FAZER LOGINBaru saja mau nikmat. Ponsel Paskal berbunyi.
Tapi mana pria ini perduli. Dia masih mencicipi hidangan yang bisa menyembuhkan dahaganya. Ponsel itu berdering lagi. Entah sudah berapa kali sampai Paskal harus mendengkus kesal. "Brengsek!" Paskal menarik diri. Elya jadi kecewa. Padahal tengah nikmat begini. Melihat nama yang ada di layar ponselnya membuat Paskal menjadi kesal. "Ada apa?" ["Pulang sekarang."] "Aku bukan anak kecil!" ["Terserah. Pulang sekarang atau kubakar club malam itu."] Paskal menghela nafas kasar. Dia lalu mematikan sambungan telpon. "Sayang..." Elya mulai lagi. Dia memeluk pria yang sudah setengah polos itu. "Aku harus pulang." Paskal mendorong pelan tubuh Elya dan memakai pakaiannya. Apa-apaan ini? Elya jadi kesal. Padahal tadi dia sudah memasrahkan dirinya pada pria ini. "Untukmu." Paskal menyodorkan uang. "Kamu pikir aku wanita murahan?" Paskal menatap tajam. "Ambillah sebagai upah ciuman tadi." Paskal melemparkan uang ratusan ribu ke wajah wanita itu. Tak perduli jika wanita itu berteriak dan menghardiknya, Paskal tetap melangkahkan kakinya keluar. Sesampainya di rumah megah berdesign klasik itu, Paskal sudah mendapat tatapan tidak menyenangkan dari ayah dan ibunya. "Belum tidur?" Tegur Paskal basa-basi. "Ini bukan Amerika sehingga kamu bisa datang dan pulang sebebasnya. Ini adalah tempat dengan penuh batasan norma." Tegas Demian. "Aku cuma bersenang-senang. Apa salahnya?" "Bersenang-senang dengan seorang wanita?" Imelda menunjuk bekas lipstik yang ada di kerah kemeja anaknya. Paskal yang menyadari lalu melihat noda itu sekilas. Tapi ekspresinya biasa saja. Seolah-olah itu adalah hal yang biasa. "Umurmu sudah 33 tahun, bersikaplah sebagai pria dewasa." "Terima kasih sudah mengingatkan." Paskal melangkah melewati orang tuanya begitu saja sampai Demian berteriak keras. "Ah!" Paskal sampai mengkorek telinganya. "Ini bukan hutan!" "Anak kurang ajar! Kamu ini benar-benar sudah berubah menjadi anak tidak tahu aturan!" Hardik Demian. "Dimana Paskal yang patuh dan penuh sopan santun?" "Paskal yang itu sudah mati." Baik Imelda dan Demian terkesiap. Paskal yang mereka hadapi sekarang tidaklah sama dengan Paskal 8 tahun yang lalu. Anak mereka telah berubah menjadi pria yang dingin dan juga arogan. Malam berganti pagi. Paskal sudah bersiap dengan jas mahalnya. Ia ikut duduk di kursi sebelah kanan Demian untuk menikmati sarapan. "Mau kemana?" Tanya Demian tanpa menoleh. Dia menikmati kopi sambil membaca koran. "Bekerja." "Bekerja dimana?" Paskal sampai menoleh. "Perusahaan Sandya" Demian tak lagi menjawab. Setelah selesai menyantap sarapannya, Paskal berpamitan untuk pergi ke Perusahaan Sandya. Perusahaan yang dibangun dari kakeknya hingga berjaya sampai sekarang. Sandya sendiri sudah memiliki beberapa anak cabang. Namun sayang, bisnis megah itu hancur di benua Amerika akibat kesalahan Paskal. Baru saja sampai ke ruangannya, dahi Paskal mengkerut. Tak ada namanya yang tertulis di singgasananya. Dan siapa itu? Kenapa ada pria lain yang duduk disana? "Anda siapa?" Tanya Paskal menatap tajam pria yang duduk disana. "Direktur baru di perusahaan ini. Perkenalkan, Saya Anthony." "Jangan bercanda!" Paskal mendelik. "Itu tempat milik saya." "Itu dulu. Tapi semalam semuanya sudah berubah. Pak Demian menunjuk saya sebagai direktur baru