Share

5

Penulis: nura0484
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-08 12:36:16

"Siapa?"

"Tante, minta tolong antar."

"Kenapa minta ke kamu? Memang anak-anaknya?"

"Masih kecil, sayang. Aku yang fleksibel, sedangkan adikku juga masih sekolah. Kita jadi jalan-jalan ini?"

"Jadi. Kamu nggak mau kenalin aku sama tante?" Syifa mengatakan dengan nada ragu.

"Kamu kenalan sama orang tua aku dulu baru sama tante, sayang. Kamu cemburu? Maaf ya, mau gimana lagi soalnya tante yang biayai kehidupan sehari-hariku." Aryo menggenggam tangan Syifa lembut "Kita ke pantai aja ya, sayang."

"Aku ngikut, lagian kamu yang nyetir. Aku udah pamit kalau nginep, aku bilang jalan-jalan sama teman kuliah dan nginap kalau terlalu malam."

Mengingat kalimat yang dikatakan mentor itulah membuat Syifa seketika curiga tentang wanita yang dipanggil tante, pikirannya langsung mengarah jika tante itu adalah wanita yang membayar untuk mendapatkan kepuasan. Aryo selalu mengatakan hal yang sama tentang tante tersebut, meyakinkan kalau wanita itu memang tantenya.

"Tante tahu kamu punya kekasih?" tanya Syifa memecah keheningan.

"Jangankan tante, sayang. Orang tua aku sudah tahu kalau aku punya kekasih. Aku bilang kalau serius sama kamu, rencana aku kalau kamu sudah selesai sidang mau lamar."

"Lamar?" Syifa menatap tidak percaya yang diangguki Aryo penuh keyakinan "Kamu bilang begitu sadar? Kita baru kenal dan jadian terus tiba-tiba lamar? Memang yakin sama aku?"

"Kenapa? Banyak kok yang nikah cuman kenalan beberapa bulan, salahnya dimana? Aku sudah yakin sama kamu, memang kamu nggak?" Aryo mengatakan penuh dengan keyakinan dan tenang "Kita senang-senang aja sekarang, bahas masalah itu nanti setelah pulang liburan."

"Memang kamu sudah siap menikah? Menikah bukan hanya hidup berdua, tapi kamu mengambil tanggung jawab orang tua dari anaknya dimana salah satunya adalah nafkah. Kamu aja...maaf ini masih bergantung sama tante terus pas nikah gimana? Bergantung sama tante? Kerjaan juga belum jelas, semua harus disiapkan nggak hanya nikah-nikah aja."

"Aku kerja di tempat papa kamu gimana?" Syifa seketika menggelengkan kepalanya "Kenapa? Kamu nggak mau kenalin aku ke orang tuamu?" Aryo mengalihkan pandangannya sekilas.

"Kamu lamar sendiri aja, aku nggak ikutan masalah perusahaannya papa. Udah ah...nggak usah bahas nikah, sekarang aku mau happy-happy dengan liburan." Syifa menghentikan pembahasan hubungan mereka terlalu dalam.

"Aku bilang pernikahan agar kamu tahu kalau aku serius dalam hubungan kita ini, aku nggak main-main."

Pernikahan, hal itu sama sekali belum ada dalam pikiran Syifa. Ajakan menikah tentu membuat terkejut, pria disampingnya dengan mudah mengatakan tentang pernikahan di usia pertemuan mereka yang baru. Mengalihkan pikiran dengan menghela napas panjang, memikirkan hal lain yang sedang dilakukan.

"Wah...terbayarkan perjalanan kita." Syifa merentangkan tangannya saat sudah berada di bibir pantai "Jauh juga perjalanannya, kamu nggak capek?" Syifa mengalihkan pandangan kearah Aryo yang sibuk dengan ponsel untuk mengambil foto.

"Nggak, perginya sama kamu." Aryo melingkarkan tangannya di pinggang Syifa dan mengajak foto bersama.

"Pantainya sepi, apa karena kita kesini hari biasa ya?" Syifa menatap sekitar.

