เข้าสู่ระบบ"Kenapa Bapak di sini?"
Jantung Bellia berdetak tidak karuan ketika Daniel berjalan mendekatinya. Rasanya dia ingin sekali kabur dari hadapan Daniel sekarang, tapi tubuhnya masih terasa lemas. "Kamu baik-baik saja?" Bellia tanpa sadar meremas selimutnya dengan erat. Setitik keringat dingin pun keluar membasahi pelipisnya. Bellia berusaha keras agar terlihat tenang meskipun dia merasa sangat gugup sekarang. Bellia tidak pernah menyangka Daniel akan kembali ke rumah sakit secepat ini, padahal Daniel tadi mengatakan kalau dia ingin mengikuti acara gathering kantor. "Saya baik-baik saja." "Sungguh?" "I-iya." Bellia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak tahan melihat mata Daniel yang terus menatapnya dalam-dalam, seolah-olah takut terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya. Apa lelaki itu mengkhawatirkannya? Bellia tanpa sadar meremas selimutnya semakin erat untuk menahan perasaan hangat yang menjalari dadanya. Dia tidak boleh merasa senang dengan perhatian kecil yang Daniel berikan. "Aku pikir kamu habis menangis," ucap Daniel santai sambil meletakkan buah stroberi yang dibawanya di atas meja samping tempat tidur Bellia. "Ba-Bapak bilang apa?" Bellia sontak menatap Daniel. Apa terlihat jelas kalau dia habis menangis? Bellia cepat-cepat merapikan penampilannya dan mengubah raut wajahnya agar terlihat lebih segar. Namun, sepertinya percuma karena Daniel sepertinya sempat mendengarnya menangis saat berbicara dengan Rianty di telepon tadi. "Sudahlah lupakan. Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Daniel dengan nada lembut yang tidak biasa hingga membuat Bellia kembali gugup. "Em, tidak." Bellia menggeleng pelan. "Kenapa Bapak ke sini? Bukankah acara kantor belum selesai?" Bellia diam-diam merutuki mulutnya yang asal bicara. Seharusnya dia tidak bertanya agar Daniel cepat pergi dari kamarnya. Jujur saja berada di dekat Daniel membuat Bellia merasa tidak nyaman. "Kenapa kamu terus bertanya? Apa kamu tidak senang melihatku?" Bellia refleks mengangguk, sedetik kemudian dia menggeleng cepat setelah menyadari raut wajah Daniel yang berubah tidak senang. "Ti-tidak. Maksud saya bukan begitu, saya cuma—" "Cuma apa?" Bellia tanpa sadar menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Daniel. "Maaf." Bellia menunduk, tidak berani menatap Daniel. Daniel menarik sebuah kursi yang ada di dekat ranjang Bellia lalu mendudukkan diri di sana. "Di mana tantemu? Apa dia belum datang?" Pertanyaan Daniel barusan sukses membuat Bellia tergagap. Apa yang harus dia katakan? Haruskah dia memberi tahu Daniel kalau tantenya tidak akan pernah datang? Tidak. Dia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya karena Daniel akan terus berada di sini jika tahu tantenya tidak mau menemaninya di rumah sakit. "Ta-tante saya sedang berada di jalan, mungkin sebentar lagi datang." "Jawab pertanyaanku dengan jelas, aku tidak mau mendengar jawaban ragu-ragu seperti itu." Daniel bersandar lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sepasang iris hitam miliknya menatap Bellia dengan lekat. "Se-setengah jam. I-iya, setengah jam lagi." "Kalau begitu aku akan menunggu di sini sampai tantemu datang." "A-apa?!" Bellia ingin menolak, tapi Daniel paling tidak suka jika ada seseorang yang membantahnya. Akhirnya Bellia hanya bisa parah dan berharap semoga ada keajaiban yang bisa membuat Daniel pergi dari hadapannya. Waktu tiga puluh menit terasa sangat lama bagi Bellia. Bellia tidak tahu mengapa Daniel memilih menemaninya di rumah sakit padahal lelaki itu terus mendapat telepon dari sekretarisnya untuk membahas pekerjaan. Apa Daniel memang