ログインClara Athena dijual oleh orang tua angkatnya kepada Ethan Evander, seorang mafia kejam, demi melunasi hutang yang menjerat keluarga. Hidupnya berubah menjadi milik pria berbahaya yang seharusnya ia takuti. Namun di balik dinginnya, Ethan memperlakukan Clara dengan kelembutan yang tak terduga. Perlahan, rasa takut berubah menjadi ketergantungan… lalu cinta. Saat Clara menemukan kebenaran tentang kebangkrutan keluarganya, masa lalu Ethan pun kembali hadir lewat Sophie Edgar, cinta pertamanya. Penolakan keluarga dan bayang-bayang wanita itu membuat Clara terpojok. Di antara bahaya, rahasia, dan cinta terlarang, Clara harus bertahan dalam pelukan seorang pria yang mematikan—namun membuatnya tak mampu pergi.
もっと見る“Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”
Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. “Pa, aku tidak mau. Aku tidak mau dijual ke orang jahat itu,” teriak Clara lagi. Dia masih berusaha melepaskan genggaman tangan yang begitu erat. Meski tenaganya sudah terkuras, tetapi Clara tidak ingin menyerah. Liam yang melihat putrinya itu terus memberontak langsung berhenti. Clara benar-benar menguji emosinya. Sejak mereka keluar dari rumah, gadis itu bahkan tidak berhenti merontak sama sekali. Hingga dia membalikkan tubuh dan melayangkan tangan ke arah Clara berada. Plak. Tamparan keras membuat Clara terdiam. Sedikit darah terlihat di ujung bibirnya. Wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata kini terlihat begitu lusuh. Tatapan yang awalnya masih memberikan harapan, kali ini sirna begitu saja. “Diam kamu, Clara! Jangan membuat masalah. Kamu harus membayar semua hutang keluarga kita!” kata Liam dengan tegas. Clara menggelengkan kepala. Masih terisak. Membayangkan dirinya yang akan dijual dengan pria hidung belang benar-benar membuat Clara tidak tahan. Dia meratapi nasibnya yang begitu mengenaskan. “Sekarang ikut. Kalau sampai kamu berbuat macam-macam, Papa benar-benar akan menghabisimu,” ucap Liam lagi. “Pa, aku tidak mau. Aku mohon, jangan berikan aku dengan mereka,” sahut Clara dengan lirih. Hatinya sudah hancur berkeping-keping karena perlakuan sang Papa yang begitu buruk dengannya. Selama ini, keluarga Athena memang memperlakukannya dengan buruk, tetapi Clara tidak menyangka kalau orang tuanya itu akan menjualnya hanya demi melunasi hutang. Sedangkan Liam yang kembali mendengar rengekan itu semakin merasa kesal. Dia langsung menarik rambut panjang Clara dan berkata, “Kamu itu hanya anak pungut, Clara. Selama ini keluarga Athena sudah membiayaimu, memberimu kehidupan yang layak dan tidak kalah dengan teman-temanmu. Jadi, sekarang waktunya kamu membalas budi keluarga ini. Kamu harus aku serahkan dengan tuan Ethan supaya perusahaan kita bisa bangkit lagi.” Clara menutup mata secara perlahan, membiarkan air matanya mengalir dengan sendirinya. Rasanya benar-benar menyakitkan. Selama ini keluarga Athena memang memberikannya kehidupan, tetapi tidak memperlakukannya dengan baik. Dia hanya dianggap sebagai asisten rumah tangga saja. Setiap pulang dari sekolah, Clara juga harus melakukan pekerjaan rumah. ‘Apakah itu yang dinamakan kehidupan yang layak?’ batin Clara dengan air mata yang semakin deras. “Ingat, Clara. Jangan membuat masalah ini semakin rumit. Lebih baik kamu menurut dan ikuti apa yang aku katakan. Aku akan menjadikanmu jaminan hutang kepada tuan Ethan,” ucap Liam. Tanpa banyak bicara, Liam pun kembali menarik rambut Clara, membuat wanita itu mau tidak mau mengikutinya. Berulang kali Clara meminta untuk dilepaskan, merasa sakit di bagian kepala. Tapi sayangnya Liam tidak mendengarkan sama sekali. Sampai keduanya sampai di depan gerbang rumah dengan tiga lantai. “Kalian dilarang masuk,” ucap penjaga. Liam tersenyum dan berkata, “Aku ingin bertemu dengan Tuan Ethan.” “Kalau begitu, tunggu di sini.” Liam menganggukkan kepala, membiarkan sang penjaga masuk untuk memastikan kebenarannya. Liam pun berulang kali menatap ke arah Clara yang masih berusaha melepaskan cengkramannya. Tatapannya memberikan isyarat supaya wanita itu diam dan tidak membuat masalah. ‘Jangan