Share

Cinta Tak Kenal Tetangga
Cinta Tak Kenal Tetangga
Author: Dea Anggie

1. Kucing Galak

Author: Dea Anggie
last update publish date: 2026-07-02 20:37:17

Lyn berjalan terburu-buru masuk ke dalam sebuah kafe, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Mike di lorong kafe. Membuat kopi berhamburan. Dan tas milik Lyn terjatuh ke lantai, dengan isi tas yang berserakan.

"Apa kamu sedang memejamkan mata sambil berjalan? Bagaimana bisa nggak lihat ke depan sih!" bentak Lyn kesal. Menatap tajam Mike dihadapannya yang memegang gelas berisikan kopi.

"Hei, aku juga kena! Tidak perlu marah," ucap Mike.

Lyn mendesis, "Kamu yang menabrakku!"

Mike menaikkan alis. "Tidak. Kamu yang..."

"Ah, sudahlah. tidak usah debat! Aku nggak punya waktu meladenimu," kata Lyn, memotong perkataan Mike.

Lyn segera berjongkok mengambil tas dan memungut isi tas yang berserakan. Mike juga ikut jongkok, dia mencoba membantu mengambil barang milik Lyn yang tercecer, tapi Lyn langsung merebutnya kasar.

"Aku bisa sendiri!" kata Lyn kesal.

Mike segera mengangkat kedua tangan, "Oke, sorry. Aku tidak bermaksud apa-apa. Cuma ingin membantu saja. Tidak perlu marah," katanya tenang.

"Tidak bermaksud? Kamu hampir merusak hari santai ku," kata si wanita. Dia berdiri dan membanting tasnya ke bahu. "Bereskan sendiri kopimu. Kamu yang salah, bukan aku."

Lyn berbalik dan langsung pergi, meninggalkan Mike dengan kopi yang masih berhamburan di lantai.

Mike menghela napas panjang usai melihat Lyn pergi dengan langkah keras.

"Ada-ada saja. Aku merusak hari santainya katanya?" kata Mike pada diri sendiri, sambil menatap ceceran kopi di lantai.

Seorang barista mendekat. "Mau ganti kopi, Pak? Gratis," tawarnya.

Mike tersenyum miring. "Tidak apa. Kopiku masih ada dan bisa diminum kok. Oh ya, tolong panggilan petugas kebersihan ya, lalu berikan ini padanya," katanya, memberikan sejumlah uang pada barista.

Barista tersenyum, "baik, Pak. Kalau ingin kopi lagi, silakan memanggil saya. Saya permisi," katanya yang langsung pergi.

Mike segera memilih meja, lalu duduk, dan menikmati sisa kopinya. Dia mengeluarkan laptop dari dalam tas dan mulai bekerja, tapi pikirannya terus memikirkan Lyn.

"Siapa wanita itu? Ah, apa sih? Kenapa juga aku jadi memikirkannya?" kata Mike dalam hati.

***

Beberapa saat Mike bekerja dengan santai. Saat ia selesai, dilihatnya Lyn kembali masuk ke dalam kafe. Mereka bertatap, dan Lyn langsung mengalihkan pandangan.

Mike tersenyum, "kekanakan sekali," katanya dalam hati.

Lyn duduk di meja seberang, memesan teh. Dia mengeluarkan buku, tapi tidak bisa fokus. Dia sering melihat ke arah Mike yang sedang sibuk dengan laptopnya.

Setelah beberapa menit, Lyn berdiri untuk pergi ke kamar mandi. Saat melewati meja Mike, mereka bertatap lagi.

Saat melewati Mike, Lyn berbisik pada diri sendiri, "menyebalkan."

***

Lyn berjalan kembali dari kamar mandi. Dilihatnya Mike sudah pergi entah kemana. Hanya menyisakan gelas kopi.

"Eh, dia sudah pergi aja," kata Lyn.

Lyn kembali duduk dan segera menikmati tehnya yang mulai dingin. Selesai minum teh dan melakukan pembayaran, ia langsung pergi.

Siapa sangka, di luar kafe, Mike menunggu Lyn. Dengan senyum cerah ia menghampiri Lyn.

"Lyn, kan? Aku Mike," kata Mike memperkenalkan diri.

Lyn berhenti, matanya melebar. "Kamu..."

Mike mengulurkan tangan. "Aku akui aku salah. Aku yang menabrak kamu tadi. Mau damai?" tanyanya.

