FAZER LOGIN“Maaf,” ucap Daffi.
Beberapa menit sebelum akad, Daffi menemui Sisi. Meski tak boleh karena khawatir ini akan jadi jalan untuk Daffi kabur dari masalah, Daffi tak peduli. Sisi menengok pada pria pemalu itu, lalu menendang tong sampah kecil di depannya. “Aku gak tahu maksud kamu minta aku jadi istri kamu. Jujur, aku gak cinta sama kamu. Jangankan cinta, berharap dicintai saja tidak,” jujur Sisi. “Aku tahu. Ada waktu untuk kamu meninggalkan tempat ini. Aku tahu, kamu terpaksa. Biarlah aku dimaki semua orang karena berdusta tentang aku yang memilihmu, biarlah aku yang menanggung ini semua.” Sisi menengok, melihat ke arah lelaki yang terlihat tak berdaya. Ada kasihan pada lelaki baik itu, meski jujur dia sangat menyayangkan kenapa harus dia yang dia pilih. “Kenapa ambil keputusan itu kalau nggak mikir dulu resikonya?” “Karena aku pikir, hanya kamu yang bisa membantuku saat itu. Dengan Andini, tak mungkin. Aku sudah lama membuatnya membenciku dan sudah lama, berusaha jauh dari perasaan cinta. Aku hanya dalam tugas mengobatinya, bukan mencintainya.” Benar. Kenyataannya memang begitu. Daffi selalu dipaksa mengalah ketika ada kesempatan berdekatan dengan Andini. Bahkan di kesempatan kali ini, tak ada celah sedikitpun dia meminta Andini bersamanya. Kenzi–Kakak Andini selalu saja mendampinginya. “Kalau begitu, tunggu atasanku datang. Jika dia memang berniat untuk menikahkanku denganmu, memang ini suatu rencana.” “Atasan?” Sisi tak mengatakan dia siapa, tapi dia harap Daffi pun tau resiko menikahinya. “Siap menikah denganku, harus siap dengan resikonya.” Dafi mengernyit, tapi apapun resikonya akan dia hadapi jika memang Sisi berkenan mengikuti keinginannya. ** Jantung sudah tak aman sejak dia tahu, Daffi benar benar akan menikahinya. Meski belum diresmikan secara agama, jelas ini adalah tindakan tak wajah bagi wanita yang sedang dalam tugas seperti dirinya. Sebagai Intel, apa saja bisa dia lakukan. Namun, rasanya aneh jika misi yang seharusnya melindungi agar target aman tak dinikahi, justru berakhir pada dia yang menjadi penggantinya. “Gak usah deg degan, santai aja. Kamu cantik, Sisi.” Tak terbiasa menggunakan kerudung, membuat Sisi merasa risih. Meski hanya diberikan gamis brokat biasa, memakai pakaian ala ala wanita anggun jelas tak membuatnya nyaman. “Ada gak sih pakaian yang dipakai itu bisa bikin aku gak kegerahan?” gerutu Sisi. “Ntar di kamar bisa kamu lepas, Sisi.” Andini terus mendampingi Sisi. Tak sedikit pun dia meninggalkan sahabat sekaligus karyawannya itu. Meski hatinya ada sedikit keberatan dengan keputusan ini, tapi dia pikir ini rezeki Sisi. Semua keluarga besar berkumpul, saksi dan wali untuk Sisi sudah disiapkan. Sisi terus menghubungi Hazel, berharap atasannya itu akan membantunya. “Ayolah, Kapten! Angkat!” Sayang sekali, panggilan tidak diangkat. Sisi pun lemas, kala Abah mulai terlihat menjabat tangan Dafi di seberang sana. Kalimat ijab sudah diucapkan, dengan lantangnya suara Daffi terdengar. “Saya terima nikah dan kawinnya, Aisy Rahma binti Eko Cahyadi dengan mas kawin uang tunai 2 juta seratus ribu rupiah dibayar TUNAI.” Sisi memejamkan mata, entah sah atau tidak pernikahannya tapi nama ayah pun menjadi simbol dia sah di mata agama. Dia memberikan nama aslinya untuk Daffi sebut, bahkan nama ayahnya agar disebutkan saat ijab qabul itu dilangsungkan. Sisi menarik napas panjang. