ログイン"Perjanjiannya nggak gitu, Aryo!"
"Aku nggak mungkin sama tante terus? Tante udah punya suami." "Aku lebih butuh kamu dibandingkan kekasihmu." "Tante Neni, aku juga harus menjalani kehidupan. Kita nggak mungkin terus bersama, aku menemani tante saat kesepian seperti ini dan memberikan apa yang suami tante nggak kasih." "Aku takut kamu akan tinggalin. Apalagi dia cewek yang kamu suka, kalau di perawan pastinya kamu akan milih dia." Neni menatap sedih kearah Aryo. "Tante sekarang juga milih sama suami, aku harus melihat kemesraan kalian." "Kamu balas dendam?" Aryo menggelengkan kepalanya "Apa salah aku mencintai seorang wanita? Apa hidupku hanya seputar tante saja? Kita nggak mungkin bersama, tante. Tugasku hanya memuaskan tante di ranjang, hal yang tidak tante dapatkan dari suami." Neni mengangkat sudut bibirnya keatas "Kamu yakin dia cewek baik-baik? Siapa tahu dia udah pernah melakukannya dengan pria lain, apa bedanya sama aku." "Tante nggak usah khawatir. Aku tahu siapa dia." Neni memicingkan matanya "Pemain kamu! Kamu menyelidiki dia sebelum mendekatinya, berapa lama kamu melakukan itu?" "Nggak penting! Jadi sekarang kita melakukannya atau hanya membicarakan kekasihku?" Aryo menarik dagu Neni mencium bibirnya lembut "Aku harap tante tidak melakukan hal yang bisa menyakiti kekasihku." "Apa itu ancaman? Kamu nggak akan berani melakukannya." "Tante belum mengenal aku dengan baik." "Aku harap dia meninggalkan kamu, kita bisa bersama selamanya." "Kita lihat siapa yang menang, tante." "Ah...pelan-pelan, Aryo! Sakit!" Neni teriak ketika benda kesayangan Aryo memasukinya tanpa persiapan sama sekali. Suara erangan dan desahan keluar dari bibir mereka berdua, Neni yang awalnya merasa kesakitan saat ini menikmati apa yang dilakukan Aryo padanya. Milik Aryo yang berbeda dengan suaminya membuat Neni puas, bukan hanya milik Aryo tapi juga caranya yang tahu bagaimana memuaskan partnernya. Gerakan mereka semakin keras dan cepat, mengejar klimaks yang akan keluar dan tidak lama kemudian klimaks mereka datang dengan Aryo yang mendorong semakin dalam. "Dia nggak akan menerima kamu." Neni menatap lemas kearah Aryo. "Kamu nggak usah khawatir, aku tahu apa yang harus dilakukan." Aryo melepaskan penyatuan mereka dan melangkah ke kamar mandi. "Mau kemana?" Neni menatap kesal ketika melihat Aryo yang sudah rapi. Aryo merapikan penampilannya dengan menatap Neni sekilas "Sampai ketemu besok." "Sekarang waktunya kita bersama, bagaimana bisa kamu tinggalin aku?" Neni tidak terima atas apa yang Aryo lakukan. "Kamu harus pulang karena suamimu pulang." Aryo berjalan meninggalkan Neni setelah memastikan barang-barangnya tidak ada yang ketinggalan. Hembusan napas panjang dikeluarkan, salah satu pekerjaan yang membuatnya tidak memiliki pilihan. Mendekati Syifa sama sekali tidak ada niat apapun, baru tahu latar belakangnya setelah mereka berbicara. Gadis polos yang tidak tahu dunia luar, menganggap semua orang baik dan sama sekali tidak pernah berpikir negatif tentang apapun. Kepolosan, rasa penasaran akan ilmu dan perhatian yang membuat Aryo menyukai Syifa. Selama ini belum ada wanita atau gadis yang menarik perhatiannya dalam waktu singkat dan