Share

Bab 10

Penulis: Maya sabir
last update Tanggal publikasi: 2026-03-28 17:36:01

Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil terus merangsek maju.

Tiba-tiba, suara tembakan teredam DOR! DOR!bergema melalui frekuensi radio yang terhubung langsung ke sensor suara di dalam bunker.

Dante membeku. Itu bukan suara senapan se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 24

    Hari kelima dimulai dengan keheningan yang menyesakkan namun terasa manis. Dante tidak lagi mengizinkan cahaya matahari masuk secara alami; ia memerintahkan penutupan gorden otomatis agar Aara tidak terbangun karena silau. Di mata Dante, matahari pun tidak punya hak untuk mengganggu tidur istrinya. Saat Aara membuka mata, ia menemukan Dante sedang duduk bersila di sampingnya, tidak lagi memegang laptop atau dokumen bisnis. Di tangannya terdapat sebuah nampan kecil berisi minyak aromaterapi dan handuk hangat. "Aku membatalkan semua rapat hari ini," ucap Dante pelan, suaranya parau kar

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 23

    Hari ketiga "penahanan" dimulai dengan suasana yang lebih tenang namun tetap dengan pengawasan yang mencekam. Dante tidak hanya memindahkan kantornya, ia benar-benar membangun benteng di dalam kamar itu. Pagi ini, suara ketukan di pintu kembali terdengar. Marco masuk dengan membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di belakangnya dua pelayan wanita yang membawa tumpukan majalah, tablet baru, dan beberapa katalog perhiasan. "Tuan, ini pesanan Anda untuk Nyonya," ujar Marco, matanya tetap menunduk ke lantai, tidak berani melirik ke arah ranjang di mana Dante sedang memeluk pinggang Aara dengan posesif.

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 22

    Lantai atas mansion Valerius malam itu hanya dipenuhi oleh suara langkah kaki Dante yang berat dan gerutuan posesifnya yang belum mereda. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, Dante menendang pintu hingga terbuka dan menutupnya kembali dengan bantingan keras yang mengguncang bingkai foto di dinding. "Dante! Turunkan aku! Ini konyol!" seru Aara sambil memukul-mukul punggung suaminya. Dante mengabaikannya. Ia menjatuhkan Aara dengan hati-hati ke atas tempat tidur king size mereka, namun segera mengurung tubuh istrinya itu dengan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Aara. Napasnya masih menderu, dan sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak menyala oleh api protektif yang gila. "Konyol? Kau bilang konyol?!" Dante mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. "Satu jam aku tidak tahu kau ada di mana, Aara. Satu jam aku membayangkan kau disiksa, diculik, atau... atau tewas di pinggir jalan! Dan kau menyebut kekhawatiranku konyol?!" Aara tertegun mel

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 21

    Setibanya kembali di mansion Valerius setelah drama di Italia, suasana yang biasanya kaku dan penuh kedisiplinan militer mendadak berubah drastis. Dante Valerius, pria yang dijuluki "Iblis dari Barat" karena kekejamannya, kini tampak seperti pria yang benar-benar berbeda. Pagi itu, di ruang makan utama, Marco dan Sasha berdiri mematung di sudut ruangan. Mata mereka terbelalak melihat pemandangan yang mustahil. Dante, yang biasanya duduk tegak dengan koran bisnis dan kopi hitam pekat, kini sedang sibuk mengupas kulit buah anggur satu per satu untuk disuapkan ke mulut Aara. "Dante, aku bisa melakukannya sendiri," protes Aara dengan pipi merona merah. "Diamlah, Sayang. Tanganmu terlalu berharga untuk sekadar mengupas buah," gumam Dante tanpa mengalihkan pandangan dari istrinya. Ia kemudian mengecup telapak tangan Aara dengan lembut, tepat di depan mata para pengawalnya. Marco berdehem pelan, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Tuan Besar, laporan mengenai pengiriman logistik di S

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 20

    Beberapa bulan telah berlalu sejak malam berdarah di dermaga itu. Bekas luka di punggung Dante masih sering terasa nyeri saat cuaca dingin, namun luka di hati mereka berdua perlahan mulai mengering. Mansion Valerius kini tidak lagi terasa seperti penjara bawah tanah yang dingin , mawar-mawar yang dulu hanya tumbuh di toko bunga Aara, kini mekar dengan liar di sepanjang halaman mansion, seolah menandai wilayah baru sang Ratu. Dante berdiri di balkon, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, memperhatikan Aara yang sedang memangkas dahan mawar di bawah sana. Kehadiran Aara telah mengubah segalanya. "Kau terlalu banyak melamun, Dante." Dante menoleh dan mendapati Sasha berdiri di ambang pintu, membawa sebuah map hitam. "Apa itu?" "Laporan terakhir dari markas pusat. Isabella de Luca telah kembali ke Italia, tapi agen kita melaporkan dia sedang menggalang kekuatan dengan keluarga-keluarga kecil di sana. Dia tidak menerima pengusiran itu dengan baik," lapor Sasha dengan nad

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 19

    Aara terpaku. Di tengah bau mesiu dan darah, ia menyadari satu hal ,meski pernikahan ini dimulai dengan kebohongan bisnis, pria yang mendekapnya erat saat ini benar-benar siap mati untuknya. Dante mengerang saat peluru kedua menghantam punggungnya, namun ia justru semakin mempererat pelukannya pada Aara, menjadikannya perisai hidup yang tak tertembus. Di tengah gemuruh tembakan dan kepulan gas saraf yang mulai melumpuhkan anak buah Diego, dunia seolah melambat bagi Aara. Aroma parfum kayu Dante bercampur dengan bau karat darah, menciptakan realitas pahit yang harus ia telan pria ini, monster yang ia benci karena telah "membelinya", kini sedang menumpahkan darahnya sendiri demi menebus kesalahan yang bahkan belum sempat ia jelaskan. "Dante! Kau terluka!" teriak Aara, suaranya teredam di dada kemeja Dante yang kini mulai basah oleh cairan hangat yang kental. "Jangan... jangan lepas," gumam Dante, suaranya parau namun penuh otoritas. "Tetaplah di bawahku, Aara." Sasha muncul dari

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 12

    Di mansion Valerius, keheningan pasca penculikan itu meledak menjadi badai murka. Dante terbangun beberapa saat kemudian setelah dr. Adrian menyuntikkan stimulan ke pembuluh darahnya. Namun, yang bangkit dari lantai itu bukan lagi Dante yang tenang; ia adalah iblis yang kehilangan benderanya. "SH

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 11

    Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Dante mematung. Tangan yang tadi terulur untuk membelai Aara menggantung di udara, perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih. Aura di sekitar Dante berubah seketika. Jika tadi ia adala

  • Cinta Semalam Sang Mafia   BB 7

    Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang seb

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 6

    Lorenzo melolong kesakitan, suaranya parau memantul di dinding-dinding baja yang dingin. Ia mencoba menyeret tubuhnya, meninggalkan jejak darah kental di atas lantai bordes yang berkarat. Matanya liar mencari jalan keluar, namun yang ia temukan hanyalah moncong senjata hitam yang kembali membidik t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status