LOGIN"Siapa?"
"Tante, minta tolong antar." "Kenapa minta ke kamu? Memang anak-anaknya?" "Masih kecil, sayang. Aku yang fleksibel, sedangkan adikku juga masih sekolah. Kita jadi jalan-jalan ini?" "Jadi. Kamu nggak mau kenalin aku sama tante?" Syifa mengatakan dengan nada ragu. "Kamu kenalan sama orang tua aku dulu baru sama tante, sayang. Kamu cemburu? Maaf ya, mau gimana lagi soalnya tante yang biayai kehidupan sehari-hariku." Aryo menggenggam tangan Syifa lembut "Kita ke pantai aja ya, sayang." "Aku ngikut, lagian kamu yang nyetir. Aku udah pamit kalau nginep, aku bilang jalan-jalan sama teman kuliah dan nginap kalau terlalu malam." Mengingat kalimat yang dikatakan mentor itulah membuat Syifa seketika curiga tentang wanita yang dipanggil tante, pikirannya langsung mengarah jika tante itu adalah wanita yang membayar untuk mendapatkan kepuasan. Aryo selalu mengatakan hal yang sama tentang tante tersebut, meyakinkan kalau wanita itu memang tantenya. "Tante tahu kamu punya kekasih?" tanya Syifa memecah keheningan. "Jangankan tante, sayang. Orang tua aku sudah tahu kalau aku punya kekasih. Aku bilang kalau serius sama kamu, rencana aku kalau kamu sudah selesai sidang mau lamar." "Lamar?" Syifa menatap tidak percaya yang diangguki Aryo penuh keyakinan "Kamu bilang begitu sadar? Kita baru kenal dan jadian terus tiba-tiba lamar? Memang yakin sama aku?" "Kenapa? Banyak kok yang nikah cuman kenalan beberapa bulan, salahnya dimana? Aku sudah yakin sama kamu, memang kamu nggak?" Aryo mengatakan penuh dengan keyakinan dan tenang "Kita senang-senang aja sekarang, bahas masalah itu nanti setelah pulang liburan." "Memang kamu sudah siap menikah? Menikah bukan hanya hidup berdua, tapi kamu mengambil tanggung jawab orang tua dari anaknya dimana salah satunya adalah nafkah. Kamu aja...maaf ini masih bergantung sama tante terus pas nikah gimana? Bergantung sama tante? Kerjaan juga belum jelas, semua harus disiapkan nggak hanya nikah-nikah aja." "Aku kerja di tempat papa kamu gimana?" Syifa seketika menggelengkan kepalanya "Kenapa? Kamu nggak mau kenalin aku ke orang tuamu?" Aryo mengalihkan pandangannya sekilas. "Kamu lamar sendiri aja, aku nggak ikutan masalah perusahaannya papa. Udah ah...nggak usah bahas nikah, sekarang aku mau happy-happy dengan liburan." Syifa menghentikan pembahasan hubungan mereka terlalu dalam. "Aku bilang pernikahan agar kamu tahu kalau aku serius dalam hubungan kita ini, aku nggak main-main." Pernikahan, hal itu sama sekali belum ada dalam pikiran Syifa. Ajakan menikah tentu membuat terkejut, pria disampingnya dengan mudah mengatakan tentang pernikahan di usia pertemuan mereka yang baru. Mengalihkan pikiran dengan menghela napas panjang, memikirkan hal lain yang sedang dilakukan. "Wah...terbayarkan perjalanan kita." Syifa merentangkan tangannya saat sudah berada di bibir pantai "Jauh juga perjalanannya, kamu nggak capek?" Syifa mengalihkan pandangan kearah Aryo yang sibuk dengan ponsel untuk mengambil foto. "Nggak, perginya sama kamu." Aryo melingkarkan tangannya di pinggang Syifa dan mengajak foto bersama. "Pantainya sepi, apa karena kita kesini hari biasa ya?" Syifa menatap sekitar. "Makanya enak kalau liburan hari biasa bukan pas musim liburan, tempatnya kita pakai sendiri. Kita nikmatin aja disini, anggap aja lagi nyewa pantai." Aryo mencium pipi Syifa dan menggandeng tangannya untuk berjalan sekitar pantai. Membiarkan air membasahi kaki mereka yang berjalan diatas pasir di bibir