sampai gadis sialan ini merusak rencanaku. Aku harus bisa melunasi hutang dengan keluarga Evander sekarang juga. Biarkan saja dia dijadikan mainan Ethan. Terpenting, keluarga Athena tetap baik-baik saja,’ batin Liam. “Tuan Ethan menyuruh kalian masuk,” kata sang penjaga setelah kembali. Liam tersenyum lebar. Dia berganti menggenggam pergelangan tangan Clara dan melangkah lebar. Dia menarik kasar, tidak membiarkan Clara mencoba melepaskan diri. Sedangkan Clara yang mulai memasuki rumah tersebut dibuat merinding. Banyak sekali yang berjaga di rumah itu, menandakan jika sang pemilik memanglah orang yang penting. Ditambah dengan nuansa rumah yang begitu gelap, membuat aura mencekam semakin mengikatnya. Hingga pintu yang terdapat tepat di depannya terbuka, membuat Clara dan Liam masuk. Saat itu juga, sang papa mendorongnya, membuat Clara langsung terjatuh di lantai. “Tuan Ethan, ini putri saya, Clara. Dia yang akan saya jadikan jaminan untuk melunasi hutang-hutang saya,” kata Liam. Clara mendongakkan kepala, menatap pria yang saat ini tengah duduk di sofa dengan sebelah kaki disilangkan. Dia mengamati wajah di hadapannya lekat-lekat. Hidung bangir dan alis tebal. Memang terlihat begitu mempesona, tetapi tatapan tajam itu membuat Clara tahu bahwa Ethan bukan orang yang baik. Clara menatap ke arah Liam dan berkata, “Pa, Aku tidak mau. Aku mohon bawa aku pulang. Aku benar-benar tidak mau berada di sini,” kata Clara lagi. Namun, Liam langsung memberikan tatapan tajam, akan memperingati agar putrinya itu diam. Dia memilih kembali menatap ke arah Ethan dan tersenyum lebar. Dia berkata, “Sekarang Clara sudah menjadi milik anda. Terserah apa yang mau anda lakukan dengannya. Menjualnya dengan pria lain juga saya tidak akan peduli. Yang terpenting anda sudah menghapus semua hutang keluarga Athena.” Clara hanya bisa menundukkan kepala. Air matanya jatuh tanpa bisa terbendung. Papanya benar-benar begitu tega. Dalam hati dia membatin, ‘Ternyata kehidupanku tidak jauh lebih berarti dari hutang-hutang mereka. Mereka bahkan bisa meninggalkanku di dalam jurang seperti ini hanya demi nama sebuah keluarga.’ Ethan yang sejak tadi diam mulai bangkit. Kakinya melangkah pelan, mengitari Clara yang masih terdiam di lantai yang begitu dingin. Dia menundukkan tubuh, menyamakan dengan Clara. Jemarinya meraih dagu wanita itu dan mengangkat secara perlahan, membuat mata keduanya saling bersitatap. “Tuan, putri saya ini tidak pernah kemana-mana. Dia hanya sekolah dan ke rumah. Saya yakin dia masih perawan,” kata Liam, mencoba merayu Ethan. Ethan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Dia pun kembali bangkit dan menatap ke arah William—anak buahnya—memberikan isyarat yang langsung dimengerti. William pun melangkah ke arah Liam, membawa pria itu keluar. Sekarang, di ruangan hanya tersisa Ethan dan Clara. Ethan tidak membuka suara sama sekali, tetapi dia meraih pergelangan tangan Clara dan menariknya dengan kasar, membuat Clara hanya bisa mengadu dan kembali bangkit. Wajahnya sudah dipenuhi dengan air mata dan juga ketakutan. Namun, Ethan tidak peduli. Dia malah mendekat dan berhenti tepat di sebelah telinga Clara. Dia berbisik, “Sekarang kamu menjadi milikku, Clara. Tubuh, hidup dan bahkan nafasmu adalah milikku.” Clara benar-benar merinding mendengar ucapan Ethan. Pria itu tampak menyeramkan dengan tatapan yang begitu tajam. Hingga Ethan menarik tangannya, membawa ke sebuah ruangan dan melemparnya ke arah ranjang. “Akh,” pekik Clara sembari meringis. “Malam ini aku ingin kamu melayaniku, Clara,” ucap Ethan, diikuti seringai sinis.Clara tertawa kecil, melihat kiriman gambar dari sahabatnya. Sejak tadi dia memang berkirim pesan dengan sahabatnya. Clara juga mengingatkan wanita itu untuk tidak menghubungi malam hari, takut kalau ketahuan Ethan. Meski pria itu yang memberikannya ponsel, tetap saja Clara takut kalau nantinya Ethan marah karena dia yang hanya fokus dengan ponsel. Hingga pintu kamar terbuka, membuat Clara langsung menatap ke asal suara. Melihat siapa yang datang, Clara menelan saliva pelan.“Ethan,” gumam Clara.Ethan hanya diam. Dia melepas dasi yang dikenakan dan meletakkan asal. Manik matanya menatap ke arah Clara yang terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.‘Sepertinya ponsel itu bisa membuat dia lebih baik,’ batin Ethan. Jemarinya melepas satu per satu kancing pakaian, meletakkan kemeja kerjanya dengan asal.“Aku mau mandi. Siapkan aku pakaian, Clara,” perintah Ethan.Clara yang mendengar langsung menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Manik matanya memperhatikan Ethan yang mulai melangkah