di perusahaan ini." Tangan Paskal mengepal. Tanpa sepatah katapun dia keluar dari ruangan dan melihat karyawan yang tengah bergunjing. Yakin, Paskal lah yang menjadi topik mereka. "Kalian tidak punya kerjaan? Atau mau saya pecat sekalian?" Paskal melotot pada tiga bawahan yang tengah bergosip. Tiga karyawan yang tengah mengobrol itu sampai meneguk ludah. Bergegas ketiganya kembali ke posisi masing-masing. Sambil mencengkram erat tas jinjingnya, Paskal kembali ke rumah dan menuju kamar kerja Demian. Saat masuk, Paskal heran karena Demian sedang kedatangan tamu. "Setidaknya ketuk pintu dulu sebelum masuk." Tegur Demian. "Maaf. Saya permisi." Paskal memutar badannya. "Tunggu. Berhubung kamu ada disini. Sekalian papa akan mengenalkanmu dengan pak Effendi." Paskal beralih pada Effendi dan berjabat tangan. "Silahkan pak Effendi, saya yakin Paskal menunggu berita ini." Ucap Demian menyeringai. Dahi Paskal mengernyit. Pria bernama Effendi ini lalu mengambil secarik kertas yang ada di hadapannya dan membaca dengan lantang. "Dengan ini, Demian Alvaro menegaskan untuk tidak memberikan sepeserpun harta warisan kepada Paskal Alvaro. Demikian untuk dimaklumi." "Apa-apaan ini?" Paskal melihat kesal pada ayahnya.Paskal naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan mencium perut Larissa yang membukit. Larissa menggeliat. Matanya terbuka perlahan."Mas Paskal.." mata Larissa memerah."Masih malam. Tidurlah."Paskal menaruh satu tangannya ke bawah tubuh Larissa. Wanita yang masih terbaring di ranjang pesakitan ini dibawanya dalam pelukan.Dengan penuh kasih sayang, Paskal mengusap punggung istrinya dengan nyaman. Larissa menyenderkan kepalanya di atas dada bidang itu. Menjadikan tubuh Paskal sebagai sandaran tidurnya.Pagi ini, Larissa bangun dalam keadaan lebih segar. Tidur semalam nyenyak. Aroma parfum maskulin suaminya menjadi pengantar tidur yang menyejukkan.Paskal sendiri sudah lebih dulu terbangun. Dengan cekatan, ia menata makanan di atas meja dan menghidangkannya pada Larissa."Makan ini, sayang." Sebuah mangkuk berisi sup diberikan."Mana bi Ira?""Pulang sejak semalam.""Kamu pasti cape
"Halo. Ya?"Erica merapatkan ponsel itu ke telinga dan mendengar perintah secara seksama. Senyum tersungging di bibir manisnya."Ah, baiklah. Di hotel biasa. Pukul 8 malam."Tut. Sambungan itu dimatikan. Erica bangkit dari duduknya dan menghadap cermin.Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, ia akan bersiap menuju hotel dimana ia memiliki pekerjaan sampingan.Rambut pendek itu ia sisir rapi dan diberikan spray. Wajah yang mulus diberikan riasan bold. Jangan lupakan lipstik yang berwarna merah maroon itu sungguh bergairah di bibirnya yang tebal.Gaun bertali sejari dengan punggung setengah terbuka ia pilih. Wanita ini memutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya."Kecantikanku memang tak pernah gagal." Gumam Erica percaya diri.Wanita ini mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar. Dia harus bekerja malam ini bersama dengan teman-teman satu "profesi" nya. Ah, apa itu? Pasti ada alasan kenapa Erica bisa b
"Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai
"Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau
Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi
"Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me







