MasukSisi diam saja, memilih mengamati bagaimana Andini tampak begitu nyaman bercakap-cakap dengan Daffi. Mereka seperti pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanyalah bayangan di belakang. Andai saja mereka bukan saudara, pasti mereka sudah menjadi pasangan yang sempurna. Satu dewasa dan satunya lagi bak anak gadis yang sedang ranum ranumnya.
Setibanya di Jembatan Suramadu, angin laut yang berhembus cukup kencang membuat Sisi menggigil kecil. Dia merapatkan dekapan tangannya di depan dada, seraya menikmati bagaimana pemandangan senja saat ini. “Kamu kedinginan?” tanya Daffi tiba-tiba, menoleh ke belakang. Sisi buru-buru menggeleng. “Enggak, kok.” Andini menarik lengan Daffi. “Ayo kita ke tepi sebentar, Aa. Aku mau foto-foto.” Daffi menoleh ke Sisi. “Kamu nggak ikut?” Sisi menggeleng lagi. “Aku di sini saja.” “Yakin gak ikut? Ikut ah, gak enak sendirian,” ajak Andini tampak tidak enak jika berdua saja. “Ayo, ikut saja. Bertiga bukan hal buruk untuk mengenang memori langka suatu saat nanti,” ucap Daffi. “Gak usah, aku di sini saja. Jaga jaga,” balas Sisi yang tetap tak mau diajak pergi. “Ya sudah, ayo, A!” Andini langsung menarik Daffi menjauh. Sisi menarik napas panjang, lalu duduk di bangku yang tersedia di sekitar area parkir. Hatinya terasa sedikit berbeda. Ia tidak mengerti kenapa dirinya harus berada di posisi seperti ini. Toh, sejak awal dia memang tidak memiliki hubungan apapun. Namun, tak lama kemudian, Daffi kembali ke arahnya seorang diri, membawa dua cup kopi hangat. “Minum ini, biar nggak kedinginan.” Sisi menatap kopi yang diberikan Daffi, lalu menatap pria itu. “Aku nggak pesan kopi, loh.” “Aku tahu. Andini yang memintanya. Terimalah,” ucap Daffi. Sisi tersenyum pada Tiara yang menyapanya dari jauh. Meski ragu sejenak, tetapi akhirnya menerima kopi tersebut. Ia menyeruputnya perlahan, menikmati sensasi hangat yang mengalir di tenggorokannya. Dia ikut membalas lambaian tangan Andini yang tersenyum ke arah mereka. “Apa kamu menyesal ikut ke sini?” tanya Daffi tiba-tiba. Sisi menatapnya. “Kenapa nanya begitu?” “Karena takutnya nggak nyaman.” Sisi tersenyum kecil. “Nggak, aku baik-baik saja.” “Oke, aku akan katakan pada Andini. Dia terlalu mengkhawatirkan kamu. Kenapa nggak ikut saja? Kasihan dia.” Sisi terdiam. Ia tidak menyangka Daffi akan mengatakan hal seperti itu. Tapi, dia pun akhirnya memutuskan tersenyum dan mengangguk. “Yee, akhirnya bisa foto bertiga. Ciss…” ucap Tiara bahagia saat Sisi ikut berfoto bersama. “Fotoin berdua, Si,” ucap Andini meminta Sisi memfoto Daffi dan Andini. “Oh, ok.” Sisi berusaha biasa, memfoto mereka lalu kembali memberikan potret setelah selesai. “Kayaknya udah mau masuk waktu sholat. Apa nggak sebaiknya balik?” tanya Sisi berusaha kalem. "Padahal masih pengin di Sini." "Kapan kapan ke sini lagi ya." Daffi menengok pada Andini dan mengusap kepalanya pelan. “Aku juga nggak mau kamu sakit, Ndin. Ayo pulang.” Sisi menunduk, merasa aneh dengan pemandangan ini. “Baiklah, ayo balik!” Andini akhirnya merangkul Sisi dan menepis tangan Daffi. Sisi pun tersenyum dan mensejajarai langkah ANdini. Daffi mengikuti dari belakang dan bersikap seperti tidak ada apa apa dengan apa yang dilakukannya saat ini. Pernikahan yang tak pernah diharap mana mungkin sejalan, pikir Sisi. Tapi dari tatapan Dafi, Sisi bisa melihat cinta yang