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia masih berharap Kapten Hazel tiba-tiba muncul dan menghentikan semua ini. Namun, hingga Daffi mengulang akad dengan lancar dan para saksi menganggukkan kepala tanda sah, tak ada satu pun yang datang untuk menyelamatkannya. "Alhamdulillah, sah!" seru seorang saksi. Para tamu yang hadir segera mengucapkan selamat, sementara Sisi hanya berdiri kaku di tempatnya. Daffi menoleh ke arahnya, tersenyum tipis. Ada kelegaan dalam matanya, tetapi juga kebingungan karena Sisi sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia. "Selamat, Sisi," ujar Andini sambil menggenggam tangannya. Sisi menatap tangan Andini yang hangat, seolah ingin menyerap ketenangan darinya. Namun, hatinya masih bergejolak. Ini bukan bagian dari misinya. Ini bukan rencana awalnya. "Jangan bilang aku nggak punya pilihan lain." Suaranya hampir tak terdengar, hanya cukup bagi Tiara untuk mendengarnya. Andini menghela napas, lalu berbisik, "Mungkin ini memang sudah jalannya, Sisi." Sisi menoleh ke arah Daffi yang masih berdiri di dekat penghulu, tersenyum pada para tamu yang datang memberi ucapan. Ia tampak tenang, seakan benar-benar menginginkan pernikahan ini. Sisi mengatupkan bibirnya. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah seperti ini—tanpa cinta, tanpa perasaan, hanya sebuah keputusan yang diambil di saat yang tak terduga. ** Setelah acara selesai, Sisi berjalan ke kamar yang telah disiapkan untuknya. Di belakangnya, Andini masih menemaninya dengan raut wajah penuh simpati. "Kamu baik-baik saja?" tanya Andini, duduk di pinggiran ranjang. Sisi melepas kerudung yang sejak tadi membuatnya gerah. Ia memijat lehernya yang terasa kaku. "Aku nggak tahu," jawabnya jujur. Andini tersenyum kecil. "Daffi itu bukan orang jahat, Sisi. Aku tahu situasinya aneh, tapi dia bukan tipe pria yang akan menyakitimu." Sisi mendengus. "Justru itu masalahnya. Aku nggak yakin aku bisa menyakitinya kalau keadaan mengharuskanku begitu." Baru saja ia hendak melanjutkan ucapannya, ponselnya bergetar. Matanya melebar begitu melihat nama yang tertera di layar. Kapten Hazel. Tanpa berpikir dua kali, ia mengangkatnya. "Kapten!" serunya, sedikit terlalu keras hingga Tiara terkejut. "Sisi! Selamat!” “Nggak lucu!” ketus Sisi. “Sory, aku sedang dalam pekerjaan. Ada musuh masuk ke negara kita. Tim kita butuh dukunganku.”“Burung siapa?”Daffi mengernyit, sedangkankan Ratmi terkekeh. “Atuh burung santri, Neng. Masa burungnya si Daffi. Ah, aya aya wae. Bibi mau balik ke pondok, Edah udah nungguin pasti itu. Tadi tak tinggal karena nyusulin si Andini sama Daffi, malah jadi kebethaan. Kamu mau ikut?” tanya Ratmi pada Andini.“Ikut, Bi.”Andini ikut dengan Ratmi, sedangkan Sisi masih berdiri di sana karena Daffi juga tak ikut pergi dengan Andini.“Kenapa gak ikut ke pondok?”“Mereka mau masak di dapur,” jawab Daffi. “Oh.”Hening, bingung mencari bahan dan topik pembicaraan. Daffi menengok dan memperhatikan Sisi yang masih terlihat kusut dengan baju yang sejak dini hari dia lihat.“Belum mandi?” tanya Daffi.Sisi mengangkat keti-aknya lalu menciu-m aroma di bajunya. Dia pun mengedikkan bahu.“Gak bau kok meski belum mandi,” ucap Sisi.“Salah satu manfaat mandi pagi adalah meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh. Cara ini dapat mencegah penyakit berbahaya, sekaligus meningkatkan kesehatan organ jantung.
Sisi yang baru selesai dari masjid pun tak menjawab, dia fokus melipat mukenanya. “Sisi,” panggil Daffi dengan sedikit meninggikan suaranya.“Cari angin, Pak Dokter. Aku tuh gak bisa tidur semalam, jadi ya … keluar bentar.”“Keluar dari jam 11 sampai pagi? Aku mencarimu, Si.”Sisi hanya diam tak menjawab, dia memilih sibuk merapikan mukena dan memasukkan ke dalam lemari. Dia juga merapikan meja rias, lalu kasur dan yang lain.“Sisi, aku akan kembali ke Karawang. Tapi gak sekarang. Abi minta beberapa hari dan kamu bersabarlah sedikit, kita akan diskusikan apa yang kamu inginkan setelah dari sini,” ucap Daffi menjelaskan.“Iya, Pak Dokter. Udah ya, gak usah jelasin kapan pulang dan jelasin apapun. Aku betah, aku kerasan, oke? Gak balik sekarang juga gak papa, aku oke. Dont worry.”Daffi tak mengerti dengan jalan pikiran Sisi. Kenapa dia bisa sesantai itu setelah membuatnya cemas setengah mati. Bahkan, dia mencermati kata kata Sisi yang seolah mengatakan ‘dia marah tapi dia tak kuasa.’
