Share

Bab 2

Author: Cathy
POV Ara

Aku sedang di taman di rumah kami, duduk bersila, senyum-senyum sendiri sambil melamun. Akhirnya, rencanaku berhasil, Mama adalah “kaki tangan”ku. Aku menghisap rokokku lalu menghembuskan asapnya. Aku pun memejamkan mata, menikmati nikotin yang meluncur ke tenggorokanku. Setelah rokok habis, aku matikannya di asbak di depanku.

Aku nggak punya pilihan lain, Gabriel sudah melamarku. Aku nggak mungkin menolak karena aku cinta dia, tapi aku belum siap nikah sekarang. Keluarganya kaya raya, dan aku tahu kalau aku ngotot menunda pernikahan demi mengejar impianku jadi model, pasti mereka nggak akan setuju. Jadi, muncul ide: selama aku mengejar mimpiku, aku akan menikahkan dia dengan adikku dulu.

Ya, itu rencanaku. Aku akan mengikat Gabriel ke adikku untuk sementara waktu, jadi nanti kalau aku sudah siap, aku bisa dengan gampang mengambilnya kembali. Kalau nggak, dia bisa saja pacaran sama cewek lain, dan akan lebih susah merebutnya kembali saat aku sudah siap nikah. Banyak banget cewek-cewek nggak tahu malu yang mengelilingi pacarku, cewek-cewek yang rela telanjang di depan Gabriel cuma buat menarik perhatiannya, dan aku nggak bisa biarkan itu.

Gabriel itu milikku, seorang saja. Jadi, sampai aku siap berkomitmen penuh padanya, aku akan mengikatnya dulu ke adikku. Dengan kepribadian adikku, pasti gampang ambil kembali apa yang jadi milikku. Adikku itu agak bodoh. Dia gampang dimanipulasi dan polos banget, agak bodoh juga. Aku bisa dengan mudah mendapatkan Gabriel kembali darinya kapan pun aku mau.

Aku pura-pura terima pernikahan mereka, bukan karena aku sayang adikku, tapi karena aku memanfaatkannya. Aku tahu, kalau saatnya tiba, keluarga kami pasti akan selalu memihakku, apalagi Mama, karena aku anak kesayangannya. Aku baru berumur dua puluh satu tahun, dan minggu depan aku akan pergi ke Kota Yorke untuk jadi model. Gabriel nggak tahu soal ini. Aku sudah lama banget memimpikan ini, dan Gaston Fox juga akan membantuku.

Gaston adalah manajerku dan dia yang mengurus semuanya. Dia janji akan membantuku dalam segala hal agar impianku terwujud. Dia akan mengurus semua dokumen dan tempat tinggalku saat aku tiba di Kota Yorke. Gaston manajer yang baik banget, makanya aku sangat percaya padanya, Mama juga. Aku sudah kenal dia lama, dia selalu bersamaku setiap aku ikut audisi dan fashion show di Pacifia ini. Dia juga mengatur semua jadwalku. Dia memang mengurus artis lain, tapi aku tahu aku yang paling dia suka karena dia baik banget padaku.

Aku tersenyum diam-diam sambil membayangkan, akhirnya semua impianku akan terwujud tanpa halangan apa pun. Sejak kecil, aku sudah bermimpi jadi model internasional. Aku tahu aku punya modal untuk bidang fashion. Gaston janji akan melakukan segalanya agar impianku jadi kenyataan.

"Nona Ara, Mama dan Papamu sudah menunggu ke ruang kerja. Semua orang tua untuk upacara pernikahan Nona Carissa dan Tuan Gabriel sudah datang. Orang tua Tuan Gabriel juga sudah di sana," kata pembantu kami. Dia sudah lama jadi asisten rumah tangga kami. Dia bahkan ikut membesarkan aku dan Carissa.

"Oke, sebentar lagi aku nyusul," kataku padanya. Aku harus pasang muka sedih biar aktingku meyakinkan bahwa aku patah hati gara-gara kejadian itu. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku gembira banget. Rencanaku sukses. Aku bisa tenang mengejar semua impianku.

