Share

bab 3

Author: Maey Angel
last update publish date: 2026-03-10 20:45:23

“Maaf,” ucap Daffi.

Beberapa menit sebelum akad, Daffi menemui Sisi. Meski tak boleh karena khawatir ini akan jadi jalan untuk Daffi kabur dari masalah, Daffi tak peduli.

Sisi menengok pada pria pemalu itu, lalu menendang tong sampah kecil di depannya.

“Aku gak tahu maksud kamu minta aku jadi istri kamu. Jujur, aku gak cinta sama kamu. Jangankan cinta, berharap dicintai saja tidak,” jujur Sisi.

“Aku tahu. Ada waktu untuk kamu meninggalkan tempat ini. Aku tahu, kamu terpaksa. Biarlah aku dimaki semua orang karena berdusta tentang aku yang memilihmu, biarlah aku yang menanggung ini semua.”

Sisi menengok, melihat ke arah lelaki yang terlihat tak berdaya. Ada kasihan pada lelaki baik itu, meski jujur dia sangat menyayangkan kenapa harus dia yang dia pilih.

“Kenapa ambil keputusan itu kalau nggak mikir dulu resikonya?”

“Karena aku pikir, hanya kamu yang bisa membantuku saat itu. Dengan Andini, tak mungkin. Aku sudah lama membuatnya membenciku dan sudah lama, berusaha jauh dari perasaan cinta. Aku hanya dalam tugas mengobatinya, bukan mencintainya.”

Benar. Kenyataannya memang begitu. Daffi selalu dipaksa mengalah ketika ada kesempatan berdekatan dengan Andini. Bahkan di kesempatan kali ini, tak ada celah sedikitpun dia meminta Andini bersamanya. Kenzi–Kakak Andini selalu saja mendampinginya.

“Kalau begitu, tunggu atasanku datang. Jika dia memang berniat untuk menikahkanku denganmu, memang ini suatu rencana.”

“Atasan?”

Sisi tak mengatakan dia siapa, tapi dia harap Daffi pun tau resiko menikahinya.

“Siap menikah denganku, harus siap dengan resikonya.”

Dafi mengernyit, tapi apapun resikonya akan dia hadapi jika memang Sisi berkenan mengikuti keinginannya.

**

Jantung sudah tak aman sejak dia tahu, Daffi benar benar akan menikahinya. Meski belum diresmikan secara agama, jelas ini adalah tindakan tak wajah bagi wanita yang sedang dalam tugas seperti dirinya. Sebagai Intel, apa saja bisa dia lakukan. Namun, rasanya aneh jika misi yang seharusnya melindungi agar target aman tak dinikahi, justru berakhir pada dia yang menjadi penggantinya.

“Gak usah deg degan, santai aja. Kamu cantik, Sisi.”

Tak terbiasa menggunakan kerudung, membuat Sisi merasa risih. Meski hanya diberikan gamis brokat biasa, memakai pakaian ala ala wanita anggun jelas tak membuatnya nyaman.

“Ada gak sih pakaian yang dipakai itu bisa bikin aku gak kegerahan?” gerutu Sisi.

“Ntar di kamar bisa kamu lepas, Sisi.” Andini terus mendampingi Sisi. Tak sedikit pun dia meninggalkan sahabat sekaligus karyawannya itu. Meski hatinya ada sedikit keberatan dengan keputusan ini, tapi dia pikir ini rezeki Sisi.

Semua keluarga besar berkumpul, saksi dan wali untuk Sisi sudah disiapkan. Sisi terus menghubungi Hazel, berharap atasannya itu akan membantunya.

“Ayolah, Kapten! Angkat!”

Sayang sekali, panggilan tidak diangkat. Sisi pun lemas, kala Abah mulai terlihat menjabat tangan Dafi di seberang sana. Kalimat ijab sudah diucapkan, dengan lantangnya suara Daffi terdengar.

“Saya terima nikah dan kawinnya, Aisy Rahma binti Eko Cahyadi dengan mas kawin uang tunai 2 juta seratus ribu rupiah dibayar TUNAI.”

