Share

Bab 2

Penulis: Stary Dream
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 21:40:11

Baru saja mau nikmat. Ponsel Paskal berbunyi.

Tapi mana pria ini perduli. Dia masih mencicipi hidangan yang bisa menyembuhkan dahaganya.

Ponsel itu berdering lagi. Entah sudah berapa kali sampai Paskal harus mendengkus kesal.

"Brengsek!" Paskal menarik diri. Elya jadi kecewa. Padahal tengah nikmat begini.

Melihat nama yang ada di layar ponselnya membuat Paskal menjadi kesal.

"Ada apa?"

["Pulang sekarang."]

"Aku bukan anak kecil!"

["Terserah. Pulang sekarang atau kubakar club malam itu."]

Paskal menghela nafas kasar. Dia lalu mematikan sambungan telpon.

"Sayang..." Elya mulai lagi. Dia memeluk pria yang sudah setengah polos itu.

"Aku harus pulang." Paskal mendorong pelan tubuh Elya dan memakai pakaiannya.

Apa-apaan ini? Elya jadi kesal. Padahal tadi dia sudah memasrahkan dirinya pada pria ini.

"Untukmu." Paskal menyodorkan uang.

"Kamu pikir aku wanita murahan?"

Paskal menatap tajam. "Ambillah sebagai upah ciuman tadi."

Paskal melemparkan uang ratusan ribu ke wajah wanita itu. Tak perduli jika wanita itu berteriak dan menghardiknya, Paskal tetap melangkahkan kakinya keluar.

Sesampainya di rumah megah berdesign klasik itu, Paskal sudah mendapat tatapan tidak menyenangkan dari ayah dan ibunya.

"Belum tidur?" Tegur Paskal basa-basi.

"Ini bukan Amerika sehingga kamu bisa datang dan pulang sebebasnya. Ini adalah tempat dengan penuh batasan norma." Tegas Demian.

"Aku cuma bersenang-senang. Apa salahnya?"

"Bersenang-senang dengan seorang wanita?" Imelda menunjuk bekas lipstik yang ada di kerah kemeja anaknya.

Paskal yang menyadari lalu melihat noda itu sekilas. Tapi ekspresinya biasa saja. Seolah-olah itu adalah hal yang biasa.

"Umurmu sudah 33 tahun, bersikaplah sebagai pria dewasa."

"Terima kasih sudah mengingatkan." Paskal melangkah melewati orang tuanya begitu saja sampai Demian berteriak keras.

"Ah!" Paskal sampai mengkorek telinganya. "Ini bukan hutan!"

"Anak kurang ajar! Kamu ini benar-benar sudah berubah menjadi anak tidak tahu aturan!" Hardik Demian. "Dimana Paskal yang patuh dan penuh sopan santun?"

"Paskal yang itu sudah mati."

Baik Imelda dan Demian terkesiap. Paskal yang mereka hadapi sekarang tidaklah sama dengan Paskal 8 tahun yang lalu. Anak mereka telah berubah menjadi pria yang dingin dan juga arogan.

Malam berganti pagi.

Paskal sudah bersiap dengan jas mahalnya. Ia ikut duduk di kursi sebelah kanan Demian untuk menikmati sarapan.

"Mau kemana?" Tanya Demian tanpa menoleh. Dia menikmati kopi sambil membaca koran.

"Bekerja."

"Bekerja dimana?"

Paskal sampai menoleh. "Perusahaan Sandya"

Demian tak lagi menjawab. Setelah selesai menyantap sarapannya, Paskal berpamitan untuk pergi ke Perusahaan Sandya. Perusahaan yang dibangun dari kakeknya hingga berjaya sampai sekarang. Sandya sendiri sudah memiliki beberapa anak cabang. Namun sayang, bisnis megah itu hancur di benua Amerika akibat kesalahan Paskal.

Baru saja sampai ke ruangannya, dahi Paskal mengkerut. Tak ada namanya yang tertulis di singgasananya. Dan siapa itu? Kenapa ada pria lain yang duduk disana?

"Anda siapa?" Tanya Paskal menatap tajam pria yang duduk disana.

"Direktur baru di perusahaan ini. Perkenalkan, Saya Anthony."

"Jangan bercanda!" Paskal mendelik. "Itu tempat milik saya."

"Itu dulu. Tapi semalam semuanya sudah berubah. Pak Demian menunjuk saya sebagai direktur baru di perusahaan ini."