Aku langsung menuju ruang kerja dan mendapati Mama, Papa, orang tua Gabriel, Tante Moira Madison dan Om Ralph Madison sudah di sana. Gabriel dan Carissa juga ada, bersama dengan penghulu yang akan menikahkan mereka. Ya, pernikahan mereka akan dilangsungkan hari ini. Ini keputusan Papa, yang langsung disetujui Mama. Kami tahu sifat Papa, dia kolot.

Yah, itu nggak mengejutkan karena kakek-nenek kami dulu adalah pelayan gereja yang aktif. Mungkin dari situ Papa mewarisi sifat kolot ini. Aku melirik Carissa, kesedihan di wajahnya kelihatan jelas, sementara rahang Gabriel mengeras. Pernikahan ini dipercepat karena Mama juga pura-pura nggak mengizinkan Gabriel kabur dari tanggung jawab atas apa yang terjadi antara dia dan Carissa. Mama berakting jadi orang tua yang tegas, padahal itu semua bagian dari rencana kami.

Ketika aku menatap wajah Om Ralph dan Tante Moira, aku nggak bisa menebak apa yang mereka pikirkan. Mereka berdua tahu aku pacar anak mereka. Tante Moira menyetujuiku karena Gabriel selalu membawaku ke rumah mereka setiap ada perayaan keluarga, jadi aku bukan orang asing bagi mereka. Aku juga tahu mereka orang baik meskipun status sosial mereka tinggi. Mereka kaya raya banget, tapi kebaikan terlihat jelas di wajah pasangan itu.

"Ara, sayang, aku minta maaf. Kita bisa bicarakan tentang ini dulu nggak?" kata Gabriel padaku. "Ma, Pa, aku cinta Ara dan dia yang seharusnya kunikahi, bukan Carissa.” Tatap Gabriel ke kedua orang tuanya, lalu ia berpaling ke orang tuaku. “Om, Tante, kumohon, Ara yang aku mau. Aku harap kalian beri kami waktu untuk bicara. Aku nggak bisa tiba-tiba menikahi adik pacarku," pinta Gabriel. Emosi yang tertahan jelas terdengar di suaranya.

"Gabriel, apa yang seharusnya nggak terjadi, sudah terjadi. Kamu harus bertanggung jawab atas Carissa karena sesuatu sudah terjadi di antara kalian berdua. Kami nggak akan biarkan seolah nggak ada apa-apa semalam. Bagaimana kalau dia hamil? Apa kata orang nantinya? Gimana dengan keluarga? Kenalan-kenalan kami? Yang terjadi ini memalukan," kata Mama dengan marah.

Sementara itu, Carissa tetap diam dengan kepala tertunduk. Aku tahu dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Dia sedang berusaha mencari tahu bagaimana dia dan Gabriel bisa berakhir di ranjang bersama.

Apa yang kulakukan bersama Mama itu sederhana, kami menaruh obat tidur di minuman mereka. Lalu kami menanggalkan pakaian mereka berdua. Walaupun egois, ini satu-satunya cara agar Gabriel nggak lepas dari tanganku. Ketika aku kembali dari Kota Yorke, aku akan merebutnya kembali dari Carissa. Aku akan melakukan segalanya agar dia jadi milikku lagi. Untuk sekarang, ini keputusan terbaik.

"Gabriel, sampai sekarang aku masih nggak percaya kamu mengkhianatiku. Aku cinta banget sama kamu, tapi kenapa ini harus terjadi? Carissa adikku dan kamu harus bertanggung jawab padanya. Sepertinya aku harus menerima bahwa kita memang nggak ditakdirkan bersama," kataku dengan nada sedih. Aku perlu berpura-pura sedih agar drama ini meyakinkan. Dan aku perlu tunjukkan pada mereka bahwa aku baik dan mampu berkorban demi satu-satunya adikku.

"Ara, sayang, kamu anak yang baik sekali. Tante nggak nyangka kamu rela berkorban demi adikmu." Kekaguman jelas terlihat di wajah Tante Moira saat dia mengucapkan kata-kata itu padaku. Hatiku diam-diam bersorak.

