Share

4

Author: nura0484
last update publish date: 2025-12-07 18:39:15

"Perjanjiannya nggak gitu, Aryo!"

"Aku nggak mungkin sama tante terus? Tante udah punya suami."

"Aku lebih butuh kamu dibandingkan kekasihmu."

"Tante Neni, aku juga harus menjalani kehidupan. Kita nggak mungkin terus bersama, aku menemani tante saat kesepian seperti ini dan memberikan apa yang suami tante nggak kasih."

"Aku takut kamu akan tinggalin. Apalagi dia cewek yang kamu suka, kalau di perawan pastinya kamu akan milih dia." Neni menatap sedih kearah Aryo.

"Tante sekarang juga milih sama suami, aku harus melihat kemesraan kalian."

"Kamu balas dendam?"

Aryo menggelengkan kepalanya "Apa salah aku mencintai seorang wanita? Apa hidupku hanya seputar tante saja? Kita nggak mungkin bersama, tante. Tugasku hanya memuaskan tante di ranjang, hal yang tidak tante dapatkan dari suami."

Neni mengangkat sudut bibirnya keatas "Kamu yakin dia cewek baik-baik? Siapa tahu dia udah pernah melakukannya dengan pria lain, apa bedanya sama aku."

"Tante nggak usah khawatir. Aku tahu siapa dia."

Neni memicingkan matanya "Pemain kamu! Kamu menyelidiki dia sebelum mendekatinya, berapa lama kamu melakukan itu?"

"Nggak penting! Jadi sekarang kita melakukannya atau hanya membicarakan kekasihku?" Aryo menarik dagu Neni mencium bibirnya lembut "Aku harap tante tidak melakukan hal yang bisa menyakiti kekasihku."

"Apa itu ancaman? Kamu nggak akan berani melakukannya."

"Tante belum mengenal aku dengan baik."

"Aku harap dia meninggalkan kamu, kita bisa bersama selamanya."

"Kita lihat siapa yang menang, tante."

"Ah...pelan-pelan, Aryo! Sakit!" Neni teriak ketika benda kesayangan Aryo memasukinya tanpa persiapan sama sekali.

Suara erangan dan desahan keluar dari bibir mereka berdua, Neni yang awalnya merasa kesakitan saat ini menikmati apa yang dilakukan Aryo padanya. Milik Aryo yang berbeda dengan suaminya membuat Neni puas, bukan hanya milik Aryo tapi juga caranya yang tahu bagaimana memuaskan partnernya. Gerakan mereka semakin keras dan cepat, mengejar klimaks yang akan keluar dan tidak lama kemudian klimaks mereka datang dengan Aryo yang mendorong semakin dalam.

"Dia nggak akan menerima kamu." Neni menatap lemas kearah Aryo.

"Kamu nggak usah khawatir, aku tahu apa yang harus dilakukan." Aryo melepaskan penyatuan mereka dan melangkah ke kamar mandi.

"Mau kemana?" Neni menatap kesal ketika melihat Aryo yang sudah rapi.

Aryo merapikan penampilannya dengan menatap Neni sekilas "Sampai ketemu besok."

"Sekarang waktunya kita bersama, bagaimana bisa kamu tinggalin aku?" Neni tidak terima atas apa yang Aryo lakukan.

"Kamu harus pulang karena suamimu pulang." Aryo berjalan meninggalkan Neni setelah memastikan barang-barangnya tidak ada yang ketinggalan.

Hembusan napas panjang dikeluarkan, salah satu pekerjaan yang membuatnya tidak memiliki pilihan. Mendekati Syifa sama sekali tidak ada niat apapun, baru tahu latar belakangnya setelah mereka berbicara. Gadis polos yang tidak tahu dunia luar, menganggap semua orang baik dan sama sekali tidak pernah berpikir negatif tentang apapun.

Kepolosan, rasa penasaran akan ilmu dan perhatian yang membuat Aryo menyukai Syifa. Selama ini belum ada wanita atau gadis yang menarik perhatiannya dalam waktu singkat dan Syifa berhasil melakukannya, cinta pandangan pertama sama sekali tidak pernah dipercayainya dan sekarang terjadi dalam hidupnya. Beberapa kali meyakini jika ini bukan cinta, tapi Aryo sadar jika apa yang dirasakan pada Syifa adalah cinta. Satu lagi yang membuatnya penasaran adalah bersentuhan terlalu dalam dengan lawan jenis, keluarga yang memegang adat dan agama memiliki batas.