terkubur. Cinta yang tulus. Tidak seperti ketika menatapnya“Andai itu Ayah, sudah dipastikan dia akan selalu melindungiku di mana pun berada,” batin Sisi dengan penuh rasa syukur karena ayah angkatnya itu bukan orang sembarangan yang bisa menyamar dan bersikap seolah dia adalah rakyat jelata. Hanya orang orang tertentu yang bisa melakukan penyamaran itu dan setengah yakin, SIsi mengira itu adalah Edi.Pulang ke rumah susun, Sisi melihat Hanum yang sudah pulas. Ada rasa tak tega juga melihat wanita itu tidur sendirian tanpa anak dan suaminya. Namun, tugas ini tak akan selamanya. Sisi yakin, Hirosy dan anak anaknya akan menjemput.Sisi mandi setelah badan terasa lengket. Jam 1 dini hari SIsi baru siap untuk mandi. Namun, dia sempatkan duduk di balkon rumah dan melihat ke arah parkiran rumah susun di bawah sana. Ada sebuah mobil yang terlihat sangat aneh. Sisi berdiri dan segera mengambil teropong kecil miliknya. Khawatir ada yang diam diam membuntutinya.“Itu_”Sisi bangkit dan segera tu
Perhitungan Sisi buka usaha di Bogor sepertinya salah. Omset yang didapatkan tidak sebesar saat di Jakarta. Dia pun hanya bisa menyimpan sisa modal untuk memutar dan membayar sewa, selebihnya dia seperti para kaum menengah ke bawah yang kekurangan biaya.Sisi harus memastikan kebutuhan Hanum tercukupi. Dia menolak Hanum ikut berjualan karena tak ingin terlalu lelah. Lokasi jualan dan juga rumah yang tidak begitu dekat membuat Sisi hanya memperbolehkan Hanum menemaninya saat menata dagangan saja. “Mrs pulang dulu gak papa.”“Kamu ini, malam ini aku ingin menmani kamu. Boleh ‘kan?”“Pulang aja, Mrs. Nggak baik terlalu memaksakan, sudah tua harus jaga kesehatan.”Hanum mencubit pelan tangan Sisi dengan gemas, lalu diantar pulang oleh ojek langganan. Udara bogor begitu dingin. Sisi mendapatkan beberapa pembeli meski jualan nya masih tersisa separuhnya. Sisi melihat jalanan sudah sepi, lalu berkemas unt
Setelah belanja, dia langsung pulang ke rumah susun, berharap Hanum tidak bertanya macam-macam tentang aksinya tadi. Namun, begitu pintu terbuka, Hanum sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap."Kamu tadi belanjanya ke pasar mana?" tanyanya dengan nada curiga."Pasar pagi, Mrs. Biasa, memangnya kenapa? Aku bawa belanjaannya kok," jawab Sisi cepat.Hanum menyipitkan mata. "Masalahnya ini sudah jam 10, Sy. Aku khawatir kalau kamu belum balik. Sebelum ke pasar, kamu ke mana?"Sisi menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ehm… gak ke mana mana lah, cuman tadi papasan sama kawalan jenderal atau apa mungkin. Kebetulan lewat di depanku. Penasaran, aku ikuti lah sampai rumahnya. Udah, gitu aja."Hanum mendesah. "Rumah siapa?"Sisi mengalihkan pandangan. "Rumah siapa, entah. Aku gak kenal..."Hanum langsung menepuk dahinya. "Ya Allah, Sisi! Jangan sampai kamu begini lagi. Aku sanga
**Pagi hari, Sisi pun menyewa mobil pick up. DIa membawa gerobak jualannya dan mengangkut semua isi rumah kontrakan menuju ke bogor. Beruntung rumah itu hanya dikontrak, bukan dibeli sehingga saat dia pergi tak kepikiran harus kembali. Sisi naik ke atas bak pick up, lalu meminta supir untuk melaju sekarang juga. Begitu mobil sudah berjalan, dia melihat Daffi yang ada di dalam mobil dengan Sisi. Dia yang sudah lega dan tak ada ikatan pun tersenyum, lalu memalingkan wajah agar tidak kelihatan oleh keduanya.