مشاركة

Cinta Sejati Seorang Miliarder
Cinta Sejati Seorang Miliarder
مؤلف: Cathy

Bab 1

مؤلف: Cathy
POV Carissa

Aku langsung kaget dan terbangun saat mendengar seseorang menggedor-gedor pintu kamarku. Aku nggak tahu ini jam berapa—yang kurasa cuma sakit kepala yang nyut-nyutan. Waktu aku turun perlahan dari kasur, aku baru sadar kalau aku nggak pakai baju apa-apa. Tapi saat aku lihat ke kasur, ada seseorang di sampingku. Panik, aku langsung ambil selimut dan melilitkannya di tubuhku yang telanjang.

'Apa yang terjadi?' gumamku ke diri sendiri. Aku sama sekali nggak ingat apa-apa tentang malam sebelumnya. Aku mengucek mata dan menatap orang di sebelahku. Jantungku semakin berdebar kencang saat melihat ternyata dia adalah seorang laki-laki. Dia juga telanjang, kalau dilihat dari penampakannya saat tidur tengkurap, cuma tertutup selimut dari pinggang sampai kakinya. Dia tidur nyenyak banget.

"Carissa, buka pintunya! Ada apa ini?!"

Aku mendengar Mama menggebrak pintu kamarku. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku benar-benar nggak ingat apa-apa. Lalu, kudengar gagang pintu diputar. Aku cepat-cepat kembali ke kasur dan meraih bantal, memegangnya di depan badanku. Papa, Mama, dan kakakku, Ara, masuk satu per satu. Mereka menatapku kaget, lalu ke arah pria yang masih tidur di ranjangku.

"Dasar jalang nggak tahu malu! Apa yang kamu lakukan?! Siapa di sebelahmu itu?!" teriak Mama. Dia nggak bisa lihat wajah pria itu karena tengkurap, tapi nggak lama kemudian pria itu bergerak dan duduk. Ketika aku melihat siapa dia, aku syok. Itu Gabriel, pacar Ara. Aku juga bisa melihat keterkejutan di wajah Gabriel. Dia menatapku, jelas sama bingungnya dengan apa yang terjadi. Lalu dia menoleh ke Ara yang sudah menangis.

Gabriel sudah lama jadi pacar Ara. Dia kaya ... nggak, bukan cuma kaya, kaya banget. Dia berasal dari keluarga paling terkenal dan terkaya di negara ini.

"Apa maksud semua ini?!" jerit Ara. Air mata membanjiri wajahnya saat dia mengenali pria di sampingku.

"Gabriel, Carissa, apa maksudnya ini? Tega-teganya kalian lakukan ini padaku?" Ara terisak, air matanya nggak berhenti mengalir. Aku nggak tahu harus ngomong apa, karena aku benar-benar nggak ingat apa-apa.

Yang kuingat cuma semalam adalah pesta ulang tahun Ara yang ke-21. Banyak tamu dan semua bersenang-senang. Saat aku beralih pandang ke Papa, rahangnya mengeras menatap kami. Mata Mama tajam menusuk, menatapku seolah aku telah melakukan kejahatan keji. Sementara itu, Ara nyaris histeris karena sakit hati.

"Kamu baru delapan belas tahun sudah menggoda laki-laki, Carissa, pacar kakakmu sendiri pula!" Mama melayangkan tamparan keras di wajahku. Pipiku langsung mati rasa. "Ma, aku minta maaf, aku nggak tahu apa yang terjadi," kataku sambil menangis. "Aku nggak ingat kenapa ini bisa terjadi." Aku melirik pria di sampingku, yang juga tampak bingung. Kebingungan terpancar jelas di wajahnya, seolah dia sedang berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. "Gabriel, kenapa kita ...." Belum selesai aku bicara, Ara langsung menjambak rambutku.

"Dasar nggak tahu malu! Pengkianat!" teriak Ara sambil menarik rambutku. Tarikannya kuat banget, rasanya rambutku mau copot dari kulit kepala. Aku nggak bisa melawan karena aku harus memegangi selimut yang menutupi tubuh telanjangku. "Dasar pengkhianat! Kenapa harus kamu, adikku sendiri, yang merebut pria yang paling kucintai?!" teriak Ara. "Aku akan gunduli kamu!" Dia menjambak lebih keras lagi, dan rasanya rambutku benar-benar mau lepas.

