Share

bab 4

Penulis: Maey Angel
last update Tanggal publikasi: 2026-03-10 20:46:47

Sisi mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi keringat dingin. "Benarkah? Apa perlu aku pindah posisi? Aku sudah selesai bukan dalam misi ini?”

“Kamu tengah dalam puncak misi, selesaikan sampai kamu benar benar yakin semua aman.”

“Aku tahu, aku tahu... tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Akhirya aku yang nikah, itu bagian rencana Kapten kan?”

“Mana ada?” Hazel pun tersenyum di seberang sana.

“Sudahlah, aku kalah kalau sama rencana Kapten. Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Sisi yang tak mau membuat semuanya jadi susah.

“Ya sudah, kamu di sana saja. Lakukan tugasmu.”

Sisi menggigit bibirnya. "Maksudnya?"

"Kau akan tetap di sana, tapi bukan sebagai pengamat lagi. Aku akan memberimu waktu untuk menikmati peran sebagai istri."

Sisi berdecak kesal. "Damn it! Ayolah, Kapten? Jangan begini. Aku bagian tim Elang loh. Masa tega biarin aku jadi istri rumah tangga?" gerutu Sisi.

"Gak papa, setelah tugas kan memang ada waktu istirahat beberapa waktu. Selagi masa istirahatmu belum habis, nikmati aja dulu. Nggak sulit kok jadi istri, apalagi suamimu itu Dokter. Kamu pasti akan senang tiap hari kena suntikan ma*utnya.”

“Astaga…”

Saat sedang mengobrol di ponsel, Dafi yang baru saja dari luar mengagetkan Sisi. Jantung Sisi berdegup kencang. Mendadak terasa aneh sekali kedatangan lelaki itu.

“Sisi.”

‘Sial,’ Makinya dalam hati. Mendengar namanya dipanggil, mendadak bulu kuduk meremang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Hari ini, hari terburuknya dan mungkin dia akan menjadi sosok aneh saat nanti menjalani perannya sebagai istri dari seorang Dokter Daffi.

“Keluargamu sudah kembali ke kandang masing masing?”

Daffi mengernyit, kata kata Sisi terdengar tidak sopan. Namun, setelah diberitahu jika Sisi bukanlah wanita yang anggun seperti para santri di sana, dia pun tersenyum dan mengangguk sabar.

“Tinggal Ken sama Kyai dan Ustad pengurus pondok. Mungkin membahas perkembangan pondok. Anak Anak Abah sudah istirahat.”

“Syukurlah. Bolehkan aku lepas saja kerudungnya? Gerah.”

“Silahkan. Tapi tolong jika keluar dari sini, pakai ya? Pesantren itu_”

“Iya, aku tahu,” jawab Sisi malas.

Daffi memalingkan wajah, sudah terbiasa melihat Sisi tanpa hijab. Namun, entah kenapa jika berdua begini rasanya berbeda saja.

“ini lingkungan pesantren. Aku harap kamu tahu bagaimana bersikap, Sisi. Maaf jika terlalu banyak mengatur,” ucap Daffi pelan.

Sisi tak menjawab, dia memilih melepas juga pakaian yang sejak dari tadi membuatnya gerah. Sialnya, tangannya tak bisa menggapai resleting di belakang gaunnya, membuat Daffi menengok ketika mendekat decakan Sisi yang memakai gaun panjangnya itu.

Daffi menatap Sisi yang sedang berdiri di depan cermin dengan ekspresi bingung dan groginya. Gadis itu terus menggerutu sambil berusaha meraih resleting di belakang gaunnya.

“Sial! Kenapa sih bajunya ribet begini? Siapa yang menciptakan model resleting belakang? Nyusahin banget! Jangan sampai punya baju kayak gini lagu. Ribetnya!”

Daffi menelan ludah. Situasi ini agak aneh. Mereka hanya berdua di dalam kamar tamu pesantren, dan Sisi tengah sibuk dengan gaunnya yang terlalu sulit dilepas sendiri.

“Mau aku panggilin Andini buat bantu?” tanya Daffi, mencoba menawarkan solusi lain.

Sisi menoleh cepat dengan ekspresi tidak terima. “Masa iya harus nyusahin orang malam-malam? Aku cuma mau lepas ini biar bisa pakai baju yang lebih nyaman.”

Daffi menarik napas dalam-dalam. Ia baru tahu, Sisi seberisik itu kalau kesal. Namun, tetap saja… situasi ini membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Bukan karena tidak percaya pada Sisi, tapi karena dirinya sendiri.

“Yaudah, aku bantu... tapi jangan gerak banyak.”