peduli pada dirinya? Tidak. Bellia lagi-lagi memilih menahan perasaannya, tidak ingin menganggap perhatian kecil Daniel seperti hal yang istimewa. "Baiklah, segera kirim dokumennya padaku kalau kamu sudah selesai memperbaikinya." Daniel memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu kembali menghampiri Bellia. "Sekarang sudah jam lima lewat tiga puluh menit. Sepertinya tantemu tidak datang ...." Daniel menahan ucapannya, ingin melihat bagaimana ekspresi Bellia. "Atau memang tidak ingin datang," ucapnya tenang, berbanding terbalik dengan Bellia yang merasa sangat gugup sekarang. Seperti seekor kancil yang ketahuan mencuri timun. "Ka-kalau Bapak ingin kembali sekarang tidak apa-apa. Saya bisa di sini sendiri. Terima kasih sudah menemani saya." "Kamu mengusirku?" Daniel menatap Bellia dengan alis terangkat sebelah. "Bu-bukan begitu." Bellia menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan wajah. "Saya cuma tidak ingin membuat Bapak semakin repot." Daniel hanya diam, kedua matanya menatap Bellia dengan pandangan yang sulit diartikan membuat perasaan Bellia mendadak tidak tenang. "Kamu benar-benar tidak mengingatnya?" Deg. Tubuh Bellia menegang, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak selama beberapa saat mendengar pertanyaan Daniel barusan. Bellia sengaja bersikap biasa, seolah-olah tidak terjadi sesuatu di antara dirinya dan Daniel untuk melindungi perasaannya sendiri. Lagi pula tadi malam adalah kesalahan, dan Bellia takut jika Daniel tahu soal tadi malam, atasannya mungkin akan memecatnya atau bahkan menuntutnya. "Maksud, Bapak?" Bellia pura-pura tidak mengerti. Senyum tipis terangkat di salah satu sudut bibir Daniel melihat reaksi Bellia. "Masih belum mau mengaku rupanya.” Daniel meraih tangan Bellia, lalu meletakkan sebuah jepit rambut di atas telapak tangan gadis itu. “Ini, aku kembalikan padamu." Bellia bergeming di tempat. Dia hanya diam melihat Daniel yang berjalan meninggalkan kamarnya dengan air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya. *** Waktu begitu cepat berlalu, Bellia kembali bekerja di kantor seperti biasa meskipun sebulan terakhir dia harus bermain kucing-kucingan dengan Daniel. Dia selalu menghindar jika tidak sengaja bertemu dengan lelaki itu. Entah di lorong, lobi, atau kantin. Daniel tahu apa yang dilakukan Bellia dan itu membuat Daniel merasa sangat kesal. Dia bingung mengapa Bellia tiba-tiba berubah dan semakin menjauhinya. Gadis itu selalu memiliki alasan untuk menghindar setiap kali dia ingin mendekat. "Bell, Pak Daniel minta kamu untuk menyelesaikan laporan ini." "Lagi?" Bellia terkejut melihat tumpukan berkas yang Lisa taruh di atas meja kerjanya. "Tapi sebentar lagi jam pulang, Lis." Lisa mengangkat bahu acuh tak acuh. "Aku juga tidak tahu, Pak Daniel tadi cuma bilang kalau kamu harus menyelesaikan laporan ini malam ini juga." Bellia menghela napas panjang, lagi-lagi Daniel sengaja memberinya banyak pekerjaan. Lelaki itu bahkan tidak segan memarahinya di depan karyawan, padahal dia cuma melakukan kesalahan kecil. Jujur saja Bellia merasa sangat lelah, tapi dia tidak punya pilihan selain mengerjakan laporan tersebut. Setelah menyelesaikan laporan-laporan itu, Bellia tiba di rumah saat hari sudah gelap, tetapi tiba-tiba saja perut bagian bawahnya terasa kram, seperti ada yang meremasnya dengan kuat. Bellia berjalan menuju kamarnya sambil berpegangan pada tembok lalu duduk di tepi ranjang. Perutnya memang sering sakit saat akan datang bulan, tapi rasa sakitnya kali ini agak berbeda. Dia bahkan sering mual, apa lagi ketika pagi. Tubuh Bellia tiba-tiba menegang, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak. Wajahnya