Share

75. Sebuah Ancaman

Penulis: Aeris Park
last update Tanggal publikasi: 2025-03-19 23:16:08

Bellia berdiri di tengah toko bunganya, menatap pot-pot kosong yang berjejer rapi di rak kayu. Aroma bunga yang biasanya memenuhi ruangan kini tinggal sisa samar, digantikan hawa sepi yang menusuk.

Sudah lima hari Bellia berusaha mencari supplier baru, menelepon satu per satu kontak supplier yang ada di buku catatannya, bahkan sampai menghubungi kenalan jauh yang memiliki kebun bunga.

Namun, jawaban mereka selalu sama. Mereka mengatakan kalau stok bunga sedang habis atau sudah bekerja sama deng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   105. Malam Kedua (18+)

    Warning 21+Daniel menggendong Bellia menuju kamar utama tanpa melepas pagutan bibir mereka. Begitu tiba dia langsung merebahkan Bellia dengan hati-hati di atas tempat tidur.Daniel melepaskan pagutan bibirnya sejenak, lalu menatap Bellia yang berada di bawahnya dengan lekat dan penuh cinta. Bellia pun balas menatapnya dan tidak lama senyum malu muncul di bibirnya."Kenapa Mas Daniel lihatin aku kayak gitu, sih?""Kamu cantik," ucap Daniel sambil mengusap pipi Bellia dengan lembut.Wajah Bellia sontak bersemu merah, jantung pun berdebar hebat. "Bohong," balasnya malu-malu.Daniel terkekeh geli melihatnya. "Siapa yang bohong sih, Bie? Asal kamu tahu, wanita paling cantik yang pernah aku temui cuma kamu."Jantung Bellia berdetak semakin tidak karuan di dalam rongga dadanya. Rona merah di wajahnya pun terlihat semakin jelas. "Gombal.""Keras kepala banget, sih!" Daniel mencubit hidung Bellia dengan gemas, membuat si cantik yang berada di bawahnya seketika tertawa."Aduh, Mas! Sakit!!!" k

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   104. Happy Accident (18+)

    Bellia menaruh handuk yang dia pakai setelah mandi ke tempat khusus untuk menjemur baju, setelah itu dia berjalan menuju kamar Marvell. Perasaan hangat sontak menjalari hatinya ketika melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Dia melihat Daniel sedang menciumi Marvell dengan gemas hingga membuat anak laki-lakinya itu merengek karena tidurnya terganggu."Papa, Marvell ngantuk ...," rengek Marvell dengan mata terpejam agar Daniel berhenti mengganggu tidurnya.Namun, Daniel tidak peduli. Dia terus saja menciumi seluruh wajah Marvell untuk melampiskan rindunya karena sudah dua bulan lebih mereka tidak bertemu."Papa, ck ...."Daniel terkekeh pelan mendengar Marvell yang berdecak kesal. Daniel jadi ingat dengan masa kecilnya dulu, saat itu dia juga susah sekali dibangunkan, sama seperti Marvell."Memangnya Marvell tidak kangen sama papa?"Marvell mengangguk dengan kedua matanya yang masih terpejam."Kalau kangen sini peluk papa?"Marvell langsung berbaring miring menghadap Daniel. Ta

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   103. Pulang

    Mobil yang dikendarai Daniel berhenti tapat di halaman rumah Bellia tepat pukul 9 malam. Sebenarnya Daniel ingin langsung mengantar Bellia pulang setelah drama konyol yang mereka lakukan di kantor tadi siang. Akan tetapi dia ternyata masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan memaksa dirinya untuk bertahan di kantor lebih lama. Sebelum pulang pun, mereka mampir ke pusat perbelanjaan sebentar karena Daniel ingin membeli buku dan mainan baru untuk Marvell. Padahal Bellia sudah melarang, lagi pula buku dan mainan Marvell di rumah sudah cukup banyak. Namun, Daniel sangat keras kepala. Dia tetap membeli buku dan mainan tersebut dengan alasan sebagai hadiah untuk Marvell. Akhirnya Bellia hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan lelaki itu.Bellia langsung melepas sabuk pengaman saat Daniel mematikan mesin mobilnya. Dia ingin membuka pintu untuk turun, tapi Daniel malah menahan pergerakan tangannya."Biar aku saja."Bellia mengangguk, tanpa sadar dia tersenyum melihat Danie

