ログイン"Satu kamar nggak masalah? Lagian ranjangnya juga dua."
Syifa menganggukkan kepala menatap kamar hotel yang akan menjadi tempat tinggal mereka semalam, mereka sudah berada di kota dan masuk kedalam kamar setelah makan. Meletakkan barangnya di salah satu tempat, menatap Aryo yang langsung menyalakan televisi. "Kamu mau sisi mana? Tidurnya." "Pojok aja, aku mandi dulu." Satu kamar dengan lawan jenis belum pernah Syifa lakukan, bersama mantan pacarnya saja tidak pernah pergi sejauh ini dan sekarang melakukannya dengan pria yang menjadi kekasihnya dan baru dikenal. Dalam hati hanya bisa berdoa tidak ada kejadian apapun diantara mereka, termasuk melakukan perbuatan yang dilarang agama. Syifa tidak mau membuat kedua orang tuanya sedih dan pastinya menghentikan impian yang sudah direncanakan. Menatap pakaian yang dibawa dan seketika menyesalinya, membawa pakaian tidur yang biasa dipakai dirumah yaitu piyama dengan celana pendeknya. Seharusnya membawa celana panjang, tapi saat itu Syifa tahunya mereka akan berada di dekat pantai jadi memilih membawa celana pendek. Hembusan napas dikeluarkan dan agar menghilangkan pikiran negatifnya. Langkah kakinya terhenti saat melihat Aryo tidur, tampaknya pria itu memang lelah karena perjalanan mereka yang jauh, bahkan pria itu menyetir sendiri padahal sudah ditawarin untuk bergantian. Melangkahkan kakinya menuju ranjang lain, melihat Aryo yang tidur dengan selimut berantakan secara otomatis Syifa mendekat dan merapikannya. Tanpa bisa dicegah tarikan lembut dilakukan Aryo dan membuat Syifa berada dalam pelukannya, gerakan otomatis adalah Syifa mendorong tubuh Aryo agar menjauh. "Biarkan begini, sayang. Aku pengen tidur meluk kamu." Aryo mengeratkan pelukannya dengan mencium kening Syifa "Tidurlah, nanti malam kita keluar." Syifa hanya bisa pasrah atas apa yang Aryo lakukan "Hanya tidur, tidak dengan hal lain." Pelukan dan rasa lelah akhirnya membuat Syifa tidur setelah memastikan Aryo kembali tidur, dapat terasa tarikan napas teratur yang menandakan jika memang sudah tidur. Membuka mata dengan menatap sekitar, menatap sekitar mencari keberadaan Aryo yang sudah tidak ada disampingnya, mencari ponselnya dan hembusan napas lega karena tidak ada pesan dari orang tua atau orang rumah. "Sudah bangun?" Syifa menatap Aryo yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya "Bagaimana bagus badanku, kan?" Aryo menaik turunkan alisnya "Kita mau keluar sekarang atau gimana?" Syifa menatap jam di ponsel "Keluar cari makan? Memang sudah lapar?" Aryo menganggukkan kepalanya "Kalau kita disini yang ada aku malah khilaf, kamu terlalu menggoda." Syifa tertawa mendengarnya "Kamu bisa aja, kamu sering begini sama cewek lain?" Aryo menggelengkan kepalanya "Kamu aja, buruan ganti pakaian." "Tante kamu?" tanya Syifa sedikit memancing informasi orang lain. "Kenapa jadi bahas tante? Kamu masih marah aku tadi hubungan sama tante? Maaf ya, sayang." Aryo memberikan tatapan tidak enaknya. "Aku harus paham kalau dia itu sumber uang kamu, jadi kamu harus ikut apa kata dia." Syifa melangkah ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya, meninggalkan Aryo yang terdiam. Tidak peduli dengan reaksi