LOGINDaffi menelan ludah lagi sebelum perlahan mengulurkan tangannya. Ia menarik resleting dengan hati-hati, hampir tidak menyentuh kulit Sisi. Namun, tetap saja ada kehangatan samar yang terasa di ujung jarinya. Kulit putih mulus bak su su itu membuatnya harus menahan napas cukup lama.
Begitu resleting terbuka separuh, ia langsung mundur cepat-cepat. “Udah.” Sisi menoleh, menatapnya dengan alis terangkat. “Cepat amat?” “Ya, biar cepat selesai.” Daffi buru-buru memalingkan wajah. Ia benar-benar harus keluar dari kamar ini sebelum suasana semakin canggung. “Aku mau keluar dulu, silahkan mau ganti baju.” Sisi tertawa kecil, tapi tak berkata apa-apa lagi. Daffi pun cepat-cepat melangkah ke luar kamar, menutup pintu di belakangnya dengan sedikit terlalu keras. Sisi sampai harus menarik napas panjang, tentu karena melihat Dafi, dia merasa ada yang berbeda. Padahal, dulu sering ketemu di kedai dia merasa biasa saja. Sisi menggeleng pelan sebelum akhirnya melepas gaunnya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Setelah selesai, ia keluar dari kamar dan mendapati Daffi duduk di kursi teras bersama Kenzi. “Andini mana?” tanya Sisi. “Udah istirahat tadi,” jawab Kenzi. “Kalian juga istirahat. Besok, kita akan kembali.” “Aku juga,” ucap Sisi. “Kita mungkin akan beberapa hari, Abah tadi bilang … mau ke makan Umi Siti,”ucap Daffi. “Ck!” Sisi langsung berbalik dan menutup pintu dengan kasar, Daffi menarik napas dalam dalam dan menatap langit kamar. “Nanti aku bilang pada Andini, semoga dia mau di sini dulu.” KEnzi menepuk pundak Daffi. “Masih ada beberapa minggu sebelum pengasingan selesai. Aku mengizinkan dia di sini sama kalian. Nggak papa,” ucap Kenzi. “Benarkah ?” tanya Daffi. “Ya.” Kenzi melirik sebentar sebelum kembali menatap langit. “Aku sangatlah sibuk akhir akhir ini, tak bisa tinggalkan pekerjaan terlalu lama. Andai bisa aku bawa sekarang juga, Andini sudah aku bawa. Jadi, aku masih menitipkan dia padamu.” “Tak masalah.” “Terimakasih sudah menjaga mereka untukku, terimakasih untuk semua kebaikan yang kamu berikan pada adikku. Semoga, perlahan ketergantungan dengan adanya kamu bisa perlahan dihindari karena setiap perkataan Andini, ada nama kamu sebagai sumber kebahagiaan dia selama ini.” “Sama sama, aku hanya menjalankan peranku saja. Semua sudah diatur yang Di Atas.” Daffi menarik napas dalam dalam, berat. Ini memang berat, tapi jika dia mengakui sama sama mencintai Tiara, semua akan sangat rumit. Mustahil juga akan bersama karena sekarang, dia dan Sisi sudah menikah. ** Malam semakin larut, angin mulai berhembus lebih dingin. Sisi mengusap lengannya, merasa sedikit kedinginan. Daffi baru saja kembali setelah cukup lama di luar. Bahkan, jam sudah menunjukan tengah malam. Daffi mengambil sarung dan bantal, hendak tidur di lantai. Di kamar tamu ini tak ada sofa sehingga Daffi tak punya alternatif lain selain tidur di lantai. Dia menghargai Sisi yang belum sepenuhnya menerimanya. “Aku gak bisa tidur,” keluh Sisi, berganti posisi di sebelah kiri. “Sini aja bisa nggak?” Daffi menengok, memikirkan hal yang mungkin saja akan dia rasakan jika tidur satu ranjang dengan Sisi. “Apa kamu lelah hari ini sampai tak bisa tidur?” tanya Daffi penasaran. “Ya, mungkin. Selain lelah fisik, mungkin lelah pikiran. Siapa yang gak lelah semuanya, ini kayak mimpi. Bisa nggak, geser ke sini? Aku gak enak kamu tidur di sana, dikira aku zalim sama suami. Ntar Abi kamu ngamuk, bilang aku istri yang ahli neraka. Udah, di sini aja, gak bakalan aku ikut juga.” Daffi terbengong cukup lama, membuat Sisi akhirnya turun dan menyeret lelaki itu agar mau pindah ke atas. “Iya, aku bisa sendiri,” lirih Daffi yang tak enak jika Sisi memaksanya. “Jadi