LOGINSophia dan Lyn saling bertatapan. Keduanya dibuat terkejut oleh kedatangan seseorang menyebalkan yang berulah dan tanpa disangka-sangka ditolong Mike.
Sophia menyiku tangan Lyn, lalu berbisik. "Kamu kenal dia?" Lyn melebarkan mata, menatap Sophia. "Dia itu ... Ah sudahlah. Nanti kita bicarakan," bisik Lyn. Sophia menatap Mike, "itu... Terima kasih sudah menolong kami," katanya. "Nggak masalah. Kalau kalian tidak apa-apa, aku pergi dulu. Aku harus ganti baju," ucap Mike. Lyn menatap Mike, ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, bibirnya serasa berat berucap. Mike menatap Lyn, dan lalu pergi. Sophia menatap kepergian Mike, lalu menatap Lyn yang diam melamun menatap punggung Mike yang masih terlihat. "Yakin kamu nggak kenal? Bukannya tadi dia tanya kamu baik-baik aja?" tanya Sophia. Lyn diam, berbalik dan melanjutkan transaksi pembayaran, lalu mengajak Sophia pergi meninggalkan kafe. *** Lyn dan Sophia berjalan menyisiri jalanan. Keduanya saling diam sampai saat Lyn mengatakan sesuatu. "Sophia..." panggil Lyn. "Apa?" tanya Sophia. Menatap pertokon sekeliling jalan. "Kamu tahu nggak? Laki-laku tadi itu yang selama ini kita gosipin di telepon," kata Lyn. Sophia kaget. Ia menghentikan kaki, lalu menatap Lyn. "Apa? Kamu bilang apa?" tanya Sophia dengan mata melebar. "Dia orangnya. Yang aku bilang penguntit itu," kata Lyn setengah berbisik. "Hah? Terus gimana dong?" sahut Sophia. Lyn mengangkat kedua bahunya, "entahlah. Aku ngerasa canggung banget sekarang," jawabnya. "Kamu sudah cari tahu soal dia belum?" tanya Sophia memastikan. Lyn menggelengkan kepala, "belum. Ngapain aku kepoin dia," jawabnya cuek. Sophia menghela napas panjang, "Hahhhh ..." "Lyn sayang, please deh... Kamu ini ya, bisa nggak jangan prasangka buruk terus ke orang?" "Kalau apa yang dia bilang bener, gimana? Kamu nggak malu sudah nuduh dia jadi penguntit?" Sophia menatap Lyn lekat. "Iya, iya. Nanti aku cari tahu. Nanti aku tanya Manager gedung," jawab Lyn malas. Sophia tahu keadaan Lyn. Apa yang membuat Lyn sampai berprasangka buruk kepada setiap laki-laki yang ada disekelilingnya. Sophia memegang tangan Lyn, "maaf, Lyn. Aku nggak bermaksud marah. Aku cuma mau kamu sedikit membuka hati dan berpikiranmu. Kalau nggak semua seperti yang kamu pikirkan. Ok?" katanya dengan suara lembut. Lyn menganggukkan kepala, "ok," jawabnya pelan. "Ok, kalau gitu kamu anter aku sampai sini aja. Tuh di depan ada taksi. Aku bisa naik itu pulang," kata Sophia. "Maaf ya, acara kita jadi berantakan. Padahal kita sudah lama nggak ketemu," ucap Lyn merasa bersalah. Sophia memeluk Lyn, lalu tak lama melepaskan pelukan. "Nggak apa. Besok-besok kita bicara ketemuan lagi. Hari ini aku ada acara soalnya. Jadi nggak bisa main ke apartemenmu," jawab Sophia. "Ya sudaha. Sana pulang," kata Lyn. "Ok, dah ..." kata Sophia melambaikan tangan dan langsung berjalan menuju taksi yang berada tak jauh darinya. "Hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai rumah ya," kata Lyn. Sophia berbalik dan melambai, "ok," jawabnya. Lyn melihat Sophia membuka pintu taksi dan masuk. Saat taksi berjalan menjauh, Sophia mengeluarkan tangan dan melambai, lalu dibalas oleh Lyn. Melihat taksi yang sudah menghilang dari pandangan, Lyn bergegas pergi. *** Lyn masuk dalam gedung apartemennya dan langsung mendekati meja resepsionis. "Halo, Nona. Ada yang bisa dibantu?" Sapa salah seorang Resepsionis yang berjaga. "Halo, itu... Boleh nggak aku ketemu Manager kalian? Mau tanya sesuatu. Bilang aja Lyn dari unit 801 mau ketemu gitu," jawab Lyn. Resepsionis menganggukkan kepala. Terlihat ia sedang menelepon. "Nona Lyn, apakah anda sibuk? Kalau tidak keberatana, apakah anda berkenan datang ke kantor Manager? Karena Manager ada tamu, beliau tak bisa turun cepat." Lyn menganggukkan kepala, "ok, nggak masalah." "Mari saya antar," ucap Resepsionis itu yang lalu berjalan keluar dari balik meja untuk memandu jalan. Lyn berjalan mengikuti, dan keduanya tiba di depan ruang kerja Manager. Resepsionis mengetuk pintu, lalu membuka pintu dan memberitahukan kedatangan Lyn. "Bu Manager, Nona Lyn sudah datang." "Persilakan masuk," jawab Manager. Resepsionis lantas membuka pintu lebar dan mempersilakan Lyn masuk. "Silakan, Nona." "Ok, makasih ya. Kamu bisa balik kerja. Maaf ngerepotin," kata Lyn dengan