Share

6

Author: nura0484
last update publish date: 2026-01-05 18:30:29

"Satu kamar nggak masalah? Lagian ranjangnya juga dua."

Syifa menganggukkan kepala menatap kamar hotel yang akan menjadi tempat tinggal mereka semalam, mereka sudah berada di kota dan masuk kedalam kamar setelah makan. Meletakkan barangnya di salah satu tempat, menatap Aryo yang langsung menyalakan televisi.

"Kamu mau sisi mana? Tidurnya."

"Pojok aja, aku mandi dulu."

Satu kamar dengan lawan jenis belum pernah Syifa lakukan, bersama mantan pacarnya saja tidak pernah pergi sejauh ini dan sekarang melakukannya dengan pria yang menjadi kekasihnya dan baru dikenal. Dalam hati hanya bisa berdoa tidak ada kejadian apapun diantara mereka, termasuk melakukan perbuatan yang dilarang agama. Syifa tidak mau membuat kedua orang tuanya sedih dan pastinya menghentikan impian yang sudah direncanakan.

Menatap pakaian yang dibawa dan seketika menyesalinya, membawa pakaian tidur yang biasa dipakai dirumah yaitu piyama dengan celana pendeknya. Seharusnya membawa celana panjang, tapi saat itu Syifa tahunya mereka akan berada di dekat pantai jadi memilih membawa celana pendek. Hembusan napas dikeluarkan dan agar menghilangkan pikiran negatifnya.

Langkah kakinya terhenti saat melihat Aryo tidur, tampaknya pria itu memang lelah karena perjalanan mereka yang jauh, bahkan pria itu menyetir sendiri padahal sudah ditawarin untuk bergantian. Melangkahkan kakinya menuju ranjang lain, melihat Aryo yang tidur dengan selimut berantakan secara otomatis Syifa mendekat dan merapikannya. Tanpa bisa dicegah tarikan lembut dilakukan Aryo dan membuat Syifa berada dalam pelukannya, gerakan otomatis adalah Syifa mendorong tubuh Aryo agar menjauh.

"Biarkan begini, sayang. Aku pengen tidur meluk kamu." Aryo mengeratkan pelukannya dengan mencium kening Syifa "Tidurlah, nanti malam kita keluar."

Syifa hanya bisa pasrah atas apa yang Aryo lakukan "Hanya tidur, tidak dengan hal lain."

Pelukan dan rasa lelah akhirnya membuat Syifa tidur setelah memastikan Aryo kembali tidur, dapat terasa tarikan napas teratur yang menandakan jika memang sudah tidur. Membuka mata dengan menatap sekitar, menatap sekitar mencari keberadaan Aryo yang sudah tidak ada disampingnya, mencari ponselnya dan hembusan napas lega karena tidak ada pesan dari orang tua atau orang rumah.

"Sudah bangun?" Syifa menatap Aryo yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya "Bagaimana bagus badanku, kan?" Aryo menaik turunkan alisnya "Kita mau keluar sekarang atau gimana?"

Syifa menatap jam di ponsel "Keluar cari makan? Memang sudah lapar?"

Aryo menganggukkan kepalanya "Kalau kita disini yang ada aku malah khilaf, kamu terlalu menggoda."

Syifa tertawa mendengarnya "Kamu bisa aja, kamu sering begini sama cewek lain?"

Aryo menggelengkan kepalanya "Kamu aja, buruan ganti pakaian."

"Tante kamu?" tanya Syifa sedikit memancing informasi orang lain.

"Kenapa jadi bahas tante? Kamu masih marah aku tadi hubungan sama tante? Maaf ya, sayang." Aryo memberikan tatapan tidak enaknya.

"Aku harus paham kalau dia itu sumber uang kamu, jadi kamu harus ikut apa kata dia."

Syifa melangkah ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya, meninggalkan Aryo yang terdiam. Tidak peduli dengan reaksi Aryo dan menganggap jika dirinya sudah mulai curiga. Mereka mencari makan di beberapa tempat yang memang lagi viral, terkenal di kalangan anak-anak muda. Pembahasan mengenai tante dilupakan Syifa karena momen mereka berdua lebih penting dibandingkan hal itu.

"Jadi kerjanya cuman itu? Kuliah kamu udah beres, kan? Nggak coba lamar tempat lain?"