Lyn menyilangkan dua tanganya di dada, ekspresinya masih kesal. "Tidak perlu. Aku tidak mau damai dengan orang yang tidak hati-hati."

Mike tersenyum lagi, "Oke, aku catat itu."

Lyn membalikkan badan, pergi tanpa menoleh.

Sementata itu Mike hanya bisa diam menatapi kepergian Lyn. Ia masih tidak percaya, permintaan maafnya ditolak. Padahal ia sudah mengalah dan mengaku salah meski sebenarnya yang salah adalah Lyn.

***

Lyn ditemani seseorang sedang melihat unit apartemen yang baru saja dibelinya.

"Bagaimana? Apakah anda puas dengan hasil kerja tim kami? Kami sudah merenovasi semuanya bagian yang Anda inginkan."

Lyn menganggukkan kepala perlahan, "puas sekali. Terima kasih banyak sudah mau repot dengan banyaknya permintaanku. Aku memang cerewet," katanya.

"Tidak masalah. Pembeli adalah raja. Selagi kami mampu dan bisa, akan kami lakukan. Jika berlebihan, tentu saja kami akan mencarikan alternatif lain."

"Oh ya, di lantai ini kan cuma ada dua unit. Boleh aku bertanya? Unit sebelah ada penghuninya atau kosong?" tanya Lyn penasaran.

"Ada penghuninya. Lantai ini sebenarnya tidak dijual untuk umum, karena akan digunakan pribadi oleh Bos. Tapi, karena anda ingin area super luas, maka Bos kami melepasnya dengan harga yang telah disepakati."

Lyn cukup terkejut, "ah, aku nggak tahu kalau ada hal kayak gitu. Ngomongin soal Bos, apakah Bos kalian juga tinggal di sini?" tanyanya.

"Tentu saja. Bos menempati penthouse."

Lyn menganggukkan kepala, "oh, pantas saja. Kemarin pas aku tanya-tanya soal penthouse katanya nggak bisa dijual karena milik pribadi," katanya dalam hati.

"Nona Lyn, kapan rencana anda akan pindah?" tanya seseorang itu penasaran.

"Besok," jawab Lyn singkat.

"Apakah anda membutuhkan jasa pindahan? Kami juga menyediakan layanan tersebut," tawar seseorang itu.

"Benarkah? Boleh saja. Nanti aku kirim jam pastinya. Besok suruh saja mereka datang ke apartemen lamaku ya. Kebetulan aku butuh, tapi baru sadar belum cari jasa pindahan. Untung ditawarin," kata Lyn senang.

Karena sudah puas melihat isi unitnya, Lyn dan seseorang itu langsung pergi. Lyn juga masih harus menyiapkan semua barangnya agar tak ada yang terlupa saat pindahan esok hari.

***

Mike berjalan memasuki gedung apartemennya. Melihat Bosnya, seseorang buru-buru menghampiri dan menyapa.

"Bos," sapa seseorang itu tersenyum cerah.

"Halo, Na. Katanya janjian sama pembeli unit 801. Nggak jadi?" tanya Mike.

"Jadi dong, Pak. Orangnya puas dengan kerjaan kita. Seneng banget deh."

"Syukurlah kalau puas. Dia pelanggan pertama yang punya banyak permintaan. Tapi, untungnya dia nggak tawar menawar harga dan langsung setuju. Nggak basa-basi juga. Saya suka orang seperti itu," kata Mike memuji pelanggannya.

"Orangnya baru aja pergi sekitar lima menit lalu. Bos datengnya telat sih. Padahal kalau ketemu pasti seru. Dia cantik banget kayak artis. Siapa tahu kan jadi jodohnya bapak," kata seseorang itu heboh.

Mike tersenyum, "Nana, oh Nana. Kamu ini ya. Kalau ada yang tampan dan cantik langsung heboh. Ngapain juga kamu jodoh-jodohin saya, kayak saya ini nggak laku aja. Sudah dulu, saya mau mandi. Badan saya lengket kena kopi tadi pas di kafe," katanya.

Nana melihat kemeja Bosnya dan kaget, "astaga, Bos. Kok bisa sih. Siapa yang berani numpahin kopi di kemeja puluhan juta ini?" tanyanya heran.

"Dia kucing galak. Datang-datang nabrak, malah ngomel-ngomel dan nyalain orang lain. Kamu kalau ketemu dia sudah pasti langsung emosi," jawab Mike.