suara lembut. "Tidak masalah. Sudah menjadi tugas saya. Saya permisi," jawab Resepsionis. Lyn masuk dan Resepsionis langsung menutup pintu. Saat masuk, Lyn melihat Manager sedang bicara dengan seseorang. Manager menatap Lyn, "maaf, Nona. Silakan duduk sebenatar ya. Saya ada sedikit urusan," katanya. "Oh, ok. Silakan lanjutkan. Aku bisa menunggu," jawab Lyn. Mata Lyn menyelisik sekitaran dalam ruangan, lalu duduk di sofa. Mengamati Manager dan seseorang sedang bicara. "Itu saja. Kamu bisa kembali," kata Manager pada seseorang dihadapannya. Seseorang berpamitan dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Manager meninggalkan meja kerjanya dan berjalan cepat menghampiri Lyn yang menunggunya. "Maaf, mrmbuat anda menunggu, Nona. Oh, anda ingin minum apa? Teh, kopi, jus?" Manager begitu antusias menyambut Lyn. "Tidak perlu repot. Aku sudah banyak minum jus tadi. Langsung saja. Aku ada keperluan yang mau tanyakan," jawab Lyn yang langsung memberitahukan niatnya datang. "Oh, silakan bicara. Keperluan apa itu?" tanya Manager. "Siapa nama penghuni kamar 802?" tanya Lyn menatap Manager lekat. Mata Manager melebar, dahinya langsung berkerut. Rasanya seperti deja vu. "Kok kayak pernah dengar hal yang sama, ya?" pikir Manager dalam hati. Deg! Sesaat kemudian Manager ingat sesuatu. Saat ia ditelepon Bosnya dan ditanya soal nama penghuni unit 801.Keesokan harinya...Setelah akhir pekan yang manis, tiba saatnya hari Senin yang melelahkan bagi para pekerja kantoran. Seperti yang lain, Mike dan Lyn juga kembali menyibukkan diri.Melihat data-data di layar monitor, membuat mata Lyn buram. Kepalanya mulai berkunang-kunang."Duh, bosen banget. Lihatin data di monitor ini nggak ada habisnya. Butuh asupan energi nih," pikir Lyn dalam hati dengan wajah cemberut.Lyn melihat sekeliling. Dilihatnya Irene dan Jeremy sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Pandangan Lyn menatap ke pintu ruang kerja CEO yang adalah ruang kerja Mike."Dia ngapain ya?" pikir Lyn dalam hati penasaran."Nggak tau kenapa malah kangen," katanya lagi dalam hati.Lyn melihat Irene berdiri dari duduknya dan membawa sebuah map dokumen hendak meninggalkan meja kerja. "Eh, Irene..." panggil Lyn.Lyn langsung berdiri dari posisinya duduk dan berjalan menghampiri Irene."Ya, Bu? A-ada apa ya?" tanya Irene heran sekaligus kaget."Kamu mau ke ruangan Pak CEO?" tanya
Lyn sedang membantu Mamanya di dapur. Ia mengelap piring yang akan digunakan untuk wadah masakan."Hati-hati, jangan sampai terluka" kata Mama Lyn mengingatkan."Ya. Mama juga," jawab Lyn.Mata melirik, mencuri pandang ke arah teras belakang. Ia melihat Mike dan Papanya duduk berbincang.Mama Lyn mendekati Lyn, "dia... Pacarmu?" tanyanya.Lyn menatap Mamanya, "gimana menurut Mama?" tanyanya balik."Mama tanya kok malah tanya sih," sahut Mama Lyn."Iya, aku dan dia baru-baru ini resmi pacaran." jawab Lyn."Kelihatanya dia peduli dan perhatian ke kamu. Matanya pas natap kamu itu kelihatan banget sayangnya," kata Mama Lyn."Masa sih, Ma? Tapi apa yang Mama bilang bener sih. Dia memang peduli dan perhatian. Lebih banyak ngalah. Nggak pernah marah, nggak pernah ngomong kasar juga. Pokoknya dia baik," jelas Lyn memuji Mike.Mama Lyn tersenyum, "tapi dia nggak memaksamu buat jadi pacarnya 'kan? Kalau dia berani maksa-maksa kamu, bilang ke Mama. Nanti Mama pukul dia pakai sapu," katanya. Lyn
Keesokan harinya...Saat bangun, Mike mendapati sang kekasih sudah tak ada di tempat tidur.Ia melihat jam dinding kamar, jam menujukkan pukul 06.00Mike menguap lebar, ia segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Mike merapikan tempat tidur. Lalu pergi keluar kamar.Baru saja ia keluar kamar dan menutup pintu, hidungnya mencium arom wangi masakan."Hm... Dari wanginya enak nih. Intip ke dapur ah..." gumam Mike. Berjalan cepat ke dapur.Dilihatnya Lyn sedang asik menonton drama sambil memasak. Tak lupa mulutnya ikut berkomentar, mengkritik sang tokoh antagonis dalam drama."Nih drama ngeselin banget sih. Ada ya orang modelan gini. Suami kesusahan malah dicerai terus kabur sama laki-laki lain. Mana pas ketemu ngejek. Nginjak harga diri mantannya. Kalau aku jadi mantannya aku lembar air rendaman merica dan bubuk cabe," omel Lyn.Mike berdiri bersandar dinding, tersenyum mendengar omelan sang kekasih."Kenapa jadi dia yang emosi?