Tangan Paskal mengepal. Tanpa sepatah katapun dia keluar dari ruangan dan melihat karyawan yang tengah bergunjing. Yakin, Paskal lah yang menjadi topik mereka.

"Kalian tidak punya kerjaan? Atau mau saya pecat sekalian?" Paskal melotot pada tiga bawahan yang tengah bergosip.

Tiga karyawan yang tengah mengobrol itu sampai meneguk ludah. Bergegas ketiganya kembali ke posisi masing-masing.

Sambil mencengkram erat tas jinjingnya, Paskal kembali ke rumah dan menuju kamar kerja Demian.

Saat masuk, Paskal heran karena Demian sedang kedatangan tamu.

"Setidaknya ketuk pintu dulu sebelum masuk." Tegur Demian.

"Maaf. Saya permisi." Paskal memutar badannya.

"Tunggu. Berhubung kamu ada disini. Sekalian papa akan mengenalkanmu dengan pak Effendi."

Paskal beralih pada Effendi dan berjabat tangan.

"Silahkan pak Effendi, saya yakin Paskal menunggu berita ini." Ucap Demian menyeringai.

Dahi Paskal mengernyit. Pria bernama Effendi ini lalu mengambil secarik kertas yang ada di hadapannya dan membaca dengan lantang.

"Dengan ini, Demian Alvaro menegaskan untuk tidak memberikan sepeserpun harta warisan kepada Paskal Alvaro. Demikian untuk dimaklumi."

"Apa-apaan ini?" Paskal melihat kesal pada ayahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   13. Saling Menyerang

    Untung saja Larissa belum mengucapkan satu katapun. Atau bisa jadi pria yang baru datang ini akan melahap habis dirinya.Paskal datang sambil meregangkan dasi miliknya. Sebagai istri yang baik, Larissa menyambut tas kerja dan membuka jas kerja milik suaminya. Ia juga menarik kursi untuk Paskal duduk dan membantunya menyiapkan makan malam."Dari mana saja? Bukannya pulang kantor jam 4?" Tanya Demian."Besok ada rapat. Jadi aku harus membuat laporan.""Oh, ya? Membuat dimana?""Papa menaruh mata-mata untukku? Yang benar saja.""Sudah!" Imelda menengahi. "Makan malam dulu. Ini semua masakan Larissa."Paskal mendengkus dan menyendokkan makanan. Kebetulan perutnya lapar karena tadi baru saja selesai berolahraga bersama Elya."Papa dan mama akan ke Amerika.""Kapan?""Mungkin dua minggu lagi.""Ada apa? Liburan?""Membangun kembali bisnis yang kamu hancurkan."Paskal menghe

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   12. Kembali Bekerja

    Paskal melenggang santai masuk ke perusahaan Sandhya. Perusaahan milik keluarga Alvaro dimana Demian adalah pemiliknya.  Jika dulu, Paskal adalah direktur perusahaan kini dia datang dengan jabatan baru. Yang katanya manajer tetapi rupanya kepala divisi.Kesal pasti. Demian dinilainya plin plan. Tapi daripada tidak bekerja sama sekali. Paskal harus menerima dan kembali bekerja."Selamat pagi, Tuan." Sapa satu per satu pegawai.Paskal hanya berdeham dan masuk ke ruang kerjanya yang sempit. Untung saja, dia tidak menjadi karyawan biasa. Pasti Paskal akan bergabung dengan karyawan lain di luar sana.Pintu diketuk.Seorang wanita muda masuk sambil membawa beberapa laporan. Kebetulan, kepala divisi di bagian ini sudah pensiun dan Paskal menggantinya."Masuklah.""Ini berkas laporan yang biasa Pak Erwin minta per bulannya." Ucapnya sopan."Ya. Pergilah."Wanita muda itu menundukkan sedikit badannya sebagai tan

