MasukSetelah belanja, dia langsung pulang ke rumah susun, berharap Hanum tidak bertanya macam-macam tentang aksinya tadi. Namun, begitu pintu terbuka, Hanum sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap."Kamu tadi belanjanya ke pasar mana?" tanyanya dengan nada curiga."Pasar pagi, Mrs. Biasa, memangnya kenapa? Aku bawa belanjaannya kok," jawab Sisi cepat.Hanum menyipitkan mata. "Masalahnya ini sudah jam 10, Sy. Aku khawatir kalau kamu belum balik. Sebelum ke pasar, kamu ke mana?"Sisi menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ehm… gak ke mana mana lah, cuman tadi papasan sama kawalan jenderal atau apa mungkin. Kebetulan lewat di depanku. Penasaran, aku ikuti lah sampai rumahnya. Udah, gitu aja."Hanum mendesah. "Rumah siapa?"Sisi mengalihkan pandangan. "Rumah siapa, entah. Aku gak kenal..."Hanum langsung menepuk dahinya. "Ya Allah, Sisi! Jangan sampai kamu begini lagi. Aku sanga
**Pagi hari, Sisi pun menyewa mobil pick up. DIa membawa gerobak jualannya dan mengangkut semua isi rumah kontrakan menuju ke bogor. Beruntung rumah itu hanya dikontrak, bukan dibeli sehingga saat dia pergi tak kepikiran harus kembali. Sisi naik ke atas bak pick up, lalu meminta supir untuk melaju sekarang juga. Begitu mobil sudah berjalan, dia melihat Daffi yang ada di dalam mobil dengan Sisi. Dia yang sudah lega dan tak ada ikatan pun tersenyum, lalu memalingkan wajah agar tidak kelihatan oleh keduanya.“Aku tak sakit hati. Aku akan bahagia dan senang kalau Dokter bahagia dengan pilihan Dokter yang sekarang ini.”Sisi mensugesti dirinya dan sendiri dan dia pun tak akan mau lagi mendengar kabar apapun tentang Daffi. Dia akan memulai kehidupan baru menjadi sosok laki laki yang mungkin akan seperti itu sampai keluarga Hiroshi baik baik saja.Begitu sampai, Sisi pun menurunkan barangnya. Kali ini, mereka menyewa
“Dokter, katakan sekarang atau suster di luar sana akan masuk karena mengira Dokter sedang kesulitan menanganiku,” desak Sisi.“Sisi, aku tak bisa mengatakannya, aku…”“Jangan bilang cinta, Dokter. Kamu bahkan menikahiku tanpa cinta, mudah saja bukan? Katakan atau aku akan sangat membenci Dokter. Katakan!”Kali ini Sisi sudah tak sabar, dia menampakkan wajah marahnya karena Daffi terlihat memperlama ucapannya.“Tidak!” ucap Daffi.“Oke, kalau begitu aku akan kirimkan rekaman percakapan Dokter dengan istri baru DOkter jika Dokter menikahi dia karena gimmick. Dan Dokter tahu apa yang akan Dokter dapatkan? EMak mungkin marah dan ABi, mungkin akan_”“Baiklah! Baiklah kalau ini maumu. Aku menalakmu, Aisy Rahmah. Sekarang, haram bagi ku menyentuhmu.” Daffi mengatakan itu dengan tangan yang mengepal. Di saat dia sudah kehilangan Andini, dia juga sudah kehilangan Sisi. Harapannya entah apa sekarang ini, yan
Sisi membuka mata, meraih tangan Daffi. “Dokter, saya takut jarum suntik. Apa boleh dirawat Dokter saja?”Sengaja begitu agar nanti ada ruang di mana dia dan Daffi bisa bicara berdua. “Mas tenang saja. Kami akan memberikan pelayanan dengan baik. Dr Daffi ada praktik lain dan_”“Kalau bukan dia, saya tidak mau. Dia yang menabrak saya,” tegas Sisi pada Dokter yang ada di sana juga.“Sudah Dokter Anwar, pasien ini saya yang urus. Dia begini karena saya buru buru tadi.”Dokter tersebut mengalah dan membiarkan Daffi yang memeriksa. Begitu masuk ruang gawat darurat, Sisi pun kembali membuka mata. Daffi membuka kaki dan lengan Sisi, tapi Sisi mencegah tangannya.“Saya malu ada banyak cewek cewek di sini. Bisakah Dokter saja tanpa mereka?” tanya Sisi.“Ish, banyak maunya,” bisik salah satu perawat di sana.Sisi tak pedulikan hal itu. Yang dia pikirkan hanyalah punya waktu bicara