"Makanya enak kalau liburan hari biasa bukan pas musim liburan, tempatnya kita pakai sendiri. Kita nikmatin aja disini, anggap aja lagi nyewa pantai." Aryo mencium pipi Syifa dan menggandeng tangannya untuk berjalan sekitar pantai.

Membiarkan air membasahi kaki mereka yang berjalan diatas pasir di bibir pantai, suasana hening dengan suara ombak membuat tangan mereka semakin erat menggenggam. Aryo beberapa kali mengambil foto mereka berdua, foto Syifa sendiri atau meminta Syifa memotret dirinya. Memutuskan duduk sambil menatap kearah pantai, tangan Aryo melingkar di pinggang Syifa membuat tubuh mereka tanpa jarak.

"Kamu pernah kesini sebelumnya?" Syifa membuka suaranya.

"Pernah, kamu?" Syifa menggelengkan kepalanya "Kenapa?"

"Nggak ada yang ajak, ditambah ijinnya susah. Sekarang bisa karena pakai alasan sama sahabatku, andaikan tahu pergi berdua sama lawan jenis pastinya nggak akan setuju." Syifa menyandarkan kepala di bahu Aryo.

"Aku beruntung kalau gitu?" Syifa menganggukkan kepalanya "Setelah ini kemana?"

"Makan, aku udah lapar banget." Syifa mengangkat kepala dengan menatap Aryo.

Melihat wajah Syifa membuat tangan Aryo memegang dagunya, mendekatkan wajah dan mencium bibir Syifa yang terkejut. Menggerakkan bibirnya di bibir Syifa yang masih terdiam, tidak menyerah gerakan di bibir semakin dalam dan akhirnya Syifa menyerah dengan membalas ciuman Aryo. Membuka bibirnya dimana tanpa menunggu lama lidah Aryo semakin masuk kedalam, ciuman mereka semakin panas dan Syifa tidak menyadari perubahan posisi duduknya yang telah berubah. Melepaskan pagutan mereka dengan saling menatap satu sama lain, tangan Aryo membersihkan saliva di bibir Syifa perlahan.

"Manis bibir kamu, sayang." Aryo mencium singkat bibir Syifa dengan pipinya yang memerah dimana tangan Aryo membelainya perlahan "Makin gemas dan sayang aja."

"Apa ini?" tanya Syifa menggerakkan tubuhnya.

"Sayang, jangan gerak begini...bagian bawahku sudah pengen dipuaskan sama kamu..."

"Bagian bawah...astaga, sayang! Kamu..." Syifa menatap tidak percaya dan seketika menyadari posisi duduknya "Aku nggak berat?"

Aryo tersenyum "Nggak, kamu ringan banget. Kayaknya kita cari makan aja, daripada kita kelepasan disini. Bisa berdiri, sayang?"

Berdiri perlahan dengan Aryo yang memegang tangannya, berjalan kearah mobil dengan tangan yang masih saling menggenggam satu sama lain. Menghentikan langkah Syifa dan memberi kode agar jangan masuk mobil terlebih dahulu, menatap apa yang dilakukan Aryo dimana mengambil botol air dan tidak lama membawa Syifa ke mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang.

Aryo melepaskan sandal Syifa dan membasahi kaki yang penuh dengan pasir, Syifa yang terkejut hanya bisa diam dengan tatapan tidak lepas dari Aryo. Setelah memastikan kakinya bersih, langkah selanjutnya adalah membersikan sandal Syifa, baru setelahnya membiarkan Syifa berada didalam dengan menutup pintu setelah menyalakan pendingin. Tatapan Syifa tidak lepas dari Aryo yang sedang melakukan hal sama dengannya, tidak lama kemudian Aryo keluar membuang botol air yang tadi dipakai.

"Ok, kita cari makanan. Kita ke kota aja karena kalau disini makanannya kurang enak, aku yakin kamu nggak akan suka."