Syifa berhasil melakukannya, cinta pandangan pertama sama sekali tidak pernah dipercayainya dan sekarang terjadi dalam hidupnya. Beberapa kali meyakini jika ini bukan cinta, tapi Aryo sadar jika apa yang dirasakan pada Syifa adalah cinta. Satu lagi yang membuatnya penasaran adalah bersentuhan terlalu dalam dengan lawan jenis, keluarga yang memegang adat dan agama memiliki batas. Aryo akan memikirkan cara agar bisa tahu apa yang didalam pikiran dan rasakan Syifa terhadap hubungan intim, bukan sampai merusak dengan melakukan seperti dengan Neni. Sedikit saja mungkin akan membuat dirinya senang, setidaknya mengajari Syifa atas hal yang tidak dipahami dan menjadi pengalaman pertama. "Aku aja yang nyetir, kamu kayaknya capek banget." Aryo merapikan rambut Syifa yang keluar dari mobil. Mereka memang janjian untuk berangkat ke tempat kursus bersama dan hari ini adalah terakhir kelas, dimana mereka bisa saja tidak bertemu nantinya. Aryo setidaknya sudah melakukan langkah cepat dengan mengajak Syifa menjalin hubungan lebih dari teman, menatap jalanan dengan fokus yang terbagi. Aryo sama sekali tidak menyangka Syifa menggunakan rok pendek, baru ingat jika kekasihnya tadi melakukan tugas interview dengan narasumber. "Gimana tadi? Lancar?" tanya Aryo menggenggam tangan Syifa. "Lumayan, setidaknya mereka sangat membantu." Syifa mengeratkan genggaman tangan mereka "Aku malas masuk, tapi ingat ini hari terakhir." "Mau jalan?" "Pulang kursus?" Aryo menganggukkan kepalanya "Nggak, aku mau pulang. Capek banget." "Besok? Tempatnya terserah kamu." "Kamu nggak ada kerjaan besok? Aku pengen keluar kota, nginep gitu. Sayangnya cuman keinginan karena nggak akan dapat ijin." Syifa memberikan ekspresi sedihnya. "Keluar kota nggak usah nginap, bisa kok. Nggak usah jauh-jauh, Malang atau Lamongan. Gimana? Aku yang nyetir." "Aku pikir-pikir dulu, nanti aku kabarin." Tawaran yang menarik, tapi keluar hanya berdua sama sekali tidak ada dalam bayangan Syifa, ditambah mereka baru kenal dan dekat. Keputusan menerima ajakan berkencan serba mendadak, menatap Aryo yang berjalan di belakang karena mendapatkan panggilan telepon dari sang tante. Cemburu, mungkin. Tantenya sering kali menghubungi Aryo setiap kali mereka jalan, seakan tahu apa yang sedang dilakukan Aryo. Cemburu yang sebenarnya tidak mendasar, Aryo bilang kalau tantenya ini yang memberikan uang saku dan memenuhi kehidupan semasa sekolahnya dan sang adik. Kalimat yang sama setiap kali melihat ekspresi tidak suka Syifa setiap sang tante menghubungi Aryo, genggaman tangan kembali dirasakan saat memasuki ruangan yang hanya ada beberapa anak dan dua mentor. Syifa tidak tahu kenapa Aryo setiap memasuki ruangan selalu menggenggam tangannya, mencoba tidak peduli dan menganggap hal biasa. Dulu saat bersama dengan mantannya juga melakukan hal yang sama, kedatangan Rania membuat fokus Syifa tergantikan dan Aryo juga tidak pernah mempermasalahkannya. Pandangan Syifa mengarah ke salah satu mentor pria yang memberi kode agar keluar, mentor itu keluar terlebih dahulu dan Syifa menunggu beberapa menit untuk mengikuti dengan alasan ke kamar kecil. "Ada apa, pak?" tanya Syifa dengan nada sopan dan bingung. "Ada