Aryo dan menganggap jika dirinya sudah mulai curiga. Mereka mencari makan di beberapa tempat yang memang lagi viral, terkenal di kalangan anak-anak muda. Pembahasan mengenai tante dilupakan Syifa karena momen mereka berdua lebih penting dibandingkan hal itu. "Jadi kerjanya cuman itu? Kuliah kamu udah beres, kan? Nggak coba lamar tempat lain?" "Udah, belum ada panggilan. Mau coba lanjut kuliah, tapi duitnya belum cukup. Bapak sih nggak masalah kalau mau lanjut, dananya ada karena udah disiapin tapi rasanya kok...nggak enak gitu." Aryo menghela napasnya. Syifa menganggukkan kepalanya "Cowok itu penuh pertimbangan dan gengsi ya?" "Memang kamu nggak?" "Sama sih." Syifa menjawab sambil tertawa. "Kamu gimana? Papa kamu pasti sudah siapin bekal buat kamu, kerja di kantornya mungkin." Syifa menggelengkan kepalanya "Nggak sama sekali, aku nggak akan lanjutin kerjaan papa. Sama kayak kakak-kakakku, nggak tahu ke depan perusahaan itu gimana." "Kenapa gitu? Bukannya enak tinggal melanjutkan? Aku jadi kamu nggak bingung cari kerja." "Apa yang enak di mata orang lain belum tentu sama kayak yang menjalaninya. Aku sih maunya cari kerja di tempat lain, sambil ikut tes kuliah lanjutan." Pembahasan mereka terus berlanjut hingga malam, sebenarnya Syifa sudah sangat lelah tapi tampaknya Aryo yang tidak ingin segera kembali ke hotel. Syifa memberikan tanda isyarat, bahkan secara langsung tetap tidak berdampak sama sekali. Seketika menyadari jika mereka sekamar berdua dan pastinya Aryo takut terjadi sesuatu pada mereka, menatap Aryo yang sedang menikmati musik dengan tatapan serius. "Kenapa kita nggak balik?" tanya Syifa langsung membuat Aryo menatap kearahnya. "Kamu mau kejadian lebih dari ciuman terjadi?" Syifa terdiam "Aku lelaki dan pacar kamu, sayang. Aku menahan diri agar tidak terlalu menyentuh kamu, sekali aku menyentuh kamu dalam aku takut nggak bisa berhenti." Aryo menatap dalam Syifa yang terdiam "Kalau kamu mau, kita balik hotel." "Kita bisa langsung tidur, sayang. Ranjangnya aja ada dua." Syifa melakukan pembelaan diri "Apalagi besok kita perjalanan pulang dan panjang." Aryo menghela napasnya panjang "Aku nggak yakin, sayang. Melihatmu tadi sudah buat aku harus menahan diri agar nggak lebih." "Ya udah nggak usah satu ranjang, aku udah capek." Syifa memberikan tatapan memohon. Aryo yang melihatnya tidak bisa menolak dan memberikan alasan lagi "Aku sama sekali nggak bisa menolak kamu, sayang." Aryo berdiri dan mengulurkan tangan ke Syifa yang langsung di genggamnya, berjalan dengan bergandengan tangan dengan kepala Syifa menyandar di lengan Aryo. Membahas hal ringan di perjalanan, berhenti membeli camilan agar dimakan di kamar, Aryo menambahkan pengaman untuk berjaga tanpa sepengetahuan Syifa. "Finally, aku ganti baju dulu." Syifa melangkah kamar mandi untuk berganti baju dengan Aryo melakukan hal sama. "Kamu masih mau makan camilan?" Aryo menatap Syifa yang membuka salah satu camilan "Nggak kenyang, sayang?" "Kamu juga gini ke cewekmu dulu?" tanya Syifa penasaran. "Aku nggak pernah pacaran, sayang." Syifa membelalakkan matanya "Nggak percaya banget." "Memang, kamu ciuman udah pro banget jadi nggak mungkin belum pernah