"Ara, cukup!" teriak Papa. "Nggak ada yang bisa kita lakukan sekarang, semua sudah terjadi." Dia menoleh ke Gabriel. "Ayo kita bicara, Gabriel. Jelaskan padaku kenapa kamu ada di kasur Carissa." Suara dan gerak-gerik Papa menunjukkan bahwa dia menahan amarah yang luar biasa. Aku juga bisa melihat kekecewaan mendalam di wajahnya saat melirikku.

"Om, aku ... aku nggak tahu apa yang terjadi. Kenapa aku di sini .... Aku nggak ingat apa-apa ...." Gabriel terbata-bata, jelas dia bingung. "Ara, sayang, aku nggak tahu ... maaf ...."

"Sayang, teganya kamu mengkhianatiku!" isak Ara. "Kenapa harus adikku?!" Dia menangis makin keras. "Ini nggak bisa diterima! Aku nggak ngerti. Kenapa harus adikku sendiri? Ma, Pa, aku nggak bisa terima ini. Sakit banget."

"Aku minta maaf," kataku sambil menangis. "Aku nggak tahu .... Aku nggak ingat apa-apa." Air mataku mengalir deras. "Pa, Ma, aku minta maaf." Aku benar-benar bingung tentang apa yang terjadi.

Sampai sekarang, otakku nggak bisa memproses kenapa ini bisa terjadi. Ara dan Gabriel seharusnya menikah bulan depan. Mereka saling mencintai, dan aku menyaksikannya sendiri. Jadi kenapa ini terjadi?

"Baiklah, karena ini sudah terjadi, nggak ada yang bisa kita ubah," kata Papa. "Ayo kita keluar dari kamar ini." Lalu dia bicara pada Gabriel dan aku. "Kalian berdua, cepatlah beberes. Setelah selesai berpakaian, temui Papa di perpustakaan. Ada hal penting yang harus kita bahas. Papa juga akan menelepon orang tuamu, Gabriel, dan meminta mereka datang ke sini."

Papa berjalan menuju pintu. Ara menatapku dengan tatapan penuh kebencian, air mata masih mengalir. Mama menatapku dengan dingin. Dia mendekati Ara dan membimbingnya ke pintu di mana Papa menunggu agar mereka bisa keluar bersama. Aku masih bisa mendengar isak tangis Ara sebelum mereka akhirnya keluar, lalu membanting pintu di belakang mereka.

"Gabriel," kataku. "Gimana ... kenapa?" Aku bahkan nggak tahu harus mulai dari mana setelah Mama, Papa, dan Ara pergi. Seluruh ruangan diselimuti keheningan, dan Gabriel sepertinya nggak ada niat untuk bicara. Tinjunya terkepal, dahinya berkerut. Jadi, aku memutuskan untuk memecah keheningan.

"Apa kamu menjebakku?" Kata-kata Gabriel membuatku kaget. Suaranya dipenuhi amarah.

"Nggak," jawabku dengan takut. "Menjebakmu bukan gayaku ... apalagi kamu pacar kakakku." Aku meremas selimut erat-erat.

"Lalu kenapa aku ada di kamarmu?" katanya dengan gigi terkatup. Dia menatapku dengan kemarahan dan jijik yang terpancar di wajahnya.

"Aku nggak tahu. Aku nggak ingat apa-apa," jawabku dengan suara bergetar. Aku menunduk, nggak sanggup menatap mata Gabriel yang menyakitkan. Dia terlihat menakutkan.

"Dengar baik-baik, Carissa. Kalau Ara sampai putus denganku gara-gara ini, kamu yang akan kubalas. Aku nggak akan pernah memaafkanmu," katanya dengan nada marah. Dia lalu berdiri dan mulai memakai pakaiannya satu per satu, nggak peduli bahwa tadinya dia telanjang bulat. Aku nggak tahu harus berbuat apa saat itu. Ini pertama kalinya aku melihat pria telanjang di depanku, dan aku nggak tahu bagaimana harus bereaksi. Aku cuma menutup mata, menunggu Gabriel selesai berpakaian.

"Aku juga nggak mau ini terjadi." Aku menangis. "Aku minta maaf atas ini." Aku terisak sambil memastikan dia sudah selesai berpakaian. Aku lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Ya, pokoknya kamu harus meyakinkan kakakmu," katanya kasar. "Pastikan ini nggak mempengaruhi hubungan kami. Kalau nggak kamu akan kuanggap mati. Ingat kata-kataku." Setelah itu, dia keluar dari kamarku dengan membanting pintu.