pantai, suasana hening dengan suara ombak membuat tangan mereka semakin erat menggenggam. Aryo beberapa kali mengambil foto mereka berdua, foto Syifa sendiri atau meminta Syifa memotret dirinya. Memutuskan duduk sambil menatap kearah pantai, tangan Aryo melingkar di pinggang Syifa membuat tubuh mereka tanpa jarak. "Kamu pernah kesini sebelumnya?" Syifa membuka suaranya. "Pernah, kamu?" Syifa menggelengkan kepalanya "Kenapa?" "Nggak ada yang ajak, ditambah ijinnya susah. Sekarang bisa karena pakai alasan sama sahabatku, andaikan tahu pergi berdua sama lawan jenis pastinya nggak akan setuju." Syifa menyandarkan kepala di bahu Aryo. "Aku beruntung kalau gitu?" Syifa menganggukkan kepalanya "Setelah ini kemana?" "Makan, aku udah lapar banget." Syifa mengangkat kepala dengan menatap Aryo. Melihat wajah Syifa membuat tangan Aryo memegang dagunya, mendekatkan wajah dan mencium bibir Syifa yang terkejut. Menggerakkan bibirnya di bibir Syifa yang masih terdiam, tidak menyerah gerakan di bibir semakin dalam dan akhirnya Syifa menyerah dengan membalas ciuman Aryo. Membuka bibirnya dimana tanpa menunggu lama lidah Aryo semakin masuk kedalam, ciuman mereka semakin panas dan Syifa tidak menyadari perubahan posisi duduknya yang telah berubah. Melepaskan pagutan mereka dengan saling menatap satu sama lain, tangan Aryo membersihkan saliva di bibir Syifa perlahan. "Manis bibir kamu, sayang." Aryo mencium singkat bibir Syifa dengan pipinya yang memerah dimana tangan Aryo membelainya perlahan "Makin gemas dan sayang aja." "Apa ini?" tanya Syifa menggerakkan tubuhnya. "Sayang, jangan gerak begini...bagian bawahku sudah pengen dipuaskan sama kamu..." "Bagian bawah...astaga, sayang! Kamu..." Syifa menatap tidak percaya dan seketika menyadari posisi duduknya "Aku nggak berat?" Aryo tersenyum "Nggak, kamu ringan banget. Kayaknya kita cari makan aja, daripada kita kelepasan disini. Bisa berdiri, sayang?" Berdiri perlahan dengan Aryo yang memegang tangannya, berjalan kearah mobil dengan tangan yang masih saling menggenggam satu sama lain. Menghentikan langkah Syifa dan memberi kode agar jangan masuk mobil terlebih dahulu, menatap apa yang dilakukan Aryo dimana mengambil botol air dan tidak lama membawa Syifa ke mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang. Aryo melepaskan sandal Syifa dan membasahi kaki yang penuh dengan pasir, Syifa yang terkejut hanya bisa diam dengan tatapan tidak lepas dari Aryo. Setelah memastikan kakinya bersih, langkah selanjutnya adalah membersikan sandal Syifa, baru setelahnya membiarkan Syifa berada didalam dengan menutup pintu setelah menyalakan pendingin. Tatapan Syifa tidak lepas dari Aryo yang sedang melakukan hal sama dengannya, tidak lama kemudian Aryo keluar membuang botol air yang tadi dipakai. "Ok, kita cari makanan. Kita ke kota aja karena kalau disini makanannya kurang enak, aku yakin kamu nggak akan suka." Syifa seketika memeluk Aryo sebelum mobil bergerak, tindakan tersebut membuat Aryo terkejut, memberanikan diri mencium pipi Aryo sedikit lama. Aryo menarik wajahnya dengan menatap Syifa yang sedang menatapnya, bisa terlihat tatapan cinta terlihat di wajahnya. Aryo memegang dagu Syifa dengan mendekatkan bibir mereka, tanpa menunggu lama ciuman dan lumatan terjadi dan kali ini lebih menggairahkan daripada ciuman di pantai. Syifa menggerakkan tangan dengan melingkar di leher Aryo, ciuman mereka semakin panas, tangan Aryo yang lain berada di pinggang Syifa agar tubuh semakin