FAZER LOGINClara Athena dijual oleh orang tua angkatnya kepada Ethan Evander, seorang mafia kejam, demi melunasi hutang yang menjerat keluarga. Hidupnya berubah menjadi milik pria berbahaya yang seharusnya ia takuti. Namun di balik dinginnya, Ethan memperlakukan Clara dengan kelembutan yang tak terduga. Perlahan, rasa takut berubah menjadi ketergantungan… lalu cinta. Saat Clara menemukan kebenaran tentang kebangkrutan keluarganya, masa lalu Ethan pun kembali hadir lewat Sophie Edgar, cinta pertamanya. Penolakan keluarga dan bayang-bayang wanita itu membuat Clara terpojok. Di antara bahaya, rahasia, dan cinta terlarang, Clara harus bertahan dalam pelukan seorang pria yang mematikan—namun membuatnya tak mampu pergi.
Ver maisLiya mendesis pelan ketika merasakan kepalanya terasa sakit. Dia juga mencoba menggerakkan tubuh, tetapi rasanya kaku. Badannya terasa sakti, membuat Liya membuang napas kasar dan menghentikan usahanya.“Benar-benar sial,” gumam Liya dengan wajah kesal. Semua urusannya tertunda hanya karena sebuah kejadian yang tidak diinginkannya sama sekali.‘Kalau aku bertemu dengan pelakunya, aku ingin sekali menghabisi dia saat ini juga,’ batin Liya dengan kedua tangan mengepal. Dia benar-benar kesal. Padahal dia masih harus mencari Clara, tetapi sekarang semua harus berhenti karena tubuhnya yang masih terbaring di rumah sakit. Jangankan untuk mencari sahabatnya. Untuk bergerak saja terasa sakit.“Kamu sudah bangun?”Liya yang masih sibuk mengomel pun lansgung mengalihkan pandangan. Dia menatap pria dengan kacamata yang melangkah masuk. Manik matanya mengamati secara keseluruhan penampilan pria tersebut. Hingga pria itu duduk di pinggir ranjang.“Kamu siapa?” tanya Liya. Dia merasa tidak mengenal
Clara menuruni satu per satu anak tangga dengan perasaan tidak karuan. Dia mengamati sekitar, memastikan tidak ada orang lain di rumah itu. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya terkurung di rumah tersebut. Pasalnya, kalau ada yang tahu dan menyebarkan kabar tidak benar, dia juga yang akan kehilangan nama baik. Sampai Clara sudah berada di anak tangga terakhir dan menghela napas pelan.“Untung sudah tidak ada,” gumam Clara sembari mengelus dada.“Apa yang tidak ada, Clara?”Clara yang awalnya tenang langsung tersentak kaget saat mendengar suara bariton itu terlalu dekat dengannya. Dia pun mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Benar saja, Ethan sudah berdiri di belakangnya menggunakan pakaian formal. Terlihat ketegasan dari sorot mata pria itu, membuat Clara menundukkan kepala.“Bukan apa-apa,” jawab Clara. Jemarinya masih saling bertaut, merasa takut dengan Ethan.“Kalau memang tidak ada, cepat ke meja makan untuk sarapan. Aku tidak mau ada yang mati di rumahku,” kata
Clara menatap Ethan yang masih mengancingkan satu per satu kancing pakaian. Pria itu terlihat tenang. Padahal mereka baru saja menghabiskan waktu bersama. Sekarang saja, napas Clara masih terdengar memburu karena permainan gila yang baru saja Ethan lakukan. Ditambah dirinya yang masih menggunakan selimut sebagai penutup. Clara merasa tidak memiliki tenaga, tetapi sepertinya hal itu tidak terjadi dengan Ethan. Stamina pria itu benar-benar mengagumkan.“Ponsel untukmu.”Clara yang masih melamun pun tersentak kaget ketika Ethan melempar sebuah kotak di depannya. Buru-buru, dia mengambil dan membukanya. Seketka, bibirnya mengulas senyum lebar, menatap ke arah Ethan yang masih memasang wajah dingin.“Ini untukku?” tanya Clara memastikan.“Iya. Kata Citra kamu bosan. Jadi, aku membelikanmu ponsel. Anggap saja supaya kamu tidak kabur lagi,” jawab Ethan.Clara yang sejak tadi tersenyum pun langsung diam. Dia menatap ke arah Ethah penuh selidik. Padahal dirinya bukanlah orang penting. Dia juga
Clara membuka mata secara perlahan, menatap langit kamar dan membuang napas kasar. Hari yang membosankan akan kembali dilaluinya, membuat Clara tidak betah sama sekali. Dia bahkan malas untuk bangun. Pasalnya, semua aktivitasnya juga tidak akan berubah sama “Aku benar-benar malas menjalani hari,” gumam Clara. Lagu-lagi mendesah kasar.Namun, dia tidak mungkin terus berada di kamar. Dia cukup ingat dimana dirinya tinggal, membuat Clara mau tidak mau turun dari ranjang dan menuju ke arah kamar mandi. Clara tidak mau kalau mendapat masalah lagi dan membuat Ethan marah.Tiga puluh menit kemudian.Clara keluar dari kamar hanya menggunakan handuk. Dia sengaja tidak membawa pakaian ganti. Semalma Ethan tidak masuk ke kamarnya, menandakan jika pria itu tidak pulang ke rumah. Jadi, kamar itu adalah miliknya. Tidak ada selain dirinya. Itu sebabnya, Clara tidak membawa pakaian kering untuk digunakan.Namun, saat dia baru membuka handuk yang sejak tadi melilit tubuh, pintu ruangan terbuka. Sonta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.