Aku ditinggal sendirian dalam kebingungan. Otakku masih nggak bisa memproses apa yang terjadi. Aku nggak ingat apa-apa. Semalam kami semua senang merayakan ulang tahun Ara. Aku bingung banget. Kenapa aku dan Gabriel bisa berakhir di ranjang bareng? Kenapa dia tidur di sebelahku? Aku nggak mabuk semalam karena aku nggak pernah minum alkohol. Aku perlahan melepaskan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Aku memeriksa diriku dengan hati-hati. Aku nggak merasakan ada yang aneh dengan tubuhku.

Aku pun akhirnya bangkit dan merapikan tempat tidurku. Nggak ada tanda-tanda apa pun di seprai. Masih bingung, aku cepat-cepat ke lemari dan mengambil pakaian.

Setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika melihat cermin, aku tampak seperti nenek sihir, rambutku acak-acakan karena jambakan Ara. Bibirku pecah dan wajahku memar karena tamparan Mama tadi. Aku tersenyum pahit. Ini bukan pertama kalinya Mama menyakitiku, tapi kali ini lebih parah karena bekas tangan Mama terlihat jelas di wajahku. Aku segera mandi agar merasa lebih baik dan pakai sedikit bedak untuk menutupi memarku.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 50

    POV CarissaGabriel dan aku akhirnya sendirian di kamar. Teman-temanku telah pergi.Keheningan yang canggung menyelimuti kami. Dia telah menatapku untuk waktu yang terasa seperti selamanya, senyum lembut, hampir konyol, tersungging di bibirnya. Dia bertingkah sangat berbeda."Dokter sudah izinkan kamu untuk makanan lunak. Mau aku ambilkan kamu sesuatu?" tanyanya, suaranya luar biasa lembut.Aku hanya menggeleng, nggak yakin gimana harus bicara dengannya. Kenapa dia masih di sini? Bukankah seharusnya dia pulang?'Mungkin Ara menunggunya,' pikirku. Gagasan mereka menikah membuat mataku perih dengan air mata yang hampir jatuh."Jadi … gimana kabar bayi-bayi itu? Roxie bilang mereka ada di vila." Aku berhasil bertanya, mengalihkan pembicaraan."Mereka sempurna. Orang tuaku jaga mereka. Ini, mau lihat?" tanyanya, sudah mengeluarkan ponselnya.Dia bergerak lebih dekat, duduk di tepi tempat tidur. Napasku tercekat saat dia dengan hati-hati membantuku duduk dan bersandar pada kepala tempat tid

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 49

    POV Carissa"Ya, tapi kamu yang mulai langgar janji kita pada Carissa, dan ...." Ronald mencoba membela diri, tetapi Roxie memotongnya lagi."Dan kamu diam saja! Soalnya kamu terpesona melihat teman-teman Gabriel dan Jonathan yang seksi setiap kali mereka berkunjung," balas Roxie."Bisa berhenti nggak? Kalau nggak aku akan beri tahu Papamu tentang akun Instagram rahasiamu," ancam Roxie, meskipun kami semua tahu itu adalah gertakan kosong."Dasar penyihir. Selalu pakai itu untuk mengancamku? Baiklah! Terserah! Itu salah kami berdua. Katakan saja kami berdua yang buka rahasia, meskipun kami nggak benar-benar bicara .…" gerutu Ronald, bibir bawahnya cemberut berlebihan."Baiklah, kalian berdua, cukup." Aku menyela, senyum menyentuh bibirku. "Aku sebenarnya nggak marah. Tapi kalian berjanji akan merawat bayi-bayiku. Kenapa nggak? Untung aku nggak mati, kalau tidak hantuku sudah menghantui kalian sekarang." Aku nggak bisa menahan diri untuk melemparkan lelucon itu.Mata mereka tiba-tiba mel