"Terus, Bos nggak minta ganti rugi gitu? Biaya cuci misalnya?" tanya Nana, yang adalah Manager gedung apartemen.

Mike menggelengkan kepala, "nggak. Ah, sudah dulu ya. Selamat kerja," katanya yang langsung pergi.

Mike berjalan santai menuju lift. Sementara Nana hanya terpaku menatap punggung lebar Bosnya.

"Duh, Bosku ini emang terlalu baik orangnya. Kalau aku sih bakalan marah-marah lah. Siapa yang mau bajunya dikotorin. Baju murah aja rasanya sayang kalau kotor, apalagi baju mahal? Ckckck... Yang numpahin kopi bener-bener ya. Awas aja kalau aku tahu siapa dia. Aku omelin," kata Nana dalam hati kesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tak Kenal Tetangga   112. Isi Daya

    Keesokan harinya...Setelah akhir pekan yang manis, tiba saatnya hari Senin yang melelahkan bagi para pekerja kantoran. Seperti yang lain, Mike dan Lyn juga kembali menyibukkan diri.Melihat data-data di layar monitor, membuat mata Lyn buram. Kepalanya mulai berkunang-kunang."Duh, bosen banget. Lihatin data di monitor ini nggak ada habisnya. Butuh asupan energi nih," pikir Lyn dalam hati dengan wajah cemberut.Lyn melihat sekeliling. Dilihatnya Irene dan Jeremy sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Pandangan Lyn menatap ke pintu ruang kerja CEO yang adalah ruang kerja Mike."Dia ngapain ya?" pikir Lyn dalam hati penasaran."Nggak tau kenapa malah kangen," katanya lagi dalam hati.Lyn melihat Irene berdiri dari duduknya dan membawa sebuah map dokumen hendak meninggalkan meja kerja. "Eh, Irene..." panggil Lyn.Lyn langsung berdiri dari posisinya duduk dan berjalan menghampiri Irene."Ya, Bu? A-ada apa ya?" tanya Irene heran sekaligus kaget."Kamu mau ke ruangan Pak CEO?" tanya

  • Cinta Tak Kenal Tetangga   111. Izin dan Restu

    Lyn sedang membantu Mamanya di dapur. Ia mengelap piring yang akan digunakan untuk wadah masakan."Hati-hati, jangan sampai terluka" kata Mama Lyn mengingatkan."Ya. Mama juga," jawab Lyn.Mata melirik, mencuri pandang ke arah teras belakang. Ia melihat Mike dan Papanya duduk berbincang.Mama Lyn mendekati Lyn, "dia... Pacarmu?" tanyanya.Lyn menatap Mamanya, "gimana menurut Mama?" tanyanya balik."Mama tanya kok malah tanya sih," sahut Mama Lyn."Iya, aku dan dia baru-baru ini resmi pacaran." jawab Lyn."Kelihatanya dia peduli dan perhatian ke kamu. Matanya pas natap kamu itu kelihatan banget sayangnya," kata Mama Lyn."Masa sih, Ma? Tapi apa yang Mama bilang bener sih. Dia memang peduli dan perhatian. Lebih banyak ngalah. Nggak pernah marah, nggak pernah ngomong kasar juga. Pokoknya dia baik," jelas Lyn memuji Mike.Mama Lyn tersenyum, "tapi dia nggak memaksamu buat jadi pacarnya 'kan? Kalau dia berani maksa-maksa kamu, bilang ke Mama. Nanti Mama pukul dia pakai sapu," katanya. Lyn

  • Cinta Tak Kenal Tetangga   110. Lampu Hijau

    Keesokan harinya...Saat bangun, Mike mendapati sang kekasih sudah tak ada di tempat tidur.Ia melihat jam dinding kamar, jam menujukkan pukul 06.00Mike menguap lebar, ia segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Mike merapikan tempat tidur. Lalu pergi keluar kamar.Baru saja ia keluar kamar dan menutup pintu, hidungnya mencium arom wangi masakan."Hm... Dari wanginya enak nih. Intip ke dapur ah..." gumam Mike. Berjalan cepat ke dapur.Dilihatnya Lyn sedang asik menonton drama sambil memasak. Tak lupa mulutnya ikut berkomentar, mengkritik sang tokoh antagonis dalam drama."Nih drama ngeselin banget sih. Ada ya orang modelan gini. Suami kesusahan malah dicerai terus kabur sama laki-laki lain. Mana pas ketemu ngejek. Nginjak harga diri mantannya. Kalau aku jadi mantannya aku lembar air rendaman merica dan bubuk cabe," omel Lyn.Mike berdiri bersandar dinding, tersenyum mendengar omelan sang kekasih."Kenapa jadi dia yang emosi?