"Udah, belum ada panggilan. Mau coba lanjut kuliah, tapi duitnya belum cukup. Bapak sih nggak masalah kalau mau lanjut, dananya ada karena udah disiapin tapi rasanya kok...nggak enak gitu." Aryo menghela napasnya.

Syifa menganggukkan kepalanya "Cowok itu penuh pertimbangan dan gengsi ya?"

"Memang kamu nggak?"

"Sama sih." Syifa menjawab sambil tertawa.

"Kamu gimana? Papa kamu pasti sudah siapin bekal buat kamu, kerja di kantornya mungkin."

Syifa menggelengkan kepalanya "Nggak sama sekali, aku nggak akan lanjutin kerjaan papa. Sama kayak kakak-kakakku, nggak tahu ke depan perusahaan itu gimana."

"Kenapa gitu? Bukannya enak tinggal melanjutkan? Aku jadi kamu nggak bingung cari kerja."

"Apa yang enak di mata orang lain belum tentu sama kayak yang menjalaninya. Aku sih maunya cari kerja di tempat lain, sambil ikut tes kuliah lanjutan."

Pembahasan mereka terus berlanjut hingga malam, sebenarnya Syifa sudah sangat lelah tapi tampaknya Aryo yang tidak ingin segera kembali ke hotel. Syifa memberikan tanda isyarat, bahkan secara langsung tetap tidak berdampak sama sekali. Seketika menyadari jika mereka sekamar berdua dan pastinya Aryo takut terjadi sesuatu pada mereka, menatap Aryo yang sedang menikmati musik dengan tatapan serius.

"Kenapa kita nggak balik?" tanya Syifa langsung membuat Aryo menatap kearahnya.

"Kamu mau kejadian lebih dari ciuman terjadi?" Syifa terdiam "Aku lelaki dan pacar kamu, sayang. Aku menahan diri agar tidak terlalu menyentuh kamu, sekali aku menyentuh kamu dalam aku takut nggak bisa berhenti." Aryo menatap dalam Syifa yang terdiam "Kalau kamu mau, kita balik hotel."

"Kita bisa langsung tidur, sayang. Ranjangnya aja ada dua." Syifa melakukan pembelaan diri "Apalagi besok kita perjalanan pulang dan panjang."

Aryo menghela napasnya panjang "Aku nggak yakin, sayang. Melihatmu tadi sudah buat aku harus menahan diri agar nggak lebih."

"Ya udah nggak usah satu ranjang, aku udah capek." Syifa memberikan tatapan memohon.

Aryo yang melihatnya tidak bisa menolak dan memberikan alasan lagi "Aku sama sekali nggak bisa menolak kamu, sayang."

Aryo berdiri dan mengulurkan tangan ke Syifa yang langsung di genggamnya, berjalan dengan bergandengan tangan dengan kepala Syifa menyandar di lengan Aryo. Membahas hal ringan di perjalanan, berhenti membeli camilan agar dimakan di kamar, Aryo menambahkan pengaman untuk berjaga tanpa sepengetahuan Syifa.

"Finally, aku ganti baju dulu." Syifa melangkah kamar mandi untuk berganti baju dengan Aryo melakukan hal sama.

"Kamu masih mau makan camilan?" Aryo menatap Syifa yang membuka salah satu camilan "Nggak kenyang, sayang?"

"Kamu juga gini ke cewekmu dulu?" tanya Syifa penasaran.

"Aku nggak pernah pacaran, sayang." Syifa membelalakkan matanya "Nggak percaya banget."

"Memang, kamu ciuman udah pro banget jadi nggak mungkin belum pernah pacaran." Syifa menatap tidak percaya.

"Ciuman sama kamu kayak membangkitkan sesuatu dalam diri, jadinya naluri aja."

Syifa berdecih pelan sambil menggelengkan kepalanya "Alasan banget! Nggak mungkin!"

Aryo tertawa mendengar kalimat Syifa dengan mencubit pipinya gemas, mendekatinya dan mencium sekilas pipinya dan bergabung bersama dalam satu ranjang dengan tangannya melingkar di pinggang Syifa.

"Dekat sama kamu itu kayak membuat aku mempelajari banyak hal, sayang. Semua terjadi secara alami." Aryo mendekatkan bibirnya di leher Syifa "Kamu membangkitkan jiwa priaku yang nggak pernah disentuh sama cewek, sayang."

