登入
Sebuah mobil hitam melaju kencang menembus malam yang begitu sunyi. Seperti sedang mengejar sesuatu, mobil ini tak perduli akan empat persimpangan yang ada di depannya. Mobil itu terus melaju tanpa mengurangi kecepatan. Sampai akhirnya..
Brak! Mobil hitam itu berguling-guling di jalanan raya yang sepi. Serpihan kaca berserakan memenuhi jalan. Seorang pengemudi terlihat tak sadarkan diri. Noda merah mengucur deras dari kepalanya. Sepasang kaki setengah berlari menghampiri mobil tersebut. Membantu pengemudi yang sudah terperangkap untuk keluar dari sana. Samar-samar pengemudi pria itu melihat orang yang telah menolongnya. Seorang wanita yang wajahnya tak jelas, berambut hitam kecoklatan dengan menggunakan jaket rajut rumahan. Wanita tersebut menarik pria itu untuk keluar dari mobil. Memposisikannya dengan aman karena takut jika akan memperparah cederanya. "Sebentar lagi ambulance akan datang.. bertahanlah.." pintanya lirih. Tergambar guratan cemas di wajah yang tak bisa pria ini lihat jelas. "Aa..kuu...." dan semuanya menjadi gelap. *** Plak! Suatu tamparan mendarat di wajah Paskal. "Anak kurang ajar! Apa begini hasil didikanku selama ini?" Sungguh tak percaya Demian dibuatnya. Anak perusahaan yang dibangunnya bersusah payah mengalami kebangkrutan akibat ulah anak semata wayangnya. Paskal menyeka noda merah yang keluar dari bibirnya. Sial! Kenapa perih sekali. "Perusahaan papa memang diambang kehancuran. Itu bukan sepenuhnya salahku." "Masih mau membela diri!" "Aku benar, pa!" Tangan ini hendak melayang lagi jikalau tak ada Imelda yang menahannya. "Sabar, pa.. apa dengan kamu terus memukulnya perusahaan itu akan bangkit kembali?" Imelda menggeleng. "Tidak, kan." "Dia ini anak kurang ajar, ma! Aku mengirimnya ke Amerika untuk menyelesaikan program doktornya dan sekaligus menjalankan perusahaan. Tapi, apa yang dia lakukan? Kerjaannya hanya ke club malam dan menghamburkan uang!" Desis Demian kesal. Imelda sebenarnya kesal. Tapi dia tak ingin menambah percikan api di kemarahan suaminya. "Apa sudah kalian marah-marahnya? Aku mau keluar." "Lihat, imel! Dia bahkan nggak merasa bersalah!" "Minta maaf, Paskal!" Imelda menatap tajam putranya. "Maaf." Paskal langsung keluar setelah mengucapkan kata maaf. Demian lalu terduduk sembari mengelus dadanya. Jika Paskal terus bersikap seperti ini, Demian yakin akan cepat menghadap Sang Pencipta. "Kita harus menghukumnya." "Ya, dia memang harus dihukum." Imel sepakat. "Ambilkan ponselku, aku harus menghubungi seseorang." Ucap Demian. Bak angin lalu, Paskal tak menganggap tak ada yang terjadi setelah kemarahan ayahnya tadi. Menggunakan mobil hitamnya, Paskal melaju menuju sebuah klub malam. Ah, sudah 8 tahun tidak menginjakkan kaki di negara asalnya. Dia jadi rindu setiap sudut kota yang menjadi tempat kenangannya. Sekitar 35 menit, Paskal tiba di sebuah club malam bernama Neptunus. Disana ia sudah ditunggu oleh teman lamanya. "Sudah lama nggak ketemu!" Adit memberi pelukan. "Apa kabarmu?" "Baik. Ayo, ku kenalkan dengan temanku yang lain." Adit lalu mengajak Paskal berkumpul dengan teman-temannya. Ada sekitar 5 orang disana. "Teman kantormu?" "Ya." Adit terkekeh. "Hai!" Sapa wanita bernama Elya. Paskal hanya membalas dengan mengangkat tangan. Teman-teman Adit saling melirik. Pria yang baru datang ini begitu dingin. Terkesan kejam dari rahangnya yang tegas. Apalagi tatapan mata itu, begitu tajam menusuk. Hari semakin larut, semua pengunjung membaur menjadi satu di lantai dansa. Kecuali Paskal yang hanya bisa melihat dari tempat duduknya saja. "Mau berdansa denganku?" Tawar Elya. Paskal melirik sampai senyuman Elya mengambang. Sinis sekali tatapan itu! Elya jadi tertekan. "Boleh." Paskal bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan. Elya menyambutnya dengan senang hati. Keduanya kemudian bergabung bersama pengunjung lain menikmati alunan musik bersama. Paskal menatap wanita ini. Cantik. Tapi standar. Tak istimewa. Tapi tubuhnya begitu menggoda. Tak tahan Paskal untuk tidak menyentuh punggung tegap yang begitu mulus itu. "Bermalam bersamaku?" Elya terkesiap. Pria yang disangka dingin dan kaku ini malah mengajaknya bermalam. "Hanya sampai pagi." Bisik Elya yang berhasil menggoda iman Paskal. Paskal tersenyum sembari menarik tangan gadis yang ada di hadapannya ini. Mereka lalu menuju sebuah kamar yang terletak di lantai tiga. Berhubung suasana hati Paskal sedang kesal, ia butuh pelampiasan. Pintu kamar terbuka. Paskal menutup dengan satu tendangan. Elya menyambut dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Paskal. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Jadi, kamu temannya Adit?" "Teman lamanya." "Ku dengar kamu baru kembali dari Amerika. Apa itu benar?" Elya mengusap rahang tegas itu. Paskal tak menjawab dan malah menarik tubuh Elya dalam dekapannya. Menyesap bibir mungil yang terus saja dari tadi bicara. Keduanya terbakar hasrat. Elya tersenyum menggoda, ia menuntun Paskal menuju tempat tidur sembari melepas pakaian atasnya. Begitu juga Paskal yang hanya memperhatikan. Sedari tadi, pria ini tak memiliki beragam ekspresi. Paskal menjatuhkan dirinya di atas tubuh wanita yang baru saja dikenalnya. Tatapan memelas seakan haus kasih sayang, tubuh yang menggeliat terbakar oleh hasrah. Oh, tidak. Paskal harus menyelesaikan semuanya. Bibir itu kembali bertautan dengan tangan yang sudah menjelajah kemana-mana. Apalagi Elya yang malah membisikkan nama Paskal di telinganya, membuat Paskal jadi tak sabar untuk mengarunginya. Dertt.. dertt.. Tautan diputus begitu saja oleh Paskal. Pria ini mendengkus sembari meraih ponselnya. "Ah, sial!" Umpatnya kesal.Paskal dan Larissa tiba di bandara international. Kedatangan mereka sudah disambut puluhan wartawan yang sudah menunggu.Keluarga Alvaro adalah salah satu nama keluarga yang terkenal di negeri ini. Terlebih Demian merupakan pebisnis handal yang amat dipercaya memimpin perusahaan multi nationalnya. Sontak saja jika berita buruk ini menjadi perhatian utama dunia."Permisi. Saya mau lewat!" Paskal membelah kerumunan yang sedang menodongnya dengan banyak pertanyaan.Bersama Larissa yang berjalan di belakang, keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada petugas berwajib, pihak maskapai dan juga tim bencana."Pak Paskal Alvaro." Sapa pihak berwajib memperkenalkan diri."Bagaimana? Apa ada kabar? Orang tua saya tidak ikut dalam penerbangan ini, kan?" Paskal memberi pertanyaan beruntun."Tenang dulu, pak. Silahkan duduk." Paskal duduk. Larissa ikut duduk di samping pria ini. Lupakan saja dulu mengenai kebencian antar kedua
Melupakan soal pekerjaan, Paskal pulang ke rumahnya. Hampir saja dia terkena serangan jantung setelah melihat penampilan baru Larissa. "Benar-benar tidak bisa dibanggakan." Paskal berdecih saat melihat Larissa memakai gaun satinnya. Gaun yang dibelikan oleh Imelda. Mendengar cibiran Paskal, Larissa hanya tertunduk. Ia lalu keluar dari kamar dan menyiapkan makan malam. "Kira-kira papa dan mama sudah dimana, ya?" Tanya Larissa pada pelayan. "Mungkin masih diperjalanan, Nona. Biasanya dari Amerika ke Indonesia bisa memakan waktu 20 jam lebih." "Oh.. selama itu?" Larissa baru tahu. Pelayan itu mengangguk. Ia kembali ke dapur sedangkan Larissa menata makan malam di meja. Suara sepatu terdengar turun dari lantai atas, Larissa melihat suaminya mendekat ke arah meja makan. "Selamat malam, mas." Wajah Paskal langsung pecah seribu. "Mau aku puk