dekat. Melepaskan pagutan bibir mereka, tatapan bertemu dan tangan Aryo bergerak di bibir Syifa membersihkan saliva mereka dengan senyum yang tampak jelas di wajahnya. "Kita makan dulu, baru dilanjutkan nanti.""Kamu baik-baik saja?" "Ya. Hubungan kami sudah selesai." Teddy memicingkan mata mendengar jawaban Syifa "Selesai? Putus? Yakin?" Syifa menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya, om. Maaf kemarin nggak jadi ketemu. Om padahal sudah datang, tapi aku nggak mau Aryo berpikir yang tidak-tidak." "Nggak masalah. Kenapa putus? Kita bertemu setelah kamu luar kota nggak ada pembicaraan itu, apa dia milih cewek itu?" Teddy masih fokus dengan jawaban Syifa yang mengatakan hubungannya dengan Aryo berakhir. "Memang aku belum bilang karena aku ingin bicara lebih dulu sama papa dan mama. Aku butuh support mereka saat mengambil keputusan apapun, bagaimanapun aku masih tanggung jawab mereka berdua terutama papa. Maafkan kalau selama ini...nggak percaya sama apa yang om bilang...mungkin bukan nggak percaya tapi dibutakan cinta." Syifa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah! Penting sekarang
"Mengakhiri hubungan kita? Rencana pernikahan? Apa ini ada hubungannya sama pertemuan kemarin?" "Seharusnya kejadian Neni saat itu memang hubungan kita berakhir, tapi aku memberi kesempatan..." "Kamu tahu kalau aku sudah nggak hubungan sama dia, kalaupun sekarang hubungan sama dia murni masalah trading. Sayang, kamu nggak lagi bercanda, kan? Pernikahan kita beberapa bulan lagi, masa kamu tega batalin gitu aja?" Aryo menatap penuh ketakutan pada Syifa yang memilih diam "Kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Kamu mau kita nggak ngapa-ngapain pas ketemu? Kamu pengen..." "Kamu memang nggak melakukan sama aku dan Neni, tapi melakukannya sama wanita lain." Syifa memotong kalimat Aryo yang seketika membelalakkan matanya "Bukan Gary yang memberitahu aku, bukan juga teman-temanmu yang di tempat gym. Aku tahu sendiri, bahkan apartemen itu juga ada wanita itu disana." Syifa menarik dan menghembuskan napas panjang "Kamu menempati janji dengan Neni, w
"Om nggak lagi bercanda, kan? Om bilang gini bukan karena...""Buat kamu sama aku? Aku bukan orang begitu! Apa pernah aku berbuat sesuatu sama kamu? Aku menahan diri selama ini!"Syifa membenarkan kalimat Teddy, kedekatan mereka selama ini hanya saling berbicara tidak lainnya, walaupun Syifa menyadarinya tapi berpura-pura tidak sadar dengan perasaan pria dihadapannya. Menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan memejamkan matanya. "Kamu boleh tidak percaya. Semua pilihan yang kamu ambil." Teddy membuka suaranya memecah keheningan, tanpa melepaskan tatapan pada Syifa."Om, aku mau tidur sini. Om pulang aja, aku baik-baik saja disini." Syifa beranjak dari tempat duduknya.Langkah kakinya menuju kamar yang selama ini dipakai untuk istirahat, membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu. Semua kalimat mereka masuk dalam pikiran Syifa, bukan hanya Miko dan Teddy saja tapi kedua pria yang mengingatkannya dulu. Satu pertanyaan