laki itu jangan lamban sih. Maaf ya Pak Dokter, aku begini karena aku tuh bukan ahli surga yang bisa berbaik hati kapan saja tapi aku cuma kasihan. Nih, bantal guling sebagai batas ya. Janji gak melewati batas akunya. Catat itu!” Daffi hanya mengangguk, membiarkan wanita itu sibuk menata bantal dan guling. Memunggunginya dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Dia pikir, Sisi akan memanfaatkan momen berdua ini untuk negosiasi malam pertama. Bersyukur, apa yang dia khawatirkan pun tidak terjadi dan Sisi benar benar wanita yang bisa diajak kerjasama. Terlepas dari cara dia berbicara yang mendadak jadi ketus dan galak, tidak seperti biasanya yang kalem dan diam saja saat beberapa kali dia bertemu dan berkunjung ke kedai Tiara.“Andai itu Ayah, sudah dipastikan dia akan selalu melindungiku di mana pun berada,” batin Sisi dengan penuh rasa syukur karena ayah angkatnya itu bukan orang sembarangan yang bisa menyamar dan bersikap seolah dia adalah rakyat jelata. Hanya orang orang tertentu yang bisa melakukan penyamaran itu dan setengah yakin, SIsi mengira itu adalah Edi.Pulang ke rumah susun, Sisi melihat Hanum yang sudah pulas. Ada rasa tak tega juga melihat wanita itu tidur sendirian tanpa anak dan suaminya. Namun, tugas ini tak akan selamanya. Sisi yakin, Hirosy dan anak anaknya akan menjemput.Sisi mandi setelah badan terasa lengket. Jam 1 dini hari SIsi baru siap untuk mandi. Namun, dia sempatkan duduk di balkon rumah dan melihat ke arah parkiran rumah susun di bawah sana. Ada sebuah mobil yang terlihat sangat aneh. Sisi berdiri dan segera mengambil teropong kecil miliknya. Khawatir ada yang diam diam membuntutinya.“Itu_”Sisi bangkit dan segera tu
Perhitungan Sisi buka usaha di Bogor sepertinya salah. Omset yang didapatkan tidak sebesar saat di Jakarta. Dia pun hanya bisa menyimpan sisa modal untuk memutar dan membayar sewa, selebihnya dia seperti para kaum menengah ke bawah yang kekurangan biaya.Sisi harus memastikan kebutuhan Hanum tercukupi. Dia menolak Hanum ikut berjualan karena tak ingin terlalu lelah. Lokasi jualan dan juga rumah yang tidak begitu dekat membuat Sisi hanya memperbolehkan Hanum menemaninya saat menata dagangan saja. “Mrs pulang dulu gak papa.”“Kamu ini, malam ini aku ingin menmani kamu. Boleh ‘kan?”“Pulang aja, Mrs. Nggak baik terlalu memaksakan, sudah tua harus jaga kesehatan.”Hanum mencubit pelan tangan Sisi dengan gemas, lalu diantar pulang oleh ojek langganan. Udara bogor begitu dingin. Sisi mendapatkan beberapa pembeli meski jualan nya masih tersisa separuhnya. Sisi melihat jalanan sudah sepi, lalu berkemas unt
Setelah belanja, dia langsung pulang ke rumah susun, berharap Hanum tidak bertanya macam-macam tentang aksinya tadi. Namun, begitu pintu terbuka, Hanum sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap."Kamu tadi belanjanya ke pasar mana?" tanyanya dengan nada curiga."Pasar pagi, Mrs. Biasa, memangnya kenapa? Aku bawa belanjaannya kok," jawab Sisi cepat.Hanum menyipitkan mata. "Masalahnya ini sudah jam 10, Sy. Aku khawatir kalau kamu belum balik. Sebelum ke pasar, kamu ke mana?"Sisi menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ehm… gak ke mana mana lah, cuman tadi papasan sama kawalan jenderal atau apa mungkin. Kebetulan lewat di depanku. Penasaran, aku ikuti lah sampai rumahnya. Udah, gitu aja."Hanum mendesah. "Rumah siapa?"Sisi mengalihkan pandangan. "Rumah siapa, entah. Aku gak kenal..."Hanum langsung menepuk dahinya. "Ya Allah, Sisi! Jangan sampai kamu begini lagi. Aku sanga