"Terima kasih, Tante Moira. Mungkin memang aku dan putra Tante nggak berjodoh. Aku akan melakukan hal yang benar, walau aku harus melepaskannya," jawabku pada Tante Moira, dan dia tersenyum mendengar ucapanku. Om Ralph mengangguk setuju.

"Ma, Pa, kita nggak harus melanjutkan pernikahan ini. Tolonglah .... Kami nggak mau ini terjadi. Sampai sekarang aku masih nggak tahu bagaimana aku dan Gabriel bisa ada di satu ranjang," kata Carissa.

"Diam, Carissa! Kalau bukan karena kamu, ini nggak akan terjadi! Apa yang kamu lakukan sudah menyakiti kakakmu! Kamu bahkan nggak memikirkan betapa sakitnya hati kakakmu dengan perbuatanmu!" kata Mama, hampir berteriak.

"Ma, sudah. Carissa, kamu adikku dan aku mau kebahagiaanmu, termasuk Gabriel. Aku serahkan dia padamu. Aku harap kamu bisa menjaganya. Aku tahu kamu sudah lama menyukainya," kataku dengan dramatis.

"Nggak! Ayo kita perbaiki ini. Kamu dan Gabriel yang seharusnya menikah, bukan aku. Kumohon .... Aku nggak mau jadi penyebab kalian putus. Aku tahu betapa kalian saling mencintai. Aku melihatnya sendiri. Tolonglah ...." jawab Carissa sambil menangis.

"Nggak, Carissa, ini hal yang benar. Aku sayang kamu karena kamu adikku. Aku rela berkorban demi kebahagiaanmu," kataku dengan penuh emosi. Aku bahkan pura-pura mengusap air mata dari mataku.

"Sudah cukup. Carissa, Gabriel. Kalian akan menikah hari ini, titik. Kamu yang menginginkan ini, jadi jalani sampai akhir. Setelah menikah, bawa Carissa ke tempatmu, Gabriel. Papa nggak mau melihat Ara menderita karena apa yang terjadi." Papaku menyampaikan pidato panjangnya.

"Tapi Pa, bagaimana dengan kuliahku? Bisakah aku tetap tinggal di sini dulu?" pinta Carissa.

"Nggak, Carissa. Kamu harus ikut suamimu setelah pernikahan. Jangan bicara atau bertemu kakakmu dulu untuk sementara waktu supaya dia bisa cepat pulih. Apa yang terjadi ini menyakitkan baginya, jadi kamu harus tinggalkan rumah ini untuk sementara," kata Papa.

"Betul. Gabriel, Nak, bawa Carissa ke rumahmu setelah menikah demi kedamaian semua orang. Kalian sudah suami istri sekarang, jadi harus tinggal bersama dalam satu rumah. Rumah impianmu baru selesai, kan? Suruh saja Carissa tinggal di sana untuk sementara waktu," kata Tante Moira panjang lebar.

"Itu rumah impianku dan Ara, Ma. Rumah itu buat Ara," kata Gabriel, rasa kesal jelas terdengar di suaranya.

"Gabriel, kumohon, sudahlah. Lupakan aku. Mulai sekarang, fokuskan perhatianmu pada Carissa. Dia yang harus tinggal di rumah itu karena dia akan jadi istrimu. Lupakan aku. Aku tahu ini menyakitkan, tapi ini hal yang benar," kataku penuh emosi pada Gabriel.

"Nggak! Aku cinta kamu, Ara. Aku nggak akan lepaskan kamu. Ayo kita perbaiki ini. Kita bicara, berdua saja. Tolonglah ...." pinta Gabriel, aku tentu senang mendengarnya. 'Nggak diragukan lagi, dia sangat mencintaiku.'

"Sudah, Gabriel. Cukup. Lepaskan aku. Jangan tambah penderitaan yang kurasakan. Kasihanilah aku, Gabriel," pintaku padanya, yang membuatnya sangat sedih.

"Nah, apa semuanya sudah beres? Kurasa kita bisa mulai pernikahannya sekarang," kata Om Ralph.