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 48

    POV CarissaAku hanya menggelengkan kepala melihat kedua temanku yang konyol ini. Aku nggak mengerti kenapa mereka keluar dengan dramatis. Seolah-olah mereka melihat selebriti, bukan wanita yang bangun dari tidur.Semenit kemudian, mereka masuk kembali, keduanya terengah-engah. Ronald bahkan tampak menyeret Roxie yang kehabisan napas karena tergesa-gesa."Sobat! Kamu benar-benar bangun!" Suara Roxie murni penuh kegembiraan. Dia bergegas ke sisi tempat tidurku, menangkup wajahku dan menatap mataku seolah ingin memastikan aku nyata. Aku nggak bisa menahan senyum."Syukurlah kamu kembali. Ya Tuhan, kamu sudah nggak sadar selama lebih dari setahun," kata Ronald, kebahagiaan terpancar.Aku membuka mulut untuk menanyakan jutaan pertanyaan yang berputar di kepalaku, tetapi pintu terbuka lagi, dan Dokter Aster masuk bersama dua perawat. Dia pun memulai pemeriksaannya dengan senyum hangat."Selamat datang kembali, Carissa. Gimana perasaanmu?" tanyanya."Aku … baik-baik saja," kataku, suaraku se

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 47

    POV GabrielAku adalah Gabriel Madison. Nama itu memiliki bobot di kota ini. Aku memiliki kekayaan, pengaruh, dan reputasi yang membuat orang memperhatikanku, terutama para wanita.Aku nggak pernah menjadi orang yang cengeng. Akulah yang biasanya mengakhiri hubungan, yang biasa dikejar. Tapi Carissa … dia mengubah segalanya. Karena dia, air mataku jatuh tanpa peringatan.Siapa pun yang mengenalku akan terkejut melihat Gabriel Madison berlutut karena seorang wanita. Sama seperti mereka sekarang, melihatku berdiri di sini ….Air mata mengalir di wajahku saat aku melihat senyum samar dan sadar di bibirnya. Aku nggak bisa mencerna. Dia sudah bangun ....Aku berjalan ke kamarnya dalam keadaan linglung. Roxie dan Ronald menoleh saat aku masuk, mata mereka juga berkaca-kaca, dan mereka diam-diam menyingkir untuk memberiku ruang. Istriku, wanita yang kucintai lebih dari segalanya, menatapku kembali, ekspresinya penuh keheranan yang lembut.Dia akhirnya bangun. Sekarang dia sudah sadar. Aku pun

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 46

    POV Gabriel"Kami mohon maaf, Tuan." Salah satu dari mereka menjawab, pandangannya terpaku pada lantai.Aku menghela napas panjang dan menyerahkan cek kepada mereka berdua. Mereka mendongak, terkejut."Saya nggak akan coba hentikan kalian. Ini adalah gaji terakhir kalian. Tapi tolong, tunggu sampai besok pagi untuk pergi, ini sudah terlalu malam untuk bepergian," kataku, menjaga suaraku tetap tenang."Tapi, Tuan Gabriel, ini … ini terlalu banyak." Salah satu tergagap, melihat jumlah yang murah hati itu."Anggap saja sebagai bonus. Gunakan untuk keluarga kalian. Kalian layak mendapatkannya," jawabku."Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak," kata mereka serempak, kelegaan mereka sangat terasa."Tolong minta Marta masuk menemui saya sebelum kalian pergi," kataku. Kupikir nggak ada gunanya mempekerjakan pengasuh baru saat ini."Ya, Tuan Gabriel. Terima kasih sekali lagi."Beberapa menit kemudian, Marta masuk. Aku pun memberi isyarat padanya untuk duduk."Marta, kamu sudah lihat polanya.

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 45

    POV Gabriel"Sstt, Sayang, Oma memelukmu." Mama membujuk sembari dengan lembut mengayunkan Christian yang sekarang mulai tenang."Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Dia mungkin hanya lapar," kata Papa mengelak. Dia berbalik ke Miracle, mencium dahinya dan mencubit pipinya dengan lembut. Putriku tertawa, melambaikan tangannya kegirangan."Jangan coba-coba alihkan pembicaraan. Kamu buat dia terkejut. Lagian bukannya kamu mau tidur?" tanya Mama, nadanya melunak."Aku memang mau tidur. Aku mau tidur di sini malam ini. Ranjangnya cukup besar," jawab Papa dengan senyum hangat."Sungguh mengejutkan," kata Mama, senyumnya kembali. "Kamu selalu tidur di sini.""Itu karena kamu selalu di sini, Sayangku. Jadi aku tentu harus di sini juga," jawab Papa.Mereka bersikeras memasang ranjang ukuran king di kamar bayi, dan itu telah menjadi rutinitas malam mereka. Jika mereka bisa pindahkan si kembar ke kamar mereka sendiri, mereka pasti sudah melakukannya. Aku menolak ide itu, ingin mereka memiliki ruang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status