LOGINSisi mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi keringat dingin. "Benarkah? Apa perlu aku pindah posisi? Aku sudah selesai bukan dalam misi ini?”
“Kamu tengah dalam puncak misi, selesaikan sampai kamu benar benar yakin semua aman.” “Aku tahu, aku tahu... tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Akhirya aku yang nikah, itu bagian rencana Kapten kan?” “Mana ada?” Hazel pun tersenyum di seberang sana. “Sudahlah, aku kalah kalau sama rencana Kapten. Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Sisi yang tak mau membuat semuanya jadi susah. “Ya sudah, kamu di sana saja. Lakukan tugasmu.” Sisi menggigit bibirnya. "Maksudnya?" "Kau akan tetap di sana, tapi bukan sebagai pengamat lagi. Aku akan memberimu waktu untuk menikmati peran sebagai istri." Sisi berdecak kesal. "Damn it! Ayolah, Kapten? Jangan begini. Aku bagian tim Elang loh. Masa tega biarin aku jadi istri rumah tangga?" gerutu Sisi. "Gak papa, setelah tugas kan memang ada waktu istirahat beberapa waktu. Selagi masa istirahatmu belum habis, nikmati aja dulu. Nggak sulit kok jadi istri, apalagi suamimu itu Dokter. Kamu pasti akan senang tiap hari kena suntikan ma*utnya.” “Astaga…” Saat sedang mengobrol di ponsel, Dafi yang baru saja dari luar mengagetkan Sisi. Jantung Sisi berdegup kencang. Mendadak terasa aneh sekali kedatangan lelaki itu. “Sisi.” ‘Sial,’ Makinya dalam hati. Mendengar namanya dipanggil, mendadak bulu kuduk meremang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Hari ini, hari terburuknya dan mungkin dia akan menjadi sosok aneh saat nanti menjalani perannya sebagai istri dari seorang Dokter Daffi. “Keluargamu sudah kembali ke kandang masing masing?” Daffi mengernyit, kata kata Sisi terdengar tidak sopan. Namun, setelah diberitahu jika Sisi bukanlah wanita yang anggun seperti para santri di sana, dia pun tersenyum dan mengangguk sabar. “Tinggal Ken sama Kyai dan Ustad pengurus pondok. Mungkin membahas perkembangan pondok. Anak Anak Abah sudah istirahat.” “Syukurlah. Bolehkan aku lepas saja kerudungnya? Gerah.” “Silahkan. Tapi tolong jika keluar dari sini, pakai ya? Pesantren itu_” “Iya, aku tahu,” jawab Sisi malas. Daffi memalingkan wajah, sudah terbiasa melihat Sisi tanpa hijab. Namun, entah kenapa jika berdua begini rasanya berbeda saja. “ini lingkungan pesantren. Aku harap kamu tahu bagaimana bersikap, Sisi. Maaf jika terlalu banyak mengatur,” ucap Daffi pelan. Sisi tak menjawab, dia memilih melepas juga pakaian yang sejak dari tadi membuatnya gerah. Sialnya, tangannya tak bisa menggapai resleting di belakang gaunnya, membuat Daffi menengok ketika mendekat decakan Sisi yang memakai gaun panjangnya itu. Daffi menatap Sisi yang sedang berdiri di depan cermin dengan ekspresi bingung dan groginya. Gadis itu terus menggerutu sambil berusaha meraih resleting di belakang gaunnya. “Sial! Kenapa sih bajunya ribet begini? Siapa yang menciptakan model resleting belakang? Nyusahin banget! Jangan sampai punya baju kayak gini lagu. Ribetnya!” Daffi menelan ludah. Situasi ini agak aneh. Mereka hanya berdua di dalam kamar tamu pesantren, dan Sisi tengah sibuk dengan gaunnya yang terlalu sulit dilepas sendiri. “Mau aku panggilin Andini buat bantu?” tanya Daffi, mencoba menawarkan solusi lain. Sisi menoleh cepat dengan ekspresi tidak terima. “Masa iya harus nyusahin orang malam-malam? Aku cuma mau lepas ini biar bisa pakai baju yang lebih nyaman.” Daffi menarik napas dalam-dalam. Ia baru tahu, Sisi seberisik itu kalau kesal. Namun, tetap saja… situasi ini membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Bukan karena tidak percaya pada Sisi, tapi karena dirinya sendiri. “Yaudah, aku bantu... tapi jangan gerak banyak.” Sisi menatap Daffi lama, sebelum akhirnya mengangkat bahu dan membalikkan tubuh. “Oke, besok belikan aku kaos oblong saja.” Daffi berdehem pelan. “Sisi... kita di pesantren.” “Aku tahu, nanti kalau udah keluar dari sini.”Tery ngakak, “Daripada lo dikasih nama Gendhis Sugiyo, udah syukurin aja. Lagian nama doang, yang penting wajah lo udah cakep. Sekarang kalau selfie udah nggak perlu aplikasi 360 lagi.”Aisy menghela napas panjang, lalu menatap pemandangan dari jendela hotel.