تسجيل الدخولPOV Ara.Sambil pegangi pinggulku yang masih terasa nyeri, aku jalan tertatih menuju pintu yang terkunci. Aku coba putar gagangnya, berharap sepenuh hati bisa kabur dari tempat terkutuk ini.Namun harapanku langsung runtuh ketika aku sadari pintu itu benar-benar terkunci. Aku nggak bisa keluar. Gaston kurung aku di sini.“Buka pintunya! Tolong biarkan aku keluar! Tolong!” teriakku sambil memukul-mukul pintu itu, dadaku terasa sesak oleh ketakutan. Aku nggak tahu apa aku masih sanggup bertahan jika Gaston kembali lakukan hal-hal mengerikan seperti sebelumnya.Aku terus pukul pintu kayu itu. Namun tempat ini terasa sunyi seolah nggak berpenghuni, nggak ada satu orang pun yang jawab aku. Perlahan aku jatuh ke lantai, air mata kaburkan pandanganku, tubuhku gemetar karena takut. Aku sama sekali nggak tahu nasib seperti apa yang menungguku di tangan Gaston.Aku jalan tertatih kembali ke ranjang kecil itu lalu rebahkan diri menyamping sambil terus menangis. Aku merasa nggak punya siapa pun di
POV Ara.Aku pejamkan mata rapat-rapat saat Gaston lepaskan kait bra-ku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jadi manusia paling hina di dunia. Aku bisa dengar suara siulan, tawa, dan decakan kagum dari teman-temannya ketika dadaku terekspos sepenuhnya di hadapan mereka.“Ayo, Gaston mulai saja. Kita sudah nggak sabar di sini. Lihat tubuhnya … gila,” ujar pria di samping sopir dengan nada penuh gairah menjijikkan.“Nggak! Ga-Gaston, aku mohon … kasihanilah aku. Jangan hina aku seperti ini!” pintaku sambil nangis.“Ara, sayangku … ternyata kamu belum benar-benar kenal aku. Beginilah aku saat marah. Kenapa kamu lari dari aku?” geram Gaston di dekat telingaku, sementara tangannya sibuk lepaskan pakaiannya sendiri.Aku bukan orang bodoh, aku tahu persis apa yang akan dia lakukan. Dan aku juga tahu apa yang diinginkan pria-pria lain di dalam van itu. Aku rasakan tangan seseorang bergerak dari bahuku menuju payudaraku yang lain. Aku langsung menjauh dengan jijik. Seluruh tubuhku
POV Ara.“Gaston, lepaskan aku!” bentakku sambil berusaha lepaskan diri dari cengkeramannya.Rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhku begitu aku lihat wajah Gaston dengan jelas. Aku sama sekali nggak nyangka dia sudah kembali ke negara ini.Namun kalau dipikir-pikir, sejak aku melarikan diri darinya, aku memang nggak pernah dengar kabarnya lagi. Sekarang dia juga jadi buronan, aku sendiri yang laporkan dia dengan bantuan Gabriel.Gabriel berhasil hapus video-videoku dari situs-situs porno tempat video itu sempat tersebar. Bagi Gabriel, hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan, mengingat koneksi yang dia miliki.“Tenang, sayangku,” ujar Gaston sambil tarik aku kasar dan dorong aku masuk ke dalam van. Aku hampir terjatuh karena kuatnya dorongan itu.Begitu mataku menyapu isi kendaraan itu, napasku tercekat ketakutan, ada beberapa orang lain di dalamnya. Semuanya laki-laki, dan mereka semua menatapku sambil menyeringai. Total ada enam orang, termasuk Gaston dan sopir. Tig
POV Ara.Aku terisak di depan pintu kaca mausoleum tempat kedua orang tuaku dimakamkan. Kedua tanganku menempel erat di permukaannya yang dingin, sementara rasa sakit di dadaku terasa begitu menyesakkan. Sudah berbulan-bulan berlalu, tetapi semua yang terjadi masih terasa begitu nyata di kepalaku, seolah semuanya baru terjadi kemarin. Hati nuraniku nggak pernah kasih aku ketenangan.Aku terus mimpikan wajah Mama. Dalam mimpiku, dia marah ke aku. Papa juga seperti itu.Sulit sekali terima kenyataan, setelah semua cinta yang mereka berikan ke aku, justru aku yang akhiri hidup mereka.Aku menyesal seumur hidup pun, semuanya sudah terlambat.Nggak ada air mata yang mampu hidupkan kembali nyawa yang telah aku ambil dengan tanganku sendiri.Mausoleum itu terkunci, jadi aku nggak bisa masuk ke dalam. Namun jauh di lubuk hati, aku sangat berterima kasih ke Carissa. Setelah semua yang telah kita lakukan ke dia, Carissa masih kasih Mama dan Papa pemakaman yang layak dan penuh penghormatan.Ini a