Sisi memejamkan mata, entah sah atau tidak pernikahannya tapi nama ayah pun menjadi simbol dia sah di mata agama. Dia memberikan nama aslinya untuk Daffi sebut, bahkan nama ayahnya agar disebutkan saat ijab qabul itu dilangsungkan.

Sisi menarik napas panjang. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia masih berharap Kapten Hazel tiba-tiba muncul dan menghentikan semua ini. Namun, hingga Daffi mengulang akad dengan lancar dan para saksi menganggukkan kepala tanda sah, tak ada satu pun yang datang untuk menyelamatkannya.

"Alhamdulillah, sah!" seru seorang saksi.

Para tamu yang hadir segera mengucapkan selamat, sementara Sisi hanya berdiri kaku di tempatnya. Daffi menoleh ke arahnya, tersenyum tipis. Ada kelegaan dalam matanya, tetapi juga kebingungan karena Sisi sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia.

"Selamat, Sisi," ujar Andini sambil menggenggam tangannya.

Sisi menatap tangan Andini yang hangat, seolah ingin menyerap ketenangan darinya. Namun, hatinya masih bergejolak. Ini bukan bagian dari misinya. Ini bukan rencana awalnya.

"Jangan bilang aku nggak punya pilihan lain." Suaranya hampir tak terdengar, hanya cukup bagi Tiara untuk mendengarnya.

Andini menghela napas, lalu berbisik, "Mungkin ini memang sudah jalannya, Sisi."

Sisi menoleh ke arah Daffi yang masih berdiri di dekat penghulu, tersenyum pada para tamu yang datang memberi ucapan. Ia tampak tenang, seakan benar-benar menginginkan pernikahan ini. Sisi mengatupkan bibirnya. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah seperti ini—tanpa cinta, tanpa perasaan, hanya sebuah keputusan yang diambil di saat yang tak terduga.

**

Setelah acara selesai, Sisi berjalan ke kamar yang telah disiapkan untuknya. Di belakangnya, Andini masih menemaninya dengan raut wajah penuh simpati.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Andini, duduk di pinggiran ranjang.

Sisi melepas kerudung yang sejak tadi membuatnya gerah. Ia memijat lehernya yang terasa kaku. "Aku nggak tahu," jawabnya jujur.

Andini tersenyum kecil. "Daffi itu bukan orang jahat, Sisi. Aku tahu situasinya aneh, tapi dia bukan tipe pria yang akan menyakitimu."

Sisi mendengus. "Justru itu masalahnya. Aku nggak yakin aku bisa menyakitinya kalau keadaan mengharuskanku begitu."

Baru saja ia hendak melanjutkan ucapannya, ponselnya bergetar. Matanya melebar begitu melihat nama yang tertera di layar.

Kapten Hazel.

Tanpa berpikir dua kali, ia mengangkatnya. "Kapten!" serunya, sedikit terlalu keras hingga Tiara terkejut.

"Sisi! Selamat!”

“Nggak lucu!” ketus Sisi.

“Sory, aku sedang dalam pekerjaan. Ada musuh masuk ke negara kita. Tim kita butuh dukunganku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Panas Sang Penyamar    118

    Tery menggeleng, tapi ada tawa kecil di bibirnya. Untuk sekarang, cukup rasanya melihat Aisy pulang dengan selamat dan masih bisa bercanda. Mungkin besok, masalah baru akan datang. Tapi malam ini, mereka hanya dua sahabat yang saling menjaga di tengah dunia yang selalu tak terduga.“Katanya mau cerita?” tanya Tery setelah Aisy kenyang. “Gue curiga nih ada hal yang terjadi. Mana ada habis makan, kok sampai rumah lapar.”“Gue tadi nolongin anaknya Mbak Juwita, kakaknya bos ganteng gue. Gilang,” ucap Aisy santai.“Serius?”Aisy mengangguk. “Makanya, gak mungkin ada insiden bahaya gue diem aja. Gue juga cuma kejar tuh bule dan gue timpuk sama kamera gue. Gak ada salahnya?”“Tapi ada yang bilang lo berkelahi di sana kan?”“Gak, cuma sedikit peregangan otot saja. Gak sampai gimana gimana, ada polisi langsung datang. Cuma ya, kamera gue rusak, Te. Beliin lagi ya?” Aisy nyengir saja, menunjukan kameranya yang sudah rusak karena dia