**Pagi hari, Sisi pun menyewa mobil pick up. DIa membawa gerobak jualannya dan mengangkut semua isi rumah kontrakan menuju ke bogor. Beruntung rumah itu hanya dikontrak, bukan dibeli sehingga saat dia pergi tak kepikiran harus kembali. Sisi naik ke atas bak pick up, lalu meminta supir untuk melaju sekarang juga. Begitu mobil sudah berjalan, dia melihat Daffi yang ada di dalam mobil dengan Sisi. Dia yang sudah lega dan tak ada ikatan pun tersenyum, lalu memalingkan wajah agar tidak kelihatan oleh keduanya.“Aku tak sakit hati. Aku akan bahagia dan senang kalau Dokter bahagia dengan pilihan Dokter yang sekarang ini.”Sisi mensugesti dirinya dan sendiri dan dia pun tak akan mau lagi mendengar kabar apapun tentang Daffi. Dia akan memulai kehidupan baru menjadi sosok laki laki yang mungkin akan seperti itu sampai keluarga Hiroshi baik baik saja.Begitu sampai, Sisi pun menurunkan barangnya. Kali ini, mereka menyewa
“Dokter, katakan sekarang atau suster di luar sana akan masuk karena mengira Dokter sedang kesulitan menanganiku,” desak Sisi.“Sisi, aku tak bisa mengatakannya, aku…”“Jangan bilang cinta, Dokter. Kamu bahkan menikahiku tanpa cinta, mudah saja bukan? Katakan atau aku akan sangat membenci Dokter. Katakan!”Kali ini Sisi sudah tak sabar, dia menampakkan wajah marahnya karena Daffi terlihat memperlama ucapannya.“Tidak!” ucap Daffi.“Oke, kalau begitu aku akan kirimkan rekaman percakapan Dokter dengan istri baru DOkter jika Dokter menikahi dia karena gimmick. Dan Dokter tahu apa yang akan Dokter dapatkan? EMak mungkin marah dan ABi, mungkin akan_”“Baiklah! Baiklah kalau ini maumu. Aku menalakmu, Aisy Rahmah. Sekarang, haram bagi ku menyentuhmu.” Daffi mengatakan itu dengan tangan yang mengepal. Di saat dia sudah kehilangan Andini, dia juga sudah kehilangan Sisi. Harapannya entah apa sekarang ini, yan
Sisi membuka mata, meraih tangan Daffi. “Dokter, saya takut jarum suntik. Apa boleh dirawat Dokter saja?”Sengaja begitu agar nanti ada ruang di mana dia dan Daffi bisa bicara berdua. “Mas tenang saja. Kami akan memberikan pelayanan dengan baik. Dr Daffi ada praktik lain dan_”“Kalau bukan dia, saya tidak mau. Dia yang menabrak saya,” tegas Sisi pada Dokter yang ada di sana juga.“Sudah Dokter Anwar, pasien ini saya yang urus. Dia begini karena saya buru buru tadi.”Dokter tersebut mengalah dan membiarkan Daffi yang memeriksa. Begitu masuk ruang gawat darurat, Sisi pun kembali membuka mata. Daffi membuka kaki dan lengan Sisi, tapi Sisi mencegah tangannya.“Saya malu ada banyak cewek cewek di sini. Bisakah Dokter saja tanpa mereka?” tanya Sisi.“Ish, banyak maunya,” bisik salah satu perawat di sana.Sisi tak pedulikan hal itu. Yang dia pikirkan hanyalah punya waktu bicara
“Dengan atau tidaknya keridhoan itu, aku tetaplah aku yang tidak akan bisa diam kala melihat hal ahat ada di depan mata. Tak peduli dulunya pernah dekat atau menjalin hubungan, jadi jangan sampai berkeinginan lebih padaku.”“Sisi, jangan salah paham. Aku bukan melarangmu, tapi aku h
“Kok kapten malah kasih tahu dia buat ke sini?” tanya Ash pada Hazel yang malah menghubungi Daffi.“Kita lihat, seberapa panik dia melihat istrinya seperti ini. Takutnya, Sisi udah menaruh harapan dengan pernikahan dadakan itu, tapi Daffi hanya mempermainkannya. Kita lihat, apa dia akan cemas ata
“Gimana keadaannya?” tanya Hazel.“Lukanya cukup serius, 50% wajahnya tak bisa dikembalikan seperti semula. Harus ada jahitan yang akan bikin wajah dia cacat. Cara satu satunya, operasi plastik. Itupun tunggu dia pulih, tangan dan kakinya cedera.”Sisi sendiri dit
Atta melangkah maju, hingga jaraknya dengan Nurhasan semakin dekat. “Kau ingin bicara soal darah? Baiklah, aku memang bukan kakak kandungnya, tapi aku yang selalu ada untuknya. Aku yang memastikan dia tidak merasa sendirian. Aku yang melindunginya dari orang-orang yang ingin mengontrol hidupnya t