POV Carissa.Aku baru saja hendak bilang sesuatu ketika Gabriel bungkam aku dengan sebuah ciuman. Mataku perlahan terpejam, nikmati manisnya bibirnya yang selalu berhasil buat aku tenggelam. Harus aku akui, aku cinta setiap ciuman yang dia berikan ke aku.“Gabriel, sudah. Ayo tidur saja. Anak-anak bisa bangun dan lihat apa yang kamu lakukan,” bisikku pelan.“Sayang, aku ingin kamu. Tolong, aku sudah nggak bisa tahan lagi. Malam ini aku benar-benar ingin rasakan kamu,” bisik Gabriel di telingaku. Dia gigit pelan daun telingaku, buat tubuhku seketika langsung meremang. Aku gigit bibirku sendiri agar nggak keluarkan suara. Anak-anak bisa terbangun kapan saja.“Tapi kita nggak bisa. Anak-anak ada di sini,” jawabku lirih.Namun saat katakan itu, tubuhku justru mulai bereaksi terhadap sentuhannya. Aku juga kangen dengan kehangatan Gabriel. Tangannya terus bergerak tanpa henti, menyelinap ke balik pakaian tidurku dan perlahan belai dadaku.Aku tahan desahan yang hampir lolos.Sesaat kemudian
POV Carissa.Aku tertawa waktu dengar ucapan Roxie. Aku tahu akhir-akhir ini penampilanku memang banyak berubah.“Ah, bisa saja kamu. Dari dulu aku memang cantik, tahu? Ngomong-ngomong, kapan kamu mau nikah?” tanyaku sambil menggoda.“Apaan sih? Aku masih muda, yah. Nikah itu belum masuk daftar rencanaku sekarang,” jawabnya santai.“Ya sudah, santai saja. Nanti juga pria yang tepat datang sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong soal itu. Gabriel bilang Jonathan undang kita. Katanya minggu depan dia akan buka resort barunya di Paloria,” kataku pada Roxie.“Beneran? Aku malah belum tahu soal itu,” ucap Roxie sambil mengernyitkan dahi.Aku menatapnya heran. Bukannya Jonathan adalah kakaknya sendiri? Gimana mungkin dia nggak tahu soal bisnis kakaknya?“Kok bisa kamu nggak tahu? Dia kan kakakmu sendiri. Dasar lucu,” balasku sambil terkekeh.“Andai kamu tahu yang sebenarnya .…” gumam Roxie lirih. Ada nada sedih yang samar dalam suaranya. Lalu dia berdiri dan pamitan.Aku perhatikan dia pergi dengan
POV Carissa.Setelah selesai bersiap, kita tinggalkan vila.Sama seperti biasanya setiap kali bepergian, aku dan Gabriel duduk di kursi belakang mobil. Di depan ada sopir dan salah satu pengawal Gabriel, sementara mobil lain berisi beberapa pengawal yang ikuti di belakang kita.Sepanjang perjalanan,
POV Carissa.Aku terus nangis. Kenapa keluargaku seperti ini? Apa mereka benar-benar nggak ingin lihat aku bahagia? Apa penderitaanku bawa kepuasan buat mereka? Kenapa hidupku harus terasa seberat ini?Aku rasakan lengan Gabriel melingkari tubuhku. Aku nangis tanpa henti di dadanya. Sesaat kemudian,
POV Carissa.Ara tersenyum manis di depan kamera. Wajahnya pancarkan kebahagiaan yang begitu jelas. Keningku langsung berkerut waktu lihat itu, terlebih ketika dengar nama yang disebut reporter itu.“Iya, kita memang akan lanjutkan rencana pernikahan kita. Semua orang juga sudah tahu kalau sejak dul
POV Carissa.Setelah sarapan, aku sudah nggak sabar ingin keluar dan lihat-lihat vila ini lebih jauh. Begitu melangkah keluar, pemandangan yang sambut aku langsung buat aku terpukau.Semuanya begitu indah. Vila itu dikelilingi berbagai macam tanaman dan bunga yang tertata rapi. Dengan antusias aku j