“Gue pengin pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu. Yang tenang, ada pantainya, tapi sinyalnya tetap ada. Gue mau nulis, ngedit, sambil healing. Ya, gue mau jadi penulis aja lah. Biar nggak perlu mikir keras dan bisa jebolin aplikasi menulis buat bikin genre yang dramatis dan romantis.”“Tumben banget lo ngomong kayak penulis konten inspiratif. Ada apa, Momo?”“Panggil gue Sisi udah deh, kayak dulu aja,” potong Aisy cepat.Tery kembali cekikikan. “Sisi udah mati. Yang sekarang itu Momosy Edigowa, warga dunia maya dengan wajah baru dan identitas yang udah dipoles dari kepala sampai dagu. Kalau lo ke kantor kelurahan, disuruh fingerprint, lo bisa ditangkep karena nggak match.”
Aisy menerimanya dengan pelan, rasa terharu pun menyeruak. Dia dikelilingi orang baik, bahkan Dokter yang mendampinginya pun begitu baik dengan memberikan cermin kecil berhiaskan batu permata yang jelas bukan murah harganya.“Wah, Dokter baik sekali. Apa hanya Aisy saja yang diberi? Saya tidak? Wah, ini tak adil,” ledek Tery.“Tenang saja, untuk sahabat terbaik pasien saya ini, saya persiapkan gantungan kunci. Ini sama bagusnya kok, ada lambang bulan dan bintang di s iini dan kamu bisa menyimpannya sebagai kenang kenangan.”Tery menerima gantungan kunci berbentuk bulan dan bintang yang sama mewahnya. Meski belum tentu apa itu lapis batu permata atau bukan seperti milik Aisy, tapi Tery senang mendapatkan kebaikan itu juga.“Makasih banyak, Dokter Lie. ANda baik sekali, semoga Tuhan memberkati…”“Sama sama, kalian adalah contoh sahabat selamanya dan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.”“Ter
Tiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy. Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya. Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak
Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se
Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau
“Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka
Daafi terdiam, kata cucu bukanlah kata singkat tanpa makna. Tapi bisa jadi hal berat yang akan sulit dia kabulkan. “Biar saja, mereka tidak tahu juga kalau_”“Apa Gus nggak mau sedikit berusaha menerimaku? Bagaimanapun, aku berhak meminta hal itu sebagai nafkah, bukan?”
Hari hari sebagai Dokter yang ditugaskan di UGD membuat Daffi mulai kembali nyaman dengan pekerjaannya. Meskipun masalah dengan keluarga besar di Surabaya masih berlanjut, namun pernikahan dia dengan Ainah mampu membungkam beberapa mulut orang orang yang menginginkan dia menikah dengan wanita mus
Daffi duduk di teras penginapan, menatap langit yang mulai tenang. Sunset mulai turun perlahan, seindah apapun senja, tetap tak mampu menenangkan pikirannya. Kenangan tentang Andini dan Sisi dan janji-janji lamanya seperti diputar kembali di kepalanya. Andini hadir sebagai pengingat yang kejam.B
Daffi tak menjawab. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Ainah perlahan melemah, lalu terlepas. Pandangannya kosong, seperti melihat masa lalu yang kembali menghantamnya tanpa ampun.Ainah mematung, antara bingung dan gelisah. Siapa Andini sebenarnya? Dan kenapa wajah Daffi tampak seolah ingin ka