Ketukan pintu terdengar. Ethan yang saat itu sedang fokus dengan pekerjaannya pun langsung menghentikan. Dia membiarkan seseorang untuk masuk. Hingga Willian melangkah lebar dan berhenti tepat di depannya.“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Ethan to the point. Dia menatap serius.Ethan yang ditanya pun dengan cepat menyerahkan map sembari menjawab, “Namanya Nathan Nigel, Tuan. Dia anak tunggal dari keluarga Nigel, termasuk kakak tingkat dari Nona Clara. Selama ini mereka berteman baik dan Tuan Nathan suka membantu Nona Clara.”Mendengar itu, Ethan terdiam. Dia masih mencerna ucapan William sembari melihat profil yang dibawa anak buahnya tersebut. Hingga dia melihat foto pria yang dimaksud, membuatnya menatap tajam.“Nathan Nigel,” gumam Ethan sembari mengetuk meja pelan, menimbulkan suara yang cukup menegangkan di ruangan yang awalnya sunyi tersebut.“Hanya ini yang kamu dapat?” tanya Ethan lagi.“Untuk sementara memang hanya ini yang saya dapat, Tuan,” jawab William.“Kalau begitu kamu
“Kalau begitu, aku pulang dulu, Kek. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi,” kata Sophie.Theo yang mendengar hanya menganggukkan kepala. Meski bibirnya menyunggingkan senyum, tetapi hatinya masih merasa tidak nyaman. Dia merasa tidak enak hati karena sudah mematahkan harapan Sophie. Pasalnya, dia yang mencetuskan untuk menjodohkan, tetapi dia juga yang membatalkan. Hal yang membuat Theo hanya bisa berkata dengan perasaan bersalah. Hingga Sophie yang sudah melangkah pergi, membuat Theo menghela napas.“Bagaimana caranya aku meyakinkan Ethan?” tanya Theo dengan diri sendiri. Dia tidak mungkin memaksa cucunya itu. Hubungannya sempat retak dan baru pulih secara perlahan. Kalau dia memaksakan kehendak, pasti Ethan akan memberontak lagi.‘Kalau dia berontak, aku yang kesulitan mengendalikan. Bisa-bisa keluarga Evander hancur karena ulahnya,’ batin Theo. Hingga dia membuang napas lirih, merasa tidak ada jalan keluar baginya.Sedangkan Sophie yang sudah memasuki rumah segera melangkah lebar. Eks
“Aku harap ini bisa membantuku.”Sophie menatap paper bag di tangannya dan tersenyum lebar. Hari ini, dia sengaja datang ke rumah keluarga Ethan, berniat untuk meluluhkan hati keluarganya, terutama Theo. Jika Theo menjadi pendukung utamanya, meski Ethan menolak, masih ada banyak kemungkinan pria itu menerima dirinya.Sophie yang sudah mantap dengan rencananya langsung membuang napas kasar. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Kakinya melangkah ringan, memasuki rumah yang terlihat sepi. Padahal banyak pegawai di rumah tersebut. Hingga Sophie yang sudah sampai ruang keluarga dan melihat Theo sedang menikmati secangkir teh di pinggir kolam. Melihatnya, Sophie tersenyum lebar.“Kakek Theo,” panggil Sophie yang kembali melanjutkan langkah.Theo yang saat itu sedang bersantai pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat Sophie yang datang, Theo tersenyum lebar. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah pria itu. Hingga Sophie berdiri di depannya.“Aku membawakan minuman herba
Ethan membuang nafas kasar. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Menghadapi Bruno dan Belinda seperti menguras tenaga yang disimpannya sejak beberapa hari yang lalu. Meski dia sudah tidak menganggap Bruno sebagai ayahnya, tetapi tetap saja merasa sakit ketika pria itu hanya peduli dengan keluar
“Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa
“Ethan, lama tidak bertemu.”Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan.
“Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.