"Aku nggak nyangka kalau kamu kuat." Syifa menatap kesal kearah Miko yang tertawa melihat ekspresinya "Maksudnya apa ya, mas? Aku memang kelihatan manja?" Miko mengangkat bahunya "Kamu itu polos tapi ternyata...nggak sepolos apa yang ada dalam pikiranku. Aku sama sekali nggak menyangka kalau berani dalam kamar berduaan dengan cowok, kenapa sekarang nggak berani dikamar sama aku saja?" "Nggak usah aneh-aneh, mas! Mas itu orangnya lurus, datar dan menjengkelkan." Syifa masih memberikan tatapan kesalnya "Tapi aku salah...mas ini perhatian. Ceweknya mas pasti senang dapat perhatian dan perlakuan mas ini." "Cowok kamu nggak begitu?" Miko menatap penasaran "Apa dia perhatian kalau lagi pengen aja?" "Nggak! Dia memang perhatian dan memperlakukan aku selayaknya putri." Syifa semakin tidak terima dengan tuduhan Miko. "Kamu percaya sama cowok kamu?" Syifa mengerutkan kening mendengar pertanyaan Miko
"Perjanjian kita sudah jelas..." "Mereka berdua nggak ada disini, perjanjian itu nggak berlaku." Neni memotong kalimat Aryo dengan berjalan mendekatinya "Rumah ini aku beli buat kita, tanpa uang dari Teddy. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan." "Mereka memang tidak ada disini, tapi aku tetap nggak mau." "Kamu yakin dia setia?" Neni mengangkat sudut bibirnya. "Kalaupun Syifa nggak setia aku akan tetap bersama dia, kamu tahu perasaanku ke dia. Tapi...tampaknya kamu yang nggak mendapatkan sentuhan dari Teddy, benar? Bukankah lebih baik kalian memperjelas hubungan?" Aryo menyingkir dari hadapan Neni "Aku nggak bisa menjadi instruktur pribadimu, kamu bisa mencari orang lain." "Aku lebih percaya sama kamu." Neni menyentuh lengan Aryo kembali "Aku akan bayar berapapun yang kamu minta." Aryo menggelengkan kepalanya "Aku nggak mau kedekatan ini membuat
"Syifa tahu tentang ini?" "Syifa akan tahu setelah kamu menyetujuinya. Kamu pasti tahu jika saya belum percaya sepenuhnya sama kamu. Tantangan melamar itu ingin melihat keseriusan kamu pada Syifa, jangan dikira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan bahkan mengubah Syifa." Rahmad mengatakan dengan nada datar "Saya diam karena saya lihat Syifa cinta sama kamu, sedangkan kamu? Memang terlihat kamu sayang sama Syifa, tapi sayang saja tidak cukup. Orang tua kamu orang baik-baik, saya tidak meragukan mereka yang menyayangi Syifa dan akan menganggap sebagai anak sendiri, saya malah meragukan kamu yang bisa setia dengan Syifa." Aryo sedikit terkejut dengan semua yang dikatakan pria dihadapannya, tidak lain adalah papanya Syifa "Om menyelidiki saya?" Rahmad menggeleng dan menganggukkan kepalanya bergantian "Kamu akan tahu kalau punya anak perempuan. Saya mengetahuinya secara tidak langsung. Kalian sudah bertindak terlalu jauh dan saya tidak mau
"Broker? Udah dapat orang? Nasabah maksudnya.""Belum, om." Aryo menjawab semua pertanyaan Rahmad dengan sangat sopan.Acara dirumah Aryo terpaksa diundur, Rahmad meminta Aryo datang kerumah. Syifa yang sudah tidak memiliki alasan memilih mengalah dengan mengajak Aryo kerumah, d
"Aku nggak marah sama kamu, aku kesal sama cewek itu. Apaan sok-sokan kamu adalah calon kakak ipar yang diharapkan, padahal kakaknya punya cewek lain. Dia nggak menghargai kekasih kakaknya, kalau Aldi begitu sudah kupukul kepalanya.""Kamu bisa dapat omelan dari ibu," ucap Syifa menggoda
"Kenapa cemberut? Jarang loh kita keluar dari pagi begini, sayang. Kamu mau kemana? Senam? Kita ke tempat gym aja gimana?" "Nggak mood. Kamu kemarin kenapa setuju ngajak orang tua kerumah? Memang kamu siap sama pernikahan?" "Aku lupa kasih tahu kamu kabar baik. Setelah kamu sa
"Aku kemarin datangi suaminya Tante Neni buat minta invest.""Lalu?" Syifa menatap penasaran.Syifa belum bertemu dengan Teddy, tapi rencananya mereka akan melakukan speda bersama menggunakan sepeda tandem. Syifa hanya mengikuti saja keinginan dan rencana Teddy, tampaknya hal in