Sisi menatap Daffi lama, sebelum akhirnya mengangkat bahu dan membalikkan tubuh.

“Oke, besok belikan aku kaos oblong saja.”

Daffi berdehem pelan. “Sisi... kita di pesantren.”

“Aku tahu, nanti kalau udah keluar dari sini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Panas Sang Penyamar    118

    Tery menggeleng, tapi ada tawa kecil di bibirnya. Untuk sekarang, cukup rasanya melihat Aisy pulang dengan selamat dan masih bisa bercanda. Mungkin besok, masalah baru akan datang. Tapi malam ini, mereka hanya dua sahabat yang saling menjaga di tengah dunia yang selalu tak terduga.“Katanya mau cerita?” tanya Tery setelah Aisy kenyang. “Gue curiga nih ada hal yang terjadi. Mana ada habis makan, kok sampai rumah lapar.”“Gue tadi nolongin anaknya Mbak Juwita, kakaknya bos ganteng gue. Gilang,” ucap Aisy santai.“Serius?”Aisy mengangguk. “Makanya, gak mungkin ada insiden bahaya gue diem aja. Gue juga cuma kejar tuh bule dan gue timpuk sama kamera gue. Gak ada salahnya?”“Tapi ada yang bilang lo berkelahi di sana kan?”“Gak, cuma sedikit peregangan otot saja. Gak sampai gimana gimana, ada polisi langsung datang. Cuma ya, kamera gue rusak, Te. Beliin lagi ya?” Aisy nyengir saja, menunjukan kameranya yang sudah rusak karena dia

  • Cinta Panas Sang Penyamar    117

    “Kebiasaan ya pergi jauh gak ngomong ngomong!” sungut Tery begitu melihat Aisy sudah kembali dengan wajah tanpa dosanya.“Gue gak ke mana mana, cuma makan di resto sono bentaran. Lebai amat!”“Emang gue gak tahu lo habis berkelahi tadi? Gila emang lo, gak bisa gitu ditinggal bentar. Udah bikin jantung mau copot aja.”“Jantungnya masih kan?” kekeh Aisy dan dia masuk nyelonong saja, lalu duduk di sofa empuknya.“Dari mana lo, dari mana?”Sudah bak ibu yang sedang mamarahi anaknya, tapi yang dimarahi hanya cengengesan saja dan itu membuat Tery kesal lali mencubit lengannya.“Sakit, Bu…”“Bu lagi? Wah … cari perkara.”“Hehehe, habisnya lo berisik kaya Ibu IBu. Suara lo, melewati batas harian, jadi ya … memang lebih baik lo jadi IBu ibu aja sih.”Tery menarik napas dalam dalam. Tak habis pikir dengan temannya yang dikhawatirkan itu, malah pulang tanpa dosa dengan segudang sikap yang membuatnya jengkel.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    117

    Di kantor polisi, suasana sedikit lebih tenang meski Kasih masih gemetaran dan terus memeluk Juna. Sementara itu, Bima sudah tertidur di pangkuan Gilang setelah sempat menangis keras karena ketakutan. Gilang menatap Aisy dengan kagum, masih tidak menyangka wanita itu begitu cekatan menyelamatkan Bima.Penyidikan selesai dan penculik itu dianggap salah satu oknum yang suka mengambil anak anak yang hilang arah di pantai, lalu dijadikan sandera. Gilang dianggap lalai dalam menjaga karena Bima sudah merangkak jauh dari tempat Gilang duduk dan tidak dilihatnya.Polisi selesai mencatat laporan Gilang dan menahan penculik. Polisi memberi tahu bahwa mereka akan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku."Pak, sekali lagi terima kasih," ucap Gilang kepada polisi."Iya, ini memang sudah jadi tugas kami. Hati-hati ke depannya, Pak, Bu. Kalau di tempat wisata begini memang rawan penculikan anak, pencopetan, dan semacamnya," balas polisi dengan ramah.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    116

    **“Gea, bagaimana penelusuranmu tentang orang yang kemarin saya perintahkan kamu cari tahu informasinya?” tanya Edi.“Laporan Brian, menyangkut keluarga besar … dalam informasi itu kurang baik.”“Terlibat skandal?”“Bukan, tapi seperti masa kecil Tuan Ali Zafir yang diasuh oleh orang tidak beradab dan tidak memiliki hati nurani.”“Tapi tidak ada keterlibatan dengan para mafia atau penjahat kelas kakap?”“Tidak! Mereka hanya keluarga sederhana yang pemalas. Mereka mengandalkan Sity sebagai tulang punggung lalu menyiksanya dan menjadikan dia seorang janda. Dulu pernah diasuh oleh seorang wanita yang mengaku LC di sebuah rumah Belanda. Tapi, kemudian… diadopsi oleh seorang pengusaha yang tidak lama kemudian bangkrut.”Edi mengangguk. Itu artinya benar dan dia tidak salah lagi. Siti adalah anak asuh dari pengusaha yang dia sangat kenal dan saling berhubungan dengan keluarganya . Tidak menutup kemungkinan jika DNA Sity yang