Syifa seketika memeluk Aryo sebelum mobil bergerak, tindakan tersebut membuat Aryo terkejut, memberanikan diri mencium pipi Aryo sedikit lama. Aryo menarik wajahnya dengan menatap Syifa yang sedang menatapnya, bisa terlihat tatapan cinta terlihat di wajahnya. Aryo memegang dagu Syifa dengan mendekatkan bibir mereka, tanpa menunggu lama ciuman dan lumatan terjadi dan kali ini lebih menggairahkan daripada ciuman di pantai.

Syifa menggerakkan tangan dengan melingkar di leher Aryo, ciuman mereka semakin panas, tangan Aryo yang lain berada di pinggang Syifa agar tubuh semakin dekat. Melepaskan pagutan bibir mereka, tatapan bertemu dan tangan Aryo bergerak di bibir Syifa membersihkan saliva mereka dengan senyum yang tampak jelas di wajahnya.

"Kita makan dulu, baru dilanjutkan nanti."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Pria Panggilan   30

    "Terima kasih bapak mau invest disini." "Saya percaya sama kamu, jangan buat saya rugi." Aryo menganggukkan kepala mendengar permintaan pemilik tempat gym "Yo, saya mau kamu jadi trainer khusus seseorang, dia bilang kenal kamu dengan baik." Aryo mengerutkan keningnya "Siapa, pak? Saya nggak tahu dan ingat, maaf yang saya latih bukan satu dua orang." Nanda menganggukkan kepala "Saya sempat cek data dia disini dan tidak pernah menjadi trainee disini, makanya saya tanya terlebih dahulu kamu gimana? Namanya...Neni."Aryo membelalakkan matanya, wanita itu tidak menyerah sama sekali "Apa bapak akan marah kalau saya menolak?" "Kenapa? Kasih saya alasan. Kamu kenal sama dia?" "Ya. Saya tidak mau berhubungan dengan dia lagi, saya tidak mau menyakiti orang terutama kekasih saya." Aryo mengatakan dengan nada tegasnya."Kamu benar menolak?" Nanda memastikan dengan menatap dalam Aryo."Ya.""Baiklah, saya akan

  • Cinta Pria Panggilan   29

    "Nikah? Aryo? Yakin?" "Kenapa gitu reaksinya, om? Om tahu kalau hubungan ini serius, terus kenapa kaget begitu?" Syifa langsung menuju ke rumah Teddy setelah mengantarkan Aryo ke tempat gym, gagal melakukan olahraga bersama tidak membuat mereka tidak bertemu. Syifa membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara, Maya sudah bekerja yang tidak tahu dimana sekarang, sedangkan Indah jelas tidak bisa diajak bicara karena lambatnya dalam berpikir. Syifa jelas tahu apa yang dilakukan salah dimana Teddy bukan orang yang tepat dengan masa lalu mereka, padahal Aryo sendiri sudah tidak berhubungan dengan Neni."Kamu tahu kalau dia...""Aku tahu dan sangat ingat, lalu? Semua punya masa lalu om, aku terima dia artinya menerima semua. Om juga begitu sama tante, bukannya lebih baik om harus memutuskan masa depan pernikahan kalian, memang om nggak kasihan tante?" "Kamu tahu kalau aku bertahan agar dia nggak menggoda Aryo dan akhirnya kamu tersakiti."

  • Cinta Pria Panggilan   28

    "Aku nggak marah sama kamu, aku kesal sama cewek itu. Apaan sok-sokan kamu adalah calon kakak ipar yang diharapkan, padahal kakaknya punya cewek lain. Dia nggak menghargai kekasih kakaknya, kalau Aldi begitu sudah kupukul kepalanya.""Kamu bisa dapat omelan dari ibu," ucap Syifa menggoda Aryo yang menatap tajam."Sayang, aku serius ini. Kamu malah bercanda." Aryo memberikan tatapan kesalnya."Aku juga nggak ngomong sama dia.""Ada aku makanya kamu nggak ngomong sama dia, coba nggak ada pastinya kalian bakal ngobrol karena apa? Karena adiknya semangat buat dekatin kalian lagi!" "Penting yang dapat lampu hijau dari papa itu kamu bukan dia, sayang." Syifa menyandarkan kepala di bahu Aryo "Aku nggak mau kita tengkar masalah nggak penting, sekarang kita fokus sama acara pernikahan.""Kayaknya kamu harus pulang kalau nggak mau ikut aku." Aryo mengingatkan Syifa yang seketika cemberut "Gimana?""Aku malas ikut kamu."