pun seketika berubah pucat ketika sadar kalau dia belum datang bulan sampai sekarang. Apa mungkin .... Bellia beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung pergi ke apotek untuk membeli test pack dan hasilnya ternyata .... positif. Dia hamil. Hidup Bellia seketika hancur, dunia seolah-olah runtuh. Apa yang dia dan Daniel lakukan malam itu telah menghadirkan sebuah kehidupan baru di rahimnya. Apa yang harus Bellia lakukan? Haruskah dia memberi tahu Daniel kalau dia mengandung anaknya? Akan tetapi, bagaimana jika Daniel menolak? Apakah dia siap?Mobil yang dikendarai Daniel berhenti tapat di halaman rumah Bellia tepat pukul 9 malam. Sebenarnya Daniel ingin langsung mengantar Bellia pulang setelah drama konyol yang mereka lakukan di kantor tadi siang. Akan tetapi dia ternyata masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan memaksa dirinya untuk bertahan di kantor lebih lama. Sebelum pulang pun, mereka mampir ke pusat perbelanjaan sebentar karena Daniel ingin membeli buku dan mainan baru untuk Marvell. Padahal Bellia sudah melarang, lagi pula buku dan mainan Marvell di rumah sudah cukup banyak. Namun, Daniel sangat keras kepala. Dia tetap membeli buku dan mainan tersebut dengan alasan sebagai hadiah untuk Marvell. Akhirnya Bellia hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan lelaki itu.Bellia langsung melepas sabuk pengaman saat Daniel mematikan mesin mobilnya. Dia ingin membuka pintu untuk turun, tapi Daniel malah menahan pergerakan tangannya."Biar aku saja."Bellia mengangguk, tanpa sadar dia tersenyum melihat Danie
Mercedes AMG G65 yang dikendarai Daniel melaju sedikit kencang membelah jalanan yang lumayan lengang. Lampu-lampu yang berjajar di sepanjang jalan seolah-olah berjalan mundur ketika mobil Daniel melewatinya. Alunan lagu This Love dari Taylor Swift mengalun merdu mengisi keheningan di antara mereka. Bukan hening yang menyiksa—melainkan hening yang menenangkan.Bellia memilih menikmati pemandangan lewat kaca mobil yang ada di sampingnya sambil sesekali menyenandungkan lirik lagu yang sedang diputar. Suara Bellia begitu lirih, bahkan nyaris seperti gumaman tapi anehnya Daniel masih bisa mendengar.Tiba-tiba saja Bellia memejamkan kedua matanya erat-erat, semburat merah pun menghiasi kedua pipinya ketika teringat dengan apa yang dia lakukan di kantor Daniel tadi siang. Sampai sekarang Bellia masih tidak menyangka jika dirinya nekat menemui Daniel setelah mendengar kabar jika lelaki itu akan menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat.Bagai orang tidak waras dia rela menempuh perjalanan
Air mata kembali menggenang di kedua pelupuk mata Bellia. Namun kali ini rasanya begitu berbeda. Bukan karena sakit, bukan pula karena kecewa, melainkan karena sesuatu yang terlalu besar untuk disebut dengan satu kata.Dia merasa sangat bahagia—atau mungkin sedikit takut. Semua rasa itu bercampur menjadi satu hingga membuat dadanya terasa penuh.Bellia menatap Daniel tanpa berkedip, seolah-olah takut lelaki itu tiba-tiba menghilang seperti bayangan yang ditelan kegelapan. Bibirnya sedikit terbuka, akan tetapi tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Otaknya pun mendadak berhenti bekerja.Daniel memperhatikan ekspresi Bellia dengan lembut. Tatapan yang sudah lama sekali tidak Bellia lihat—tatapan penuh sayang, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa disembunyikan."Bie …‚" panggil Daniel pelan.Suara Daniel membuat pertahanan Bellia perlahan runtuh."Kenapa kamu diam saja?" lanjut Daniel dengan senyum hangat yang terpatri di bibirnya. "Biasanya kamu banyak bicara kalau sedang marah."