Sepanjang jalan Mike dan Lyn saling diam. beberapa kali Lyn melirik ke arah Mike. Terlihat Mike hanya fokus menatap jalan."Mike..." panggil Lyn."Hm," jawab Mike bergumam."Kamu marah?" tanya Lyn."Menurutmu?" jawab Mike."Maaf ya. Aku dan Theo beneran nggak ada apa-apa. Kami cuma senior-junior kampus aja. Serius. Lagian kamu dengar sendiri tadi dia bilang apa. Dia sukanya sama Sophia," jelas Lyn tak mau Mike salah paham."Tetap aja. Ngapain kamu senyum cantik ke dia. Giliran ke aku senyum jutek," jawab Mike.Jleb!Hati Lyn serasa tertikam belati."Oh, ayo dong. Kami sudah lama nggak ketemu lho, senyum dikit aja masa nggak boleh?" kata Lyn."Nggak boleh. Kalau mau senyum ya senyum jutek kayak pas kamu ketemu aku pertama kali aja. Jangan senyum cantik. Senyum cantikmu cuma aku yang boleh lihat," jawab Mike."Ya ampun, ternyata ini sosok Michael Easton mode cemburu?" pikir Lyn dalam hati.Lyn mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pipi Mike."Jangan marah lagi. Janji deh nggak akan sembar
Di akhir pekan, Mike dan Lyn membawa kedua anak bulu mereka ke klinik hewan untuk pemeriksaan.Setibanya di klinik hewan, Mike dan Lyn disambut penjaga klinik."Selamat pagi, Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Menatap Mike dan Lyn bergantian."Saya mau melakukan pemeriksaan kesehatan. Asisten saya sudah mendaftar," kata Mike. Menunjukkan tangkap layar yang dikirim Nana padanya."Saya cek terlebih dahulu ya, Pak. Sebentar," kata petugas itu.Petugas langsung mengecek dan menemukan daftar atas nama Mike."Atas nama Pak Mike ya, pemeriksaan untuk dua kucing?" tanya petugas menatap Mike."Ya," jawab Mike."Ini nomor antriannya, Pak. Silakan tunggu di ruang tunggu. Nanti dipanggil sesuai nomor antrian," kata petugas itu memberikan secarik kertas berisikan nomor antrian.Mike menerima dan mengajak Lyn untuk duduk menunggu bersama anak-anak bulu mereka yang ada dalam pet cargo.Lyn duduk, melihat sekeliling. Di dalam ruangan hanya ada dirinya dan Mike juga seorang Ibu paruh baya d
Setelah kejadian di kantin. Beberapa orang di kantor membuat fans club dengan Lyn sebagai tokoh idaola mereka."Keren! Bu Lyn keren banget!""Pokoknya aku mau kayak Bu Lyn. Yang berani ngerebut lelakiku aku hajar! Hahaha...""Hahaha...""Harus belajar dulu ke Bu Lyn. Jurus plak plak plak, tamparan mematikan. Wkwk...""Beruntung ya Pak Mike. Punya Bu Lyn yang posesif. Hehehe...""Sttt... Kalain ini bukanya kerja malah gosip. Mentang-mentang besok libur santai bener."Terlihat semua orang tampak senang. Bukan hanya mengidolakan Lyn, tapi juga merasa puas akhirnya ada yang bisa mengusir Suzan si wanita sok cantik dan genit.***Sementara itu di tempat lain.Suzan ditampar oleh seorang lelaki paruh baya, yang adalah Papanya."Dasar anak nggak tahu diri! Beraninya kamu mmebuat keributan dan mempermalukan diri. Sialan!" maki seseorang itu.Suzan mengerutkan dahi, "Pa, kenapa papa menamparku? Yang seharusnya papa tampar itu di jalang sialan itu!" sentaknya marah."Diam! Masih nggak tahu sala