Aryo akan memikirkan cara agar bisa tahu apa yang didalam pikiran dan rasakan Syifa terhadap hubungan intim, bukan sampai merusak dengan melakukan seperti dengan Neni. Sedikit saja mungkin akan membuat dirinya senang, setidaknya mengajari Syifa atas hal yang tidak dipahami dan menjadi pengalaman pertama.

"Aku aja yang nyetir, kamu kayaknya capek banget." Aryo merapikan rambut Syifa yang keluar dari mobil.

Mereka memang janjian untuk berangkat ke tempat kursus bersama dan hari ini adalah terakhir kelas, dimana mereka bisa saja tidak bertemu nantinya. Aryo setidaknya sudah melakukan langkah cepat dengan mengajak Syifa menjalin hubungan lebih dari teman, menatap jalanan dengan fokus yang terbagi. Aryo sama sekali tidak menyangka Syifa menggunakan rok pendek, baru ingat jika kekasihnya tadi melakukan tugas interview dengan narasumber.

"Gimana tadi? Lancar?" tanya Aryo menggenggam tangan Syifa.

"Lumayan, setidaknya mereka sangat membantu." Syifa mengeratkan genggaman tangan mereka "Aku malas masuk, tapi ingat ini hari terakhir."

"Mau jalan?"

"Pulang kursus?" Aryo menganggukkan kepalanya "Nggak, aku mau pulang. Capek banget."

"Besok? Tempatnya terserah kamu."

"Kamu nggak ada kerjaan besok? Aku pengen keluar kota, nginep gitu. Sayangnya cuman keinginan karena nggak akan dapat ijin." Syifa memberikan ekspresi sedihnya.

"Keluar kota nggak usah nginap, bisa kok. Nggak usah jauh-jauh, Malang atau Lamongan. Gimana? Aku yang nyetir."

"Aku pikir-pikir dulu, nanti aku kabarin."

Tawaran yang menarik, tapi keluar hanya berdua sama sekali tidak ada dalam bayangan Syifa, ditambah mereka baru kenal dan dekat. Keputusan menerima ajakan berkencan serba mendadak, menatap Aryo yang berjalan di belakang karena mendapatkan panggilan telepon dari sang tante.

Cemburu, mungkin. Tantenya sering kali menghubungi Aryo setiap kali mereka jalan, seakan tahu apa yang sedang dilakukan Aryo. Cemburu yang sebenarnya tidak mendasar, Aryo bilang kalau tantenya ini yang memberikan uang saku dan memenuhi kehidupan semasa sekolahnya dan sang adik. Kalimat yang sama setiap kali melihat ekspresi tidak suka Syifa setiap sang tante menghubungi Aryo, genggaman tangan kembali dirasakan saat memasuki ruangan yang hanya ada beberapa anak dan dua mentor.

Syifa tidak tahu kenapa Aryo setiap memasuki ruangan selalu menggenggam tangannya, mencoba tidak peduli dan menganggap hal biasa. Dulu saat bersama dengan mantannya juga melakukan hal yang sama, kedatangan Rania membuat fokus Syifa tergantikan dan Aryo juga tidak pernah mempermasalahkannya. Pandangan Syifa mengarah ke salah satu mentor pria yang memberi kode agar keluar, mentor itu keluar terlebih dahulu dan Syifa menunggu beberapa menit untuk mengikuti dengan alasan ke kamar kecil.

"Ada apa, pak?" tanya Syifa dengan nada sopan dan bingung.

"Ada hubungan apa dengan Aryo?" Syifa mengerutkan kening "Saya hanya berpesan karena setelah ini kamu sudah tidak kursus disini lagi, saya harap kamu menjaga diri Aryo bukan pria baik-baik. Saya mengatakan ini karena saya tahu kamu polos dan terlalu baik untuk pria seperti Aryo."

Syifa tersenyum mendengarnya "Terima kasih atas peringatannya, pak. Saya bisa menjaga diri, semoga saja apa yang bapak katakan tentang Aryo tidak benar. Sekali lagi terima kasih."