hubungan apa dengan Aryo?" Syifa mengerutkan kening "Saya hanya berpesan karena setelah ini kamu sudah tidak kursus disini lagi, saya harap kamu menjaga diri Aryo bukan pria baik-baik. Saya mengatakan ini karena saya tahu kamu polos dan terlalu baik untuk pria seperti Aryo." Syifa tersenyum mendengarnya "Terima kasih atas peringatannya, pak. Saya bisa menjaga diri, semoga saja apa yang bapak katakan tentang Aryo tidak benar. Sekali lagi terima kasih." "Baiklah, saya hanya ingin mengatakan hal itu. Semoga saja apa yang saya katakan dan takutkan tidak terjadi, Aryo adalah pria yang memuaskan wanita dewasa yaitu wanita yang tidak puas dengan pelayanan dari suaminya.""Aku mau ambil hak asuh Tania, sayang. Kamu keberatan?" "Memang kenapa sama Stella?" Syifa mengernyitkan kening mendengar informasi yang Aryo berikan."Kamu keberatan?" Aryo menatap penuh rasa ingin tahu.Syifa menggelengkan kepalanya "Bukan keberatan. Aku tanya memang kenapa dengan Stella? Apa dia nggak masalah?""Menurut hukum dia nggak bisa mengasuh Tania, Stella secara materi kurang dan dia selingkuh selama kita menikah." "Kamu juga selingkuh." Syifa mengingatkan "Kamu berhubungan intim sama aku, menikahi Neni secara siri, jadi apa bedanya? Jangan pakai dasar poligami, apa yang kamu lakukan juga salah jadi jangan menyalahkan Stella saja. Aku nggak masalah kamu ambil hak asuh Tania, tapi pertimbangkan Stella juga. Apa yang buat kamu keberatan? Kamu nggak mau kasih nafkah Stella?" "Salah satunya." Aryo menganggukkan kepalanya "Utamanya adalah aku nggak mau hubungan sama Stella, meskipun tentang anak. Aku berpikir kalau Tania
"Ibu yakin kamu pasti kembali." Syifa tersenyum kearah mantan calon mertua atau mungkin calon mertua, tapi yang pasti Syifa sudah menganggap wanita dihadapannya adalah ibunya sendiri dan kedudukannya tidak jauh berbeda dengan mama yang sekarang memilih tinggal di panti jompo. "Ibu kapan itu lihat mama kamu, dia happy banget disana. Ibu jadi pengen tinggal disana, banyak teman. Sayangnya anak Aryo dari wanita itu butuh pengawasan, mau nggak mau bantuin." Evi mengerucutkan bibirnya."Ibu bisa tinggal disana sekarang." Aryo mengatakan tanpa beban dengan tangannya yang menggendong Akbar "Aww...kok malah dipukul? Aku bilang sebenarnya. Aku sudah ada Syifa, kami akan tinggal bersama dan akan menikah setelah masa iddah selesai.""Kamu langsung buang ibumu setelah pemilik hatimu kembali?" Evi memegang dadanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat "Kamu lihat, kan? Dia akan melupakan semua kalau sudah ada kamu." Syifa hanya bisa tersenyum meli
Enam tahun lalu (masih dengan Teddy)"Aku kira kalian nggak akan jadi." "Wanita berharga sulit didapat." Teddy melingkarkan tangan di pinggang Syifa."Jadi, kalian sudah menikah?" Teddy mengangguk dengan senyum lebarnya "Syukurlah, semoga cepat hamil.""Semoga." Menghadiri acara yang membosankan, bukan hanya bagi Syifa tapi juga Teddy. Apabila harus memilih, pasti pilihannya adalah ranjang. Mereka tidak bertemu hampir satu minggu, pekerjaan Teddy yang tidak bisa ditinggal dan Syifa yang juga tidak kalah sibuknya. Syifa yang pulang ke kota asalnya, dirinya datang kemarin pagi dan pastinya Teddy tidak akan melepaskannya dan memilih didalam kamar. Sekarang yang mereka lakukan adalah olahraga bersama teman-teman Teddy dulu, Syifa menyetujui ajakan mereka karena sudah lama tidak bertemu dan nostalgia."Aku bosan, sayang." Teddy berbisik tepat di telinga Syifa."Habis ini juga pulang, mas." Syifa membelai paha Teddy perlahan "Sab
