ホーム / Romansa / Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku / Kejutan yang tak terbayangkan.

共有

Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku
Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku
作者: iva dinata

Kejutan yang tak terbayangkan.

作者: iva dinata
last update 最終更新日: 2025-10-01 11:31:23

"Saya terima nikahnya Aluna Kinanti binti Rendy Wijaya dengan mas kawin…."

Suara yang tak asing itu terdengar sangat jelas saat aku memasuki ruang tamu rumahku.

Suasana rumah yang berbeda menyambut kepulanganku dari luar negeri yang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Sofa dan perabot lainnya entah di mana, berganti karpet marun yang membentang di atas lantai rumah.

Di tengah ruangan beberapa orang duduk melingkar.

"Sah?"

"Sah!"

Suara riuh menggema seisi ruangan. Detik berikutnya berganti doa yang diamini oleh semua orang. 

Degup jantungku berdetak semakin kencang saat langkahku semakin mendekat. Tatapanku terkunci pada dua sosok yang menjadi pusat acara sakral itu.

Bruk!

Tanganku gemetaran sampai koper yang kubawa terlepas.

"Mas Arka?!" pekikku dengan mata membelalak, menatap tak percaya pada sosok pria dengan jas hitam di depan sana.

Dia Arka Mahesa, kekasihku. Dan apa ini? Di sampingnya duduk Mbak Aluna yang nampak cantik dengan kebaya putih.

Tidak … ini tidak mungkin. Dua orang yang paling aku cintai tidak mungkin mengkhianatiku. Kugelengkan kepala yang sudah mulai terasa pening.

"Kinara?"

Dari kerumunan itu Mama berdiri. Dia terlihat panik, lalu bergegas mendekatiku. "Nara, kenapa kamu tiba-tiba pulang? Ayo ikut Mama, nanti Mama jelaskan."

Wanita yang telah melahirkanku itu menarik lenganku. Namun segera kutepis. "Ada apa, Ma? Kenapa Mas Arka dan Mbak Aluna…." Aku tak bisa melanjutkan ucapanku. Dadaku terasa sangat sakit sampai membuatku tak sanggup menahan tangis.

"Sayang... dengerin Mama, kita bicara di dalam," bujuknya namun tak sedikit aku ingin menurut.

Kualihkan tatapanku pada dua sosok di depan sana. "Mas Arka apa maksudnya ini? tanyaku meminta penjelasan.

Namun pria itu malah membuang muka. "Seperti yang kamu lihat, aku dan Aluna sudah menikah."

Deg!

Serasa dihantam gada besar, dadaku terasa sesak dan sakit luar biasa. 

Tidak! Tidak mungkin! Apa dia sudah lupa janjinya yang akan menikahiku setelah aku lulus kuliah?

"Mas, jangan bercanda. Ini gak lucu!" sentakku sudah tak bisa lagi menahan amarah.

Kulihat semua orang menatapku iba. Dan itu membuatku merasa semakin terluka.

"Nara, aku bisa jelaskan," ujar Mbak Aluna tenang sembari bangkit dari duduknya. Seperti biasa, wanita itu selalu anggun dan lemah lembut.

"Biarkan saja, tidak usah pedulikan dia!" Mas Arka memegangi tangan Mbak Aluna. Ia lalu menatapku dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. "Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Jika kamu masih punya harga diri, pergilah jangan mengganggu acaraku dan Aluna." 

Aku terkesiap. Demi Tuhan, rasanya sakit sekali mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Mas Arka. Kenapa pria yang sudah menjadi kekasihku selama empat itu bisa setega ini?

"Jadi kamu mengkhianatiku, Mas? Kenapa? Apa salahku?"

Pria itu melengos, tak sudi menatapku. Aku melangkah maju, aku ingin jawaban dari mulut pria itu. Namun, tiba-tiba Papa sudah berdiri menghadang di depanku.