pacaran." Syifa menatap tidak percaya. "Ciuman sama kamu kayak membangkitkan sesuatu dalam diri, jadinya naluri aja." Syifa berdecih pelan sambil menggelengkan kepalanya "Alasan banget! Nggak mungkin!" Aryo tertawa mendengar kalimat Syifa dengan mencubit pipinya gemas, mendekatinya dan mencium sekilas pipinya dan bergabung bersama dalam satu ranjang dengan tangannya melingkar di pinggang Syifa. "Dekat sama kamu itu kayak membuat aku mempelajari banyak hal, sayang. Semua terjadi secara alami." Aryo mendekatkan bibirnya di leher Syifa "Kamu membangkitkan jiwa priaku yang nggak pernah disentuh sama cewek, sayang." "Ahh...jangan...nanti kebablasan..." "Nggak akan.""Aku mau ambil hak asuh Tania, sayang. Kamu keberatan?" "Memang kenapa sama Stella?" Syifa mengernyitkan kening mendengar informasi yang Aryo berikan."Kamu keberatan?" Aryo menatap penuh rasa ingin tahu.Syifa menggelengkan kepalanya "Bukan keberatan. Aku tanya memang kenapa dengan Stella? Apa dia nggak masalah?""Menurut hukum dia nggak bisa mengasuh Tania, Stella secara materi kurang dan dia selingkuh selama kita menikah." "Kamu juga selingkuh." Syifa mengingatkan "Kamu berhubungan intim sama aku, menikahi Neni secara siri, jadi apa bedanya? Jangan pakai dasar poligami, apa yang kamu lakukan juga salah jadi jangan menyalahkan Stella saja. Aku nggak masalah kamu ambil hak asuh Tania, tapi pertimbangkan Stella juga. Apa yang buat kamu keberatan? Kamu nggak mau kasih nafkah Stella?" "Salah satunya." Aryo menganggukkan kepalanya "Utamanya adalah aku nggak mau hubungan sama Stella, meskipun tentang anak. Aku berpikir kalau Tania
"Ibu yakin kamu pasti kembali." Syifa tersenyum kearah mantan calon mertua atau mungkin calon mertua, tapi yang pasti Syifa sudah menganggap wanita dihadapannya adalah ibunya sendiri dan kedudukannya tidak jauh berbeda dengan mama yang sekarang memilih tinggal di panti jompo. "Ibu kapan itu lihat mama kamu, dia happy banget disana. Ibu jadi pengen tinggal disana, banyak teman. Sayangnya anak Aryo dari wanita itu butuh pengawasan, mau nggak mau bantuin." Evi mengerucutkan bibirnya."Ibu bisa tinggal disana sekarang." Aryo mengatakan tanpa beban dengan tangannya yang menggendong Akbar "Aww...kok malah dipukul? Aku bilang sebenarnya. Aku sudah ada Syifa, kami akan tinggal bersama dan akan menikah setelah masa iddah selesai.""Kamu langsung buang ibumu setelah pemilik hatimu kembali?" Evi memegang dadanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat "Kamu lihat, kan? Dia akan melupakan semua kalau sudah ada kamu." Syifa hanya bisa tersenyum meli
Enam tahun lalu (masih dengan Teddy)"Aku kira kalian nggak akan jadi." "Wanita berharga sulit didapat." Teddy melingkarkan tangan di pinggang Syifa."Jadi, kalian sudah menikah?" Teddy mengangguk dengan senyum lebarnya "Syukurlah, semoga cepat hamil.""Semoga." Menghadiri acara yang membosankan, bukan hanya bagi Syifa tapi juga Teddy. Apabila harus memilih, pasti pilihannya adalah ranjang. Mereka tidak bertemu hampir satu minggu, pekerjaan Teddy yang tidak bisa ditinggal dan Syifa yang juga tidak kalah sibuknya. Syifa yang pulang ke kota asalnya, dirinya datang kemarin pagi dan pastinya Teddy tidak akan melepaskannya dan memilih didalam kamar. Sekarang yang mereka lakukan adalah olahraga bersama teman-teman Teddy dulu, Syifa menyetujui ajakan mereka karena sudah lama tidak bertemu dan nostalgia."Aku bosan, sayang." Teddy berbisik tepat di telinga Syifa."Habis ini juga pulang, mas." Syifa membelai paha Teddy perlahan "Sab
