LOGINAara Zenobia tidak pernah menyangka bahwa satu malam akan mengubah seluruh hidupnya menjadi penjara emas yang mencekam. Ayahnya, seorang pria yang terjebak dalam lubang judi, melakukan dosa besar , ia mempertaruhkan putrinya sebagai jaminan hutang kepada Dante Valerius, pemimpin mafia paling ditakuti yang dikenal sebagai "The Ice King of Milan". Dante adalah pria arogan, dingin, dan tidak memiliki celah untuk belas kasihan. Namun, di balik tatapan matanya yang setajam belati, Dante menyimpan luka lama sebuah pengkhianatan yang menewaskan adiknya. Ia tidak membeli Aara karena nafsu, melainkan karena sebuah rencana pembalasan dendam. Ayah Aara adalah saksi kunci yang memegang rahasia pembunuh adiknya, dan Aara adalah satu-satunya alat penekan yang efektif. Dante memaksa Aara menandatangani nikah kontrak selama satu tahun. Peraturannya sederhana. Aara harus patuh, tidak boleh jatuh cinta, dan harus berperan sebagai istri sempurna di depan publik untuk memancing musuh-musuh Dante keluar. Bagi Dante, Aara hanyalah properti. Bagi Aara, Dante adalah monster yang merenggut kebebasannya.
View MoreLampu kristal di aula utama kediaman Valerius berpendar redup, memberikan kesan mencekam pada ruangan yang didominasi warna hitam dan emas itu. Di tengah ruangan, Aara Zenobia berdiri dengan bahu bergetar. Tangannya terikat kain sutra hitam di depan perutnya, sebuah penghinaan halus yang menunjukkan bahwa dia bukan lagi wanita merdeka.
Di hadapannya, duduk seorang pria yang namanya menjadi momok bagi seluruh otoritas di kota ini. Dante Valerius. Dante menyesap wiskinya pelan, matanya yang sebiru es menatap Aara dari balik gelas kristal. Ia tidak bicara. Keheningan itu sendiri adalah siksaan. Dante adalah definisi pria arogan, ia tidak perlu berteriak untuk membuat orang berlutut. Cukup dengan keberadaannya, udara di ruangan itu terasa habis tersedot. Dante meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan yang membuat Aara terlonjak. Ia bangkit, melangkah perlahan mendekati Aara. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat Aara merasa sangat kecil. "Tandatangani, Aara. Atau ayahmu akan pulang dalam bentuk potongan-potongan kecil pagi ini," desis Dante, suaranya sedingin es yang beradu di dalam gelas wiskinya. "Ayahmu baru saja menjualmu seharga 50 juta Euro, Aara," suara Dante berat, rendah, dan sangat dingin. "Harga yang cukup mahal untuk seorang gadis yang bahkan tidak bisa menatap mataku." Aara mengangkat wajahnya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian. "Dia terpaksa. Kau menjebaknya dalam permainan judi itu, Dante!" "Aku tidak menjebak siapa pun. Aku hanya memberikan apa yang diinginkan orang serakah," Dante berhenti tepat di depan Aara, aroma kayu cendana dan tembakau mahal menyeruak masuk ke indra penciuman Aara. "Dan sekarang, aku menginginkanmu. Bukan karena aku menginginkan tubuhmu, tapi karena namamu adalah kunci untuk memancing pengkhianat yang membunuh adikku." Dante menarik sebuah map dari atas meja dan melemparkannya ke kaki Aara. "Nikah kontrak. Satu tahun," lanjut Dante tanpa emosi. "Kau akan menjadi perisai sekaligus umpan. Di depan publik, kau adalah istriku yang paling berharga. Di dalam rumah ini, kau bukan siapa-siapa." Aara menatap map hitam yang tergeletak di kakinya seolah benda itu adalah vonis mati. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang pucat. Dengan tangan yang masih terikat sutra, ia berlutut perlahan, mengambil dokumen itu dengan jemari gemetar. Aara memejamkan mata sesaat, lalu meraih pulpen perak yang disodorkan salah satu anak buah Dante. Dengan satu goresan tinta, ia resmi menyerahkan jiwanya pada sang iblis. "Bawa dia ke kamar sayap timur. Kunci pintunya. Jangan biarkan dia keluar tanpa izin dariku," perintah Dante tanpa menoleh lagi pada istrinya yang baru saja ia "beli". Aara diseret pelan oleh dua pengawal bertubuh kekar menuju sebuah kamar yang luas namun terasa seperti sel penjara yang megah. Pintu kayu jati yang tebal berdentum menutup, diikuti suara kunci yang diputar dua kali. Aara jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya dalam kegelapan. Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Di atas tempat tidur king-size yang rapi, terdapat sebuah kotak kado kecil berwarna putih bersih. Aara mendekatinya dengan ragu. Di dalamnya bukan perhiasan mahal, melainkan sebotol salep antibiotik, kain kasa, dan sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan yang kaku namun tegas. "Oleskan pada pergelangan tanganmu. Aku tidak butuh umpan yang terluka sebelum perang dimulai." Aara menyentuh pergelangan tangannya yang memerah dan lecet akibat ikatan sutra tadi. Ia menoleh ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, merasa diperhatikan. Di balik layar monitor di ruang kerjanya, Dante memperhatikan Aara dengan rahang mengeras. Tangannya yang memegang cerutu tampak gemetar tipis sebuah emosi yang asing baginya. Pukul tiga dini hari, kesunyian mansion Valerius pecah oleh suara ledakan di gerbang depan. BOOM! Aara terjaga dengan sentakan hebat. Alarm keamanan berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, pintu kamarnya didobrak terbuka. Dante berdiri di sana, namun kali ini ia tidak mengenakan setelan jas rapi. Ia memakai rompi antipeluru dengan pistol Glock di tangan kanannya dan senapan serbu menggantung di bahunya. Wajahnya yang arogan kini tertutup oleh masker taktis, menyisakan matanya yang berkilat penuh amarah. "Ikut aku! Sekarang!" Dante menyambar tangan Aara, menariknya dengan kasar namun entah bagaimana, genggamannya terasa melindungi. "Apa yang terjadi?!" teriak Aara di tengah suara rentetan tembakan yang mulai terdengar di koridor. "Musuh lama yang tidak sabar ingin bertemu janda baruku," jawab Dante sinis. Saat mereka berlari menuju jalur evakuasi bawah tanah, seorang penyerang muncul dari balik pilar dan mengarahkan moncong senjata ke arah Aara. Tanpa ragu, Dante memutar tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai tameng manusia di depan Aara sembari membalas tembakan dengan akurasi mematikan. RATATATATA! Penyerang itu tumbang, namun sebuah peluru sempat menyerempet bahu Dante. Darah mulai merembes di kemeja hitamnya. "Dante! Kau terluka!" Aara menjerit ketakutan. Dante hanya mendengus, matanya tetap waspada memindai area. "Hanya goresan. Jangan berhenti lari jika kau masih ingin melihat matahari besok." Setelah berhasil mencapai bunker yang aman, suasana menjadi sunyi yang menyesakkan. Dante duduk di sebuah kursi besi, mencoba melepas rompi antipelurunya dengan satu tangan yang berfungsi, sementara wajahnya mengatup rapat menahan nyeri. Aara, meski gemetar, mendekat. Ia mengambil kotak P3K yang tersedia di dinding bunker. "Biarkan aku membantu," bisik Aara. "Pergi, Aara. Jangan menyentuhku," usir Dante dengan nada arogan yang sama. "Kau melindungiku tadi! Setidaknya biarkan aku membalasnya sedikit saja!" Aara membalas, keberaniannya muncul dari rasa bersalah. Dante terdiam. Ia menatap Aara dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kebencian, keinginan, dan sesuatu yang lebih dalam. Akhirnya, ia membiarkan tangan lembut Aara menyentuh kulitnya yang panas. Saat jemari Aara membasuh lukanya, napas Dante tertahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang Mafia merasa... rapuh. "Jangan salah paham," gumam Dante saat wajah Aara berada hanya beberapa senti dari wajahnya. "Aku melindungimu karena kau milikku. Dan aku tidak suka barang milikku dirusak oleh orang lain." Aara mendongak, matanya bertemu dengan mata biru Dante. "Aku bukan barang, Dante. Dan kau... kau tidak sejahat yang kau bicarakan sendiri." Dante mencengkeram rahang Aara perlahan, membawanya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau baru melihat permukaan neraka ini, Kecil. Jangan pernah berpikir kau bisa menjinakkanku." Dante melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba, seolah-olah kulit Aara membakar jemarinya. Ia berdiri, mengabaikan rasa perih di bahunya, dan kembali mengenakan kemeja hitamnya yang kini ternoda darah kering. "Istirahatlah. Bunker ini kedap suara, tapi bukan berarti kau aman selamanya," ucap Dante dingin tanpa menoleh. Ia berjalan menuju pintu baja bunker, meninggalkan Aara dalam kesunyian yang mencekam. Pagi harinya, Aara terbangun di atas tempat tidur lipat bunker yang keras. Ia terkejut saat menemukan sebuah nampan berisi sarapan hangat bubur gandum, buah segar, dan segelas susu sudah tersedia di meja kecil samping tempat tidur. Tidak ada pelayan, tidak ada Dante. Hanya ada kehangatan yang kontras dengan dinding beton di sekelilingnya.Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil terus merangsek maju. Tiba-tiba, suara tembakan teredam DOR! DOR!bergema melalui frekuensi radio yang terhubung langsung ke sensor suara di dalam bunker. Dante membeku. Itu bukan suara senapan serbu timnya. Itu suara pistol kaliber sembilan milimeter cadangan miliknya yang ia berikan pada Aara. . "AARA!" Dante meraung, suaranya mengalahkan deru helikopter. Kemarahan yang murni dan tak terkendali meledak di dada Dante. Ia melempar senapan mesinnya yang mulai panas ke lantai beranda. Tanpa memedulikan hujan peluru dari pasukan Meksiko, Dante melompat turun dari balkon lantai dua sebuah aksi gila yang bisa mematahkan kakinya. Ia mendarat dengan gulingan taktis di atas aspal, langsung
Suara ledakan pertama menghantam sisi timur mansion, getarannya cukup kuat untuk meruntuhkan lampu kristal di langit-langit kamar Aara. Langit subuh yang tadinya kelabu mendadak memerah oleh kobaran api. "KONTAK! POSISI TIMUR JEBOL!" suara Marco berteriak melalui pengeras suara internal mansion. Dante, yang baru saja melangkah beberapa meter dari kamar Aara, berbalik dengan gerakan predator. Ia tidak lagi memiliki waktu untuk berdebat. Dengan satu tendangan kuat, pintu yang baru saja ia kunci itu terbuka kembali. Ia melihat Aara yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat pasi tertutup debu reruntuhan. "Dante! Apa itu?!" jerit Aara saat rentetan peluru mulai menghantam dinding luar, menciptakan suara berisik seperti hujan logam. Tanpa menjawab, Dante menyambar tubuh Aara, mengangkatnya dalam satu sentakan kuat. "Sasha! Amankan jalur ke bunker! Sekarang!" perintahnya melalui earpiece. Sasha muncul dari balik kepulan asap di lorong, memegang senapan serbu assault rifle deng
Dante menatap punggung Aara yang menjauh hingga pintu lift tertutup. Begitu sosok istrinya hilang dari pandangan, ekspresi tenang yang ia paksakan tadi runtuh, digantikan oleh aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat udara di ruang pemantau terasa berat. Dante mengambil handuk putih, mengusap bercak darah Robert dari tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Marco," suaranya rendah, namun bergema dengan ancaman perang. "Aktifkan Protokol Black Eclipse." Marco tertegun sejenak. "Semuanya, Tuan? Bahkan unit yang ada di Kremlin dan Macau?" "Semuanya," desis Dante. "Katakan pada mereka bahwa Valerius sedang memanggil hutang nyawa. Aku ingin setiap jengkal perbatasan, setiap dermaga, dan setiap jalur udara yang dilewati Diego Tiger menjadi kuburan massal sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di kota ini." Dante melangkah menuju meja kerja yang dipenuhi monitor satelit. "Panggil pulang si 'Mamba'. Katakan padanya, liburannya di Afrika selesai. Aku punya tugas khusus unt
Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang sebuah kapak taktis yang masih bersih dari darah. "Berikan gadis itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat, Dante. Aku butuh kepalanya untuk diletakkan di atas nisan pamanku." Dante perlahan berdiri, meskipun tubuhnya gemetar. Ia tidak mengambil senjatanya yang kosong. Sebaliknya, ia merogoh sesuatu dari balik sabuk belakangnya sebuah pemantik api dan sebuah detonator kecil yang terhubung dengan sisa dinamit di dalam pabrik baja yang belum meledak. "Kau ingin pesta, Robert?" Dante menyeringai, sebuah seringai iblis yang membuat Robert berhenti melangkah. "Aku akan membakar seluruh tempat ini bersamamu di dalamnya." Aara melihat tangan Dante yang memegang detonator. Ia menyadari ren
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.