"Baiklah, saya hanya ingin mengatakan hal itu. Semoga saja apa yang saya katakan dan takutkan tidak terjadi, Aryo adalah pria yang memuaskan wanita dewasa yaitu wanita yang tidak puas dengan pelayanan dari suaminya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pria Panggilan   44

    "Kamu baik-baik saja?" "Ya. Hubungan kami sudah selesai." Teddy memicingkan mata mendengar jawaban Syifa "Selesai? Putus? Yakin?" Syifa menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya, om. Maaf kemarin nggak jadi ketemu. Om padahal sudah datang, tapi aku nggak mau Aryo berpikir yang tidak-tidak." "Nggak masalah. Kenapa putus? Kita bertemu setelah kamu luar kota nggak ada pembicaraan itu, apa dia milih cewek itu?" Teddy masih fokus dengan jawaban Syifa yang mengatakan hubungannya dengan Aryo berakhir. "Memang aku belum bilang karena aku ingin bicara lebih dulu sama papa dan mama. Aku butuh support mereka saat mengambil keputusan apapun, bagaimanapun aku masih tanggung jawab mereka berdua terutama papa. Maafkan kalau selama ini...nggak percaya sama apa yang om bilang...mungkin bukan nggak percaya tapi dibutakan cinta." Syifa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah! Penting sekarang

  • Cinta Pria Panggilan   43

    "Mengakhiri hubungan kita? Rencana pernikahan? Apa ini ada hubungannya sama pertemuan kemarin?" "Seharusnya kejadian Neni saat itu memang hubungan kita berakhir, tapi aku memberi kesempatan..." "Kamu tahu kalau aku sudah nggak hubungan sama dia, kalaupun sekarang hubungan sama dia murni masalah trading. Sayang, kamu nggak lagi bercanda, kan? Pernikahan kita beberapa bulan lagi, masa kamu tega batalin gitu aja?" Aryo menatap penuh ketakutan pada Syifa yang memilih diam "Kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Kamu mau kita nggak ngapa-ngapain pas ketemu? Kamu pengen..." "Kamu memang nggak melakukan sama aku dan Neni, tapi melakukannya sama wanita lain." Syifa memotong kalimat Aryo yang seketika membelalakkan matanya "Bukan Gary yang memberitahu aku, bukan juga teman-temanmu yang di tempat gym. Aku tahu sendiri, bahkan apartemen itu juga ada wanita itu disana." Syifa menarik dan menghembuskan napas panjang "Kamu menempati janji dengan Neni, w

  • Cinta Pria Panggilan   42

    "Om nggak lagi bercanda, kan? Om bilang gini bukan karena...""Buat kamu sama aku? Aku bukan orang begitu! Apa pernah aku berbuat sesuatu sama kamu? Aku menahan diri selama ini!"Syifa membenarkan kalimat Teddy, kedekatan mereka selama ini hanya saling berbicara tidak lainnya, walaupun Syifa menyadarinya tapi berpura-pura tidak sadar dengan perasaan pria dihadapannya. Menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan memejamkan matanya. "Kamu boleh tidak percaya. Semua pilihan yang kamu ambil." Teddy membuka suaranya memecah keheningan, tanpa melepaskan tatapan pada Syifa."Om, aku mau tidur sini. Om pulang aja, aku baik-baik saja disini." Syifa beranjak dari tempat duduknya.Langkah kakinya menuju kamar yang selama ini dipakai untuk istirahat, membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu. Semua kalimat mereka masuk dalam pikiran Syifa, bukan hanya Miko dan Teddy saja tapi kedua pria yang mengingatkannya dulu. Satu pertanyaan

  • Cinta Pria Panggilan   41

    "Aku nggak nyangka kalau kamu kuat." Syifa menatap kesal kearah Miko yang tertawa melihat ekspresinya "Maksudnya apa ya, mas? Aku memang kelihatan manja?" Miko mengangkat bahunya "Kamu itu polos tapi ternyata...nggak sepolos apa yang ada dalam pikiranku. Aku sama sekali nggak menyangka kalau berani dalam kamar berduaan dengan cowok, kenapa sekarang nggak berani dikamar sama aku saja?" "Nggak usah aneh-aneh, mas! Mas itu orangnya lurus, datar dan menjengkelkan." Syifa masih memberikan tatapan kesalnya "Tapi aku salah...mas ini perhatian. Ceweknya mas pasti senang dapat perhatian dan perlakuan mas ini." "Cowok kamu nggak begitu?" Miko menatap penasaran "Apa dia perhatian kalau lagi pengen aja?" "Nggak! Dia memang perhatian dan memperlakukan aku selayaknya putri." Syifa semakin tidak terima dengan tuduhan Miko. "Kamu percaya sama cowok kamu?" Syifa mengerutkan kening mendengar pertanyaan Miko