"Jangan bikin onar. Cepat masuk!" katanya dengan suara tertahan. Tatapannya tajam dan mengintimidasi.

"Ak—" Baru hendak menjawab tanganku sudah ditarik masuk ke dalam.

Begitu sampai di dalam kamar, tubuhku didorong dengan kasar sampai aku tersungkur di atas lantai.

"Dasar anak tidak tahu diri! Bisanya cuma bikin malu orang tua!" cerca Papa sambil menudingkan jarinya ke arahku.

Aku bingung, juga kaget. Melihat sikap Papa yang tiba-tiba berubah. Sebelumnya, meski tegas tapi Papa tidak pernah kasar. Entah apa yang sudah terjadi selama aku berada di luar negeri.

"Pa, bicarakan semuanya baik-baik," kata Mama membujuk Papa.

"Apa yang mau dibicarakan baik-baik?! Semua sudah hancur! Anakmu itu sudah tidak bisa diperbaiki!"

"Maksud Papa apa? Apa yang sudah kulakukan?" Bingung aku menatap Papa.

"Masih berani bertanya kamu!? Selama tiga tahun ini apa yang kamu lakukan di luar negeri, hah?! Bikin malu orang tua!" bentaknya dengan tangan yang sudah terangkat.

"Pa, cukup." Mama menghadang di depanku.

Seketika tubuhku membeku di tempat. Tak menyangka Papa hendak memukulku.

"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, Pa?" Aku sudah tak tahan lagi, kudorong pelan tubuh Mama dari hadapanku. Setelahnya aku maju selangkah, berdiri tepat di hadapan pria itu.

"Apa Papa tidak bisa melihat dengan jelas? Saat ini di ruang tamu rumah ini, putri kesayangan Papa sudah merebut calon suami adiknya sendiri. Bukankah dia yang lebih mempermalukan keluarga kita?"

Plak!

Aku kembali tersungkur. Rasa panas dan kebas menjalar di sebagian wajahku. Perlahan rasa nyeri ikut menyerang membuatku pusing.

"Apa pantas bicara seperti itu pada orang tua yang telah membesarkanmu? Di mana sopan santunmu?!" bentak Papa yang aku yakin pasti terdengar sampai keluar kamar.

"Pa, sudah!" Mama memenangi lengan papa. Berusaha menjauhkannya dariku.

"Kamu itu perempuan tapi tidak bisa menjaga marwah dan kehormatanmu. Mau ditaruh di mana muka Papa punya anak seperti kamu?"

Papa terus mengomel meluapkan amarahnya. Sementara aku hanya diam menahan rasa sakit di pipi dan hatiku. Ya... luka di wajah tak sebanding dengan luka di hatiku.

"Pa, sudah... kasihan Nara."

"Ini juga salahmu. Sebagai ibu kamu sudah gagal mendidiknya!"

Aku yang tadinya hanya diam, seketika mendongak. Menatap pria yang berdiri dengan angkuhnya itu.

Dia boleh memarahiku, tapi jangan menyalahkan Mama atas kesalahanku. Namun, kulihat Mama menatap memelas. Sorot matanya seolah memintaku untuk diam.

"Panggil Dimas," perintah Papa.

Tanpa menunggu, Mama berlari keluar. Tak sampai dua menit sudah kembali bersama Om Dimas, adik kandung Papa.

"Ada apa, Mas?" tanya pria dengan atasan batik itu.

"Bawa Nara pergi. Dia hanya boleh pulang ke rumah ini setelah merenungi semua kesalahannya dan meminta maaf."

Ucapan Papa seperti pisau tajam yang menyayat hatiku yang sudah dipenuhi luka. 

"Papa mengusirku?"

“Terserah kamu menganggapnya apa. Yang pasti ini hukuman untukmu!” ujar Papa sengit. Tatapannya penuh peringatan. “Dan satu lagi, jangan pernah berpikir untuk merebut Arka dari Aluna. Mereka sudah menikah dan itu semua karena kesalahanmu sendiri!”