  • Cinta Tak Kenal Tetangga   109. Kamu Berbeda

    Sepanjang jalan Mike dan Lyn saling diam. beberapa kali Lyn melirik ke arah Mike. Terlihat Mike hanya fokus menatap jalan."Mike..." panggil Lyn."Hm," jawab Mike bergumam."Kamu marah?" tanya Lyn."Menurutmu?" jawab Mike."Maaf ya. Aku dan Theo beneran nggak ada apa-apa. Kami cuma senior-junior kampus aja. Serius. Lagian kamu dengar sendiri tadi dia bilang apa. Dia sukanya sama Sophia," jelas Lyn tak mau Mike salah paham."Tetap aja. Ngapain kamu senyum cantik ke dia. Giliran ke aku senyum jutek," jawab Mike.Jleb!Hati Lyn serasa tertikam belati."Oh, ayo dong. Kami sudah lama nggak ketemu lho, senyum dikit aja masa nggak boleh?" kata Lyn."Nggak boleh. Kalau mau senyum ya senyum jutek kayak pas kamu ketemu aku pertama kali aja. Jangan senyum cantik. Senyum cantikmu cuma aku yang boleh lihat," jawab Mike."Ya ampun, ternyata ini sosok Michael Easton mode cemburu?" pikir Lyn dalam hati.Lyn mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pipi Mike."Jangan marah lagi. Janji deh nggak akan sembar

  • Cinta Tak Kenal Tetangga   108. Aku Suaminya

    Di akhir pekan, Mike dan Lyn membawa kedua anak bulu mereka ke klinik hewan untuk pemeriksaan.Setibanya di klinik hewan, Mike dan Lyn disambut penjaga klinik."Selamat pagi, Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Menatap Mike dan Lyn bergantian."Saya mau melakukan pemeriksaan kesehatan. Asisten saya sudah mendaftar," kata Mike. Menunjukkan tangkap layar yang dikirim Nana padanya."Saya cek terlebih dahulu ya, Pak. Sebentar," kata petugas itu.Petugas langsung mengecek dan menemukan daftar atas nama Mike."Atas nama Pak Mike ya, pemeriksaan untuk dua kucing?" tanya petugas menatap Mike."Ya," jawab Mike."Ini nomor antriannya, Pak. Silakan tunggu di ruang tunggu. Nanti dipanggil sesuai nomor antrian," kata petugas itu memberikan secarik kertas berisikan nomor antrian.Mike menerima dan mengajak Lyn untuk duduk menunggu bersama anak-anak bulu mereka yang ada dalam pet cargo.Lyn duduk, melihat sekeliling. Di dalam ruangan hanya ada dirinya dan Mike juga seorang Ibu paruh baya d

  • Cinta Tak Kenal Tetangga   107. Permintaan Maaf Papa Suzan

    Setelah kejadian di kantin. Beberapa orang di kantor membuat fans club dengan Lyn sebagai tokoh idaola mereka."Keren! Bu Lyn keren banget!""Pokoknya aku mau kayak Bu Lyn. Yang berani ngerebut lelakiku aku hajar! Hahaha...""Hahaha...""Harus belajar dulu ke Bu Lyn. Jurus plak plak plak, tamparan mematikan. Wkwk...""Beruntung ya Pak Mike. Punya Bu Lyn yang posesif. Hehehe...""Sttt... Kalain ini bukanya kerja malah gosip. Mentang-mentang besok libur santai bener."Terlihat semua orang tampak senang. Bukan hanya mengidolakan Lyn, tapi juga merasa puas akhirnya ada yang bisa mengusir Suzan si wanita sok cantik dan genit.***Sementara itu di tempat lain.Suzan ditampar oleh seorang lelaki paruh baya, yang adalah Papanya."Dasar anak nggak tahu diri! Beraninya kamu mmebuat keributan dan mempermalukan diri. Sialan!" maki seseorang itu.Suzan mengerutkan dahi, "Pa, kenapa papa menamparku? Yang seharusnya papa tampar itu di jalang sialan itu!" sentaknya marah."Diam! Masih nggak tahu sala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status