Dafi mencoba menghubungi Sisi. Sialnya, panggilan tak aktif dan tak bisa dihubungi. Sampai dini, Daffi terjaga. Dia menunggu Sisi yang tak kunjung kembali ke kamarnya. Dia bahkan sampai keluar kamar lagi jam 3 dini hari. Mencari di sekitaran pondok dan seluruh ruangan. Berharap wanita itu terlihat di tempat tempat yang dia tuju.“Gus Daffi?”Santriwati yangs tengah mengambil air wudu untuk sholat tahajud kaget melihat Daffi yang tiba tiba muncul di jalan menuju tempat wudhu. Mereka menundukan pandangan, khawatir jadi fitnah mereka bertemu di tempat wudhu wanita. Mereka juga heran, kenapa Daffi sampai mendatangi tempat yang dilarang didatangi para pria itu.“Maaf. Saya hanya mencari istri saya. Kalian melihat?”“Belum kembali, Gus?”Wanita yang tadi bertemu Sisi mendongak kaget, lalu kembali bertanya. “Belum kembali Ning Sisinya?”“Kalian tahu ke mana dia pergi?” tanya Daffi mencoba menguasai rasa penasarannya.“Tadi beliau bilang mau ke luar sebentar.”“Jam berapa pergi?”“Jam seten
Pesan dari Tery membuat Sisi tersenyum. Teman satu tim khusus yang selalu mengajak dia curhat dan membahas misi yang menegangkan itu seolah tahu situasi gabutnya.“Gak baik.”Tak lama kemudian, Tery menghubunginya lewat panggilan telepon. “Hai, Sisi.”“Gue kira lupa sama wajah teman sendiri,” gerutu Sisi saat temannya itu menyapanya ceria.“Ya elah, berat banget hidup lo. Cerita coba cerita,” kekeh Tery.“Lo di mana?”“Rumah, baru rapat di markas tadi. Ada Jenderal Edi juga datang.”“Ada masalah lagi ya?”“Mayan, sempat ada perdebatan tadi. Ya gak masalah sih, udah mulai biasa lagi. Ini gue lagi diminta Pak Aris buat ke Bogor lagi.”“Ada apa?”“Ada musuh mulai mendekat, tapi ini juga permintaan Jenderal Edi buat rolling sama anak anak di sana. Hazel lagi bikin alat baru, Dio lagi sama dia. Dibantu sama rekannya juga, entah siapa lagi. Gue nggak tanya. Gue gak kebagian misi bikin alat itu.”“Pasti seru nih ketemu banyak anak anak lain. Coba bujukin Kapten Hazel, peran gue diganti aj
Daffi melirik pada Ustad Yahya yang tersenyum. Dia memang memilih banyak istri, salah satunya Aisyah–mantan istri Kenzi yang merupakan kakak Andini. “Satu atau dua, kalau adil ya nggak apa apa,” ustadz Ibnu menanggapi.Wajah Daffi mendadak tegang, lebih jelasnya dia kesal dengan sanggahan ayahnya. Dia pun memilih berdiri lalu izin pamit pergi dari sana. Sisi tadinya hendak berdiri dan ikut, tapi Andini sudah lebih dulu berdiri dan menyusul Daffi. Dia pun urung dan akhirnya duduk di sisi Umi Rodiah. Cukup lama Daffi tak kembali, membuat Sisi jadi ikut tak tenang. Dia pun berbisik pada Umi Rodiah, meminta izin untuk menyusul suaminya.“Iya, sekalian panggil suamimu. Pak Kyai sama anak anaknya mau pamit katanya.”Sisi mengangguk, lalu berdiri dan menyusul Daffi. Dia mencari lelaki itu ke kamar, tapi tak ada. Dia pun bertanya pada Edah dan Ratmi yang ada di dapur, mereka juga tak tahu.“Tadi bukannya di depan?” tanya Edah.“Tadi ke belakang, aku kira ke sini.”“Coba Emak cari,” ucap Ed
“Itu di depan ada tamu. Kamu temani Daffi saja, Nduk,” ucap Edah saat sore Sisi menyusul Edah ke dapur ndalem.“Tamu siapa, Mak?” tanya Sisi penasaran.“ADa dari Jombang, keluarga Abah. Mau kenalan mungkin,” jawab Edah dengan ramah. Sisi mengangguk, hendak membantu sebisanya apa yang dilakukan mertuanya itu. Di belakangnya, Alifah sedang menata teh. “Umi, menantunya yang ini kok yang duduk di depan yang satunya lagi?” sindir Alifah.Sisi menengok sengit pada gadis yang sejak kemarin mencari masalah dengannya. Entah kenapa dia jadi tidak suka dengan santri yang satu itu. “Ya daripada sama situ, mana mau suamiku mau. Ya kan, Mak?” ketus Sisi.Edah tersenyum dan mengusap pundak menentunya. “Udah, ini bawa ke depan. Sekalian temani suamimu. Nggak usah diladeni.”“Habisnya, masih santri aja belagu,” gerutu Sisi.“Sabar.”Sisi mengangguk dan membawa nampan berisi camilan. Alifah juga membawa nampan berisi minuman. Sebagai santri senior, kadang perilakunya terlewat berkuasa sehingga Sisi