  • Cinta Pria Panggilan   27

    "Kenapa cemberut? Jarang loh kita keluar dari pagi begini, sayang. Kamu mau kemana? Senam? Kita ke tempat gym aja gimana?" "Nggak mood. Kamu kemarin kenapa setuju ngajak orang tua kerumah? Memang kamu siap sama pernikahan?" "Aku lupa kasih tahu kamu kabar baik. Setelah kamu sampai rumah dan aku mau pesan kendaraan online calon nasabah atau orang yang aku temui bilang mau transfer, bukan hanya seratus tapi dua ratus. Aku langsung kerumahnya buat tanda tangan segala macam, untungnya aku selalu bawa berkas kerjasama.""Serius? Wah...selamat..." Syifa memeluk Aryo erat, tidak lupa mencium pipi berulang kali "Terus kenapa langsung setuju? Kita setidaknya bisa ngomong dulu, aku kan pengen dilamar romantis."Aryo tertawa mendengar kalimat Syifa, mencubit hidungnya gemas "Bilang kalau mau begitu, sayang. Aku nggak ahli buat begituan, jadi kapan kita mulai bahas masalah pernikahan? Kamu maunya gimana?""Bahas dimana? Tempat gym? Nggak mau aku."

  • Cinta Pria Panggilan   26

    "Broker? Udah dapat orang? Nasabah maksudnya.""Belum, om." Aryo menjawab semua pertanyaan Rahmad dengan sangat sopan.Acara dirumah Aryo terpaksa diundur, Rahmad meminta Aryo datang kerumah. Syifa yang sudah tidak memiliki alasan memilih mengalah dengan mengajak Aryo kerumah, duduk bersama dengan mendengarkan pembicaraan mereka berdua, walaupun mamanya meminta tetap di dapur."Kapan rencana kamu nikah? Hubungan kalian akan ke pernikahan, kan?" tanya Rahmad.Aryo menganggukkan kepalanya "Saya sudah mengajak Syifa menikah, om. Pernikahan bukan hanya tentang cinta dan nafsu, banyak hal yang harus dipertimbangkan termasuk kerja. Saya baru keterima kerja dimana hasilnya belum terlihat, sedangkan Syifa sendiri masih ingin menggapai impiannya." "Lalu?" "Mungkin setelah Syifa dapat pekerjaan, om." "Syifa sudah kerja di tempat om, apa kamu keberatan?" Aryo menggelengkan kepalanya "Kamu tahu apa yang diinginkan Syifa?" Aryo ke

  • Cinta Pria Panggilan   25

    "Aku kemarin datangi suaminya Tante Neni buat minta invest.""Lalu?" Syifa menatap penasaran.Syifa belum bertemu dengan Teddy, tapi rencananya mereka akan melakukan speda bersama menggunakan sepeda tandem. Syifa hanya mengikuti saja keinginan dan rencana Teddy, tampaknya hal ini akan menjadi topik pembahasan mereka, dimana Syifa akan meminta tolong juga."Dia ngatain aku. Aku cuman diam karena bagaimanapun aku pernah salah. Dia kasih aku kesempatan buat jelasin secara detail karena dia yang akan pegang sendiri nantinya kalau cocok dan paham sama penjelasanku. Menurut kamu ini dia bakal invest nggak?" "Mungkin, kalau dari ceritamu dia akan melakukan apa yang dikatakan." Aryo menganggukkan kepalanya "Sayang, sebenarnya...waktu kita ketemuan terakhir kemarin...aku ketemu...Tante Neni....""Lalu? Kamu nggak..."Aryo menggelengkan kepalanya "Waktu kita ketemu sebenarnya aku merasa bersalah sama kamu, sayang. Dia mau bantui

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status