  • Cinta Panas Sang Penyamar    117

    “Kebiasaan ya pergi jauh gak ngomong ngomong!” sungut Tery begitu melihat Aisy sudah kembali dengan wajah tanpa dosanya.“Gue gak ke mana mana, cuma makan di resto sono bentaran. Lebai amat!”“Emang gue gak tahu lo habis berkelahi tadi? Gila emang lo, gak bisa gitu ditinggal bentar. Udah bikin jantung mau copot aja.”“Jantungnya masih kan?” kekeh Aisy dan dia masuk nyelonong saja, lalu duduk di sofa empuknya.“Dari mana lo, dari mana?”Sudah bak ibu yang sedang mamarahi anaknya, tapi yang dimarahi hanya cengengesan saja dan itu membuat Tery kesal lali mencubit lengannya.“Sakit, Bu…”“Bu lagi? Wah … cari perkara.”“Hehehe, habisnya lo berisik kaya Ibu IBu. Suara lo, melewati batas harian, jadi ya … memang lebih baik lo jadi IBu ibu aja sih.”Tery menarik napas dalam dalam. Tak habis pikir dengan temannya yang dikhawatirkan itu, malah pulang tanpa dosa dengan segudang sikap yang membuatnya jengkel.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    117

    Di kantor polisi, suasana sedikit lebih tenang meski Kasih masih gemetaran dan terus memeluk Juna. Sementara itu, Bima sudah tertidur di pangkuan Gilang setelah sempat menangis keras karena ketakutan. Gilang menatap Aisy dengan kagum, masih tidak menyangka wanita itu begitu cekatan menyelamatkan Bima.Penyidikan selesai dan penculik itu dianggap salah satu oknum yang suka mengambil anak anak yang hilang arah di pantai, lalu dijadikan sandera. Gilang dianggap lalai dalam menjaga karena Bima sudah merangkak jauh dari tempat Gilang duduk dan tidak dilihatnya.Polisi selesai mencatat laporan Gilang dan menahan penculik. Polisi memberi tahu bahwa mereka akan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku."Pak, sekali lagi terima kasih," ucap Gilang kepada polisi."Iya, ini memang sudah jadi tugas kami. Hati-hati ke depannya, Pak, Bu. Kalau di tempat wisata begini memang rawan penculikan anak, pencopetan, dan semacamnya," balas polisi dengan ramah.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    116

    **“Gea, bagaimana penelusuranmu tentang orang yang kemarin saya perintahkan kamu cari tahu informasinya?” tanya Edi.“Laporan Brian, menyangkut keluarga besar … dalam informasi itu kurang baik.”“Terlibat skandal?”“Bukan, tapi seperti masa kecil Tuan Ali Zafir yang diasuh oleh orang tidak beradab dan tidak memiliki hati nurani.”“Tapi tidak ada keterlibatan dengan para mafia atau penjahat kelas kakap?”“Tidak! Mereka hanya keluarga sederhana yang pemalas. Mereka mengandalkan Sity sebagai tulang punggung lalu menyiksanya dan menjadikan dia seorang janda. Dulu pernah diasuh oleh seorang wanita yang mengaku LC di sebuah rumah Belanda. Tapi, kemudian… diadopsi oleh seorang pengusaha yang tidak lama kemudian bangkrut.”Edi mengangguk. Itu artinya benar dan dia tidak salah lagi. Siti adalah anak asuh dari pengusaha yang dia sangat kenal dan saling berhubungan dengan keluarganya . Tidak menutup kemungkinan jika DNA Sity yang