  • Cinta Panas Sang Penyamar    115

    “Jodoh memang gak jauh dari kata ‘KEBETULAN,” kekeh Aisy.“Lo gila, Sy! Sumpah, lo bener bener gila.”“Kok gila? Ini luar biasa. Kek nggak nyangka kan ketemu sama dia dan dia gak kenalian gue, tu pencapaian yang sangat luar biasa.” “Syaraf emang lo!”Aisy benar benar senang, bukan karena dia baru bertemu kekasih atau hati orang yang memikat hatinya. Namun, senang karena bertemu Gilang tapi lelaki itu tak mengenalinya. Itu adalah hal terhebat yang dia rasakan saat ini.“Kira kira, dia ke Bali ngapain ya? Apa jangan jangan dia udah punya gebetan baru? Atau tadi, anak janda pirang … eh, tapi bukan. Apa iya?” Aisy jadi bingung sendiri, dia lupa lupa ingat dengan Juna yang hanya beberapa kali ditemui, itupun tak paham jika Juna adalah anak Juwita.“Gak usah kayak orang gila deh, biasa aja. Lo seneng kan ketemu dia? Kan?”“Doorprize dan hiburan aja, Te. Lagian, gue bukan sedang ngerjain misi. Jadi, gue bebas cari tahu siapa

  • Cinta Panas Sang Penyamar    114

    “Kikiw… “Aisy bertepuk tangan heboh pada bule bule asal Rusia yang menang dalam perlombaan voli di atas pasir pantai Bali. Kehebohan Aisy menjadi daya tarik permainan itu sendiri, bahkan Tery sampai menutup wajahnya dengan topi pantai besar yang dia kenakan saking malunya.“Sy, jangan begitu ih!”“So what? Ini menyenangkan, Bestie…”Aisy kembali meneriaki yang lain, sekelompok bule yang juga masuk dalam permainan pantai yang begitu menarik. Setelah itu, dia tawarkan jasa foto dan memberikan cubitan manja di pipi mereka. Tery sampai geli sendiri dengan Aisy, kenapa jadi centil seperti itu.“Balik yuk!Q” ajak Tery.“Ck, you kenape? Ini tuh ladang duit, jangan disia-siakan. Mumpung weekend, gak liat bule bule kasih gue uang banyak? Nih?” Aisy mengibaskan uangnya saking senangnya.“Lo gak lagi kekurangan uang, Sy. Ayolah, malu jadi bahan tontonan orang.”“Udah, gak usah bawel!! Lo, diem di situ dan jaga tempat in

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 1

    "Pelan sedikit, Sayang... kamu terlalu bersemangat malam ini."“Tapi aku menyukaimu, Dokter. Ah…”" Uhm…" Suara desahan itu pecah di antara deru napas yang memburu. Di bawah temaram lampu kamar yang diset redup, Daffi mencengkeram bahu Sisi, mencoba menahan ritme gerakan wanita itu yang terasa be

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 7

    "Bu Bos yang terhormat, di sini terlalu lama bikin otak saya mendadak ngeblank. Biasa menata gelas dan piring, sekarang harus menata hati. Mana orang di sini aneh aneh, ya kan?” bisik Sisi.Tiara terkekeh dan mengangguk. “Iya.”“ Kayak kamu kan?’ sambung Tiara kemudian.Sisi yang tadinya senang de

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 8

    Sisi diam saja, memilih mengamati bagaimana Andini tampak begitu nyaman bercakap-cakap dengan Daffi. Mereka seperti pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanyalah bayangan di belakang. Andai saja mereka bukan saudara, pasti mereka sudah menjadi pasangan yang sempurna. Satu dewasa dan satunya la

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 2

    Sisi langsung berdiri dan beranjak keluar ruangan tanpa basa basi. Meninggalkan lelaki yang memilihnya, juga lelaki yang mendesaknya menjadi pasangan hidup. Dia melihat ke arah Edah yang memeluknya begitu dia keluar dari kamar. Edah menangis sesegukan, mengusap punggung Sisi perlahan. Hangat itu m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status