LOGINPOV CarissaGabriel dan aku akhirnya sendirian di kamar. Teman-temanku telah pergi.Keheningan yang canggung menyelimuti kami. Dia telah menatapku untuk waktu yang terasa seperti selamanya, senyum lembut, hampir konyol, tersungging di bibirnya. Dia bertingkah sangat berbeda."Dokter sudah izinkan kamu untuk makanan lunak. Mau aku ambilkan kamu sesuatu?" tanyanya, suaranya luar biasa lembut.Aku hanya menggeleng, nggak yakin gimana harus bicara dengannya. Kenapa dia masih di sini? Bukankah seharusnya dia pulang?'Mungkin Ara menunggunya,' pikirku. Gagasan mereka menikah membuat mataku perih dengan air mata yang hampir jatuh."Jadi … gimana kabar bayi-bayi itu? Roxie bilang mereka ada di vila." Aku berhasil bertanya, mengalihkan pembicaraan."Mereka sempurna. Orang tuaku jaga mereka. Ini, mau lihat?" tanyanya, sudah mengeluarkan ponselnya.Dia bergerak lebih dekat, duduk di tepi tempat tidur. Napasku tercekat saat dia dengan hati-hati membantuku duduk dan bersandar pada kepala tempat tid
POV Carissa"Ya, tapi kamu yang mulai langgar janji kita pada Carissa, dan ...." Ronald mencoba membela diri, tetapi Roxie memotongnya lagi."Dan kamu diam saja! Soalnya kamu terpesona melihat teman-teman Gabriel dan Jonathan yang seksi setiap kali mereka berkunjung," balas Roxie."Bisa berhenti nggak? Kalau nggak aku akan beri tahu Papamu tentang akun Instagram rahasiamu," ancam Roxie, meskipun kami semua tahu itu adalah gertakan kosong."Dasar penyihir. Selalu pakai itu untuk mengancamku? Baiklah! Terserah! Itu salah kami berdua. Katakan saja kami berdua yang buka rahasia, meskipun kami nggak benar-benar bicara .…" gerutu Ronald, bibir bawahnya cemberut berlebihan."Baiklah, kalian berdua, cukup." Aku menyela, senyum menyentuh bibirku. "Aku sebenarnya nggak marah. Tapi kalian berjanji akan merawat bayi-bayiku. Kenapa nggak? Untung aku nggak mati, kalau tidak hantuku sudah menghantui kalian sekarang." Aku nggak bisa menahan diri untuk melemparkan lelucon itu.Mata mereka tiba-tiba mel
POV CarissaAku hanya menggelengkan kepala melihat kedua temanku yang konyol ini. Aku nggak mengerti kenapa mereka keluar dengan dramatis. Seolah-olah mereka melihat selebriti, bukan wanita yang bangun dari tidur.Semenit kemudian, mereka masuk kembali, keduanya terengah-engah. Ronald bahkan tampak menyeret Roxie yang kehabisan napas karena tergesa-gesa."Sobat! Kamu benar-benar bangun!" Suara Roxie murni penuh kegembiraan. Dia bergegas ke sisi tempat tidurku, menangkup wajahku dan menatap mataku seolah ingin memastikan aku nyata. Aku nggak bisa menahan senyum."Syukurlah kamu kembali. Ya Tuhan, kamu sudah nggak sadar selama lebih dari setahun," kata Ronald, kebahagiaan terpancar.Aku membuka mulut untuk menanyakan jutaan pertanyaan yang berputar di kepalaku, tetapi pintu terbuka lagi, dan Dokter Aster masuk bersama dua perawat. Dia pun memulai pemeriksaannya dengan senyum hangat."Selamat datang kembali, Carissa. Gimana perasaanmu?" tanyanya."Aku … baik-baik saja," kataku, suaraku se
POV GabrielAku adalah Gabriel Madison. Nama itu memiliki bobot di kota ini. Aku memiliki kekayaan, pengaruh, dan reputasi yang membuat orang memperhatikanku, terutama para wanita.Aku nggak pernah menjadi orang yang cengeng. Akulah yang biasanya mengakhiri hubungan, yang biasa dikejar. Tapi Carissa … dia mengubah segalanya. Karena dia, air mataku jatuh tanpa peringatan.Siapa pun yang mengenalku akan terkejut melihat Gabriel Madison berlutut karena seorang wanita. Sama seperti mereka sekarang, melihatku berdiri di sini ….Air mata mengalir di wajahku saat aku melihat senyum samar dan sadar di bibirnya. Aku nggak bisa mencerna. Dia sudah bangun ....Aku berjalan ke kamarnya dalam keadaan linglung. Roxie dan Ronald menoleh saat aku masuk, mata mereka juga berkaca-kaca, dan mereka diam-diam menyingkir untuk memberiku ruang. Istriku, wanita yang kucintai lebih dari segalanya, menatapku kembali, ekspresinya penuh keheranan yang lembut.Dia akhirnya bangun. Sekarang dia sudah sadar. Aku pun
POV Gabriel"Kami mohon maaf, Tuan." Salah satu dari mereka menjawab, pandangannya terpaku pada lantai.Aku menghela napas panjang dan menyerahkan cek kepada mereka berdua. Mereka mendongak, terkejut."Saya nggak akan coba hentikan kalian. Ini adalah gaji terakhir kalian. Tapi tolong, tunggu sampai besok pagi untuk pergi, ini sudah terlalu malam untuk bepergian," kataku, menjaga suaraku tetap tenang."Tapi, Tuan Gabriel, ini … ini terlalu banyak." Salah satu tergagap, melihat jumlah yang murah hati itu."Anggap saja sebagai bonus. Gunakan untuk keluarga kalian. Kalian layak mendapatkannya," jawabku."Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak," kata mereka serempak, kelegaan mereka sangat terasa."Tolong minta Marta masuk menemui saya sebelum kalian pergi," kataku. Kupikir nggak ada gunanya mempekerjakan pengasuh baru saat ini."Ya, Tuan Gabriel. Terima kasih sekali lagi."Beberapa menit kemudian, Marta masuk. Aku pun memberi isyarat padanya untuk duduk."Marta, kamu sudah lihat polanya.
POV Gabriel"Sstt, Sayang, Oma memelukmu." Mama membujuk sembari dengan lembut mengayunkan Christian yang sekarang mulai tenang."Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Dia mungkin hanya lapar," kata Papa mengelak. Dia berbalik ke Miracle, mencium dahinya dan mencubit pipinya dengan lembut. Putriku tertawa, melambaikan tangannya kegirangan."Jangan coba-coba alihkan pembicaraan. Kamu buat dia terkejut. Lagian bukannya kamu mau tidur?" tanya Mama, nadanya melunak."Aku memang mau tidur. Aku mau tidur di sini malam ini. Ranjangnya cukup besar," jawab Papa dengan senyum hangat."Sungguh mengejutkan," kata Mama, senyumnya kembali. "Kamu selalu tidur di sini.""Itu karena kamu selalu di sini, Sayangku. Jadi aku tentu harus di sini juga," jawab Papa.Mereka bersikeras memasang ranjang ukuran king di kamar bayi, dan itu telah menjadi rutinitas malam mereka. Jika mereka bisa pindahkan si kembar ke kamar mereka sendiri, mereka pasti sudah melakukannya. Aku menolak ide itu, ingin mereka memiliki ruang