Hari berganti bulan, masih belum ada kabar dari Zio dan Glen. Semua benar benar senyap dan Sisi pun sudah mulai terbiasa dengan aktivitasnya. Daffi dan Ainah juga terlihat jarang muncul dan Sisi jadi semakin penasaran dengan kehidupan mereka.“Tabungan bulan ini banyak, Mrs,” ucap Sisi saat pulang ke rumah kontrakan mereka. “Kamu mau beli apa, Nak? Beli saja. Aku gak usah.”“Serius, Mrs?”“Ya. Beli saja apa yang kamu butuhkan.”“Mobil?”“Mobil? Memangnya cukup?”Sisi tersenyum dan menggeleng. Mana mungkin uang yang hanya puluhan juta itu cukup. Dia pun kepikiran tentang usaha Hazel di bidang teknologi yang menjual CCTV rahasia secara mengglobal. Dia membeli ponsel baru, lalu menghubungi customer service perusahaan itu untuk membeli kamera tersembunyi yang harganya bisa dicicil tiap bulan.“Ini barang mahal, harus berguna pastinya,” ucap Sisi saat mendapatkan barang ajaib
**Pagi hari dengan aktivitas yang sama, Sisi bersiap membuat dagangan bubur. Hanum ke pasar pun dia kawal karena tugasnya memang menjaga wanita itu. Selama dalam perasingan, tak ada komuniaksi dan kabar smeentara waktu dari keluarga Hirosy karena semua sudah diatur oleh Glen.“Ini apa, Mrs?” tanya Sisi.“Kalau lihat jamur enoki, ingat sama Zio. Bagaimana kabar mereka ya?”“Pastinya baik baik saja.”Saat berjalan hendak pulang, tak sengaja Sisi berpapasan dengan lelaki yang selama ini mengenalnya sebagai pengawal Andini–Kenzi. “Maaf,” ucap Kenzi.“Tak masalah,” jawab Sisi yang langsung mengambil beberapa kantong belanjaan yang berserakan, Kenzi membantunya. Mata mereka bertemu, Sisi pun berusaha agar tidak gugup.“Sekali lagi saya minta maaf,” ucap Kenzi yang terlihat tak enak.“Tidak apa, Mas. Namanya gak sengaja, pasti dimaafkan. Mau belanja atau sudah?”
Jangankan sakit hati, jatuh cinta saja Sisi tak pernah ingin tahu rasanya. Dia khawatir kecewa jika jatuh cinta karena sadar selama ini hidupnya selalu dalam bahaya. Pagi itu, Daffi menemui Sisi yang sedang berkemas. Andini juga sudah mengatakan akan ikut ke Karawang. Hal inilah ya
“Jangan jadikan aku sandungan keinginanmu, Pak Dokter. Santai saja, aku aja santai, kok. Jam berapa kita balik?”Dafi tak menjawab. Dia terlihat kesal, tapi tak bisa berbuat apa apa. Inginnya dia juga besok kembali, tapi Ayahnya meminta rundingan kembali tentang resepsi dan dia menolak
“Jadi gimana, Kapten?”Hening membuat Ash dan Sisi saling tengok, menunggu perintah penyerangan. “AKu akan minta tim Garuda yang akan bereskan. Kalian kembali ke posisi masing masing. Sepertinya ini tidak ada sangkut pautnya dengan Andini.”“Ah!” Sisi mendesah sedangkan Ash terkekeh melihat Sisi k
“Rahasia,” jawab Ashi.“Pelit amat, kayak nggak biasanya gue tahu semua misi kalian.”Ashi diam, tapi gas di tangannya dia tarik kencang sampai kecepatan tidak bisa membuat Sisi lagi bertanya. Matanya fokus pada jalanan yang lengang karena ini sudah hampir siang. Motor berbelok ke arah tempat renta