Papa dan Mama langsung mengangguk. Penghulu cepat-cepat bersiap. Aku diam-diam melihat saat upacara berlangsung. Nggak banyak yang terjadi. Wajah Gabriel menunjukkan penolakan yang jelas. Wajah Carissa gelisah. Mereka hampir nggak bisa menjawab pertanyaan penghulu. Yah, sebenarnya mereka juga nggak perlu menjawab. Pernikahan ini cuma formalitas. Poin utamanya adalah penandatanganan akta nikah atau kontrak pernikahan yang menyatakan Carissa dan Gabriel sekarang resmi suami istri di mata hukum.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 50

    POV CarissaGabriel dan aku akhirnya sendirian di kamar. Teman-temanku telah pergi.Keheningan yang canggung menyelimuti kami. Dia telah menatapku untuk waktu yang terasa seperti selamanya, senyum lembut, hampir konyol, tersungging di bibirnya. Dia bertingkah sangat berbeda."Dokter sudah izinkan kamu untuk makanan lunak. Mau aku ambilkan kamu sesuatu?" tanyanya, suaranya luar biasa lembut.Aku hanya menggeleng, nggak yakin gimana harus bicara dengannya. Kenapa dia masih di sini? Bukankah seharusnya dia pulang?'Mungkin Ara menunggunya,' pikirku. Gagasan mereka menikah membuat mataku perih dengan air mata yang hampir jatuh."Jadi … gimana kabar bayi-bayi itu? Roxie bilang mereka ada di vila." Aku berhasil bertanya, mengalihkan pembicaraan."Mereka sempurna. Orang tuaku jaga mereka. Ini, mau lihat?" tanyanya, sudah mengeluarkan ponselnya.Dia bergerak lebih dekat, duduk di tepi tempat tidur. Napasku tercekat saat dia dengan hati-hati membantuku duduk dan bersandar pada kepala tempat tid

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 49

    POV Carissa"Ya, tapi kamu yang mulai langgar janji kita pada Carissa, dan ...." Ronald mencoba membela diri, tetapi Roxie memotongnya lagi."Dan kamu diam saja! Soalnya kamu terpesona melihat teman-teman Gabriel dan Jonathan yang seksi setiap kali mereka berkunjung," balas Roxie."Bisa berhenti nggak? Kalau nggak aku akan beri tahu Papamu tentang akun Instagram rahasiamu," ancam Roxie, meskipun kami semua tahu itu adalah gertakan kosong."Dasar penyihir. Selalu pakai itu untuk mengancamku? Baiklah! Terserah! Itu salah kami berdua. Katakan saja kami berdua yang buka rahasia, meskipun kami nggak benar-benar bicara .…" gerutu Ronald, bibir bawahnya cemberut berlebihan."Baiklah, kalian berdua, cukup." Aku menyela, senyum menyentuh bibirku. "Aku sebenarnya nggak marah. Tapi kalian berjanji akan merawat bayi-bayiku. Kenapa nggak? Untung aku nggak mati, kalau tidak hantuku sudah menghantui kalian sekarang." Aku nggak bisa menahan diri untuk melemparkan lelucon itu.Mata mereka tiba-tiba mel

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 48

    POV CarissaAku hanya menggelengkan kepala melihat kedua temanku yang konyol ini. Aku nggak mengerti kenapa mereka keluar dengan dramatis. Seolah-olah mereka melihat selebriti, bukan wanita yang bangun dari tidur.Semenit kemudian, mereka masuk kembali, keduanya terengah-engah. Ronald bahkan tampak menyeret Roxie yang kehabisan napas karena tergesa-gesa."Sobat! Kamu benar-benar bangun!" Suara Roxie murni penuh kegembiraan. Dia bergegas ke sisi tempat tidurku, menangkup wajahku dan menatap mataku seolah ingin memastikan aku nyata. Aku nggak bisa menahan senyum."Syukurlah kamu kembali. Ya Tuhan, kamu sudah nggak sadar selama lebih dari setahun," kata Ronald, kebahagiaan terpancar.Aku membuka mulut untuk menanyakan jutaan pertanyaan yang berputar di kepalaku, tetapi pintu terbuka lagi, dan Dokter Aster masuk bersama dua perawat. Dia pun memulai pemeriksaannya dengan senyum hangat."Selamat datang kembali, Carissa. Gimana perasaanmu?" tanyanya."Aku … baik-baik saja," kataku, suaraku se