"Ahh...jangan...nanti kebablasan..."

"Nggak akan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pria Panggilan   44

    "Kamu baik-baik saja?" "Ya. Hubungan kami sudah selesai." Teddy memicingkan mata mendengar jawaban Syifa "Selesai? Putus? Yakin?" Syifa menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya, om. Maaf kemarin nggak jadi ketemu. Om padahal sudah datang, tapi aku nggak mau Aryo berpikir yang tidak-tidak." "Nggak masalah. Kenapa putus? Kita bertemu setelah kamu luar kota nggak ada pembicaraan itu, apa dia milih cewek itu?" Teddy masih fokus dengan jawaban Syifa yang mengatakan hubungannya dengan Aryo berakhir. "Memang aku belum bilang karena aku ingin bicara lebih dulu sama papa dan mama. Aku butuh support mereka saat mengambil keputusan apapun, bagaimanapun aku masih tanggung jawab mereka berdua terutama papa. Maafkan kalau selama ini...nggak percaya sama apa yang om bilang...mungkin bukan nggak percaya tapi dibutakan cinta." Syifa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah! Penting sekarang

  • Cinta Pria Panggilan   43

    "Mengakhiri hubungan kita? Rencana pernikahan? Apa ini ada hubungannya sama pertemuan kemarin?" "Seharusnya kejadian Neni saat itu memang hubungan kita berakhir, tapi aku memberi kesempatan..." "Kamu tahu kalau aku sudah nggak hubungan sama dia, kalaupun sekarang hubungan sama dia murni masalah trading. Sayang, kamu nggak lagi bercanda, kan? Pernikahan kita beberapa bulan lagi, masa kamu tega batalin gitu aja?" Aryo menatap penuh ketakutan pada Syifa yang memilih diam "Kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Kamu mau kita nggak ngapa-ngapain pas ketemu? Kamu pengen..." "Kamu memang nggak melakukan sama aku dan Neni, tapi melakukannya sama wanita lain." Syifa memotong kalimat Aryo yang seketika membelalakkan matanya "Bukan Gary yang memberitahu aku, bukan juga teman-temanmu yang di tempat gym. Aku tahu sendiri, bahkan apartemen itu juga ada wanita itu disana." Syifa menarik dan menghembuskan napas panjang "Kamu menempati janji dengan Neni, w

  • Cinta Pria Panggilan   42

    "Om nggak lagi bercanda, kan? Om bilang gini bukan karena...""Buat kamu sama aku? Aku bukan orang begitu! Apa pernah aku berbuat sesuatu sama kamu? Aku menahan diri selama ini!"Syifa membenarkan kalimat Teddy, kedekatan mereka selama ini hanya saling berbicara tidak lainnya, walaupun Syifa menyadarinya tapi berpura-pura tidak sadar dengan perasaan pria dihadapannya. Menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan memejamkan matanya. "Kamu boleh tidak percaya. Semua pilihan yang kamu ambil." Teddy membuka suaranya memecah keheningan, tanpa melepaskan tatapan pada Syifa."Om, aku mau tidur sini. Om pulang aja, aku baik-baik saja disini." Syifa beranjak dari tempat duduknya.Langkah kakinya menuju kamar yang selama ini dipakai untuk istirahat, membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu. Semua kalimat mereka masuk dalam pikiran Syifa, bukan hanya Miko dan Teddy saja tapi kedua pria yang mengingatkannya dulu. Satu pertanyaan

  • Cinta Pria Panggilan   41

    "Aku nggak nyangka kalau kamu kuat." Syifa menatap kesal kearah Miko yang tertawa melihat ekspresinya "Maksudnya apa ya, mas? Aku memang kelihatan manja?" Miko mengangkat bahunya "Kamu itu polos tapi ternyata...nggak sepolos apa yang ada dalam pikiranku. Aku sama sekali nggak menyangka kalau berani dalam kamar berduaan dengan cowok, kenapa sekarang nggak berani dikamar sama aku saja?" "Nggak usah aneh-aneh, mas! Mas itu orangnya lurus, datar dan menjengkelkan." Syifa masih memberikan tatapan kesalnya "Tapi aku salah...mas ini perhatian. Ceweknya mas pasti senang dapat perhatian dan perlakuan mas ini." "Cowok kamu nggak begitu?" Miko menatap penasaran "Apa dia perhatian kalau lagi pengen aja?" "Nggak! Dia memang perhatian dan memperlakukan aku selayaknya putri." Syifa semakin tidak terima dengan tuduhan Miko. "Kamu percaya sama cowok kamu?" Syifa mengerutkan kening mendengar pertanyaan Miko

