eva bergetar, seseorang memanggil dari balik sana. Ia melempar benda persegi itu kearahku. Aku segera bangun dan kembali duduk, mengambil ponsel Eva memeriksa siapa yang menghubunginya. Diriku sendiri. Artinya, lelaki itu. "Halo," jawabku langsung."Kamu sudah di rumah?" Aku mengerutkan kening. "Kamu tau siapa aku?" Pasalnya, ini ponsel Eva. Bagaimana caranya lelaki itu mengenali suaraku?"Tentu saja, aku sangat mengingatnya...," Ia berujar dengan suara rendah. "Suaramu." Lelaki ini, sedang berusaha menggoda. "Untuk ponselku, bisakah kamu mengirimnya saja?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan."Kamu ingin aku mengunjungimu?" Dia menyebalkan. "Kamu tau, di dunia ini ada yang namanya jasa pesan antar." Jelasku geram."Aku tau, tapi bukankah lebih baik kita bertemu? Sepertinya kita perlu mendiskusikan apa yang telah terjadi." "Tidak perlu," aku berucap secepat helaan nafasnya ketika mendengar jawabanku."Semua tidak akan berakhir begitu saja, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi. Kau tidak mungkin bisa menghindar seumur hidup." "Aku tidak menghindar, aku hanya berusaha meminimalisir kemungkinan kita untuk bertemu. Jadi berhentilah berharap!" Tekanku."Apa bedanya? Kamu lupa, meski kini Risa dan Farhan telah menikah, mereka tetaplah temanmu." Dia tidak mau menyerah, "melalui Meraka, kita akan kembali dipertemukan. Daripada merasa canggung ketika hari itu datang, bukankah lebih baik kita mulai membangun hubungan yang nyaman." "Jangan bercanda, aku tidak tertarik dengan semua keinginanmu! Aku juga tidak ingin merasa nyaman bersamamu!" Entah mengapa aku marah. Setelah apa yang terjadi, aku merasa dia memandang rendah diriku. Lelaki itu terdengar begitu percaya diri, dia seolah yakin bisa menaklukkan siapapun."Aku tidak bercanda nona," ia menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. "Aku sangat serius sekarang, datanglah besok ke tempat di mana kamu meninggalkan ponselmu, aku akan menunggu." "Sudah kubilang, tidak bisakah kamu...,""Jika kamu tidak muncul besok, jangan harap benda ini akan kembali ke pemiliknya!" Tut, Tut, Tut. Panggilan pun diakhiri begitu saja, dia tidak membiarkanku membalas satu katapun. "Pacar temanmu?" Ah gawat, aku melupakan seseorang. "Hah?" "Dia siapa Hanna?" Mata elang itu kini menatapku tajam, Eva siap memakanku hidup-hidup.TBC
Karena tidak jauh dari kantor, aku memilih jalan kaki. Meski Willie tetap memaksa ikut. Kami berakhir melangkah ringan di jalan setapak, diam dalam kecanggungan. Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tidak nyaman. “Eum …,” aku mulai bersuara. Melirik beberapa kali sebelum siap. “Ada apa?” Dia melihatku. “Kamu ingin tau apa yang terjadi antara aku dan Eva?” Tebaknya. “Mungkin …?” Ragu-ragu aku menjawab, padahal sangat yakin dalam hati.“Aku melamarnya.” Seketika kaki berhenti bergerak, terpaku dengan apa yang baru saja lelaki itu ucap “Apa?”Ia berbalik melihatku yang tertinggal di belakang. “Apa timingnya kurang tepat?”“Hah?” Maksudnya?“Gimana menurutmu?” Kami saling berhadapan. Ia menunggu jawaban dariku. Tapi, Aku tidak tahu harus mengatakan apa.“Lalu apa jawaban Eva?” Kenapa lamaran itu membuat mereka seperti ini?“Dia menolak.”“Apa?” Aku menghampirinya. “Kok bisa?”“Sepertinya dia tidak berniat serius denganku.” Willie menunduk, menendang kerikil yang menghalangi jalan
Hidupku mulai tenang. Farhan tak lagi datang, begitupun Risa. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, aku juga tidak penasaran. Sekarang, waktu kuhabiskan lebih banyak dengan ibuk dan Eva, ditambah Willie–juga Alex, tentu saja.Hampir dua bulan berlalu semenjak aku mengutarakan apa yang ku rasa pada Farhan pagi itu. Kekesalanku sudah lepas, hatiku juga sudah cukup lega. Ku pikir, hidupku akan baik-baik saja setelah ini. Seperti biasa, membiarkan waktu berlalu, dan menjalani hari tanpa ekspektasi. Namun, aku tidak bisa melupakan satu hal.“Apa kamu tumbuh dengan baik?” Pada kaca, kutatap diri sendiri. Kemeja yang kupakai sedikit kekecilan. Bukan karena ukurannya yang salah, tapi badanku yang jadi lebih berisi. Aku menunduk, menggerakkan tangan mengelus perutku yang mulai terlihat membesar. Aku mengelusnya beraturan, menghela nafas pelan. Kekhawatiranku tidak tumbuh begitu saja, aku sudah menerima takdirku dengan baik. Hanya saja, bagaimana caranya aku menjelaskan ke orang-orang s