“Aku tak sakit hati. Aku akan bahagia dan senang kalau Dokter bahagia dengan pilihan Dokter yang sekarang ini.”Sisi mensugesti dirinya dan sendiri dan dia pun tak akan mau lagi mendengar kabar apapun tentang Daffi. Dia akan memulai kehidupan baru menjadi sosok laki laki yang mungkin akan seperti itu sampai keluarga Hiroshi baik baik saja.Begitu sampai, Sisi pun menurunkan barangnya. Kali ini, mereka menyewa
“Dokter, katakan sekarang atau suster di luar sana akan masuk karena mengira Dokter sedang kesulitan menanganiku,” desak Sisi.“Sisi, aku tak bisa mengatakannya, aku…”“Jangan bilang cinta, Dokter. Kamu bahkan menikahiku tanpa cinta, mudah saja bukan? Katakan atau aku akan sangat membenci Dokter. Katakan!”Kali ini Sisi sudah tak sabar, dia menampakkan wajah marahnya karena Daffi terlihat memperlama ucapannya.“Tidak!” ucap Daffi.“Oke, kalau begitu aku akan kirimkan rekaman percakapan Dokter dengan istri baru DOkter jika Dokter menikahi dia karena gimmick. Dan Dokter tahu apa yang akan Dokter dapatkan? EMak mungkin marah dan ABi, mungkin akan_”“Baiklah! Baiklah kalau ini maumu. Aku menalakmu, Aisy Rahmah. Sekarang, haram bagi ku menyentuhmu.” Daffi mengatakan itu dengan tangan yang mengepal. Di saat dia sudah kehilangan Andini, dia juga sudah kehilangan Sisi. Harapannya entah apa sekarang ini, yan
Sisi membuka mata, meraih tangan Daffi. “Dokter, saya takut jarum suntik. Apa boleh dirawat Dokter saja?”Sengaja begitu agar nanti ada ruang di mana dia dan Daffi bisa bicara berdua. “Mas tenang saja. Kami akan memberikan pelayanan dengan baik. Dr Daffi ada praktik lain dan_”“Kalau bukan dia, saya tidak mau. Dia yang menabrak saya,” tegas Sisi pada Dokter yang ada di sana juga.“Sudah Dokter Anwar, pasien ini saya yang urus. Dia begini karena saya buru buru tadi.”Dokter tersebut mengalah dan membiarkan Daffi yang memeriksa. Begitu masuk ruang gawat darurat, Sisi pun kembali membuka mata. Daffi membuka kaki dan lengan Sisi, tapi Sisi mencegah tangannya.“Saya malu ada banyak cewek cewek di sini. Bisakah Dokter saja tanpa mereka?” tanya Sisi.“Ish, banyak maunya,” bisik salah satu perawat di sana.Sisi tak pedulikan hal itu. Yang dia pikirkan hanyalah punya waktu bicara
Jenderal Edi menarik napas panjang. “Saya minta maaf kalau ini mengejutkanmu, Daffi. Tapi, saya ingin kamu tahu… Sisi butuh seseorang di sisinya. Bukan untuk dilindungi, tapi untuk menjadi rumah tempat dia bisa kembali. Saya tunggu kamu untuk membereskan semuanya dan perlu kamu ketahui, menikahi
Sisi menunduk, dia sendiri bingung dengan pilihan nya. Namun, dia merasa belum bisa mencintai Dafi layaknya suami sendiri. Dia hanya melihat Dafi sebagai Dokter yang selama ini mengobati Andini, sekaligus orang yang paling dekat dengan Andini,“Ya sudah, kalau kalian masih ragu. Nam
Tery tertawa kecil, tapi ada keseriusan di dalamnya. “Justru dia nggak meninggalkan apa-apa, Mas Dokter. Dia cuma kembali ke tempatnya. Lagian, yang salah dari awal itu siapa? Sisi? Atau situ?”Daffi terdiam. Kata-kata itu menamparnya dengan keras.Benar. Sisi bukan or
“Dengan atau tidaknya keridhoan itu, aku tetaplah aku yang tidak akan bisa diam kala melihat hal ahat ada di depan mata. Tak peduli dulunya pernah dekat atau menjalin hubungan, jadi jangan sampai berkeinginan lebih padaku.”“Sisi, jangan salah paham. Aku bukan melarangmu, tapi aku h