  • Cinta Pria Panggilan   40

    "Perjanjian kita sudah jelas..." "Mereka berdua nggak ada disini, perjanjian itu nggak berlaku." Neni memotong kalimat Aryo dengan berjalan mendekatinya "Rumah ini aku beli buat kita, tanpa uang dari Teddy. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan." "Mereka memang tidak ada disini, tapi aku tetap nggak mau." "Kamu yakin dia setia?" Neni mengangkat sudut bibirnya. "Kalaupun Syifa nggak setia aku akan tetap bersama dia, kamu tahu perasaanku ke dia. Tapi...tampaknya kamu yang nggak mendapatkan sentuhan dari Teddy, benar? Bukankah lebih baik kalian memperjelas hubungan?" Aryo menyingkir dari hadapan Neni "Aku nggak bisa menjadi instruktur pribadimu, kamu bisa mencari orang lain." "Aku lebih percaya sama kamu." Neni menyentuh lengan Aryo kembali "Aku akan bayar berapapun yang kamu minta." Aryo menggelengkan kepalanya "Aku nggak mau kedekatan ini membuat

  • Cinta Pria Panggilan   39

    "Syifa tahu tentang ini?" "Syifa akan tahu setelah kamu menyetujuinya. Kamu pasti tahu jika saya belum percaya sepenuhnya sama kamu. Tantangan melamar itu ingin melihat keseriusan kamu pada Syifa, jangan dikira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan bahkan mengubah Syifa." Rahmad mengatakan dengan nada datar "Saya diam karena saya lihat Syifa cinta sama kamu, sedangkan kamu? Memang terlihat kamu sayang sama Syifa, tapi sayang saja tidak cukup. Orang tua kamu orang baik-baik, saya tidak meragukan mereka yang menyayangi Syifa dan akan menganggap sebagai anak sendiri, saya malah meragukan kamu yang bisa setia dengan Syifa." Aryo sedikit terkejut dengan semua yang dikatakan pria dihadapannya, tidak lain adalah papanya Syifa "Om menyelidiki saya?" Rahmad menggeleng dan menganggukkan kepalanya bergantian "Kamu akan tahu kalau punya anak perempuan. Saya mengetahuinya secara tidak langsung. Kalian sudah bertindak terlalu jauh dan saya tidak mau

  • Cinta Pria Panggilan   15

    "Akhirnya kesini ya, Syifa." Syifa memutar bola matanya mendengar nada menggoda pegawai kesayangan sang papa, Candra. Memilih tidak mendengarkan dengan mengikuti papanya menuju ruangan, langkahnya terhenti saat papanya berhenti dihadapannya."Ruangan kamu sama Miko, bukan papa.

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Cinta Pria Panggilan   13

    "Apa maksud semua ini?" "Saya yang meminta Syifa bertemu." Teddy, suami Neni membuka suara menjawab pertanyaan Aryo."Buat apa, sayang?" Neni memberikan tatapan terkejutnya."Aku tahu kamu sudah ketemu dan berbicara dengan Syifa kemarin, makanya sekarang ingin ketemu b

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Cinta Pria Panggilan   14

    "Mbak nggak bisa rayu papa?" "Kamu tahu kalau papa sudah bilang begitu artinya nggak bisa dibantah," jawab Sita tanpa menatap Syifa yang mengerucutkan bibirnya "Lagian enak kerja di tempat papa. Mas Candra dan Miko pasti bantuin kamu." "Aku mau cari pengalaman, mbak. Kenapa bu

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Cinta Pria Panggilan   12

    "Kamu ke rumah?" "Ya, ibu kamu baik banget...""Ngapain? Kamu tanya tentang Tante Neni? Buat apa? Kamu mau cari informasi tentang aku di keluargaku? Kamu nggak percaya sama aku? Aku ini pengen mandiri tanpa bantuan orang tua dan kamu..."Aryo menghentikan kata-kata yan

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status