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   11. Ingin Berpisah

    Mata Larissa menggelepar ketakutan. Telinganya terasa bedenging akibat kuatnya pukulan yang diberikan oleh suaminya."Mas..." gumam Larissa pelan. Matanya sudah berair.Melihat Paskal yang menampar Larissa, Gabriel bernafas lega. Dia bahkan tersenyum sinis saat melihat wajah kemarahan temannya."Dia pantas dipecat! Berani sekali menggoda teman majikannya sendiri!" Ucap Gabriel sinis."Keluarlah dulu, Gabriel!" Jawab Paskal tanpa menoleh. Matanya masih menguliti Larissa.Gabriel berdeham. Dia lalu keluar dari kamar dengan rasa puas. Setidaknya, Paskal tak akan curiga apa yang telah dilakukannya."Apa yang kamu katakan? Berani-beraninya kamu!" Paskal hendak memukul Larissa lagi karena geram.Larissa langsung menutup mata dan memalingkan wajah."Aku nggak berbohong, mas.. dia sungguh ingin menodaiku!" Larissa terisak."Kamu!" Paskal meraih wajah Larissa dan mencengkram kuat pipinya. "Sudah kubilang jangan

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   10. Tuduhan

    Selesai makan malam, Larissa juga yang harus membersihkan bekas makan mereka. Wanita itu membawa piring kotor ke tempat cuci dan mencuci semuanya.Tak lama terdengar suara riuh dari tangga, ternyata tiga sahabat tadi sedang bercengkrama sambil menuruni anak tangga. Mereka menuju pintu keluar tanpa mengucapkan satu katapun."Aku memang nggak seharusnya disini," Larissa menghela nafas. Jika punya pilihan, dia jelas tak mau berada disini. "Setelah ini, aku harus tidur."Tubuh Larissa lelah, entah apa lagi selanjutnya yang akan dilakukan mereka padanya. Dia harus istirahat sekarang.Selesai membersihkan semuanya, Larissa masuk kamar dan beristirahat di kamar yang kecil.Sementara Paskal, Gabriel dan Catline pergi menuju club malam yang memang terkenal di daerah ini."Sayang sekali istrimu nggak ikut!" Gabriel terkekeh. Dia sungguh penasaran dengan istri Paskal. "Apa dia seorang anak kolongmerat juga?"Paskal hanya berdeham. "Aku nggak mau membahas masalah pribadi.""Ups! Sorry!" Gabriel l

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   9. Hanya Pembantu

    Sakit hati Larissa mendengarnya tapi bibir ini membisu untuk menjawab. Bagaimana tidak? Paskal malah memperkenalkannya sebagai pembantu bukan seorang istri."Alih-alih bawa istri kamu malah bawa pembantu," Catline tertawa geli."Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sudah lama nggak bertemu." Tawar Gabriel."Betul juga. Sudah lama kita nggak berbincang." Sahut Paskal."Kita ke restoran seafood disana saja." Ajak Catline.Kedua pria setuju dan berjalan bersama. Sementara Larissa bingung, dia harus ikut atau kembali ke hotel."Kamu mau disini atau ikut?" Tanya Catline pada Larissa. "Pas, asistenmu gimana?"Paskal menoleh dan menatap Larissa. "Ikut saja."Larissa lalu ikut ketiga orang yang tengah asik berbincang itu dari belakang. Ketika masuk ke restoran, Paskal memberi kode agar Larissa menunggu saja di luar.Larissa menghela nafas. "Kalau begitu, harusnya aku pulang saja." Dia lalu duduk di kursi yang tersedia diluar restoran."Asistenmu tadi nggak diajak makan bersama?" Catline

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   8. Disuruh Honeymoon

    Larissa mengerjap berulang kali. Lengannya juga terasa nyeri akibat cengkramam kuat pria di hadapannya ini."Dasar bodoh!" Paskal menoyor kepala Larissa. "Kenapa kamu keluar dari kamar, hah?""Bukannya tadi kamu bilang aku harus tidur di kamar pelayan?" Larissa ketakutan."Bodoh!" Paskal menoyor lagi. "Dengar! Di depan orang tuaku, kita harus terlihat akur. Mengerti?"Larissa mulai menangis."Malah menangis! Aku tidak terbuai dengan air matamu itu gadis bodoh! Menyesal sekali aku menikah denganmu!" Paskal melepaskan cengkramannya kasar sampai Larissa mengadu kesakitan."Mas.." panggil Larissa."Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku nggak suka!" Bentak Paskal yang sekali lagi yang membuat Larissa ketakutan."Panggil aku Tuan. Jika didepan orang tuaku maka boleh memanggilku dengan sebutan kotormu itu!" Paskal memandang tajam."Ba-baik.""Satu lagi. Jangan pernah mengungkapkan sandiwara kita di depan orang tuaku atau siapapun. Jika kamu berani, maka panti asuhan tempatmu itu akan ti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status