  • Cinta Pria Panggilan   40

    "Perjanjian kita sudah jelas..." "Mereka berdua nggak ada disini, perjanjian itu nggak berlaku." Neni memotong kalimat Aryo dengan berjalan mendekatinya "Rumah ini aku beli buat kita, tanpa uang dari Teddy. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan." "Mereka memang tidak ada disini, tapi aku tetap nggak mau." "Kamu yakin dia setia?" Neni mengangkat sudut bibirnya. "Kalaupun Syifa nggak setia aku akan tetap bersama dia, kamu tahu perasaanku ke dia. Tapi...tampaknya kamu yang nggak mendapatkan sentuhan dari Teddy, benar? Bukankah lebih baik kalian memperjelas hubungan?" Aryo menyingkir dari hadapan Neni "Aku nggak bisa menjadi instruktur pribadimu, kamu bisa mencari orang lain." "Aku lebih percaya sama kamu." Neni menyentuh lengan Aryo kembali "Aku akan bayar berapapun yang kamu minta." Aryo menggelengkan kepalanya "Aku nggak mau kedekatan ini membuat

  • Cinta Pria Panggilan   39

    "Syifa tahu tentang ini?" "Syifa akan tahu setelah kamu menyetujuinya. Kamu pasti tahu jika saya belum percaya sepenuhnya sama kamu. Tantangan melamar itu ingin melihat keseriusan kamu pada Syifa, jangan dikira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan bahkan mengubah Syifa." Rahmad mengatakan dengan nada datar "Saya diam karena saya lihat Syifa cinta sama kamu, sedangkan kamu? Memang terlihat kamu sayang sama Syifa, tapi sayang saja tidak cukup. Orang tua kamu orang baik-baik, saya tidak meragukan mereka yang menyayangi Syifa dan akan menganggap sebagai anak sendiri, saya malah meragukan kamu yang bisa setia dengan Syifa." Aryo sedikit terkejut dengan semua yang dikatakan pria dihadapannya, tidak lain adalah papanya Syifa "Om menyelidiki saya?" Rahmad menggeleng dan menganggukkan kepalanya bergantian "Kamu akan tahu kalau punya anak perempuan. Saya mengetahuinya secara tidak langsung. Kalian sudah bertindak terlalu jauh dan saya tidak mau

  • Cinta Pria Panggilan   29

    "Nikah? Aryo? Yakin?" "Kenapa gitu reaksinya, om? Om tahu kalau hubungan ini serius, terus kenapa kaget begitu?" Syifa langsung menuju ke rumah Teddy setelah mengantarkan Aryo ke tempat gym, gagal melakukan olahraga bersama tidak membuat mereka tidak bertemu. Syifa membutuhkan

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Cinta Pria Panggilan   30

    "Terima kasih bapak mau invest disini." "Saya percaya sama kamu, jangan buat saya rugi." Aryo menganggukkan kepala mendengar permintaan pemilik tempat gym "Yo, saya mau kamu jadi trainer khusus seseorang, dia bilang kenal kamu dengan baik." Aryo mengerutkan keningnya "Siapa, p

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Cinta Pria Panggilan   31

    "Bagaimana yang aku kasih?" Aryo menatap Stella dengan wajah bahagia "Aku terima kasih banyak sama kamu, mereka bukan orang sembarangan dan mudah banget masukin uang." "Baguslah kalau begitu, rencana kamu menata masa depan berjalan lancar." Aryo menganggukkan kepalanya "Sampai mana rencana pernik

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Cinta Pria Panggilan   9

    "Pagi banget berangkatnya?" "Ya, mbak. Maaf bangunin sebelum subuh gini." Syifa menatap tidak enak.Memberikan alasan pada asisten di rumah jika dirinya ingin olahraga dengan Indah, pakaiannya tentu pakaian olahraga dan Syifa juga sudah membawa beberapa potong pakaian yang akan

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status