  • Cinta Panas Sang Penyamar    115

    “Jodoh memang gak jauh dari kata ‘KEBETULAN,” kekeh Aisy.“Lo gila, Sy! Sumpah, lo bener bener gila.”“Kok gila? Ini luar biasa. Kek nggak nyangka kan ketemu sama dia dan dia gak kenalian gue, tu pencapaian yang sangat luar biasa.” “Syaraf emang lo!”Aisy benar benar senang, bukan karena dia baru bertemu kekasih atau hati orang yang memikat hatinya. Namun, senang karena bertemu Gilang tapi lelaki itu tak mengenalinya. Itu adalah hal terhebat yang dia rasakan saat ini.“Kira kira, dia ke Bali ngapain ya? Apa jangan jangan dia udah punya gebetan baru? Atau tadi, anak janda pirang … eh, tapi bukan. Apa iya?” Aisy jadi bingung sendiri, dia lupa lupa ingat dengan Juna yang hanya beberapa kali ditemui, itupun tak paham jika Juna adalah anak Juwita.“Gak usah kayak orang gila deh, biasa aja. Lo seneng kan ketemu dia? Kan?”“Doorprize dan hiburan aja, Te. Lagian, gue bukan sedang ngerjain misi. Jadi, gue bebas cari tahu siapa

  • Cinta Panas Sang Penyamar    114

    “Kikiw… “Aisy bertepuk tangan heboh pada bule bule asal Rusia yang menang dalam perlombaan voli di atas pasir pantai Bali. Kehebohan Aisy menjadi daya tarik permainan itu sendiri, bahkan Tery sampai menutup wajahnya dengan topi pantai besar yang dia kenakan saking malunya.“Sy, jangan begitu ih!”“So what? Ini menyenangkan, Bestie…”Aisy kembali meneriaki yang lain, sekelompok bule yang juga masuk dalam permainan pantai yang begitu menarik. Setelah itu, dia tawarkan jasa foto dan memberikan cubitan manja di pipi mereka. Tery sampai geli sendiri dengan Aisy, kenapa jadi centil seperti itu.“Balik yuk!Q” ajak Tery.“Ck, you kenape? Ini tuh ladang duit, jangan disia-siakan. Mumpung weekend, gak liat bule bule kasih gue uang banyak? Nih?” Aisy mengibaskan uangnya saking senangnya.“Lo gak lagi kekurangan uang, Sy. Ayolah, malu jadi bahan tontonan orang.”“Udah, gak usah bawel!! Lo, diem di situ dan jaga tempat in

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 8

    Sisi diam saja, memilih mengamati bagaimana Andini tampak begitu nyaman bercakap-cakap dengan Daffi. Mereka seperti pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanyalah bayangan di belakang. Andai saja mereka bukan saudara, pasti mereka sudah menjadi pasangan yang sempurna. Satu dewasa dan satunya la

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 7

    "Bu Bos yang terhormat, di sini terlalu lama bikin otak saya mendadak ngeblank. Biasa menata gelas dan piring, sekarang harus menata hati. Mana orang di sini aneh aneh, ya kan?” bisik Sisi.Tiara terkekeh dan mengangguk. “Iya.”“ Kayak kamu kan?’ sambung Tiara kemudian.Sisi yang tadinya senang de

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 6

    Suara lemari dibuka membuat Sisi terbangun tanpa diminta. Dia menyipitkan mata, memastikan hal buruk kemarin adalah mimpi. Sialnya, dia melihat lelaki yang kemarin dinikahi ada di depannya.“Aku mau sholat subuh berjamaah di masjid. Kalau kamu mau sholat bisa ke sana bareng Andini.”“Aku sedang Men

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 5

    Daffi menelan ludah lagi sebelum perlahan mengulurkan tangannya. Ia menarik resleting dengan hati-hati, hampir tidak menyentuh kulit Sisi. Namun, tetap saja ada kehangatan samar yang terasa di ujung jarinya. Kulit putih mulus bak su su itu membuatnya harus menahan napas cukup lama.Begitu resleting

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status