"Aku akan pelan-pelan, sayang. Kalau sakit kamu bisa mencakar punggungku, sayang. Aku berusaha tidak menyakitimu." Aryo mencium kening Syifa dengan penuh cinta, mendorong miliknya memasuki rumah yang diharapkan dari dulu. Aryo memejamkan matanya merasakan miliknya masuk perlahan, membuka mata menatap Syifa penuh cinta dimana mantan kekasihnya ini menutup mata, melumat bibir Syifa agar tidak terlalu tegang dan takut. Mendorong sekali lagi, seketika terhenti ketika merasakan sesuatu yang tidak pernah dialami selama ini. Mendorong sekali lagi dengan memagut bibir Syifa dalam, dorongan perlahan dan pasti ketika merasakan sesuatu dibawah dan didalam sana terasa robek, tangan Syifa mencakar punggung Aryo, pagutan bibir mereka tidak terlepas tapi semakin dalam.Mendiamkannya didalam ketika merasa jika miliknya masuk semua, pagutan bibir mereka terlepas dan saling memandang, tatapan cinta tidak pernah hilang dari Aryo pada Syifa. Mengulurkan tangan membelai wajah Aryo per
Satu Tahun setelah kepergian Syifa"Kenapa aku belum hamil ya?""Belum dikasih." Aryo menjawab Stella dengan nada santainya "Memang kamu sudah siap merawat anak?""Kalau aku berharap artinya sudah siap." Stella melingkarkan tangannya di lengan Aryo "Kamu jadi ke ibukota? Apa ketemu...""Nggak. Aku sibuk." Aryo mencium puncak kepala Stella "Kamu tahu kalau hubunganku sama dia berakhir, aku nggak mungkin menemui dia bukan karena dia nggak mau bertemu tapi aku juga. Kamu nggak usah mengkhawatirkan apapun." Ketakutan Stella bisa saja terjadi, menerima tugas di ibukota dengan tujuan melihat Syifa. Perasaan rindu harus segera di obati, menatap dari jauh sudah sangat puas dan mengobati semuanya. Aryo jelas tidak mungkin mengatakan sebenarnya pada Stella, menjaga perasaan wanita yang menjadi istrinya.Perjalanan menggunakan pesawat, begitu sampai tujuannya adalah rumah Syifa. Aryo sangat yakin pemilik hatinya sudah dirumah, jarak bandara den
Enam Tahun Lalu "Aku kira nggak akan jemput." Syifa mengerucutkan bibir mendengar kalimat yang keluar dari bibir Teddy "Kalau nggak jemput memang nggak marah? Udah makin tua masih aja cepat marah." Teddy menarik Syifa kedalam pelukan, mencium puncak kepalanya "Gimana kerjaanmu? Banyak yang harus diurus?" "Pulang sekarang, aku lapar dan malas bahas kerjaan." Syifa meletakkan tangannya di lengan Teddy tampak malas membahas pekerjaan "Jangan lupa ada undangan nikah di Bandung besok." "Kamu sudah pesan tiket keretanya?" Syifa menganggukkan kepalanya "Ok, kita cari makan baru istirahat." Hubungan mereka memang sudah berakhir sebelum Syifa memutuskan ke ibukota, tapi pekerjaan Teddy yang harus bertemu orang dan melebarkan usahanya membuat mereka kembali bertemu. Jarak yang tercipta dulu sudah hilang, tidak tahu siapa yang memulai tapi mereka sudah selayaknya pasangan. Perubahan diantara mereka adalah sta