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 47

    POV GabrielAku adalah Gabriel Madison. Nama itu memiliki bobot di kota ini. Aku memiliki kekayaan, pengaruh, dan reputasi yang membuat orang memperhatikanku, terutama para wanita.Aku nggak pernah menjadi orang yang cengeng. Akulah yang biasanya mengakhiri hubungan, yang biasa dikejar. Tapi Carissa … dia mengubah segalanya. Karena dia, air mataku jatuh tanpa peringatan.Siapa pun yang mengenalku akan terkejut melihat Gabriel Madison berlutut karena seorang wanita. Sama seperti mereka sekarang, melihatku berdiri di sini ….Air mata mengalir di wajahku saat aku melihat senyum samar dan sadar di bibirnya. Aku nggak bisa mencerna. Dia sudah bangun ....Aku berjalan ke kamarnya dalam keadaan linglung. Roxie dan Ronald menoleh saat aku masuk, mata mereka juga berkaca-kaca, dan mereka diam-diam menyingkir untuk memberiku ruang. Istriku, wanita yang kucintai lebih dari segalanya, menatapku kembali, ekspresinya penuh keheranan yang lembut.Dia akhirnya bangun. Sekarang dia sudah sadar. Aku pun

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 46

    POV Gabriel"Kami mohon maaf, Tuan." Salah satu dari mereka menjawab, pandangannya terpaku pada lantai.Aku menghela napas panjang dan menyerahkan cek kepada mereka berdua. Mereka mendongak, terkejut."Saya nggak akan coba hentikan kalian. Ini adalah gaji terakhir kalian. Tapi tolong, tunggu sampai besok pagi untuk pergi, ini sudah terlalu malam untuk bepergian," kataku, menjaga suaraku tetap tenang."Tapi, Tuan Gabriel, ini … ini terlalu banyak." Salah satu tergagap, melihat jumlah yang murah hati itu."Anggap saja sebagai bonus. Gunakan untuk keluarga kalian. Kalian layak mendapatkannya," jawabku."Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak," kata mereka serempak, kelegaan mereka sangat terasa."Tolong minta Marta masuk menemui saya sebelum kalian pergi," kataku. Kupikir nggak ada gunanya mempekerjakan pengasuh baru saat ini."Ya, Tuan Gabriel. Terima kasih sekali lagi."Beberapa menit kemudian, Marta masuk. Aku pun memberi isyarat padanya untuk duduk."Marta, kamu sudah lihat polanya.

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 45

    POV Gabriel"Sstt, Sayang, Oma memelukmu." Mama membujuk sembari dengan lembut mengayunkan Christian yang sekarang mulai tenang."Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Dia mungkin hanya lapar," kata Papa mengelak. Dia berbalik ke Miracle, mencium dahinya dan mencubit pipinya dengan lembut. Putriku tertawa, melambaikan tangannya kegirangan."Jangan coba-coba alihkan pembicaraan. Kamu buat dia terkejut. Lagian bukannya kamu mau tidur?" tanya Mama, nadanya melunak."Aku memang mau tidur. Aku mau tidur di sini malam ini. Ranjangnya cukup besar," jawab Papa dengan senyum hangat."Sungguh mengejutkan," kata Mama, senyumnya kembali. "Kamu selalu tidur di sini.""Itu karena kamu selalu di sini, Sayangku. Jadi aku tentu harus di sini juga," jawab Papa.Mereka bersikeras memasang ranjang ukuran king di kamar bayi, dan itu telah menjadi rutinitas malam mereka. Jika mereka bisa pindahkan si kembar ke kamar mereka sendiri, mereka pasti sudah melakukannya. Aku menolak ide itu, ingin mereka memiliki ruang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status