"Aku akan pelan-pelan, sayang. Kalau sakit kamu bisa mencakar punggungku, sayang. Aku berusaha tidak menyakitimu." Aryo mencium kening Syifa dengan penuh cinta, mendorong miliknya memasuki rumah yang diharapkan dari dulu. Aryo memejamkan matanya merasakan miliknya masuk perlahan, membuka mata menatap Syifa penuh cinta dimana mantan kekasihnya ini menutup mata, melumat bibir Syifa agar tidak terlalu tegang dan takut. Mendorong sekali lagi, seketika terhenti ketika merasakan sesuatu yang tidak pernah dialami selama ini. Mendorong sekali lagi dengan memagut bibir Syifa dalam, dorongan perlahan dan pasti ketika merasakan sesuatu dibawah dan didalam sana terasa robek, tangan Syifa mencakar punggung Aryo, pagutan bibir mereka tidak terlepas tapi semakin dalam.Mendiamkannya didalam ketika merasa jika miliknya masuk semua, pagutan bibir mereka terlepas dan saling memandang, tatapan cinta tidak pernah hilang dari Aryo pada Syifa. Mengulurkan tangan membelai wajah Aryo per
Satu Tahun setelah kepergian Syifa"Kenapa aku belum hamil ya?""Belum dikasih." Aryo menjawab Stella dengan nada santainya "Memang kamu sudah siap merawat anak?""Kalau aku berharap artinya sudah siap." Stella melingkarkan tangannya di lengan Aryo "Kamu jadi ke ibukota? Apa ketemu...""Nggak. Aku sibuk." Aryo mencium puncak kepala Stella "Kamu tahu kalau hubunganku sama dia berakhir, aku nggak mungkin menemui dia bukan karena dia nggak mau bertemu tapi aku juga. Kamu nggak usah mengkhawatirkan apapun." Ketakutan Stella bisa saja terjadi, menerima tugas di ibukota dengan tujuan melihat Syifa. Perasaan rindu harus segera di obati, menatap dari jauh sudah sangat puas dan mengobati semuanya. Aryo jelas tidak mungkin mengatakan sebenarnya pada Stella, menjaga perasaan wanita yang menjadi istrinya.Perjalanan menggunakan pesawat, begitu sampai tujuannya adalah rumah Syifa. Aryo sangat yakin pemilik hatinya sudah dirumah, jarak bandara den
Enam Tahun Lalu "Aku kira nggak akan jemput." Syifa mengerucutkan bibir mendengar kalimat yang keluar dari bibir Teddy "Kalau nggak jemput memang nggak marah? Udah makin tua masih aja cepat marah." Teddy menarik Syifa kedalam pelukan, mencium puncak kepalanya "Gimana kerjaanmu? Banyak yang harus diurus?" "Pulang sekarang, aku lapar dan malas bahas kerjaan." Syifa meletakkan tangannya di lengan Teddy tampak malas membahas pekerjaan "Jangan lupa ada undangan nikah di Bandung besok." "Kamu sudah pesan tiket keretanya?" Syifa menganggukkan kepalanya "Ok, kita cari makan baru istirahat." Hubungan mereka memang sudah berakhir sebelum Syifa memutuskan ke ibukota, tapi pekerjaan Teddy yang harus bertemu orang dan melebarkan usahanya membuat mereka kembali bertemu. Jarak yang tercipta dulu sudah hilang, tidak tahu siapa yang memulai tapi mereka sudah selayaknya pasangan. Perubahan diantara mereka adalah sta