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Kalah.

    "Siapa pun dia," ucap Tristan dengan suara dingin namun penuh keyakinan, "Yang pasti… dia bukan Nara."Tatapan Tristan menancap tajam pada sosok wanita di kursi roda itu. Rahangnya mengeras, matanya menyipit. Bukan karena ragu, melainkan karena terlalu yakin.Tristan mungkin mengenal Nara baru setahun belakangan ini. Bukan waktu yang lama untuk memahami Nara. Namun satu hal tak bisa disangkal, dia mencintai Nara. Dan cinta itu membuatnya hafal pada detail-detail kecil yang tak mungkin dipalsukan. Cara Nara menatap, bagaimana sorot matanya berubah ketika gugup, bahkan keheningan yang ia pilih saat terluka.Dan wanita di hadapannya itu tak sama. Tatapannya terlalu berbeda. Tristan yakin, dia bukan Nara.Keheningan menggantung beberapa detik sebelum akhirnya wanita di kursi roda itu tersenyum tipis."Ternyata kamu sangat pintar." Suara itu membuat Ratih tersentak. Alisnya berkerut, jantungnya berdegup lebih cepat. "Suaranya… seperti…" gumamnya lirih, mencoba menebak wajah di balik mask

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Rencana Nirmala.

    “Tante, di sini.”Nirmala melambaikan tangan begitu melihat Ratih melangkah masuk ke dalam kafe. Senyumnya lembut, nyaris suci. Senyum yang dulu membuat Ratih percaya tanpa curiga.Ratih membalas dengan senyum tipis. Langkahnya mantap, meski di dalam dadanya amarah berputar seperti pusaran. Ia menarik kursi di hadapan Nirmala, lalu duduk dengan postur tegak."Kamu sudah lama menunggu?" tanyanya datar."Lumayan, Tante. Sekitar lima belas menit."Ratih melirik jam di pergelangan tangannya. "Bukannya ini masih jam kerja? Kamu gak papa keluar di jam kerja?"Nirmala terkekeh kecil. "Kerjaku sekarang fleksibel, Tante. Nggak harus selalu di kantor. Yang penting target selesai. Bonusnya malah lebih besar dari gaji," katanya santai. Bibirnya melengkung penuh arti. "Dan sekarang… aku sedang menyelesaikan pekerjaanku."Ratih hanya mengangguk. "Kamu beruntung sekali," katanya dengan senyum yang di paksakan semanis mungkin. "Alhamdulillah." Nirmala tersenyum lebih lebar dari sebelumnya lalu meng

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Penyesalan Ratih

    "Ak......" Dimas baru membuka mulut namun langsung dipotong oelh Ratih. "Kumohon, Mas. Demi Raka dan Dirga jangan ceraikan aku!" Ratih panik, takut dan menyesal."Demi Tuhan, alasanku menolak Nara bukan karena benci atau malu dengan identitas aslimu sebagai anak angkat. Tapi, aku hanya… tidak rela melihat kamu diremehkan oleh keluargaku. Aku tidak sanggup mendengar orang-orang membicarakan asal-usulmu seolah itu sebuah aib." Dimas mengembuskan napas berat. Perlahan, ia duduk di ujung tempat tidur. "Mas…" Ratih merangkak mendekat, jemarinya gemetar meraih kaki suaminya. "Tolong dengarkan penjelasanku. Sebentar saja." "Bangunlah," ujar Dimas singkat, menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya. Ratih kembali menggeleng, tetapi Dimas dengan sedikit paksaan menarik tubuh istrinya hingga duduk di sampingnya. "Ok, jelaskan," katanya datar. Ratih mengangguk. Ia menyeka air matanya kasar, lalu mulai bicara. "Itu memang suaraku, Mas. Aku tidak menyangkal." Ia berhenti sejenak, mengambil naf

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Penyesalan Ratih.