“Aku bisa menjadi ayah pengganti untuk anakmu.” Ada kesungguhan di mata lelaki itu. Ia seolah memintaku untuk kesempatan.Tidak, semua ucapan itu tidak menggerakkan hatiku. “Kamu gila.” Desisku tidak suka. “Hanna,” Farhan kembali mendekat. Ia meraih jemariku lembut, lalu mengusap perlahan beraturan. “Asalkan bersamamu, bair-pun harus menjadi ayah sambung, aku bersedia.” Bahunya turun, ia mulai mencoba merayuku melayangkan tatapan penuh harap. Ku tepis tangannya kasar. Mulai memindai wajah itu lekat. Aku hanya tidak bisa percaya dengan apa yang ku dengar. “Kamu bercanda kan?”“Aku serius.” Aku malah semakin benci mendengarnya. “Tidak, aku tidak butuh.” Aku menggeleng beberapa Kali, “akan ku anggap ini sebagai candaan.” Tidak mau lagi berbedabat, kuputuskan beranjak dari hadapannya.Aku sudah cukup sabar dengan semua kegilaan yang datang silih berganti. Tidak mau emosi menguasai, menjauh darinya adalah pilihan terbaik sekarang. Namun, Ia segera berbalik. Mencekal tanganku cepat. “H
Bubur sudah dimasak dan sudah tersaji di atas meja. Yang harus dilakukan sekarang adalah membangunkan Alex, menyuruhnya makan dan minum obat. Semalam, setelah jatuh tertidur begitu saja, aku melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya. Aku juga sudah mengganti baju. Hanya baju, tentu saja dan menyelimuti tubuhnya dengan berlapis selimut.Setelah itu, aku membersihkan diri dan memakai piyama dengan pakaian yang entah sejak kapan mulai mengisi lemari Alex. Lelaki itu, mengoleksi baju perempuan dan sebagian besar pas pada tubuhku. Hingga akhirnya berakhir terlelap di atas sofa. Dan pagi ini bangun lebih awal untuk menyiapkan lelaki itu bubur. Tadi sebelum memasak, aku sudah memeriksanya, ia lebih baik sekarang, suhu tubuhnya sudah turun. “Hanna?” Alex bangun, pelan kakinya melangkah mendekatiku. “Sudah bangun?” Tanyaku datang padanya. Aku memegang pergelangan lelaki itu, mencoba membantu. Bukannya menerima, Alex malah memasang wajah heran dan diam ditempat, membuatku ikut berhenti. “Apa y
Bak Gia akan menunggu sampai aku siap. Ya, dia memberiku waktu untuk memikirkan harus cerita atau tidak. Akhirnya dia mengerti, kalau ini bukan hanya hubungan romansa yang menggemaskan. Segalanya lebih rumit dari itu.Mengingat hari itu Risa pernah datang ke kantor dan mengamuk padaku.Ah, untuk saat ini aku tidak mau memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dikhawatirkan. Lebih baik fokus bekerja dan mulai lebih peduli pada diri sendiri. Aku tidak lagi sendiri, bayi ini harus tumbuh dengan sehat.Sekitar jam 7 malam, aku menyelesaikan proposal untuk besok. Setelah membereskan barang-barang, aku berjalan dengan langkah ringan keluar kantor, menuju kos menyusuri jalan setapak yang sepi.Malam hari memberiku kenyamanan. Suara bising motor dan mobil memang tidak sepenuhnya hilang, begitu pula dengan polusi. Ini Jakarta, tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi setidaknya, mataku tidak silau oleh sinar yang membakar atau oleh tatapan yang menilai.Malam hari, membuat orang lebih fokus pada t
Kami tidak kembali ke kantor, aku memutuskan membawa Alex pulang. Meski tangannya sudah sembuh, gips juga terlepas, pria itu sepenuhnya terbebas dari rasa sesak yang mengganggunya beberapa hari ini. Masalahnya adalah, Alex masih mengeluhkan rasa mual yang menyerangnya. Sampai saat ini, dia belum mau memasukkan apapun kedalam mulut.Bahkan obat yang sudah diresepkan dokter. “Jangan bertingkah, makan buburmu!” Bukan sekali dua kali. Berkali-kali aku memaksa, sekarang suaraku mulai meninggi karena kesal.“Gak mau, nanti aku muntah lagi.” Lihat saja tatapannya, ia jijik pada mangkuk yang ku letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Alex hanya sibuk menarik selimut, bersembunyi di balik sana.“Alex, ingat umurmu.” Kelakuannya seperti anak kecil, merengek saat sedang sakit minta dimanja.Sedari tadi, aku mengambil tempat di pinggir ranjang, siap dengan pil yang ingin kumasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. Tapi lelaki ini malah merengek, menyebut bubur itu terlihat seperti muntahan, a
Ibu pulang, malam itu juga. Dia tidak lagi membalas perkataanku ataupun ikut melepas isi hati. Ia hanya melihat dengan mata yang bergetar. Aku rasa, dia juga berusaha menahan agar tidak ikut menangis. Entahlah, aku tak mau peduli. Saat ini, aku terlalu sibuk menganalisa sebuah brand yang ingin men
Aku mendapat pesan dari Bak Gia. Dia bertanya, apakah besok aku akan masuk kantor. Aku cukup memikirkan hal itu. Apakah tidak apa jika bertemu dengannya sebagai karyawan dan atasan? Setelah semua ini, aku terlalu takut untuk bertemu dengannya. Dia pasti akan menanyakan hal yang sama berulang kali.
Aku takut, mengerikan. Suara teriakan dan barang-barang pecah saling bersautan. Sendirian di dalam kamar, menutup telinga berusaha menghalau bunyi keras dari luar. Kapan mereka akan berhenti, aku bahkan belum makan siang. Pulang sekolah, dengan seragam merah putih yang masih kukenakan. Aku yang bah
Aku tidak punya waktu untuk marah atau menyuruh lelaki di sampingku untuk kembali ke kursinya. Pesawat lepas landas dalam waktu singkat, dan kami berada di angkasa sekarang. Alex terlihat tidak tenang, pria paruh baya dekatnya menutup mata sambil mengeluarkan suara berisik khas bapak-bapak saat tert