Mulai detik itu juga, Larissa disuruh kembali ke kamar asalnya. Baju pelayan itu ditanggalkan. Bi Ira membantu nona muda pindah lagi ke lantai atas dimana Paskal beristirahat."Bibi bersyukur tuan dan nyonya pulang.." ucap bi Ira lega."Aku juga, bi." Sahut Larissa datar."Dengan begitu, nona Larissa nggak akan disiksa sama tuan muda lagi." Terlebih melihat wajah Lila itu membuatnya muak.Pantas saja jika Demian dan istrinya tidak menyukai Lila. Bi Ira sudah tahu sekejam apa sifat asli wanita itu.Larissa menghela nafas panjang. Dia bersyukur karena mertuanya akan segera pulang ke rumah ini. Tapi di sisi lain, Larissa merasa tak beruntung.Ya, mereka akan tinggal berdua dalam satu kamar. Larissa sudah membayangkan banyaknya cacian yang akan dilontarkan oleh suaminya itu."Mari, nona. Saya bantu bersihkan badannya. Lihat wajah nona mulai kering. Belum lagi luka karena perbuatan mereka." Bi Ira iba sekali.Larissa
Paskal bersama Lila mencari apartement yang bisa wanita itu tinggali sementara. Sesuai rencana, Paskal hanya meminta Lila bersabar sedikit lagi. Setelah dia mendapatkan posisinya di perusahaan, Paskal berjanji akan menyingkirkan Larissa secepatnya."Aku nggak mau lama-lama pisah dari kamu, Pas." Ucap Lila bergelayut manja. Bahu itu ia jadikan sandarannya.Sekarang mereka berada di sebuah apartement mewah yang dekat dengan perusahaan Sandhya. Jika Paskal penat bekerja maka dia bisa langsung kemari untuk memadu kasih dengan cintanya."Aku juga tidak bisa berpisah darimu." Tidak lagi. Paskal akan mencengkram wanita ini untuk menjadi miliknya selamanya.Dagu Lila diambil. Kedua mata itu saling menatap. Paskal mendekatkan diri. Sejenak keduanya menautkan bibir. Lila sudah lama menunggu saat-saat ini. Dimana ia dan Paskal bisa bersama. Terbebas dari gangguan.Paskal menarik pinggang wanitanya. Lila melenguh saat tangan Paskal menurunkan gaun ya
"Larissa!" Pagi-pagi Paskal sudah dibuat kesal karena melihat pakaian kerjanya belum disiapkan. Walau Paskal menganggapnya sebagai pembantu, tapi Larissa tak pernah lupa akan tugasnya sebagai istri. Dia tetap menyediakan jas kerja milik suaminya. Lengkap dengan dasi serta sepatunya. "Larissa!" Panggil Paskal sekali lagi dari atas tangga. "Apa dia tidak punya telinga?" Desis Paskal kesal. "Kenapa, Pas?" Tanya Lila keheranan. Suara kekasihnya menggelengar seantero rumah. "Dimana Larissa? Dia belum menyiapkan pakaian kerjaku!" "Ya ampun kamu lupa, ya? Larissa ku kurung dalam gudang!" Paskal terkesiap. Dia baru ingat Larissa masih terkena hukuman oleh kekasihnya. "Belum kamu bebaskan?" "Memang harus, ya?" Tanya Lila yang langsung ikut terkesiap. "Baiklah. Aku akan menyuruh bi Ira membebaskannya." Atas perintah Nona muda, Larissa pagi itu akhirnya dibebas
Ungkapan cinta saja tak cukup bagi Lila. Dia butuh lebih dari ini. Seperti status misalkan? Dia tak hanya ingin menjadi kekasih dari Paskal. Melainkan istrinya.Mungkin dulu Lila terus menolak cintanya Paskal, tapi kini Lila menginginkan pria termasuk seluruh apa yang dimiliki oleh Paskal."Pas.. aku ingin kamu menikahiku."Lila merebahkan kepalanya di dada bidang milik Paskal. Malam ini, Lila ingin tidur bersama kekasihnya. Hanya tidur saja. Tidak melakukan hal yang lebih.Paskal nampak berpikir. Dia pun sama saja, tapi ada wanita lain yang menjadi penghalang mereka."Kenapa kamu diam aja?" Tanya Lila ketika Paskal hanya diam."Aku juga ingin menikahimu, Lila."Lila tersenyum dan mempererat pelukannya."Lalu tunggu apa lagi? Kita saling mencintai, bukan? Kamu ceraikan saja pelayan itu dan kita bisa menikah.""Tidak bisa seperti itu, Lila." Ucap Paskal sambil menghela nafas berat. "Papa dan mamaku pasti







