MasukLarissa sampai terperangah melihat pemandangan di hadapannya. Ketika suaminya sendiri secara sadar mencium bibir wanita lain.
"Kita ke kamar." Ajak Paskal yang langsung menarik tangan Lila.Larissa hanya memandangi pemandangan dua insan manusia yang begitu mesra itu. Sakit sekali hati ini. Suami sahnya terang-terangan bermain api dengan wanita lain.Sambil menahan air matanya, Larissa memutuskan kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaan. Mungkin dengan itu, sakit hMenggunakan helikopter, Paskal dan rombongan tiba sore ini ke tempat pengungsian yang tak jauh dari desa Pulau. Sebuah dataran tinggi yang tak terkena banjir bandang.Setibanya disana, Paskal melihat banyak tenda darurat didirikan. Banyak pegawai yang memakai seragam hijau tengah membantu warga mendirikan tenda dan mengangkut bantuan.Di sebrang sana ada dapur sederhana yang menjadi tempat mereka memasak. Selama tiga hari ini mereka hanya bisa memakan mie instan. Dan syukurlah tim penyelamat sudah datang, mereka membawa beberapa sembako yang bisa diolah."Pak Farhan. Hubungi Redi. Katakan untuk melakukan donasi atas nama perusahaan Sandhya untuk bencana ini." Paskal memberikan perintah."Akan saya laksanakan." Farhan memundurkan langkahnya untuk menghubungi Redi, sekretaris tuannya. Oleh karena tak terjangkau, sinyal di ponsel ini juga sangat lemah. Farhan harus berjalan cukup jauh untuk bisa menghubungi Redi.Sementara bu Cik b
"Aduh, pak. Kira-kira ada nggak bis yang mau nganter kita ke desa, ya?" Bu Cik jadi cemas."Kita tanya saja dulu, bu." Sahut Yanto mencoba tenang.Bagaimana tidak? Lima hari yang lalu, Yanto dan istrinya pergi ke kota untuk memasarkan hasil panen mereka. Tapi saat tengah bersiap untuk pulang, sore itu mereka mendapat kabar jika desa Pulau terserang banjir bandang.Bukan sekali dua kali, banjir meluap desa tersebut.. namun kali ini lebih parah.Banjir melahap habis ratusan rumah. Sawah hancur, hewan ternak banyak yang tenggelam. Yang dikhawatirkan oleh Yanto adalah anak-anaknya yang tinggal disana. Ia takut terjadi sesuatu meskipun mereka telah pindah ke pengungsian.Bu Cik memegang lengan suaminya saat mereka berjalan cepat menuju terminal bis. Sayang sekali tak ada satupun bis yang mau mengantar. Akses sulit dengan jalan terputus menjadi alasannya."Ya, Tuhan.. bagaimana ini?" Bu Cik bersusah hati.Yanto mencoba mencari
Paskal bergegas pergi ke kediaman Farhan. Pria ini sampai terkejut ketika tuannya datang. Apalagi ucapan Paskal bak perintah yang harus ditepati sekarang juga. "Tapi hari sudah tengah malam, tuan. Akses menuju desa terputus." Keluh Farhan. Paskal menggeleng. "Aku tidak perduli. Kita harus memastikan keadaan Larissa." "Lalu apa yang anda akan lakukan, tuan?" "Menyelamatkannya." "Bersama dengan suaminya?" Pertanyaan itu menyentak hati Paskal. Pria ini baru teringat kalau Larissa telah memiliki suami. "Tuan.. suami nona Larissa pasti tidak akan membiarkan istrinya dalam kesulitan. Saya dengar, mereka sudah mendapatkan tempat untuk menyelamatkan diri. Bantuan sudah berdatangan." Paskal menarik nafas panjang. Ia berpikir dengan keras. Di satu sisi dia mengkhawatirkan mantan istrinya. Tapi di sisi lain, Larissa sudah memiliki suami yang jelas mencintainya.
"Sayang!"Lila memang tidak tahu tempat. Koreksi. Tidak tahu diri. Paskal masih rapat dengan dua asisten setianya. Farhan dan Redi. Tapi Lila masuk begitu saja ke ruang kerja suaminya. Tanpa memperdulikan tatapan sinis dari Paskal."Sayang! Oh.. ada tamu rupanya!" Lila menyengir. Tapi tak perduli."Aku sedang rapat, Lila." Paskal memberikan tatapan tak menyenangkan."Sorry. Tapi ada yang ingin aku katakan."Paskal menghela nafas. Ia tahu betul karakter istrinya. Tak bisa dicegah. Tak bisa diusir. Tidak pernah mengerti. Lebih baik Paskal mengalah dan mengusir dua asisten setianya dulu. "Kalian berdua keluarlah, aku ingin bicara dengan istriku." Ujar Paskal."Baik, tuan." Kedua pria itu undur diri dan keluar dari ruang kerja.Sementara Lila meringai. Ternyata dia masih menjadi nomor satu di hati suaminya.Buktinya, Paskal lebih mementingkan Lila daripada rapat tak berguna ini."Katakan
"Anakku, lihat siapa yang datang." Lila meraih putranya dalam gendongan. Ia berjalan mendekat pada Paskal yang baru saja tiba. Paskal melihat putranya secara sekilas. Hampir 3 bulan, Azka bertarung di ruang intensif. Syukurlah Azka bisa melewati masa kritisnya. Tubuh yang kecil itu mulai menggembul, kulitnya kemerahan. Alis matanya tipis dengan bibir yang kecil. "Dia mirip sekali denganmu, kan?" Paskal tersenyum miring. "Sama sekali tidak. Dia tidak mirip sama sekali denganku." Lila berdecak. "Kamu ini!" Lila lalu memanggil pengasuh anaknya. Ia menyuruh wanita tersebut membawa Azka ke kamarnya sendiri. "Bagaimana kata dokter?" Tanya Paskal. "Semuanya baik-baik saja. Azka tumbuh dengan baik." "Baguslah. Kamu harus tetap menjaganya." "Itu sudah pasti!" Lila mengulum senyum. Wanita ini berjalan mendekati suaminya. Kedua t
Paskal mengetuk meja kerjanya. Secara bergantian jemari itu menari dengan pelan di atas meja.Satu per dstu prgawai keluar dari ruang CEO utama. Ada yang tersenyum, ada yang bersikap biasa dan juga ada yang terjatuh.Sembilan bulan sudah Paskal mengamati perilaku dan hasil kerja pegawainya. Sekarang waktunya memberikan hadiah.Bagi pegawai dengan hasil kerja memuaskan, maka akan diberikan hasil yang setimpal. Sementara yang tidak, maka akan diberikan pengarahan dan kesempatan.Terkhusus yang bermuka dua, Paskal sudah menyiapkan hadiah yang luar biasa."Pak Tito diberhentikan." Bisik itu mulai terdengar. Dua pegawai wanita tampak bergunjing saat Riono dan Bram tengah melintas."Diberhentikan?" Pegawai wanita satu lagi terkejut."Iya. Pak Tito ketahuan memalsukan data keuangan. Astaga.. ternyata selama ini pak Tito melakukan korupsi diam-diam."Dua wanita ini sampai tak habis pikir. Padahal Paskal sudah memberikan