    "Halo, Nirmala?" Ratih menyapa seseorang di seberang sana. Ponsel itu ia genggam erat, berusaha menahan rasa marah di dadanya. "Iya, Tante Ratih?" Susra lembut itu terasa menusuk hati Ratih. "Kamu sekarang di mana?""Saya di Jakarta, Te. Ada apa?"Jawaban itu kembali terdengar lembut. Terlalu lembut, malah. Dan justru di situlah Ratih tersadar. Ternyata, wajah kalem dan tutur kata santun itu selama ini tak lebih dari topeng. Topeng rapi yang menutupi kebusukan niat. Gadis yang selalu ia puji sebagai sosok baik hati ternyata licik seperti ular. "Halo, Te?" Nada suara Nirmala naik sedikit, memecah lamunan Ratih."Oh… iya." Ratih terkesiap. "Lagi ngapain kamu di Jakarta?""Saya pindah kerja, Te. Cari gaji yang lebih besar, he..he...." Nirmala tertawa ringan. "Dirga tahu kamu di Jakarta?""Tahu Te," jawab Nirmala ringan. "Tapi jarang ketemu. Dirga kan sibuk ngurusin istrinya."Nada lirih itu penuh kepura-puraan. Ratih bisa merasakannya sekarang."Emm… sebenarnya aku pernah ketemu mere

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Kekecewaan Dirga.

    Empat jam perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai Dirga berhenti tepat di depan rumah orang tuanya. Deru mesin yang mereda terdengar jelas, siang itu di halaman rumah. Dari dalam rumah, Ratih yang sedang membereskan meja makan sontak berhenti. Bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang. Dengan langkahnya tergesa, ia menuju pintu. Senyumnya langsung merekah melihat sosok putra sulungnya keluar dari mobil.“Dirga…”Dengan langkah setengah berlari, Ratih menghampiri. Menyambut kedatangan putra sulungnya itu. Dirga tersenyum tipis. Lalu, meraih tangan Ratih dan menempelkannya ke kening.“Assalamu’alaikum, Bun.”“Wa’alaikum salam,” jawab Ratih dengan wajah sumringah.Namun, rasa senangnya terjeda ketika pandangannya beralih ke arah mobil yang kini kosong. Alisnya sedikit berkerut.“Kamu datang sendiri?” tanyanya pelan. “Nara tidak ikut?”“Tidak,” jawab Dirga singkat.Satu kata itu cukup untuk menghapus sebagian cahaya di wajah Ratih. Senyumnya meredup perlahan, tergantikan ekspre

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Berjauhan.

    Sudah pukul 12 malam, sebagian besar orang sudah mengarungi alam mimpinya. Namun berbeda dengan Dirga. Malam ini pria itu sulit memejamkan matanya. Kegelisahan menyelimuti hatinya. Sejak sore tadi Dirga sudah kembali ke apartemen. Mulai hari ini dia akan tinggal di tempat ini. Setidaknya sampai Nara kembali dari Singapura. Mengizinkan Nara pergi ke Singapura adalah keputusan yang berat untuknya. Andai itu bukan demi kesembuhan Nara, dia pasti menolaknya. Tak peduli meski harus melawan mertuanya. "Ya..Tuhan.. apakah ini cara-Mu untuk memisahkan kami?" gumamnya lirih dengan kepala menengadah menatap langit-langit kamar apartemennya. Hatinya mulai dirasuki rasa bimbang akan cintanya pada Nara. Mungkinkah, Tuhan tidak meridhoi cintanya pada Nara karena terhalang restu dari bundanya. Bukankah, ridho ibu ridho Tuhan juga? Ya..... mungkin benar karena itu. Jika diingat lagi, kecelakaan yang di alami Nara setelah dia mengatakan akan menikahi kekasih hatinya itu. Lalu, setelah

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status