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   102. Gagal

    Mercedes AMG G65 yang dikendarai Daniel melaju sedikit kencang membelah jalanan yang lumayan lengang. Lampu-lampu yang berjajar di sepanjang jalan seolah-olah berjalan mundur ketika mobil Daniel melewatinya. Alunan lagu This Love dari Taylor Swift mengalun merdu mengisi keheningan di antara mereka. Bukan hening yang menyiksa—melainkan hening yang menenangkan.Bellia memilih menikmati pemandangan lewat kaca mobil yang ada di sampingnya sambil sesekali menyenandungkan lirik lagu yang sedang diputar. Suara Bellia begitu lirih, bahkan nyaris seperti gumaman tapi anehnya Daniel masih bisa mendengar.Tiba-tiba saja Bellia memejamkan kedua matanya erat-erat, semburat merah pun menghiasi kedua pipinya ketika teringat dengan apa yang dia lakukan di kantor Daniel tadi siang. Sampai sekarang Bellia masih tidak menyangka jika dirinya nekat menemui Daniel setelah mendengar kabar jika lelaki itu akan menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat.Bagai orang tidak waras dia rela menempuh perjalanan

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   101. Home

    Air mata kembali menggenang di kedua pelupuk mata Bellia. Namun kali ini rasanya begitu berbeda. Bukan karena sakit, bukan pula karena kecewa, melainkan karena sesuatu yang terlalu besar untuk disebut dengan satu kata.Dia merasa sangat bahagia—atau mungkin sedikit takut. Semua rasa itu bercampur menjadi satu hingga membuat dadanya terasa penuh.Bellia menatap Daniel tanpa berkedip, seolah-olah takut lelaki itu tiba-tiba menghilang seperti bayangan yang ditelan kegelapan. Bibirnya sedikit terbuka, akan tetapi tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Otaknya pun mendadak berhenti bekerja.Daniel memperhatikan ekspresi Bellia dengan lembut. Tatapan yang sudah lama sekali tidak Bellia lihat—tatapan penuh sayang, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa disembunyikan."Bie …‚" panggil Daniel pelan.Suara Daniel membuat pertahanan Bellia perlahan runtuh."Kenapa kamu diam saja?" lanjut Daniel dengan senyum hangat yang terpatri di bibirnya. "Biasanya kamu banyak bicara kalau sedang marah."

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   100. Buah Kejujuran

    Daniel menatap Bellia tanpa berkedip. Rasanya seperti mimpi wanita yang dia rindukan selama ini, kini ada di hadapannya. Senyum tipis yang tadi muncul di wajahnya belum juga hilang. Bukan senyum mengejek, bukan pula senyum meremehkan, seperti orang yang baru saja menemukan suatu hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.Akan tetapi bagi Bellia senyum Daniel seperti pisau kecil yang menggores harga dirinya. Lelaki itu seolah-olah menganggap remeh ucapannya, padahal dia sudah membuang jauh-jauh harga dirinya demi mengatakan kalimat itu untuk Daniel."Kenapa Mas Daniel tertawa? Apa Mas pikir aku sedang melucu? Suara Bellia bergetar, napasnya masih tersengal setelah tangis yang belum benar-benar reda.Daniel berkedip pelan, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Bie ...."Panggilan kesayangan itu membuat dada Bellia terasa sedikit menghangat."Aku masih tidak menyangka kamu akhirnya datang menemuiku," ucap Daniel jujur."Tidak menyangka?" Suara Bellia s

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   87. Pelajaran Untuk Vania

    "Dasar bodoh!" Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vania setelah Daniel memberi tahu sang ayah tentang perbuatannya.Rasa panas sontak mejalari pipinya yang terlihat memerah. Sudut bibirnya bahkan robek dan mengeluarkan sedikit darah.Vania meringis pelan, meratapi karma yang begitu cepat dia da

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   81. Pelukan yang Menenangkan

    Langit siang ini terlihat sedikit mendung, angin berembus pelan membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Daniel menikmati alunan lagu I Think They Call This Love yang dinyanyikan oleh Elliot James Reay di dalam mobilnya. Bibirnya yang tipis sesekali ikut menyenandungkan lirik lagu tersebut,

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   62. Morning Kiss

    "Mas Daniel, kamarnya sudah siap."Daniel segera beranjak dari tempat duduknya begitu mendengar suara Bellia, pergi ke kamar yang ada di sebelah."Maaf ya, Mas. Kamarnya jelek."Daniel mengamati kamar bernuansa biru muda itu. Sebuah ranjang berukuran sedang ada di tengah-tengan kamar. Di samping ra

  • Cinta Satu Malam: Dimanja Sang Presdir Dingin   61. May I Kiss You?

    Tiba-tiba saja Bellia menggeliat pelan lalu mengerjapkan kedua matanya perlahan. Dia sontak bangun dan duduk di ujung tempat tidurnya ketika sadar kalau dirinya berada di dalam kamar sementara Daniel berada sangat dekat dengannya.Lelaki itu bahkan menatapnya dengan sangat lekat. Seolah-olah tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status