Daniel menatap Bellia tanpa berkedip. Rasanya seperti mimpi wanita yang dia rindukan selama ini, kini ada di hadapannya. Senyum tipis yang tadi muncul di wajahnya belum juga hilang. Bukan senyum mengejek, bukan pula senyum meremehkan, seperti orang yang baru saja menemukan suatu hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.Akan tetapi bagi Bellia senyum Daniel seperti pisau kecil yang menggores harga dirinya. Lelaki itu seolah-olah menganggap remeh ucapannya, padahal dia sudah membuang jauh-jauh harga dirinya demi mengatakan kalimat itu untuk Daniel."Kenapa Mas Daniel tertawa? Apa Mas pikir aku sedang melucu? Suara Bellia bergetar, napasnya masih tersengal setelah tangis yang belum benar-benar reda.Daniel berkedip pelan, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Bie ...."Panggilan kesayangan itu membuat dada Bellia terasa sedikit menghangat."Aku masih tidak menyangka kamu akhirnya datang menemuiku," ucap Daniel jujur."Tidak menyangka?" Suara Bellia s
Siang ini cuaca begitu terik, panasnya terasa menyengat tanpa ampun. Aspal jalanan memantulkan hawa seperti bara, membuat udara terasa berat setiap kali dihirup.Namun, Bellia tidak peduli. Dia terus melajukan motor maticnya menembus kemacetan. Rambutnya yang tergerai bebas tertiup angin panas, wajahnya terlihat memerah karena terik matahari.Bellia mencengkeram setang motornya kuat-kuat, seolah-olah hal itu satu-satunya cara yang bisa membuatnya bertahan. Di sepanjang jalan ada satu kalimat yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.Daniel akan segera menikah dengan wanita lain.Jantung Bellia berdetak tidak karuan. Napasnya terdengar berat dan sedikit sesak. Dia bahkan tidak benar-benar ingat bagaimana dirinya bisa tiba di depan kantor Daniel.Bellia menghentikan motornya di pelataran parkir. Mesin motor sudah dimatikan, tapi dia tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam setang dengan erat, tubuhnya terasa kaku, dan napasnya terdengar memburu.Bellia tidak pernah menyangka ji
Bellia mengerjapkan kedua matanya perlahan ketika cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah tirai jendela jatuh mengenai wajah cantiknya. Hawa dingin yang berembus dari ventilasi udara begitu menusuk kulitnya.Lehernya pegal, kepalanya terasa berat, dan matanya perih seperti terbakar. Bellia pun mencoba untuk membuka kedua matanya perlahan dan mendapati dirinya terbaring di sofa ruang tamu dengan posisi setengah meringkuk. Selimut tipis yang dia pakai semalam jatuh ke lantai tanpa dia sadari.Butuh waktu beberapa detik bagi Bellia untuk mengingat apa yang menyebabkan dirinya kacau seperti sekarang. Berita tentang pernikahan Daniel membuatnya menangis semalaman hingga lelah dan tanpa sadar ketiduran di sofa.Bellia memejamkan kedua matanya perlahan, berusaha menghalau sesak yang tiba-tiba menyelip di dalam dadanya. Bellia harap apa yang dia lihat dan dengar kemarin hanya mimpi buruk yang akan menghilang ketika dia bangun. Akan tetapi sesak di dadanya ternyata masih ada. Rasanya be
"Dasar bodoh!" Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vania setelah Daniel memberi tahu sang ayah tentang perbuatannya.Rasa panas sontak mejalari pipinya yang terlihat memerah. Sudut bibirnya bahkan robek dan mengeluarkan sedikit darah.Vania meringis pelan, meratapi karma yang begitu cepat dia da
Langit siang ini terlihat sedikit mendung, angin berembus pelan membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Daniel menikmati alunan lagu I Think They Call This Love yang dinyanyikan oleh Elliot James Reay di dalam mobilnya. Bibirnya yang tipis sesekali ikut menyenandungkan lirik lagu tersebut,
"Mas Daniel, kamarnya sudah siap."Daniel segera beranjak dari tempat duduknya begitu mendengar suara Bellia, pergi ke kamar yang ada di sebelah."Maaf ya, Mas. Kamarnya jelek."Daniel mengamati kamar bernuansa biru muda itu. Sebuah ranjang berukuran sedang ada di tengah-tengan kamar. Di samping ra
Tiba-tiba saja Bellia menggeliat pelan lalu mengerjapkan kedua matanya perlahan. Dia sontak bangun dan duduk di ujung tempat tidurnya ketika sadar kalau dirinya berada di dalam kamar sementara Daniel berada sangat dekat dengannya.Lelaki itu bahkan menatapnya dengan sangat lekat. Seolah-olah tidak







